“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Ada apa?" suara Elara berubah menjadi serius kala dia menerima telepon dari Leo.
"Aku sudah menghubungi pemilik tanah, kau harus menemuinya nanti jam tujuh malam. Aku baru sampai di bandara nanti kita bertemu di lokasi."
Elara tersenyum cerah, "Oke."
"Pastikan tidak terlambat. Karena tanah ini sedang diperebutkan oleh seseorang," kata Leo dengan serius.
"Siapa?"
"Aku belum tahu pasti, tapi orang itu cukup berpengaruh di sini," jawab Leo. "Jadi, kau harus berhati-hati."
Elara mengangguk meskipun Leo tidak bisa melihatnya. "Baiklah, aku akan datang tepat waktu. Kirimkan alamatnya padaku."
Setelah menutup telepon, Elara segera memikirkan cara untuk kabur dari pantauan Dreven.
Jam masih menunjukkan pukul lima, masih ada waktu dua jam sebelum pertemuan. Dengan menghela nafas dia membuka pintu kamar mandi, namun dia tersentak saat Dreven ada di depan kursi rodanya, menatapnya dengan mata tajam.
"Telepon dari siapa?" tanya pria itu yang membuat jantung Elara berdebar.
"Teman," jawabnya setenang mungkin.
Dreven menatapnya tajam, "Oh, istirahatlah dan nanti bersiaplah setelah ini kita pergi makan malam."
Elara mengangguk, lalu melihat Dreven pergi ke kamarnya sendiri.
"Sial, makan malam jam setengah delapan dan aku harus menemui pemilik tanah jam tujuh," gumamnya panik.
Ting!
Notifikasi pesan dari Leo langsung dibuka oleh Elara, disana pria itu mengirim alamat restoran yang akan mereka datangi.
Matanya Elara langsung berkilat saat melihat alamat restorannya dekat dengan hotelnya, "kesempatan bagus, aku bisa pergi tanpa diketahui!"
---
"Koktail disini enak, pasti harganya mahal," gumam Andre saat mereka berkumpul di kamar hotel.
Leandro tertawa kecil sambil menuangkan minuman ke dalam gelasnya. "Tentu saja, kita sedang di Dubai, bro. Apa yang tidak mahal di sini?"
Kiera menyilangkan kaki dan menyeruput koktailnya dengan santai. "Aku lebih penasaran, kenapa tiba-tiba kita makan malam lebih awal? Biasanya Dreven selalu santai soal jadwal."
Andre melirik ke arah Dreven yang duduk dengan ekspresi datar di kursi rodanya. "Jangan bilang kau punya agenda tersembunyi?" godanya.
Dreven hanya tersenyum tipis, lalu menatap jam tangannya. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku hanya ingin memastikan sesuatu."
Rastha penasaran, "memastikan apa?"
Dreven hanya diam tak menjawab, hal itu membuat teman-temannya menjadi penasaran.
Hingga Andre mengajukan pertanyaan, "Tentang istrimu?"
Leandro menimpali, "aku rasa istri Dreven hanya orang biasa. Kalian lihatkan jika dia sangat introvert jadi apa yang harus dipastikan? Bahkan dia sepertinya tak peduli pada Dreven."
Rastha mengangguk, "wanita normal harusnya marah jika suaminya memberikan salam kecupan pada wanita lain. Aku lihat bahkan sorot matanya dingin bahkan terkesan tak peduli."
Andre terkekeh, "Bukannya bagus? Dreven suka mengencani beberapa wanita meskipun tidak sampai ke ranjang. Jadi saudara kita ini menikah tapi rasa lajang, ahhh aku juga ingin menikah apalagi wanitanya secantik Elara. Bukankah pemandangan pagiku akan sangat indah?"
Dreven yang mendengar itu langsung menatap tajam Andre, "jangan membayangkan wajah istriku di pagi hari!"
"Wowow, tenang. Aku hanya berandai bukan bermaksud merebut, okey?"
Kiera yang melihat itu menatap Dreven dengan datar sambil memutar gelas koktailnya, "jadi apa masalahnya dengan istrimu sampai perlu diawasi."
Dreven menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. "Bukan masalah besar, hanya saja... aku penasaran."
Leandro menaikkan alis. "Penasaran tentang apa? Kau sendiri yang menikahinya, tapi sekarang kau bertingkah seolah dia teka-teki yang belum terpecahkan."
Dreven menyandarkan punggungnya ke kursi roda, memainkan gelas di tangannya. "Justru itu masalahnya. Aku merasa aku belum benar-benar mengenalnya."
Kiera tertawa kecil, tapi tatapannya penuh arti. "Kalau begitu, bukannya lebih mudah kalau kau bertanya langsung padanya? Daripada membuang waktu untuk menebak-nebak."
Rastha mengangguk setuju. "Setidaknya, kau harus tahu apa yang disembunyikannya, jika memang ada sesuatu."
Dreven hanya menyeringai. "Aku punya cara sendiri untuk mengetahuinya."
---
"Kau mau kemana?"
Elara membeku di tempatnya, jantungnya berdetak lebih cepat.
Itu suara Dreven?!
"M-mau mencari udara segar."
Dreven menggerakkan kursi rodanya keluar dari kamar hotelnya lalu menghampiri Elara di depan pintu kamarnya. Dia melihat ke arah jam di tangannya.
"Masih setengah tujuh. Sebentar lagi makan malam," katanya dengan datar.
"Hanya sebentar, bukannya hanya makan malam?"
"Aku temani."
Elara mengutuk dalam hati. Kenapa pria ini tiba-tiba jadi perhatian?
"Tidak perlu," katanya cepat, berusaha terdengar santai. "Aku hanya butuh waktu sendiri."
Dreven menyandarkan tubuhnya di kursi roda, menatap Elara dengan sorot mata yang sulit ditebak. "Kau butuh waktu sendiri, atau kau berencana sesuatu?"
Elara menggigit bibirnya, menahan diri agar tidak menunjukkan ekspresi mencurigakan. "Kau selalu berpikir buruk tentangku, ya?"
Dreven tersenyum tipis. "Hanya mencoba memahami istriku lebih baik."
Elara menghela napas, mencoba mencari alasan lain. Tapi sebelum dia sempat bicara, Dreven sudah meraih pergelangan tangannya dengan lembut. "Kalau hanya sebentar, aku temani."
Elara ingin berteriak frustrasi. Rencananya untuk pergi tanpa diketahui kini berantakan.
Tapi sebelum dia menolak lagi, Dreven langsung menarik tangannya keluar—dengan kursi roda elektroniknya yang mengikuti di sampingnya.
"Eh–"
Elara terpaksa mengikuti langkah Dreven yang bergerak dengan percaya diri di kursi rodanya. "Kita mau kemana?" tanyanya dengan nada jengkel.
Dreven hanya tersenyum miring. "Bukankah kau ingin mencari udara segar? Aku tahu tempat yang lebih baik."
Elara mendengus. Jelas sekali pria ini tidak akan membiarkannya pergi sendirian. Dia harus mencari cara lain untuk bisa kabur ke pertemuannya dengan pemilik tanah.
Mereka turun dengan lift menuju lantai bawah. Elara berpikir keras. Jika Dreven terus bersamanya, bagaimana dia bisa pergi tanpa dicurigai?
Saat mereka sampai di lobi, Elara melihat sesuatu yang bisa membantunya—sekelompok turis sedang sibuk mengambil foto, menghalangi jalan. Mungkin ini kesempatan yang bisa ia manfaatkan.
Begitu mereka melewati kerumunan turis, Elara berpura-pura tersandung. Dengan sengaja, dia menjatuhkan tas kecilnya sehingga isinya berhamburan ke lantai.
"Oh, sial!" serunya dramatis.
Dreven otomatis berhenti dan berbalik. "Kau baik-baik saja?"
Elara mengangguk sambil berjongkok, buru-buru mengumpulkan barang-barangnya. Saat Dreven ikut membantu dari kursi rodanya, dia dengan cepat meraih ponselnya dan mengirim pesan cepat ke Leo.
"Aku akan telat. Dreven mengawasi."
Begitu pesan terkirim, dia berpura-pura tersenyum. "Maaf, aku ceroboh."
Dreven mendengus. "Kau memang merepotkan."
Elara berdiri, membersihkan bajunya, lalu melihat sekeliling. "Aku ingin ke toilet, kau tunggu disini sebentar."
Dreven menatapnya curiga, "Tapi..."
"Excuse me sir, can you take a picture of us?" Tiba-tiba seorang turis menghampiri mereka, hal itu membuat Elara memiliki kesempatan.
"Sorry.."
Elara langsung memotong, "sudah bantu saja mereka, aku ingin ke toilet dan tidak lama."
Dreven menghela nafasnya, "Oke. Jangan lama-lama."
Begitu Dreven sibuk menerima ponsel dari turis itu, Elara langsung bergegas ke arah toilet hotel.
Langkahnya cepat, napasnya sedikit tertahan karena jantungnya berdetak kencang. Begitu masuk ke dalam toilet wanita, dia buru-buru mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan lain ke Leo.
"Aku berhasil lepas. Kirimkan alamat lagi."
Dia menunggu sebentar, lalu ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk berisi lokasi yang harus dia tuju.
Elara tersenyum puas. Dia melihat ke cermin, merapikan rambutnya, lalu melepas sepatu hak tingginya agar lebih mudah berlari.
Saatnya kabur.
Sementara itu, Dreven yang selesai mengambil gambar turis itu langsung menggerakkan kursi rodanya ke toilet wanita. Dia bersandar di dinding dekat pintu sambil menunggu Elara keluar.
Menit demi menit berlalu, tetapi Elara tak kunjung keluar.
Dreven melirik jam tangannya, ekspresinya mulai berubah. Matanya menyipit curiga.
Tanpa ragu, dia membuka pintu toilet wanita dan melihat ke dalam. Beberapa wanita di sana menatapnya kaget dengan pria di kursi roda yang masuk ke toilet wanita, tetapi tak ada tanda-tanda Elara.
"Maaf, apakah ada wanita dengan gaun biru keluar dari sini?" tanyanya dengan suara rendah namun tegas.
Salah satu wanita disana menjawab, "Sejak tadi tak ada wanita lain yang masuk dan di dalam bilik semua kosong."
Dreven mengerutkan keningnya. Matanya menyapu seluruh ruangan, memastikan wanita itu tidak berbohong.
Semua bilik memang kosong.
Seketika, rahangnya mengeras. Elara tidak pernah masuk ke sini.
"Sial."
Dia memutar kursi rodanya keluar dengan cepat, matanya menyapu setiap sudut restoran. Jelas sekali Elara sudah pergi lebih dulu tanpa jejak.
Dengan satu tarikan napas panjang, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Cari istriku. Dia baru saja menghilang."
Tatapan Dreven berubah dingin. "Kau benar-benar nekat, Elara."
Bersambung
karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/