Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Menikmati indahnya Malam
Setelah masuk kekamar tamu, Rangga mandi dan merebahkan dirinya di ranjang.
Kemudian dia mengambil handphone khusus Winta dan melihat beberapa Chat dari Winta.
Wajahnya nampak ceria melihat foto Winta memakai daster dengan handuk dibalut kekepala.
Rangga mengalihkan panggilan ke Vidio Call.
" Abi apa Khabar Abi, umi baru selesai mandi."
" Khabar baik umi, cantiknya kekasihku."
" Abi bisa aja umi udah tua loh."
" Siapa bilang umi tua, umi fresh banget."
Rangga tak tahu kalau Viona memperhatikannya dari celah pintu kamar yang terbuka.
Hatinya sakit sekali, dia yakin suaminya pasti sedang jatuh cinta, ingin sekali dia mendobrak pintu kamar tapi hatinya menolak, dia akan merebut kembali hati Rangga dengan caranya.
Viona melangkah keluar, duduk menonton TV dan membiarkan Rangga terus vidio call dengan kekasihnya.
" Umi, buka dong handuknya dikepala nanti masuk angin."
" Gak lah umi gak pakek hijab."
" Ih...umi, Abi udah lihat semua lah."
Winta tersipu malau dan menurut membuka handuknya sambil mengibaskan rambutnya walaupun usianya sudah senja dia pandai merawat diri rambutnya yang lurus hitam membuat jantung Rangga berdebar, belahan dasternya memperlihatkan pemandangan yang menggiurkan, membuat gairah laki lakinya bangkit.
" Umi, Abi gak tahan lihatnya ."
" Lihat apa sayang."
Winta tersadar kalau kancing dasternya belum dipasang, dia mematikan handphone nya.
Buru buru dia mengancingi dasternya dan mengenakan hijab sorongnya, kemudian dia mengangkat handphone nya yang berdering.
" Umi ngapain ?, kok pasang hijab Abi belum puas."
" Abi dimana ?"
" Di kamar tamu ."
" Istri Abi mana ?"
" Di luar ."
" Abi, umi ini sudah jahat mengambil hati Abi, jadi umi gak mau lebih jahat lagi mengambil kesempatan Abi ngumpul dengan istri Abi, susul lah istri Abi, buatlah suasana romantis jangan sampai di terluka."
" Gak masalah umi, dulu Abi juga di gituin, pulang kerja gak ada apa apa, jangankan kopi diapun gak ada dirumah."
" Tapi Abi gak boleh balas gitu, Abi mau kan hubungan kita berjalan lama dan kalau memang ada jodoh pasti ada jalannya."
" Tapi Abi tentram bersama umi."
" Abi ikutilah kata umi, susul istri Abi ke kamar, bahagiakan dia malam ini."
" Kenapa umi, apa umi gak cemburu ?"
" Sejujurnya umi cemburu tapi Abi belum sepenuh milik umi, ikutlah kata umi."
" Umi gak sayang Abi ?"
" Sayang banget."
" Baik, demi cinta Abi sama umi Abi ikutin kemauan umi."
" Muuuacchhh.."
" I love you sayang ."
" Love you, too."
Vidio call itu terhenti, Rangga membuka pintu kamar tamu dan mendapati istrinya Viona sedang nonton tv.
" Sayang, kok belum tidur, gak ngantuk ."
" Belum, nelpon siapa papa tadi ?"
" Kawan kantor."
" Cewek ?"
" Gak, cowok ."
" Kok lama."
" Masalah kantor."
"Oooo."
"tidur yok ."
Rangga mendekati Viona dan menggendongnya ke kamar.
" kok digendong."
" Papa lagi pingin ."
bisik Rangga ditelinga Viona
Sampai dikamar Rangga membaringkan istrinya diranjang, meskipun rasa ingin berhubungan dengan istrinya tawar tapi demi mengikuti kemauan Winta dia melakukannya malam ini dan Viona yang merasa ketakutan suaminya berpaling pada wanita lain membuat Rangga menjadi menikmati permainan ranjang bersama istrinya , sampai akhirnya mereka berdua terkulai letih.
Sementara di kamarnya Winta terdiam, ada rasa menyesal menyuruh Rangga melakukan hubungan dengan istrinya, dia cemburu.
Winta mengangkat selimatnya sampai menutup muka tapi yang terbayang adalah permainan Rangga dan istrinya.
Air mata jatuh perlahan membasahi pipinya.
" Ya Allah,mengapa Engkau mengatur pertemuanku dengannya, kini cintaku tumbuh dengan subur, pantaskah aku ya Allah, dia se umuran anakku, jauhkan hatinya dariku Ya Allah dan jauhkan pula hatiku dari dia."
Bersambung.