NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Rahasia Kecil

Nadhira terbangun dengan jemarinya masih berada dalam genggaman Rayhan.

Cahaya pagi masuk melalui celah tirai. Hujan sudah berhenti. Di antara mereka, Alif tidur telentang dengan mulut sedikit terbuka, sedangkan Arkan meringkuk menghadap Nadhira sambil memeluk ujung selimut.

Tangan Rayhan hangat dan berat di atas tangannya.

Nadhira mencoba menarik jemari perlahan.

Genggaman itu justru mengencang.

Rayhan membuka mata.

Mereka saling menatap tanpa bicara. Wajah pria itu masih menyimpan sisa kantuk, membuat garis tegas di antara alisnya terlihat lebih lunak. Begitu menyadari posisi tangan mereka, ia melepaskannya.

"Selamat pagi," katanya.

"Pagi."

Suara Nadhira terdengar terlalu cepat. Ia segera membetulkan selimut Arkan meski selimut itu sudah menutup sampai dagu.

"Listrik tidak mati lagi?"

"Tidak."

"Bagus."

Percakapan itu berhenti. Mereka sama-sama memandang langit-langit seolah kestabilan listrik adalah perkara paling menarik di dunia.

Sudut bibir Nadhira terangkat lebih dulu.

Rayhan melihatnya. "Kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa."

"Kamu tersenyum."

"Orang boleh tersenyum pagi-pagi."

"Saya tidak melarang."

Ada sesuatu yang hampir menyerupai senyum pada wajahnya. Nadhira menahan tawa, lalu suara kecil muncul di tengah ranjang.

"Mama berisik."

Alif mengusap mata dengan kedua kepalan tangannya. Rambutnya berdiri di satu sisi. Ia menoleh ke Nadhira, lalu kepada Rayhan, dan kembali memandang wajah ibunya dengan serius.

"Mama kenapa senyum-senyum terus?"

Panas langsung naik ke pipi Nadhira.

"Mama tidak senyum-senyum terus."

"Senyum." Alif menunjuk mulutnya. "Dari tadi."

Di sebelahnya, Arkan membuka mata. Ia tidak bertanya apa-apa, tetapi ikut memperhatikan Nadhira. Dua pasang mata kecil itu membuat Nadhira merasa sedang diperiksa dalam rapat keluarga.

"Karena badai sudah selesai," jawabnya.

Alif menerima alasan itu dengan anggukan. "Sama Papa juga?"

"Apa hubungannya dengan Papa?"

"Mama lihat Papa, terus senyum."

Rayhan berdeham, tetapi bahunya bergerak kecil. Ia sedang menahan tawa.

Nadhira mengambil bantal kecil dan menekannya ke sisi tubuh Rayhan. "Jangan diam saja. Bantu saya."

"Pengamatan Alif cukup akurat."

"Rayhan."

Kali ini ia benar-benar tersenyum tipis.

Arkan duduk dan menarik lengan baju Nadhira. "Lapar."

"Nah, itu masalah penting." Nadhira segera turun dari ranjang. "Kita sarapan sebelum dua anak ini berubah jadi harimau."

Alif mengangkat kedua tangan seperti cakar. "Aum!"

Arkan menirunya dengan suara jauh lebih pelan. Rayhan menggendong keduanya turun bergantian, dan kecanggungan pagi itu pecah menjadi tawa.

Di ruang makan, Mbak Wati sudah menyiapkan nasi goreng kampung, telur, potongan buah, dan susu hangat. Ia tidak berkomentar saat melihat Rayhan masih mengenakan kaus tidur dan keluar dari kamar Nadhira bersama anak-anak. Namun, senyum yang ia sembunyikan saat menuang teh terlalu jelas.

Nadhira pura-pura tidak melihat.

Alif dan Arkan duduk berdampingan. Alif menceritakan kunang-kunang pemberani dari dongeng semalam dengan kalimat yang terpotong-potong. Arkan menyisipkan satu atau dua kata, lalu menyuapkan telur kepada Kopi sebelum Nadhira sempat mencegah.

"Tidak untuk Kopi," kata Nadhira sambil memindahkan piring. "Makanan Kopi ada sendiri."

Arkan menatap anjing kecil yang duduk penuh harap di bawah kursi. "Kasihan."

"Kalau sayang, kita kasih makanan yang aman."

Rayhan bangkit, mengambil dua butir pakan dari wadah, lalu meletakkannya di telapak Arkan. "Pakai ini."

Arkan tersenyum dan memberikannya kepada Kopi satu per satu.

Nadhira memandang Rayhan tanpa sadar. Kaus abu-abu, rambut belum rapi, satu tangan memegang cangkir kopi, tangan lain membersihkan remah di depan Alif. Tidak ada jas, rapat, atau wajah dingin seorang CEO. Hanya seorang ayah yang tahu letak makanan anjing dan tisu anak.

Rayhan menangkap tatapannya.

"Apa?"

"Tidak ada."

"Senyum lagi," lapor Alif.

Mbak Wati buru-buru masuk ke dapur, tetapi suara tawanya masih terdengar.

Nadhira menutup wajah dengan satu tangan. "Mulai hari ini, tidak ada yang boleh mengamati Mama saat sarapan."

"Kenapa?" tanya Alif.

"Karena Mama mau makan."

"Mama malu," kata Arkan pelan.

Rayhan menunduk ke cangkirnya. Kali ini Nadhira melihat jelas sudut bibirnya bergerak.

Setelah anak-anak selesai makan, Rayhan membawa mereka ke halaman belakang untuk melihat ranting yang jatuh akibat badai. Nadhira membantu Mbak Wati memeriksa plafon dan jendela yang sempat terkena tempias. Tidak ada kerusakan besar. Dua pot tanaman roboh, satu sensor luar perlu diganti, dan talang di sisi timur harus dibersihkan.

Pagi yang biasa itu terasa seperti hadiah.

Menjelang pukul sepuluh, bel gerbang berbunyi.

Petugas keamanan menelepon dari pos depan. "Bu Nadhira, ada kurir resmi membawa surat tercatat. Identitas dan nomor kirim sudah kami cocokkan. Apakah diterima di pos atau diantar petugas ke rumah?"

"Terima di pos, lalu antar bersama buku serah terima. Jangan izinkan kurir masuk."

Beberapa menit kemudian, seorang petugas perempuan tiba membawa amplop cokelat. Nadhira menandatangani penerimaan setelah mencocokkan nama serta nomor perkara pada lembar luar.

Rayhan kembali dari halaman dengan Arkan di lengannya. Ia langsung melihat lambang pada sudut amplop.

"Dari pengadilan?"

Nadhira mengangguk.

Kehangatan sarapan tadi belum hilang, tetapi jari-jarinya mendadak dingin. Ia menyerahkan kedua anak kepada Mbak Wati, lalu masuk ke ruang kerja bersama Rayhan.

Amplop itu dibuka di atas meja. Di dalamnya ada surat panggilan untuk sidang lanjutan perkara pengasuhan Alif, jadwal pemeriksaan bukti, dan kewajiban para pihak hadir bersama kuasa hukum.

"Saya kira setelah jawaban kita masuk, mereka akan berhenti," kata Nadhira.

"Bu Sumini tidak datang sejauh ini untuk berhenti karena malu."

Rayhan meraih ponsel dan menghubungi pengacara. Ia tidak menjanjikan kemenangan atau menyuruh Nadhira tenang. Ia hanya mengaktifkan pengeras suara agar semua penjelasan bisa mereka dengar bersama.

Pengacara meminta salinan surat, lalu menjelaskan bahwa panggilan itu bukan tanda Bu Sumini menang. Pengadilan tetap perlu memeriksa klaim, jawaban, bukti, dan keterangan yang diajukan. Dokumen kesehatan Alif, laporan kejadian pengambilan paksa, foto ruang penyimpanan, catatan IGD Nadhira, serta saksi tetangga sudah masuk dalam daftar bukti mereka.

Ia juga meminta Nadhira tidak menghapus pesan lama, meski membacanya membuat mual. Rekaman suara Bu Sumini, bukti transfer santunan yang berpindah, dan catatan dari PAUD harus disimpan dalam bentuk asli. Nadhira membuka folder bukti di laptop. Untuk pertama kali, tumpukan jejak buruk itu tidak terasa seperti aib yang harus ia sembunyikan. Semuanya adalah pagar yang melindungi Alif.

"Ibu Nadhira tetap memegang pengasuhan selama tidak ada penetapan lain," tegasnya. "Jadwal sekolah dan rutinitas anak tidak berubah."

Nadhira mengembuskan napas perlahan.

Dari luar ruang kerja terdengar Alif tertawa ketika Kopi mengejar daun basah. Kehidupan anak itu berjalan hanya beberapa meter dari sebuah dokumen yang memperdebatkan tempat tinggalnya.

Rayhan menutup telepon, lalu menggeser surat itu ke tengah meja, bukan ke sisinya sendiri.

"Kita hadapi bersama."

Nadhira memandang tangan yang semalam menggenggamnya, lalu tanda tangan resmi di bagian bawah surat.

Sidang hak asuh Bu Sumini akan berlanjut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!