NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Lagu dari Seberang Sungai

Pagi setelah mendengar Laras menangis, Bima memanggil Iwan ke kantornya.

Di atas meja ada dua kaleng susu, satu amplop uang, oralit, dan obat yang dibeli dari poliklinik berdasarkan keluhan dalam surat Mbah Inah.

“Pergi ke Girisari,” kata Bima. “Lihat anak Laras.”

Iwan menatap barang-barang itu. “Atas nama siapa, Komandan?”

“Satuan.”

“Tapi ini dari jatah Komandan.”

Bima mengangkat mata.

“Siap. Atas nama satuan.”

“Pastikan Nala diperiksa kalau masih diare. Uang ini untuk ongkos dan kebutuhan anak, bukan untuk keluarga lain.”

“Bagaimana kalau Bu Jum minta?”

“Berikan langsung kepada Mbah Inah. Minta ketua RT menjadi saksi.”

“Perlu bilang Mbak Laras?”

“Jangan.”

Iwan menyimpan semua ke dalam tas motor. Sebelum keluar, ia bertanya, “Kalau Mbak Laras tanya saya ke mana?”

“Kamu prajurit. Cari alasan.”

“Siap. Alasan resmi atau alasan yang masuk akal?”

“Keluar.”

Iwan pergi sambil menahan senyum.

Perjalanan ke Girisari memakan waktu lebih lama karena jalan setelah hujan berlumpur. Nala sedang tidur ketika Iwan tiba. Tubuh bayi perempuan itu kecil, tetapi demamnya sudah turun. Mbah Inah menunjukkan catatan dari puskesmas dan sisa oralit.

“Laras yang mengirim ini?” tanya perempuan tua itu.

“Bantuan satuan,” jawab Iwan hati-hati.

Mbah Inah menatap motor dinas, kaleng susu, lalu wajah Iwan. Ia tidak membongkar kebohongan tersebut. “Sampaikan matur nuwun kepada orang yang ingat anak ini.”

Nala terbangun dan mengeluarkan rengekan kecil. Iwan pernah melihat Satya menangis, tetapi suara bayi perempuan ini jauh lebih tipis. Mbah Inah mencampur susu sesuai takaran dari puskesmas. Nala menolak dot pada awalnya, lalu minum beberapa teguk.

“Dia selalu mencari ibunya kalau mencium bau susu,” kata Mbah Inah. “Kadang sampai menangis tidak keluar suara.”

Iwan memalingkan wajah. Di atas tikar ada dua popok yang telah ditambal berkali-kali dan sebotol oralit setengah habis. Laras tidak melebih-lebihkan keadaan mereka.

Ketua RT datang membawa buku penerimaan. Ia memeriksa isi amplop, mencatat jumlahnya, lalu meminta Mbah Inah membubuhkan cap jempol.

“Uang ini hanya untuk Nala, biaya berobat, dan makanan,” tegas Iwan. “Kalau ada yang mengambil, laporkan ke Babinsa atau telepon nomor ini.”

Ia menuliskan nomor kantor satuan, bukan nomor pribadi Bima.

Bu Jum tiba saat proses belum selesai. “Saya ibunya Laras. Saya yang paling berhak menerima.”

Ketua RT menutup buku. “Yang sakit Nala. Yang merawat Mbah Inah. Penyerahan sudah jelas.”

“Parman juga keluarga prajurit gugur.”

“Parman adik ipar almarhum, bukan anak tanggungan.”

Bu Jum menatap tas susu. “Setidaknya satu kaleng untuk rumah.”

Mbah Inah berdiri di depan lemari meski pinggangnya bungkuk. “Kalau kamu ambil susu bayi ini, kamu ambil dari mulut cucumu sendiri.”

Untuk pertama kalinya, Bu Jum mundur di depan orang lain. Ia pergi sambil menggerutu bahwa Laras telah membuat keluarga dipermalukan.

Iwan menunggu sampai susu dan amplop terkunci. Sebelum pulang, Nala menggenggam ujung jarinya. Mata bayi itu besar, sangat mirip mata Laras ketika menahan sesuatu yang tidak ingin diperlihatkan.

“Ibumu akan datang,” bisik Iwan. “Tunggu, ya, Nduk.”

Sementara Iwan berada di desa, Laras dipanggil bagian perbekalan. Dapur umum akan membuka pelatihan memasak untuk dua kompi, dan Parjo mengusulkan Laras sebagai pelatih teknis.

“Saya pengasuh Satya,” kata Laras.

“Jadwalnya dua jam, tiga kali seminggu. Satya bisa ikut di ruang terbuka atau dititipkan kepada Bu Titin. Ada honor resmi.”

Kata honor membuat Laras memikirkan Nala.

Ia membaca surat tugas, memastikan tidak ada kewajiban memasak sendiri dan tidak ada pertemuan tertutup. Setelah itu ia menandatangani.

“Nama saya akan ditulis di mana?” tanyanya.

“Sebagai pelatih teknis sipil. Honor dibayar per pertemuan.”

“Kalau menu gagal, tanggung jawab siapa?”

Petugas itu terkejut oleh pertanyaan tersebut. “Pelaksana dapur.”

“Tulis juga bahwa keputusan belanja dan keamanan bahan tetap milik perbekalan. Saya memberi teknik, bukan memegang uang.”

Parjo yang menunggu di dekat pintu mengangguk kuat. Laras tidak ingin keberhasilannya kelak dipakai untuk menyerahkan kesalahan anggaran kepadanya.

Petugas menambahkan catatan dengan pena. “Mbak Laras teliti sekali.”

“Orang tanpa pangkat harus lebih teliti. Kalau salah, saya tidak punya seragam untuk melindungi.”

Ruangan hening sesaat. Kemudian petugas membubuhkan paraf pada perubahan itu.

Petugas perbekalan menyerahkan salinan. “Letkol Sudibyo juga ingin mengundang Mbak makan dan bicara soal pengembangan dapur.”

“Di rapat resmi?”

“Katanya makan santai di rumah dinas.”

Laras merapatkan map. “Saya tidak bisa meninggalkan Satya malam hari. Kalau ada pembicaraan dapur, sampaikan melalui pelatihan.”

Petugas itu tampak lega karena tidak perlu membujuk lebih jauh.

Bu Titin yang menunggu di luar langsung bertanya, “Apa katanya?”

“Pelatihan resmi saya terima. Makan pribadi saya tolak.”

“Bagus. Sudibyo suka memanggil orang satu-satu lalu membuat mereka berutang budi.”

Di seberang lapangan, seorang prajurit muda yang biasa membantu Bu Ratna melihat Iwan baru kembali dengan lumpur sampai ke betis. Ketika mendengar kata Girisari dari petugas parkir, ia segera membawa kabar tersebut kepada Bu Ratna.

“Untuk apa Iwan pergi ke desa Laras?” tanya Bu Ratna.

“Katanya urusan keluarga prajurit gugur.”

Bu Ratna menyipitkan mata. Setelah peringatan Bima, ia tidak berani langsung bergerak, tetapi informasi itu disimpannya.

Malam hari, Iwan melapor di kantor.

“Nala sudah tidak demam. Masih kurus, tapi matanya terang. Dia minum sedikit susu dan tidak muntah. Mbah Inah bawa ke puskesmas kemarin.”

Bima mengembuskan napas yang tidak ia sadari ditahan.

“Bu Jum?”

“Mencoba meminta uang. Ketua RT melihat amplop diserahkan langsung ke Mbah Inah.”

“Bagus.”

“Mbah Inah titip terima kasih.”

“Kamu tidak menyebut nama saya?”

Iwan menggeleng. “Tapi sepertinya beliau tahu.”

Bima tidak menjawab. Ia menyuruh Iwan menyimpan kuitansi, lalu pulang setelah Isya.

Di rumah, Laras sedang menidurkan Satya. Jendela belakang terbuka. Suaranya mengalun pelan, kali ini lebih jelas daripada malam sebelumnya.

Air mengalir jauh.

Rindu menyeberang lebih jauh lagi.

Bima berdiri di bawah jendela sampai melodi itu selesai.

“Lagu apa itu, Ras?”

Nyanyian berhenti.

Laras menoleh cepat. Wajah Bima terlihat di balik kisi jendela, separuh disinari lampu teras.

Itu pertama kalinya ia memendekkan namanya.

“Lagu lama,” jawab Laras. “Bengawan Solo. Simbok dulu sering menyanyikannya.”

“Untuk Nala?”

Dada Laras berdegup. “Untuk siapa saja yang jauh.”

Bima mengangguk, seolah menyimpan jawaban itu bersama melodinya.

“Kabar dari Girisari akan datang,” katanya.

Laras menegang. “Komandan tahu sesuatu?”

“Belum.”

Satu kata itu terdengar terlalu cepat.

Sebelum Laras sempat bertanya lagi, Bima sudah berjalan menjauh dari jendela.

Ia meninggalkan Laras dengan satu panggilan baru, satu harapan tentang Nala, dan kecurigaan bahwa laki-laki itu sedang menyembunyikan kebaikan yang tidak ingin diakui.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!