NovelToon NovelToon
Mengejar Kesempatan Ke Dua Setelah Perceraian

Mengejar Kesempatan Ke Dua Setelah Perceraian

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ibu Cantik

Alina adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tiba-tiba dijodohkan dengan anak sahabat orang tua nya yang merupakan dosen di tempatnya menimbah ilmu.

Sayangnya Farhan sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai.

Suatu hari Alina tidak sengaja melihat Farhan dan kekasihnya melakukan sesuatu hal yang menjijikan.

Bagaimana reaksi Alina saat tau laki-laki yang akan menjadi suaminya adalah orang yang sangat dia benci.

Ikuti cerita dari Mengejar Kesempatan ke dua setelah perceraian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Setelah menghabiskan nasi gorengnya, Aska langsung berdiri dan menghampiri abang penjual nasi goreng untuk membayar.

“Bang, semuanya berapa?”

“Dua porsi, ya, Mas. Total tiga puluh ribu.”

Azka mengeluarkan dompet dari saku celananya, lalu menyerahkan uang kepada abang penjual nasi goreng itu.

Melihat hal tersebut, Alina buru-buru berdiri.

“Lho, Kak! Kenapa dibayar sekalian punya aku?”

Aska menoleh santai. “Memangnya kenapa?”

“Ya, aku bisa bayar sendiri, dong!”

“Terus?”

Alina mengulurkan tangan, hendak mengeluarkan uang dari tasnya. Namun, Aska lebih dulu mengangkat tangannya, mencegah Alina memberikan uang kepada abang penjual nasi goreng.

“Sudah, simpan saja uangmu.”

“Kak Aska, setiap kali kita makan nasi goreng, Kakak selalu saja yang bayar. Aku jadi nggak enak.”

“Alina, dengar, ya. Uang tiga puluh ribu ini tidak akan mengurangi sedikit pun kekayaanku. Tenang saja, aku masih sanggup membeli nasi goreng besok.”

Alina langsung mendorong tangan Aska dengan pelan sambil tertawa kesal.

“Dasar sombong! Memangnya Kakak punya berapa banyak uang?”

“Lumayan. Cukup buat mentraktir kamu nasi goreng sampai kamu bosan.”

“Kalau begitu, aku mau ditraktir setiap hari!”

Aska mengangkat kedua alisnya. “Wah, baru saja protes, sekarang malah minta setiap hari.”

“Kan Kakak sendiri yang bilang!”

Abang penjual nasi goreng yang sejak tadi memperhatikan tingkah mereka ikut tertawa.

“Sudah, Mas Aska. Kalau memang suka, bilang saja. Jangan cuma traktir nasi goreng terus.”

“Waduh, Pak. Kok jadi ke sana pembahasannya?” Azka tertawa sementara Alina menjadi kikuk.

“Lho, saya cuma kasih saran. Buruan jadian sebelum Neng Alina diambil orang. Nanti Mas Aska menyesal, baru tahu rasa!”

Alina yang tadinya hendak mengambil tas langsung salah tingkah.

“Bang, apaan, sih! Kami cuma teman!”

“Iya, iya. Teman. Saya juga dulu bilang begitu sama istri saya.”

“Bang!”

Tawa abang penjual nasi goreng semakin keras, sementara Aska hanya menggeleng sambil tersenyum jahil.

“Sudahlah, Lin. Daripada kita dijodoh-jodohkan sampai besok pagi, lebih baik kita pulang.”

Alina mengangguk cepat. Ia mengambil helmnya, lalu berjalan menuju motornya.

Namun, di balik wajahnya yang berusaha terlihat biasa saja, ada satu kenyataan yang tiba-tiba terlintas dalam pikirannya.

Diambil orang?

Bagaimana mungkin ia bisa diambil orang lain?

Bukankah sekarang dirinya sudah menjadi istri seseorang?

Meskipun pernikahan itu terjadi secara mendadak, tanpa cinta, dan mungkin hanya berlangsung sementara, statusnya tetaplah seorang istri.

Ia bahkan belum tahu bagaimana harus menjalani pernikahan yang tidak pernah direncanakannya. Apalagi menjelaskan kepada orang lain bahwa dirinya sudah menikah dengan laki-laki yang bahkan tidak mencintainya.

“Alina!”

Suara Aska membuatnya tersadar.

“Melamun lagi? Ayo, pakai helm. Nanti dikira kamu sedang meratapi nasib karena nasi gorengnya sudah habis.”

Alina terkekeh kecil, berusaha mengusir pikirannya.

“Iya, Kak. Bawel banget.”

Mereka pun meninggalkan tenda nasi goreng tersebut.

Namun, alih-alih langsung menuju motornya, Aska justru melirik taman yang terletak di seberang jalan.

“Lin, jalan-jalan sebentar, yuk.”

Alina mengernyit. “Ke mana?”

“Taman itu. Sebentar saja.”

“Buat apa?”

“Ya, jalan-jalan. Masa harus bikin proposal dulu?”

Alina tertawa. “Kakak ini, ya. Memangnya aku nggak boleh tanya?”

“Boleh. Tapi pertanyaannya nanti saja sambil jalan.”

Akhirnya, Alina mengikuti ajakan Aska.

Taman itu cukup ramai sore menjelang malam. Beberapa keluarga duduk di bangku taman sambil mengobrol, sementara anak-anak kecil berlarian mengejar gelembung sabun dan bermain sepeda. Di sudut lain, sepasang lansia berjalan perlahan menyusuri jalur setapak.

Aska mengajak Alina duduk di sebuah bangku yang menghadap hamparan rumput hijau.

Mereka sempat terdiam, menikmati suasana di depan mata.

“Ngomong-ngomong, kuliah Kakak bagaimana?” tanya Alina akhirnya.

Aska menyandarkan punggungnya.

“Baik-baik saja. Sekarang tinggal menunggu wisuda.”

“Sebentar lagi jadi pengangguran berpendidikan, dong?”

Aska langsung menoleh. “Astaga, mulut kamu!”

Alina tertawa puas.

“Kan benar! Setelah wisuda, terus mau ngapain?”

“Pergi ke Jepang.”

Jawaban itu membuat tawa Alina perlahan mereda.

Ia sudah tahu Aska memiliki rencana untuk melanjutkan perjalanan hidupnya di luar negeri. Namun, mendengar laki-laki itu menyebutkannya lagi membuat hatinya terasa sedikit berat.

Aska menatap lurus ke depan sebelum melanjutkan perkataannya.

“Keberangkatanku sudah ditentukan. Aku akan berangkat setelah wisuda.”

Kali ini, Alina tidak langsung membalas dengan candaan.

“Oh,” jawabnya singkat.

Aska meliriknya. “Cuma begitu?”

“Terus harus jawab apa?”

“Biasanya kamu banyak komentar. Sekarang malah diam.”

Alina mengangkat bahu, berusaha menyembunyikan perasaannya.

“Ya, baguslah. Semoga lancar.”

Aska tersenyum tipis. “Kamu sedih aku pergi?”

“Pede banget, Kak. Aku cuma bingung nanti siapa yang bakal traktir aku nasi goreng.”

“Alina.”

Nada suara Aska berubah lebih serius.

Alina akhirnya menoleh.

“Aku memang akan pergi ke Jepang, tapi bukan berarti aku nggak akan kembali.”

Aska menatapnya lekat-lekat.

“Aku nggak tahu nanti akan sesibuk apa di sana. Mungkin kita nggak bisa bertemu sesering sekarang. Tapi aku janji, aku akan pulang.”

Alina menunduk, memainkan ujung lengan jaketnya.

“Memangnya harus janji?”

“Harus.”

“Kenapa?”

“Karena aku nggak mau kamu berpikir kalau aku pergi, terus melupakan semua orang di sini.” Aska berhenti sebentar, kemudian tersenyum.

“Dan aku juga nggak mau kamu lupa sama aku.”

Alina mendengus, meskipun ada rasa hangat yang diam-diam menyusup ke dadanya.

“Siapa juga yang mau lupa? Kakak berisik begitu, mana bisa dilupakan.”

“Nah, itu baru Alina yang aku kenal.”

Aska lalu mengangkat telunjuknya, seolah sedang membuat perjanjian penting.

“Jadi, siapkan hati kamu, ya.”

Alina mengerutkan kening. “Siapkan hati buat apa?”

“Buat menyambut aku saat kembali nanti.”

“Memangnya Kakak mau pulang sebagai presiden Jepang?”

Aska tertawa.

“Bukan. Aku cuma mau pulang sebagai Aska yang sama, yang masih bisa kamu ajak makan nasi goreng.”

Alina ikut tertawa kecil. Namun, kali ini tawanya terasa berbeda.

Ada sesuatu dalam dirinya yang tidak ingin Aska pergi terlalu jauh. Ia sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran laki-laki itu, dengan candaan menyebalkannya, dengan caranya membuat suasana terasa ringan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Membayangkan semua itu hanya akan menjadi kenangan membuat Alina merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum benar-benar ia miliki.

Namun, ia tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya mengangguk pelan.

“Ya sudah. Aku tunggu Kakak pulang.”

Aska tersenyum lebar.

“Janji?”

“Janji, deh. Puas?”

“Puas banget.”

Mereka kembali berbincang tentang hal-hal sederhana hingga waktu berjalan tanpa terasa. Ketika langit semakin gelap, keduanya akhirnya memutuskan untuk pulang.

“Aku antar kamu, ya,” kata Aska ketika mereka sampai di tempat parkir.

Alina menggeleng sambil mengenakan helm.

“Nggak usah, Kak. Aku bawa motor sendiri.”

“Aku tahu kamu bawa motor sendiri. Maksudku, aku ikut dari belakang sampai kamu tiba di rumah.”

Alina menatapnya sebentar.

“Kakak nggak capek?”

“Capek, tapi masih sanggup memastikan kamu sampai rumah dengan selamat.”

Alina tersenyum kecil.

“Ya sudah, terserah Kakak.”

Mereka kemudian menyalakan motor masing-masing dan meninggalkan taman.

Sepanjang perjalanan, Aska benar-benar mengikuti Alina dari belakang. Ia menjaga jarak secukupnya, memastikan motor Alina tetap terlihat di depannya.

Beberapa menit kemudian, Alina akhirnya tiba di depan rumahnya.

Ia memperlambat motor, lalu berhenti tepat di depan gerbang.

Namun, saat hendak turun, pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di sana.

Alina mengernyit.

Siapa yang datang malam-malam begini?

Alina mematikan mesin motornya. Aska yang berhenti beberapa meter di belakangnya ikut memperhatikan mobil tersebut.

“Kenapa, Lin?” tanyanya dari atas motor.

“Nggak tahu, Kak. Ada mobil di depan rumah.”

Alina turun, melepas helm, lalu berjalan mendekati mobil itu.

Jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat ketika menyadari bahwa mobil tersebut tampak tidak asing.

Ia berhenti di samping pintu pengemudi, lalu mengetuk kaca jendela.

Tok. Tok. Tok.

Beberapa detik kemudian, kaca mobil itu turun perlahan.

Alina membeku.

Matanya membelalak saat melihat laki-laki yang duduk di balik kemudi.

“Pak Fa—Farhan?”

Laki-laki itu menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Kemudian, Farhan membuka pintu mobil dan turun.

“Alina,” panggilnya datar.

Alina masih berdiri terpaku.

Apa yang dilakukan suaminya di depan rumahnya malam-malam begini?

Farhan melirik motor yang terparkir di belakang Alina, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalan, seolah baru menyadari ada orang lain yang mengikuti perempuan itu.

Aska baru saja turun dari motornya.

Tatapan kedua laki-laki itu bertemu.

Suasana yang semula tenang mendadak terasa berbeda.

Sementara Aska melangkah mendekat, sama sekali tidak menyadari bahwa laki-laki di hadapannya adalah seseorang yang akan mengubah hubungan mereka mulai malam itu.

1
Lucyana H
thor ga suka sm si Farhan,udah cepet cerai aja thor,biar si Alina sm yg lain aja,benci bgt sm si farhan
citraalief
nambah up Kak😘🙏🙏
citraalief
😘
citraalief
🥰🥰 Semangat Up thorrr🙏
citraalief
Lanjut Kakkk🥰💪🙏
citraalief
mandi kembang 9 rupa Lin, jan pe lupa🤣🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!