azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lima
Azalea menatap sendu Rania yang tertidur pulas dengan tangan mungilnya yang dipasangi selang infus.
Ia merasa gagal, bagaimana bisa bayi 3 minggu itu sudah dirawat di rumah sakit karena dehidrasi.
Dokter cantik tadi mengatakan kalau Rania dehidrasi, Azalea merasa gagal menjadi seorang ibu.
Kiano yang duduk di samping ranjang, sesekali melirik ke arah Azalea. Melihat gadis itu yang terpukul, sedih dan kalut. Hatinya menghangat, Kiano tak menyangka betapa gadis itu sangat perduli pada putrinya.
Kiano merasa bersalah, betapa tadi dirinya cukup kejam hanya karena Azalea memakai panggilan Naima untuk Rania.
"Tidurlah Za, cairan infus Rania masih banyak, nanti kalau udah beres, aku bangunin kamu"
Azalea menoleh, sorot matanya masih sendu, namun gadis itu mengangguk.
"Maafin aku Mas Kian.."
Kiano mengernyitkan alisnya heran, matanya memicing.
"Maaf?Buat apa?"
Azalea menggeleng lesu, "Rara dehidrasi karena aku bodoh, aku bisa nggak tahu"
Kiano tak menjawab, bagaimana bisa ia menyalahkan Azalea. Gadis itu meninggalkan kehidupan nyamannya demi Rania, Azalea juga sedang belajar seperti dirinya.
"Padahal aku sesumbar mengatakan siap mengurus Rara, hhhhhhh. Maafin aku Mas"
"Sudahlah" sahut Kiano tenang, "Tidurlah, mungkin menjelang subuh nanti, cairan infus ini habis"
"Mas Kian saja yang tidur, mas kan nanti harus nyetir"
Tatapan Kiano tak bergeming, menatap Azalea lekat. Sebenarnya ia tak menduga sama sekali Azalea begitu lembut, sangat tidak sesuai dengan penampilan tomboynya.
Ada sisi dari diri gadis itu yang mengingatkannya pada Naima, kelembutan mereka sama.
Kiano masih menatap Azalea, gadis itu menjatuhkan kepalanya di sisi lengan Rania yang tertidur pulas.
Kiano masih sibuk dengan pikirannya, ingatannya mengembara ke masa lalu, saat pertama kali kiano melihat gadis ini.
8 tahun lalu, Azalea masih memakai seragam putih birunya, dengan rambut panjangnya yang diikat seperti ekor kuda.
Saat itu pertama kalinya ia mengantar Naima pulang ke Brebes, sekalian berkenalan dengan orangtua dari wanita yang sangat ia cintai itu.
Naima cantik, sangat cantik. Namun secara visual kecantikan Azalea jauh lebih terlihat. Azalea gadis yang manja, terutama pada Naima.
Namun dari awal gadis itu memang menjaga jarak darinya, Kiano tak tahu mengapa dan apa alasannya.
Apalagi setelah ia resmi menikahi Naima, Azalea semakin menjauh. Walau ada beberapa kali mereka pulang ke kampung Naima, tapi Kiano jarang berbicara dengan Azalea.
Mungkin karena pekerjaan gadis itu atau entahlah, namun memang mereka jarang bertemu.
"Mas Kian"
Kiano menoleh, panggilan Azalea menyentakkannya dari lamunan.
"Biar aku saja yang nyetir nanti, aku tidur yah"
Kiano mengangguk, senyum tipis tersemat di bibirnya. Gadis itu terlihat sangat mengantuk, namun tangannya memegangi lengan kecil Rania.
Sebenarnya Kiano penasaran saat mertuanya mengusulkan ide pernikahan itu. Sampai detik ini juga, Kiano masih tak tahu alasan Azalea menerima ide kedua orangtuanya itu.
Kiano memang tidak membutuhkan istri, cintanya habis untuk Naima, tapi putri kecilnya itu pasti butuh ibu.
Saat ayah dan ibu mertuanya meminta Kiano menikahi Azalea, walau awalnya dia kaget. Namun ia bersyukur, Rania akan dibesarkan oleh Azalea. Bagaimanapun Azalea adalah saudara kandung Naima.
Namun tidak menutupi perasaannya saat ini, Kiano kasihan pada Azalea. Pernikahan ini hanyalah formalitas, Kiano tidak bisa menjadikan Azalea menjadi istri sebenarnya.
Kiano tidak mungkin sanggup, Kiano tahu kalau dia tidak akan bisa menyentuh Azalea. Dan Kiano juga yakin Azalea pasti merasakan hal yang sama.
^^^^^^^^^^^^^
"Mas Kian tetap pergi bekerja?" tanya Azalea dengan tatapan tak percaya.
Mata indahnya mengamati Kiano dari atas ke bawah. Mereka pulang jam 3 dini hari tadi, hanya tidur 3 jam, pria itu sudah berpakaian rapi, duduk di meja makan sedang ngopi.
Kiano mengangguk, sembari menyambar gelas kopinya dan menyeruputnya nikmat.
"Aku cuman ngajukan cuti 3 hari Za, kamu nggak apa-apakan kalau sendirian..., oh yah aku lupa kasih tahu kamu, nanti jam 8 ada mbak-mbak yang biasa bantuin beresin rumah sampai jam 5 sore, jadi fokus kamu hanya Rara"
Azalea mengangguk, namun ia tetap mengamati Kiano yang pagi ini terlihat sedikit berbeda. Azalea belum pernah melihat Kiano dalam pakaian kerjanya, sejujurnya penampilan Kiano terlihat berbeda, lebih wibawa dan juga..tampan.
Azalea menundukkan kepalanya, alisnya berkerut heran. Mengapa tiba-tiba dadanya berdebar aneh yah, apakah karena Kiano terlihat begitu tampan dengan kemeja putihnya yang dilapisi jas hitam.
Kiano tidak pakai dasi, hanya kemeja putih dan jas, namun cukup membuat jantung Azalea berdebar kencang.
"Kamu juga nggak perlu masak, Za. Mbak Yuni akan mengerjakan semuanya"
"Mas.., heummm, bisa nggak kalau masak aku yang handle?aku nggak biasa makan masakan orang lain." tanya Azalea dengan raut wajah berharap, matanya berkedip-kedip memohon.
Kiano sampai melengos, membuang pandangannya ke arah lain. Pose Azalea yang menautkan kedua tangan saling meremas di depan dada itu, sungguh menggemaskan. Dan sejujurnya Kiano terkejut dan tidak menyangka kalau Azalea bisa seimut ini.
"Mas Kiaaan.."
"Terserah kamu aja Za, kalau kamu nggak kerepotan mengurus Rara yah nggak apa-apa" jawab Kiano cepat, pria itu berdiri setelah meletakkan gelas kopi seruputan terakhirnya.
"Aku pergi dulu!" pamit Kiano tanpa menatap Azalea yang ikut berdiri.
Gadis itu mengikuti Kiano menuju teras, rencananya dia pengen salim, tapi pria itu sama sekali tak melihatnya lagi, pergi begitu saja, masuk ke mobilnya.
Azalea hanya melambaikan tangannya, walau Kiano tidak membalasnya sama sekali. Terdengar hembusan nafas Azalea keras, apa yang ia pikirkan coba. Mau salim, seakan pernikahan mereka karena cinta.
"Hhhhhh" Azalea mendengus, tawa sumbang keluar dari bibirnya.
'Kamu ngarepin apa sih Za'
"Selamat pagi"
Azalea menoleh kaget, kerutan keningnya menebal, menatap seorang wanita bertubuh tambun yang juga menatapnya.
"Saya mbak Yuni, yang biasa bantu-bantu, mbak.."
"Azalea" sahut Azalea cepat, tersenyum manis.
"Mbak Yuni bisa panggil saya Aza"
Wanita tambun itu tersenyum ramah, "Mbak Aza, istri mas Kian yah?"
Azalea mengangguk pelan," Saya adiknya mbak Naima, Mbak"
"Ohhh.." sahut wanita itu dengan mulut membulat, bola matanya membesar.
"Turun ranjang yah Mbak?"
Azalea tak menjawab, ia hanya melangkah masuk setelah mbak Yuni tadi ijin ke dapur.
Azalea juga sempat meminta wanita tambun itu untuk tidak lagi masak, mulai saat ini dan seterusnya Azalea akan mengurus dapurnya sendiri.
Wanita tambun itu awalnya keberatan, ia takut akan berdampak akan gaji bulanannya, namun Azalea memastikan kalau keputusannya itu tidak mengganggu gaji wanita itu sama sekali.
Setelah Azalea menjelaskan dengan baik, wanita tambun itu setuju, ternyata pekerjaannya jauh berkurang.
Azalea meminta wanita itu mencuci dan menyetrika, serta beberes rumah saja.
"Mbak Aza ternyata rajin yah" puji wanita tambun itu tersenyum ramah.
"Berbeda dengan mbak Naima almarhumah"
Azalea mengernyitkan alisnya penasaran, menatap wanita tambun itu penuh tanya.
"Mbak Naima menyerahkan semua pekerjaan rumah pada saya Mbak" jawab wanita tambun itu tanpa diminta.
Sesaat Azalea tak percaya, seingatnya Naima sangat rajin dan telaten. Tapi mungkin saja sejak kakaknya itu menjadi wanita karier dengan perusahaan bersamanya bersama Kiano.
Bisa saja Naima berubah, namun hatinya enggan menerima kenyataan itu. Bagi azalea, Naima adalah sosok kakak yang sangat sempurna di matanya.
Bersambung..
.