NovelToon NovelToon
Milik Sang Iblis Sisilia

Milik Sang Iblis Sisilia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Kakamy

Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.

Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.

Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.

Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?

Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.

"Dia milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Ricardo Solano

Kupencet bel rumah Ester, dan seorang gadis berseragam pelayan membukakan pintu. Awalnya aku tidak memperhatikannya baik-baik. Baru ketika dia berkata bibi dan sepupunya sedang menungguku, aku mulai menaruh perhatian. Dan di depanku berdiri perempuan seksi itu. Rambutnya disanggul sehingga wajah malaikatnya terlihat jelas, mata birunya memancarkan kepolosan, tingginya sekitar 165 cm, payudaranya kecil dan padat, dan rok biru dongker yang ketat sampai lutut itu membuatku penasaran apa yang tersembunyi di baliknya. Tanpa sadar aku menggigit bibir dan menggelengkan kepala seakan mengusir pikiran-pikiran mesum itu. Aku masuk tanpa berkata apa-apa.

Begitu aku melangkah ke ruang tamu, Ester menghambur ke arahku.

"Hai, sayang!"

Katanya manja sambil mendekatkan wajah, hendak menciumku.

Kuberi dia kecupan singkat yang sopan, dan dia tampak bingung.

Ibunya melihat situasi itu dan menghampiriku.

"Senang sekali bertemu Anda, Tuan Ricardo," kata Pilar sambil mengulurkan tangan.

"Kehormatan ada pada saya, Nyonya Pilar," jawabku, lalu mencium tangannya sebagai tanda hormat.

Dari tangga turun seorang pria sekitar 45 tahun, pasti ayah Ester. Kulihat dia memandang gadis berseragam itu, lalu menatap istri dan putrinya dengan wajah masam. Pilar dan Ester menyembunyikannya dengan sangat baik, tapi hal itu tidak luput dari pengamatanku.

"Selamat malam, Tuan Ricardo. Saya Francesco, ayah Ester. Senang akhirnya bisa bertemu Anda."

"Senang sekali, Tuan Francesco. Sayalah yang merasa terhormat bisa berada di sini."

Ayah Ester menjabat tanganku dengan genggaman kuat.

"Sudah, cukup basa-basinya, ayo kita duduk," kata Ester. "Andrea, sajikan segelas wiski untuk Papa dan Ricardo, dan anggur untukku dan Mama."

Andrea, jadi itu namanya, si cantik yang menggoda itu.

Andrea Gutierrez

Aku memutar bola mata dan pergi ke bar kecil untuk menyiapkan minuman. Saat kembali membawa nampan penuh gelas, aku tersandung sesuatu dan melihat tubuhku terhempas ke lantai. Kurasakan sebuah tangan besar di dadaku, wajahku panas karena malu, dan ketika kulihat, ternyata Ricardo yang menahanku.

"Kamu tidak apa-apa?"

Pamanku dan Ricardo bertanya bersamaan.

"Saya baik-baik saja, Paman. Terima kasih banyak, Tuan Ricardo."

Aku menoleh ke sisi lain dan melihat Ester dan Bibi Pilar menatapku tajam. Tiba-tiba Ester menjerit.

"DASAR TIDAK BERGUNA!! TIDAK BISA MENGERJAKAN APA PUN DENGAN BENAR, BERESKAN KEKACAUAN INI, BERSIHKAN SEMUANYA DAN PERGI DARI SINI!!"

Sekujur tubuhku gemetar. Ricardo membantuku berdiri, dan ketika menatapnya, aku berani bersumpah melihat senyum nakal di wajahnya. Aku buru-buru pergi dari sana.

Jangan-jangan dia sengaja menyentuh dadaku?!

Kucoba mengusir pikiran itu dan kembali ke pekerjaanku. Kulihat bibiku menghampiriku, matanya merah karena marah.

"Maaf, aku..."

Rasa perih menyambar pipiku sebelum kalimatku selesai. Bibiku menamparku sekuat tenaga dan berkata,

"Dasar jalang kecil, apa yang kamu lakukan?! Jangan murahan dan menjatuhkan diri ke tunangan sepupumu."

Bibi bahkan tidak repot menunggu jawabanku. Dia merapikan diri, memasang senyum manis, lalu pergi.

Ricardo Solano

Aku terus memandangi Andrea, makhluk mungil yang menggoda itu, dan membayangkannya di ranjangku. Lamunanku buyar ketika Ester menyuruhnya menyajikan minuman. Kupikir itu kesempatan bagus untuk memastikan apakah payudaranya memang sepadat kelihatannya. Saat dia lewat membawa nampan, diam-diam kuselipkan kakiku di depannya supaya dia tersandung dan aku bisa memegang dadanya ketika membantunya berdiri. Aku tahu kedengarannya agak kekanak-kanakan, tapi aku harus tahu apakah memang sepadat itu. Begitu dia jatuh, kuletakkan tanganku di dadanya untuk membantunya bangun. Aku bertanya apakah dia baik-baik saja, dan kalimatku keluar bersamaan dengan kalimat ayah Ester, lalu Andrea memanggilnya paman.

Jadi dia sepupu Ester, bukan pelayan.

Kupandangi dia dan tersenyum tipis. Wajahnya langsung merona, dan itu hanya membuatku makin ingin mencicipinya. Aku harus mendapatkan perempuan ini di ranjangku.

Lamunanku buyar lagi ketika Ester mengamuk dan mulai menjerit. Andrea berdiri dengan canggung dan berlari ke dapur. Suasana jadi agak aneh. Pilar permisi untuk memeriksa apakah makan malam sudah siap, lalu keluar, tapi segera kembali.

"Hampir semuanya siap, sebentar lagi kita makan malam."

Kami melanjutkan obrolan tentang hal-hal acak, tapi pikiranku tertuju pada Andrea, makhluk mungil yang menggoda itu, yang akan kujadikan milikku.

Andrea Gutierrez

Selama beberapa menit aku berdiri dengan tangan menempel di wajah, berusaha menahan diri agar tidak menangis. Aku pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka, dan saat menatap cermin, aku bisa melihat bekasnya, kelima jari bibiku tampak jelas di sana. Aku bertahan di sana beberapa menit lagi, seakan itu bisa meredakan rasa sakit dan kesedihan yang menguasaiku. Bagaimana bibiku bisa mengira aku mampu melakukan hal serendah itu?

Aku tidak sabar menunggu makan malam terkutuk ini selesai supaya bisa naik ke kamarku.

Aku menyiapkan semuanya, lalu pergi ke ruang tamu dan memberitahu bahwa makan malam sudah siap. Pamanku melihat wajahku dengan cemas, lalu kembali menatap Pilar, yang pura-pura tidak melihat dan terus mengobrol. Sepupuku bahkan tidak sudi menoleh padaku, matanya terpaku pada calon tunangannya, yang tidak berhenti memandangiku, dan itu membuatku sangat tidak nyaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!