NovelToon NovelToon
Aku Hamil Anak Raja Vampir

Aku Hamil Anak Raja Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Latief_ayra

hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 26

Dengan suara yang rendah namun berat dan tegas, suaranya bergetar penuh janji yang tak akan pernah ia ingkari seumur hidupnya:

"Tunggu... Jangan pergi seperti ini... Aku tahu... Aku tahu aku berutang LIMA TAHUN kepadamu. Lima tahun yang penuh air mata, ketakutan, kesepian, dan penderitaan yang kau tanggung sendirian. Aku tahu... tak ada kata yang mampu meluruhkan rasa sakit itu. Tapi ketahuilah... Hutang itu... AKU AKAN MEMBAYARNYA KEMBALI. Setiap detik yang hilang... setiap tetes air mata yang jatuh... semuanya akan kubayar lunas kepadamu, perlahan-lahan dengan sisa hidupku."

Draven meremas pelan jari-jari tangan Elizabeth yang dingin dan gemetar, menatapnya dalam-dalam dengan pandangan yang memohon sekaligus menenangkan. Lalu ia melanjutkan dengan nada yang semakin lembut namun tegas, seakan menegaskan prioritas yang tak boleh ditunda sedikit pun:

"Namun... TIDAK HARI INI. Hari ini... biarlah dendam dan kemarahan itu tertahan sebentar. Karena hari ini... ada hal yang jauh lebih penting daripada segala amarah dan kebencian kita. Hari ini... KITA SEMBUHKAN DULU ANAK KITA.

Mari selamatkan nyawa Leon terlebih dahulu... karena ia adalah darah daging kita berdua. Biarlah setelah ia sembuh dan selamat... barulah kau lakukan apa pun yang kau inginkan kepadaku. Biarlah setelah itu kau benci aku, kau tinggalkan aku, atau kau hukum aku seumur hidup... aku tak akan melawan.

Tapi hari ini... tolong... izinkan aku menjadi ayah baginya, dan izinkan aku menjagamu bersamanya. Demi Leon... tetaplah di sisinya."

Elizabeth terdiam mendengar kata-kata itu. Amarah di dadanya masih membara, namun hatinya yang lemah seketika teringat pada Leon. putra kesayangannya yang sedang berjuang memulihkan nyawanya.

Ia menatap mata Draven yang penuh ketulusan dan permohonan itu, perlahan genggamannya yang tadinya hendak melepaskan diri pun perlahan melemah.

Di balik amarahnya, ia menyadari satu hal yang tak dapat dipungkiri . Draven benar. Tak ada yang lebih berharga saat ini selain keselamatan dan kesembuhan putra mereka.

Draven melihat perubahan kecil di wajah Elizabeth, lalu dengan lembut ia menariknya perlahan mendekat, menatapnya sekali lagi dengan pandangan penuh janji:

"Aku tak akan lari dari tanggung jawabku... dan aku tak akan membiarkanmu pergi sendirian dalam kesedihan. Hutang lima tahun itu... akan kubayar lunas. Tapi sekarang... mari kita jaga anak kita bersama. Demi Leon..."

Elizabeth terdiam mematung, dadanya masih naik turun menahan emosi yang bergolak. Matanya menatap tajam ke mata Draven, namun amarah yang tadi meledak-ledak perlahan bercampur dengan keraguan dan kepedihan yang tak kunjung kering.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang nyaris meledak, lalu dengan suara yang masih bergetar namun perlahan menjadi lebih tenang, ia kembali berbicara:

"Membayar hutang...? Kau kira penderitaan bisa diukur dan diganti begitu saja? Kau kira air mata yang jatuh di tengah malam yang dingin, rasa takut yang menyusup ke tulang, dan rasa sepi yang mematikan itu... bisa kau ganti dengan kata-kata manismu sekarang?"

Elizabeth menarik tangannya perlahan dari genggaman Draven, namun kali ini ia tak melangkah pergi. Ia menatap lurus ke arah pintu yang terbuka, seakan melihat kembali bayang-bayang masa lalu yang kelam itu, lalu melanjutkan dengan nada yang makin rendah namun penuh beban berat:

"Aku pernah berjanji pada diriku sendiri... saat aku melahirkan anakmu sendirian di tengah badai salju itu... aku bersumpah tak akan pernah membiarkan siapa pun menyakiti anakku. Termasuk ayahnya sendiri... jika ayahnya itu tak hadir saat kami membutuhkannya paling banyak."

Draven mendekat sedikit lagi, suaranya penuh kepasrahan dan penyesalan yang tak terhingga. "Aku tahu... aku tak pantas meminta maaf. Aku tahu tak ada yang bisa mengembalikan lima tahun yang hilang itu.

Tapi Elizabeth... lihatlah anak kita. Di dadanya mengalir darahmu dan darahku. Dan saat nyawanya hampir melayang... saat ia memanggil kita berdua... bukankah itu tanda bahwa takdir menyatukan kita bukan untuk saling membenci, melainkan untuk melindunginya bersama-sama?"

Draven menatapnya lekat-lekat, melanjutkan dengan suara yang penuh permohonan namun tetap teguh:

"Bencilah aku... benci aku seumur hidupmu jika itu meringankan hatimu. Hukumlah aku... tinggalkanlah aku nanti saat Leon telah sembuh sepenuhnya. Tapi sekarang... kumohon padamu... Jangan tinggalkan anak kita di saat ia sedang berjuang hidup kembali. Jangan biarkan ia tumbuh menyaksikan kedua orang tuanya saling berpaling. Tetaplah di sisinya... demi Leon. Dan biarlah aku... biarlah aku menanggung segala murkamu selama itu. Aku rela menerima segala amarahmu... asalkan kau tetap di sini... bersama anak kita."

Elizabeth tertegun mendengar kata-kata itu. Kata-katanya begitu tulus, begitu penuh kerendahan hati, seakan Draven benar-benar siap menerima segala hukuman dari wanita yang dicintainya itu tanpa sedikit pun membela diri. Air mata yang tadi sempat berhenti kini kembali menetes perlahan di pipinya. Ia menatap Draven lama sekali, seakan ingin memastikan bahwa janji itu bukan sekadar kata-kata kosong.

Akhirnya, dengan suara yang lirih namun terdengar jelas di keheningan ruangan itu, Elizabeth menjawab pelan:

"Baik... Demi Leon... aku akan tetap di sini. Tapi jangan kau kira ini berarti aku telah memaafkanmu. Luka yang kau biarkan menganga di hatiku selama lima tahun itu... belum akan sembuh secepat ini. Saat Leon telah pulih sepenuhnya... saat semuanya telah aman... barulah kita bicarakan semuanya dari awal."

Draven mengangguk perlahan, rasa syukur yang luar biasa seketika memenuhi dadanya. Ia tak meminta lebih. Cukup baginya bahwa Elizabeth setuju untuk tetap tinggal di sisi putra mereka. Cukup baginya bahwa untuk saat ini, mereka bersatu demi keselamatan anak yang paling mereka cintai itu.

"Terima kasih..." bisik Draven pelan, matanya kembali berkaca-kaca. "Terima kasih... karena kau masih memberi kesempatan itu. Aku berjanji... selama masa pemulihan Leon... aku akan membuktikan padamu bahwa aku layak dipercaya. Dan hutang lima tahun itu... akan kubayar lunas, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!