Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Ambang Keraguan dan Tamu di Ambang Pintu
Lampu-lampu gantung berdesain warm-vintage di kafe langganan mereka memancarkan pendar keemasan yang menenangkan. Di sudut meja kayu favorit mereka, Raisha duduk bertiga bersama Reno dan Sisil.
Di atas meja, tiga cangkir kopi dan beberapa camilan manis tersaji, namun atmosfer hangat di antara mereka bertiga sedikit teredam oleh riak ketegangan yang dibawa Reno. Mereka menikmati hidangan yang sudah tersaji. Coffe latte yang menjadi minuman favorit Raisha
Reno menyandarkan punggungnya, menatap Raisha dengan raut wajah yang amat serius. Sikap protektif seorang sahabat yang sudah teruji oleh waktu memancar sangat kuat dari matanya.
Banyak rumor yang didengar Reno tentang temannya ini dengan Aldo. Rumor kedekatan intens yang tidak biasa. Bahkan beberapa orang sudah mengira bahwa Raisha dan Aldo memang tengah menjalin hubungan.
"Aku tetep gak setuju kamu dekat-dekat sama Aldo, Ra," ujar Reno tanpa basa-basi, meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan pelan.
"Dia tuh masih belum bisa dipercaya. Latar belakangnya, pola manipulasi dia... semua itu terlalu berisiko buat kamu."
Raisha tersenyum tipis, sebuah senyuman pasrah yang sarat akan pertarungan batin.
"Ya... aku tahu, Ren," jawab Raisha lirih, menyusuri pinggiran cangkirnya dengan ujung jari.
"Aku juga belum sepenuhnya percaya sama dia. Tapi..."
Raisha memutus kalimatnya, menggantungkan perasaannya di udara. Dia bingung bagaimana harus menamai gejolak asing yang makin hari makin membesar di dalam dadanya tiap kali berada di dekat Aldo.
"Tapi cinta?" potong Sisil tiba-tiba seraya memajukan tubuhnya, menebak isi hati Raisha dengan senyuman jahil bercampur prihatin.
Raisha menunduk sejenak, lalu perlahan menganggukkan kepalanya pelan, sebuah pengakuan jujur yang tak sanggup lagi ditutup-tutupinya di depan orang-orang terdekatnya.
"Haaaaahh..."
Reno dan Sisil kompak menghembuskan napas panjang bercampur kekesalan yang kentara. Reno mengusap wajahnya gusar. Dia tahu betul, jika logika seorang wanita sudah mulai terdesak oleh perasaan cinta, benteng nasihat terbaik sekalipun akan sangat sulit untuk menembusnya.
"Bisa-bisanya kamu jatuh ke perangkap cowok kayak gitu, Ra," gumam Reno seraya menggelengkan kepala. Namun, raut wajahnya mendadak berubah saat teringat sebuah kabar yang didengarnya di kantor sore tadi.
"Tapi ngomong-ngomong..." lanjut Reno, menatap Raisha kembali.
"Tadi siang Aldo sempat bikin heboh di koridor divisi keuangan. Dia menegur keras dua orang anak IT. Aku kurang tahu mereka membicarakan apa tentang kamu, tapi Aldo kelihatan marah banget sampai ngancam bakal mecat mereka."
Dahi Raisha berkerut dalam. Kejadian di koridor tadi siang sebelum Aldo mendatanginya di kubikel mendadak berputar di kepalanya. Jadi keributan itu karena...
"Mereka membicarakan tubuhku," sahut Raisha pelan, menyuarakan prasangka yang kini telah terkonfirmasi dari sikap posesif Aldo tadi sore.
"Aku tahu dari Siska yang mendengar keributan itu." sahut Raisha kembali.
Ekspresi terkejut di wajah Reno seketika runtuh, berganti dengan kilatan amarah yang meledak. Pria itu menegakkan tubuhnya, mengepalkan tangan di atas meja.
"Brengsek!" umpat Reno kasar, matanya menyalang. "Itu udah bukan sekadar gosip kantor, itu pelecehan verbal namanya! Kurang ajar banget mereka!"
"Ren, udah... tenang dulu," potong Raisha cepat, mengusap lengan Reno untuk menenangkan emosi sahabatnya itu.
"Aldo udah menyelesaikan hal itu di tempat. Mereka gak akan berani lagi."
Reno menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai amarahnya walau rahangnya masih menegang keras. Kenyataan bahwa Aldo yang turun tangan langsung melindungi martabat Raisha membuat Reno diliputi perasaan serba salah yang makin rumit.
Sisil, yang berusaha mencairkan suasana yang memanas, mengalihkan topik pembicaraan ke agenda utama mereka malam ini.
"Udah, udah... jangan bahas kantor lagi. Sekarang kita bahas liburan weekend depan aja," sela Sisil seraya membuka ponselnya, menunjukkan beberapa foto destinasi wisata.
"Pilihannya antara glamping di kawasan hutan pinus atau sewa villa pribadi di Puncak. Suasananya sejuk, pas banget buat refreshing melepas penat."
Pembahasan liburan pun dimulai. Berhubung Reno akan pergi berpasangan bersama Sisil, mata mereka berdua mendadak tertuju pada Raisha.
"Kamu mau ajak siapa, Ra?" tanya Sisil. "Masa kamu sendirian di villa nanti? Kan aneh."
Raisha tergagap sejenak. Di dalam kepalanya, nama Aldo sempat melintas secara spontan. Membayangkan pergi liburan bersama Aldo di Puncak terasa begitu mendebarkan. Namun, Raisha segera menepis bayangan itu; dia merasa tidak nyaman jika harus membawa Aldo di tengah ketidaksukaan Reno yang begitu besar pada pria itu.
Lalu, benak Raisha sempat mempertimbangkan untuk mengajak Erick, mantannya yang kini berteman baik dengannya. Namun, baru saja nama Erick terlintas, rasa resah mendadak merayapi jiwanya.
"Kalau kamu ajak Erick, gimana?" tanya Reno, memberi saran. Raisha terperanjat karena beberapa detik lalu sempat kepikiran untuk mengajak Erick, tak disangka malah nama Erick keluar dari mulut Reno sebagai opsi pasangan liburan Raisha.
Raisha membayangkan bagaimana mengamuknya Aldo jika mengetahui dirinya pergi liburan bersama Erick. Sikap posesif Aldo yang makin liar belakangan ini benar-benar membayangi setiap keputusannya.
"Aku... belum tahu mau ajak siapa," jawab Raisha jujur, menghembuskan napas pasrah.
"Bisa jadi.. Erick. Tapi lihat kondisi dulu, Erick kan sibuk." ujar Raisha.
Rencana liburan mereka malam itu pun akhirnya menggantung tanpa kepastian yang jelas.
Malam makin larut ketika Raisha akhirnya diantar pulang oleh Reno dan Sisil. Setelah berpamitan, Raisha melangkah menelusuri koridor lobi apartemennya yang sepi dengan langkah lelah.
Namun, begitu melangkah keluar dari lif lantai tempat unitnya berada, langkah kaki Raisha mendadak terhenti total.
Di depan pintu unit apartemennya, seorang pria berdiri bersandar santai pada dinding. Aldo, masih mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya dibuka, menyampirkan jas di lengannya, sedang menunggunya dengan sebuah senyuman memikat yang terukir di wajah tampannya.
Raisha membelalakkan mata, kaget setengah mati.
"Ngapain kamu di sini, Al? Dari kapan?"
Aldo menegakkan posisi tubuhnya, melangkah satu pijakan mendekat seraya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan pesona alami.
"Mau mampir ke tempatmu aja," jawab Aldo santai, intonasi suaranya tenang tanpa ada nada bersalah sedikit pun karena telah menunggu di depan pintu unit pribadi wanita tersebut.
Raisha terpaku di tempatnya berdiri. Sebagian dari logikanya membisikkan agar dia menolak dan menyuruh Aldo pulang, mengingat situasi di antara mereka yang belum memiliki kejelasan status dan latar belakang Aldo yang berbahaya.
Namun, menatap wajah lelah Aldo yang telah menunggunya di kegelapan koridor, ditambah gejolak perasaan yang baru saja diakuinya di depan Sisil tadi malam, membuat benteng pertahanannya melunak secara drastis.
Ada sedikit keraguan yang merayapi benak Raisha, namun jemarinya perlahan bergerak menekan kode pintu apartemennya.
"Yaudah... masuk dulu," bisik Raisha pelan, membuka pintu unitnya dan memberi jalan bagi Aldo untuk melangkah masuk ke dalam area pribadinya.