menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINTU MASA DEPAN
Keesokan harinya di sekolah, atmosfer di antara Akira dan Yuki berubah menjadi sangat canggung.
Momen berharga di bangku taman sore kemarin masih berputar jelas di kepala mereka masing-masing. Tanpa sadar, keduanya saling menjaga sedikit jarak karena belum tahu bagaimana harus bersikap seperti biasa.
Saat jam istirahat tiba, takdir mempertemukan mereka di koridor sekolah. Pandangan Akira dan Yuki tak sengaja beradu. Seketika itu juga, rona merah membakar wajah keduanya dan suasana mendadak membeku dalam kecanggungan yang manis.
"Yuki, ayo ke perpus," panggil Nana, memecah keheningan di antara mereka.
"I-iya, sebentar," jawab Yuki gugup. Ia lalu menatap Akira dengan pandangan serba salah. "Aku... aku ke perpus dulu ya, mau temani Nana cari buku."
"Iya," jawab Akira pelan, hampir berupa bisikan.
Yuki pun berjalan melewati Akira dengan wajah tertunduk malu, menggenggam erat tangan Nana menuju perpustakaan. Sementara itu, Akira kembali ke kelasnya. Ia duduk sendirian di bangkunya, menatap kosong ke luar jendela, menikmati pemandangan lapangan sekolah tempat anak-anak lain sedang asyik bermain bola. Pikirannya benar-benar kalut.
Di perpustakaan, Yuki pun tak jauh beda. Ia hanya duduk diam dan melamun, mengabaikan tumpukan buku di depannya. Benaknya terus mengingat sensasi ciuman kemarin menyadari kenyataan bahwa mereka berdua ternyata sudah tiga kali berciuman.
Nana yang menyadari tingkah aneh sahabatnya itu menepuk bahu Yuki. "Kenapa melamun, Yuki? Apa yang lagi kamu pikirkan?"
Yuki tersentak kaget. Ia tertawa canggung untuk mengelak, "E-enggak ada apa-apa, hahah! Cuma... cuma mikirin pekerjaan aja kok," ujarnya dengan ekspresi yang sangat tidak meyakinkan.
Jam pelajaran kembali dimulai. Baik Akira maupun Yuki masih saling memikirkan satu sama lain di kelas masing-masing, berjuang keras mengembalikan fokus yang buyar.
Tiba-tiba, seorang utusan siswa mengetuk pintu kelas 3-A.
"Permisi. Atas nama Akira Riyuma, tolong segera datang ke ruang guru."
Seketika seluruh isi kelas terdiam. Akira terkejut mendengarnya, sementara Megumi menatap Akira dengan wajah penuh tanda tanya. Suasana kelas mulai riuh oleh bisik-bisik penasaran sebelum akhirnya guru pengajar menenangkan mereka dan menyuruh Akira segera memenuhi panggilan.
Dengan dada berdebar kencang, Akira berjalan menuju ruang guru. Ia berhenti sejenak di depan pintu, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan untuk menetralkan rasa gugup.
"Permisi..." ucap Akira sopan seraya membuka pintu.
Di dalam, Wali Kelas dan Kepala Sekolah sudah duduk menunggu. Kehadiran Kepala Sekolah membuat Akira makin terkejut hingga sempat membeku, sampai Wali Kelasnya mempersilakannya duduk.
"Oke, Akira. Kamu pasti bingung kenapa dipanggil tiba-tiba," buka Wali Kelasnya.
"Apakah... saya ada masalah, Sensei?" tanya Akira penasaran.
"Kalau itu, biar Pak Kepala Sekolah yang menjelaskannya langsung," jawab sang guru.
Kepala Sekolah tersenyum tipis lalu menatap Akira lekat-lekat. "Bapak memperhatikan nilaimu akhir-akhir ini sangat bagus, Akira. Kamu selalu menempati peringkat atas secara konsisten. Karena itu, bapak punya satu kabar sangat bagus untukmu. Apakah kamu berminat untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri?"
Dada Akira serasa dihantam beban berat. "Haruskah saya pindah sekarang? Saya... saya belum siap kalau harus sekarang, Pak."
"Tidak, Akira. Kamu baru berangkat setelah hari kelulusan nanti. Untuk masalah pengurusan berkas, pihak sekolah yang akan memfasilitasi semuanya," pencerahan dari Kepala Sekolah.
Akira tertegun, otaknya bekerja keras memproses informasi itu.
"Ini kesempatan yang sangat bagus untuk masa depanmu, Akira. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, tolong manfaatkan baik-baik," desak Wali Kelasnya seraya mengeluarkan sebuah surat penawaran resmi dan menyerahkannya kepada Akira.
Terus didorong oleh dorongan positif dari gurunya, Akira akhirnya menerima surat itu. "Saya... saya ingin membicarakannya dulu dengan orang tua saya di rumah, Pak."
"Tolong dipikirkan baik-baik, ya," pesan Wali Kelasnya sebelum Akira pamit mundur diri.
Kembali ke kelas, Akira menyembunyikan kebenarannya. Saat teman-teman sekelas—termasuk Megumi—berkerumun bertanya alasan ia dipanggil, Akira hanya memberikan alasan samar agar mereka tidak curiga.
Saat bel pulang berbunyi, Akira berjalan melintasi koridor menuju gerbang sekolah. Dari kejauhan, matanya menangkap sosok Yuki yang sedang tertawa lepas dan ngobrol hangat bersama teman-temannya.
Mata Akira meredup. Ia refleks meremas surat di tangannya, lalu buru-buru memasukkannya ke dalam tas paling dalam agar tidak terlihat oleh Yuki. Untuk saat ini, Akira memilih merahasiakan penawaran ini. Ia sendiri masih terlalu bingung dan tidak tahu harus memberikan jawaban apa jika Yuki menanyakannya nanti.
Sore harinya, begitu langkah kaki Akira melintasi ambang pintu rumah, aroma harum masakan rumah hangat langsung menyambutnya. Ibunya yang sedang merapikan piring di meja makan menoleh dan tersenyum lembut melihat kepulangan putra tunggalnya.
"Kamu sudah pulang, Akira? Mau makan malam sekarang?" tanyanya hangat.
"Nanti saja, Bu. Akira mau ganti baju dulu," jawab Akira berusaha memamerkan senyum paling natural yang ia bisa.
Namun, naluri seorang ibu tidak pernah bisa dibohongi. Sang Ibu menyadari ada riak kecemasan di balik wajah lelah Akira, serta bagaimana jemari putranya mencengkeram tali tas sekolahnya jauh lebih erat dari biasanya. Kendati demikian, beliau memilih untuk tidak mendesaknya dan membiarkan Akira masuk ke kamar.
Di dalam kamar yang tenang, Akira menutup pintu rapat-rapat. Ia meletakkan tasnya di atas meja belajar, lalu menarik keluar amplop putih berisi surat rekomendasi beasiswa tersebut. Kertas itu ia letakkan tepat di bawah lampu meja.
Setiap kata yang tertera di sana "Beasiswa Penuh, Luar Negeri, Jenjang Sarjana—terasa seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, ini adalah jalan emas menuju impiannya untuk menjadi pria yang sukses dan mandiri. Namun di sisi lain, ini adalah vonis perpisahan yang akan membentangkan jarak ribuan kilometer antara dirinya dan Yuki.
Akira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang remang-remang. Bayangan Yuki mendadak memenuhi seluruh benaknya. Yuki yang selalu tersenyum manis saat memakan bento buatannya, Yuki yang menggebu-gebu menceritakan mimpinya sebagai model ternama, hingga sentuhan hangat bibir Yuki di bangku taman sore kemarin.
Bagaimana bisa aku memberitahu Yuki? batin Akira merintih. Di saat hubungan kami baru saja menemukan arahnya... apakah aku harus pergi dan meninggalkannya begitu saja?
Malam itu, Akira tertidur dalam keheningan yang serasa menghimpit, memeluk erat keraguan di dalam dadanya tanpa tahu jawaban apa yang harus ia berikan besok.
Terbangun di tengah malam dengan perut kosong, Akira melangkah pelan keluar kamar menuju dapur. Di meja makan, Ibunya ternyata masih duduk tenang menikmati secangkir teh hangat sambil membaca majalah. Melihat putranya keluar, sang Ibu tersenyum lembut dan menarikkan kursi di sebelahnya.
"Ibu tahu ada hal besar yang mengganggu pikiranmu sejak pulang sekolah tadi, Akira," ujar Ibunya pelan, memecah kesunyian malam. "Duduklah. Ceritakan pada Ibu."
Akira terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan kembali ke kamar untuk mengambil amplop itu. Saat ia merogoh tasnya, dari kejauhan jam dinding berdenting halus menunjukkan pukul sebelas malam. Dengan jemari yang sedikit bergetar, Akira meletakkan surat rekomendasi beasiswa tersebut di atas meja makan, tepat di hadapan ibunya.
"Tadi... Pak Kepala Sekolah memanggilku ke ruang guru, Bu," bisik Akira lirih. "Sekolah menyodorkan rekomendasi beasiswa penuh untuk kuliah di luar negeri. Seluruh biaya ditanggung penuh sampai lulus."
Mata sang Ibu membelalak membaca lembar demi lembar surat resmi di hadapannya. Raut terkejut itu perlahan berganti menjadi binar kebanggaan yang tak terkira. "Luar negeri? Akira, ini... ini pencapaian yang sangat luar biasa! Ibu sangat bangga padamu, Nak. Kerja kerasmu belajar setiap malam tidak sia-sia."
Namun, sang Ibu menyadari tidak ada kebahagiaan di wajah anak tunggalnya. Akira justru menunduk dalam-dalam, menatap jemarinya yang saling bertaut erat.
"Tapi aku bingung, Bu," Akira dengan suara bergetar menahan gejolak di dada. "Kalau aku ambil beasiswa ini, artinya aku harus pergi bertahun-tahun. Aku harus berpisah dengan ibu dan Yuki, aku tidak mau berpisah lagi dengan ibu."
Sang Ibu menatap Akira dengan pandangan penuh kasih sayang. Beliau mengulurkan tangan, menggenggam erat jemari putranya. "Akira, kesempatan emas seperti ini adalah bukti nyata dari perjuanganmu. Ibu paham kamu tidak mau jauh dari ibu begitu juga dengan Yuki, tapi ingatlah... jika Yuki benar-benar menyayangimu, dia pasti akan bangga melihatmu mengejar masa depanmu.
Dan ibu bakal selalu menunggu kepulanganmu. Jangan membuat keputusan saat pikiranmu sedang kalut. Pikirkan baik-baik, ya?"
Akira mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu sang Ibu seraya mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk menghadapi hari esok.
*— TBC —*