Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Sekedar Simpanan
Walaupun Rangga sudah keluar dari kantor, dia bingung mencari alamat Winta yang tidak pernah dia tahu selama ini.
Namun Rangga ingat, dulu dia pernah melihat supir kantornya mengantar Dinda pulang saat sakit.
Rangga menghubunginya dan minta alamat Winta, tidak makan waktu lama, Rangga tiba di depan rumah Dinda, Winta yang mengintip dari balik gorden terkejut melihat kedatangan mobil Rangga.
Nekat Rangga memencet bell, Dinda yang tadi tertidur langsung bangun tapi Winta telah membuka pintu.
" Ada apa bi."
" Biarkan Abi masuk."
" Siapa ma ?"
Tiba tiba Dinda keluar sambil menyorongkan jilbabnya.
" Eh pak Rangga, tumben, silahkan masuk, ada apa ya."
" Makasih Dinda."
Rangga duduk di sofa.
" Loh, mama kenal sama pak Rangga.?"
Dinda mematung di ambang pintu, pandangannya berganti-ganti antara Rangga dan Winta. Ucapan Winta yang memanggil Rangga dengan sebutan "Abi", panggilan hangat yang biasa diucapkan anak-anaknya, seolah menghantam kesadaran Dinda. Rumor hangat di kantor tentang bosnya yang ketahuan makan siang bersama seorang wanita matang seketika berputar di kepalanya.
"Pak Rangga... Mama... kalian?"
Dinda menutup mulutnya, tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Matanya membelalak tak percaya.
"Dinda, tolong dengarkan penjelasan Saya dulu," ujar Rangga, suaranya yang biasa tegas di ruang rapat kini terdengar bergetar dan penuh kerendahan hati. Ia menatap Dinda lurus-lurus, lalu beralih memandang Winta yang menyandarkan tubuhnya di sudut dinding dengan wajah pucat dan mata sembap.
Winta menggeleng pelan, air matanya menetes lagi.
"Rangga, untuk apa kamu ke sini? Semua sudah hancur. Viona sudah tahu, dan kamu hanya akan menyeret Dinda ke dalam masalah ini!"
"Saya tidak bisa diam saja dan membiarkan umi menanggung ini sendirian!"
potong Rangga seraya melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak agar tak membuat Winta makin tertekan.
Rangga kemudian berpaling sepenuhnya pada Dinda.
"Dinda, Saya tahu ini mengejutkan dan mungkin terasa salah di matamu. Tapi Saya tidak sedang bermain-main. Saya sungguh-sungguh jatuh cinta pada mamamu."
Dinda menghembuskan napas berat, melangkah pelan lalu duduk di sofa tunggal berseberangan dengan Rangga. Pikirannya berkecamuk antara rasa hormat pada atasan dan perlindungan terhadap ibunya.
"Pak Rangga, Anda itu pria beristri. Dan Istri Anda itu Ibu Viona... wanita yang punya pengaruh besar. Bagaimana mungkin Anda bilang ini bukan main-main sementara posisi Mama sangat terancam?"
"Saya tahu risiko itu, Dinda,"
sahut Rangga tegas.
"Pernikahan Saya dan Viona sudah lama dingin dan hanya bertahan di atas kertas demi bisnis dan formalitas. Tapi perasaan Saya pada Winta... ini pertama kalinya Saya merasa benar-benar hidup dan menemukan ketenangan. Saya tidak berniat menjadikan mamamu simpanan atau pelampiasan."
Winta tersedu pelan, menyela perkataan Rangga.
"Tapi kenyataannya kita salah, Rangga! Viona sedang menuju restoran Pak Hartono. Dia tidak akan berhenti sampai dia menghancurkan kita berdua. Kamu punya posisi, kamu punya nama baik... kenapa kamu nekat datang ke rumah anakku?"
"Karena umi yang paling utama untuk Saya selamatkan saat ini!"
tegas Rangga, menatap Winta dengan sorot mata yang penuh kehangatan dan ketetapan hati.
"Rekaman CCTV di restoran sudah Saya amankan lewat Pak Hartono. Servernya dimatikan untuk sementara. Tapi Viona cerdas, dia tidak akan berhenti di situ. Begitu dia sadar tertahan di restoran, dia akan mencari jalur lain untuk melacakmu."
Rangga kembali menatap Dinda, memohon dengan sangat.
"Dinda, Saya ke sini bukan cuma untuk jujur tentang perasaan Saya pada mamamu, tapi juga untuk membawa kalian ke tempat yang aman. Viona tidak boleh menemukan kalian di rumah ini."
Bersambung.