Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Tidak Disengaja
Keesokan harinya, sinar matahari pagi memancar hangat menembus celah-celah jendela kamar Celestia. Peristiwa kemarin di sungai masih teringat jelas di benaknya. Rasa dinginnya air sungai, tawa anak-anak desa, dan kepak angin bebas di luar benteng istana terus menari-nari dalam ingatannya. Rasa bosan yang biasanya menggerogoti jiwanya kini berganti menjadi rasa haus akan petualangan baru.
Setelah memohon dengan gigih dan berjanji akan mematuhi batas waktu pukul tiga sore seperti kemarin, Raja David kembali memberikan izin dengan berat hati. Namun kali ini, Celestia bertekad untuk menjelajah lebih jauh dari sekadar sungai di pinggiran kota. Ia ingin melihat apa yang ada di balik bukit-bukit hijau yang selama ini hanya bisa ia pandangi dari atas menara istana.
Dengan gaun yang sedikit lebih sederhana namun tetap mencerminkan keanggunaannya, Celestia melangkah keluar dari gerbang istana. Langkah kakinya membawa sang putri menyeberangi area pemukiman, melewati pasar yang ramai, hingga akhirnya sampai di pinggiran sebuah hutan lebat yang membentang luas di batas kerajaan. Udara di sekitar hutan terasa sejuk, dipenuhi aroma tanah basah dan dedaunan segar.
Saat sedang berjalan menyusuri jalan setapak di tepi hutan, mata indah Celestia menangkap sesosok makhluk yang memesona. Seekor anak rusa berkulit cokelat keemasan dengan bintik-bintik putih tampak sedang memakan pucuk daun muda. Matanya yang bulat memandang Celestia dengan polos.
"Wah, cantiknya..." bisik Celestia terkagum-kagum.
Ketika Celestia mencoba melangkah mendekat, anak rusa itu terkejut dan melompat masuk ke dalam rindangnya pepohonan hutan. Didorong oleh rasa penasaran dan keagungan hewan tersebut, Celestia tanpa berpikir panjang langsung berlari mengejarnya, menembus semak-semak dan rimbunnya pepohonan tanpa memedulikan ke mana langkah kakinya mengarah.
Ia terus berlari, melompati akar-akar pohon yang menonjol dan menghindari ranting-ranting yang menjuntai. Namun, anak rusa itu terlalu lincah dan dengan cepat menghilang di balik pepohonan yang makin rapat. Saat Celestia menghentikan langkahnya untuk menyapu napas, ia baru menyadari sesuatu yang mengerikan: tempat di sekelilingnya telah berubah total.
Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi memblokir sebagian besar sinar matahari. Suara bising kota kerajaan telah lenyap, berganti dengan suara cengkerik dan desir angin yang mencekam. Jalan setapak tempatnya masuk tadi sudah tidak berbekas.
"Tolong! Apakah ada orang di sini?" teriak Celestia dengan suara gemetar.
Ia mulai berlari ke arah kanan, namun hanya menemukan deretan pohon yang sama. Ia berbalik dan berlari ke arah kiri, tetapi pepohonan seolah-olah makin merapat dan mengurungnya. Rasa panik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Di istana, selalu ada puluhan pelayan dan ksatria yang siap membantunya. Namun di sini, di tengah hutan yang asing ini, ia benar-benar sendirian.
Kaki Celestia terasa lemas. Gaun indahnya kini tersangkut duri dan ternoda tanah. Karena tidak tahu harus melangkah ke mana lagi, sang putri akhirnya terduduk berjongkok di bawah sebuah pohon beringin raksasa. Ia memeluk lututnya rapat-rapat, membenamkan wajahnya, dan mulai menangis sesenggukan. Air matanya menetes membasahi gaun mewahnya.
"Mengapa aku harus mengejar rusa itu... Ayahanda... Ibunda..." tangisnya pelan di tengah keheningan hutan.
Di tengah isak tangisnya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang menapak di atas dedaunan kering. Kering. Krek, krek.
Celestia terkejut dan makin mempererat pelukannya pada lututnya, takut jika yang mendekat adalah binatang buas. Namun, bukannya deruman serigala, sebuah suara pemuda yang tenang dan jernih justru terdengar dari atas kepalanya.
"Mengapa kau menangis sendirian di tengah hutan berbahaya ini?"
Celestia perlahan mengangkat wajahnya yang sembab. Di hadapannya, berdiri seorang anak laki-laki seumurannya. Pemuda itu mengenakan pakaian sederhana dari kain linen kusam yang ternoda jelaga hitam di beberapa bagian, dan sebuah celemek kulit tergantung di dadanya. Pakaiannya tampak sangat kontras dengan gaun mewah yang dikenakan Celestia.
Anak laki-laki itu memandang Celestia dengan raut wajah heran sekaligus khawatir.
"Aku... aku tersesat," jawab Celestia dengan suara terbata-bata seraya mengusap air matanya dengan lengan gaunnya. "Aku mengejar rusa tadi, tapi tiba-tiba aku tidak tahu jalan pulang..."
Pemuda itu menghela napas pelan, lalu mengulurkan tangannya yang kasar namun tampak kuat. "Berdirilah. Hutan ini makin berbahaya jika matahari mulai tinggi. Namaku Zass. Aku sering mencari kayu bakar dan bahan tempaan di hutan ini. Aku bisa membantumu keluar."
Celestia menatap tangan Zass sejenak sebelum akhirnya menyambut uluran tangan tersebut dan berdiri. Rasa hangat dan kepastian dari pemuda itu membuat kepanikannya perlahan mereda.
"Terima kasih, Zass... Namaku Celestia," ucapnya pelan.
Zass mulai memandu jalan, memotong semak-semak kecil dengan pisau pemotong kayu yang dibawanya, sementara Celestia berjalan mengekor di belakangnya. Sepanjang perjalanan, untuk mengusir rasa takut, mereka mulai berbincang-bincang.
"Jadi, dari mana asalmu, Celestia? Pakaianmu... terlihat sangat mahal untuk seorang warga biasa," tanya Zass penasaran tanpa menoleh ke belakang, matanya tetap waspada mengamati jalan di depan.
Celestia sedikit ragu sejenak, namun kepolosan dan kebaikan Zass membuatnya percaya. "Aku... aku sebenarnya tinggal di dalam istana. Aku putri raja. Putri bungsu dari Raja David."
Langkah kaki Zass seketika terhenti mendadak. Ia berbalik cepat, menatap Celestia dari atas sampai bawah dengan mata membelalak lebar. Wajahnya menunjukkan kombinasi antara rasa terkejut dan ketidakpercayaan yang luar biasa.
"P-Putri? Seorang Putri Istana?!" seru Zass setengah berbisik. "Bagaimana mungkin seorang putri raja berada di dalam hutan sendirian tanpa dikawal satu pun ksatria? Apakah kau sedang bercanda?"
Celestia menggelengkan kepalanya dengan bersungguh-sungguh. "Aku tidak bercanda, Zass. Aku hanya sangat bosan dengan kehidupan istana yang terkekang. Aku ingin melihat dunia luar. Kemarin aku bermain di sungai, dan hari ini aku ingin menjelajah lebih jauh... tapi malah tersesat."
Zass menepuk jidatnya sendiri, terheran-heran dengan kelakuan putri di hadapannya ini. Kehidupan istana yang bagi semua rakyat biasa adalah puncak dari segala kenikmatan, justru dianggap sebagai tempat yang membosankan oleh sang putri itu sendiri.
"Kau benar-benar nekad, Putri," kata Zass seraya menggeleng-gelengkan kepala, namun ada kehangatan dalam nada bicaranya. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuntun Celestia.
Tak butuh waktu lama, keahlian Zass memahami seluk-beluk hutan membuat mereka berhasil keluar dari rindangnya pepohonan. Sinar matahari kembali menyinari mereka dengan terang. Di hadapan mereka membentang padang rumput yang mengarah ke pinggiran terluar wilayah kerajaan.
Melihat bahwa jalan menuju kota sudah terlihat jelas, Celestia merasa lega. Namun, tatapannya teralih pada Zass yang tampak bersiap untuk berpisah dan kembali ke tempat kerjanya. Celestia tidak ingin petualangan hari ini berakhir begitu cepat.
"Zass!" panggil Celestia.
"Ya, Putri?"
"Bolehkah... bolehkah aku mengunjungi rumahmu? Aku ingin melihat di mana kau tinggal," minta Celestia dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.
Zass tertegun. Ia melihat pakaiannya sendiri yang kotor, lalu memikirkan gubuk mewahnya yang jauh dari kata pantas untuk seorang bangsawan, apalagi seorang putri raja. "Rumahku sangat kotor dan kecil, Putri. Tempat itu tidak layak untuk seseorang sepertimu."
"Tolonglah, Zass! Aku hanya ingin melihatnya. Aku tidak peduli apakah itu kecil atau kotor," desak Celestia dengan nada memohon yang sulit ditolak.
Melihat kesungguhan di mata sang putri, Zass akhirnya mengalah. "Baiklah, kalau kau memang memaksa. Tapi jangan menyalahkanku jika gaunmu makin kotor."
Zass memandu jalan menuju sudut terluar kerajaan, tempat pemukiman para pekerja kasar dan pengrajin berada. Di sana, berdiri sebuah gubuk kayu sederhana dengan cerobong asap batu yang mengeluarkan asap tipis. Bau khas besi, arang, dan minyak langsung tercium begitu mereka mendekati bangunan tersebut.
Saat Zass membuka pintu kayu gubuknya yang berderit, Celestia melangkah masuk dan langsung tertegun. Tempat itu tidak seperti rumah pada umumnya. Di setiap sudut ruangan, tergantung dan bersandar berbagai macam bilah pedang, pisau, dan belati dengan berbagai ukuran. Ada yang masih berupa besi mentah, ada yang setengah jadi, dan ada pula yang sudah terasah tajam memantulkan cahaya. Sebuah tungku pembakaran raksasa dan landasan tempa besi mendominasi bagian tengah gubuk tersebut.
"Luar biasa..." gumam Celestia terkagum-kagum seraya menyentuh salah satu gagang pedang kayu yang belum selesai dibuat. "Apakah kau yang membuat semua ini, Zass?"
"Sebagian dibuat oleh ayahku," jawab Zass pelan, matanya menatap haru pada deretan pedang di dinding. "Aku melanjutkan pekerjaannya."
Celestia memiringkan kepalanya, menyadari perubahan nada suara Zass. "Di mana ayah dan ibumu? Apakah mereka sedang bekerja di luar?"
Zass berjalan menuju meja kayu tua, membersihkan debu tipis di atasnya sebelum menatap Celestia dengan pandangan yang tenang namun menyimpak duka yang dalam.
"Ibuku meninggal dunia karena sakit keras saat aku masih sangat kecil," cerita Zass dengan suara perlahan. "Sejak saat itu, hanya ada aku dan ayahku di gubuk tempa ini. Ayah mengajariku cara menempa besi, memilih baja terbaik, dan mendengarkan nada dentangan palu. Namun... beberapa tahun setelah ibu pergi, ayah juga jatuh sakit dan meninggal dunia. Sejak saat itu, aku hidup sebatang kara di sini."
Mendengar kisah itu, ruangan serasa makin hening. Celestia tertegun di tempatnya berdiri. Hatinya terenyuh mendengar jalan hidup pemuda di hadapannya. Selama ini, Celestia tumbuh di dalam istana yang hangat, dikelilingi oleh kasih sayang utuh dari Raja David, ibundanya, serta kedua kakaknya yang selalu ada untuknya. Ia tak pernah membayangkan bagaimana rasanya kehilangan kedua orang tua dan harus bertahan hidup sendirian di usianya yang masih sangat muda.
Rasa iba yang mendalam perlahan memenuhi dada Celestia. Ia melangkah mendekati Zass, menatap mata pemuda itu yang tampak dewasa sebelum waktunya karena ditempa oleh kerasnya kehidupan.
"Aku... aku sangat menyesal mendengarnya, Zass," tutur Celestia penuh empati. Matanya menatap Zass dengan kehangatan murni, tanpa ada sedikit pun jarak antara seorang putri raja dan seorang anak yatim piatu penempa pedang. "Kau sangat kuat. Bisa bertahan hidup dan meneruskan karya ayahmu di tempat ini sendirian... itu sungguh luar biasa."
Zass sedikit terkejut mendengar ucapan sang putri. Biasanya, orang-orang di pasar hanya melihatnya sebagai anak yatim piatu yang malang atau sekadar tukang besi cilik. Namun, Celestia menatapnya dengan rasa hormat yang tulus. Sebuah senyum tipis, jujur dan hangat, untuk pertama kalinya terukir di wajah Zass.
"Terima kasih, Putri Celestia," panggil Zass lembut. "Kehidupan di luar istana memang keras, tapi menempa besi adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap merasa terhubung dengan mendiang ayahku."
Zass kemudian berjalan ke arah sudut meja dan mengambil sebuah belati kecil bersarung kayu yang terukir indah. Ia mengusapnya sebentar lalu mengulurkannya kepada Celestia.
"Ini... sebagai kenang-kenangan dan sebagai perlindungan jika kau tersesat lagi di hutan," kata Zass.
Celestia menerima belati kecil itu dengan kedua tangannya. Terasa berat dan dingin di jemarinya, namun hiasan ukiran kayunya terasa begitu halus. Bagi Celestia, belati ini jauh lebih berharga daripada perhiasan emas apa pun yang ada di dalam kamarnya di istana.
"Aku akan menyimpannya dengan sangat baik, Zass," janji Celestia dengan senyuman manis yang membuat jantung Zass berdesir aneh.
Mereka berdua kemudian menghabiskan waktu sejenak di gubuk tersebut. Zass menunjukkan bagaimana cara ia memanaskan besi di tungku dan membimbing tangan Celestia untuk mencoba memegang palu tempa yang berat. Tawa dan obrolan hangat mengisi gubuk tua yang biasanya sepi itu, menciptakan sebuah ikatan tak kasat mata di antara dua remaja dari dua dunia yang sangat berbeda.
Namun, dentang lonceng besar dari menara kota menandakan bahwa waktu sudah mendekati pukul tiga sore.
"Aku harus segera kembali ke istana," kata Celestia dengan nada sedikit menyesal. "Jika aku terlambat, Ayahanda tidak akan pernah mengizinkanku keluar lagi."
"Mari kuantar sampai ke perbatasan kota," tawar Zass cepat.
Zass mengantarkan Celestia hingga ke jalan utama menuju gerbang istana. Sebelum berpisah, Celestia menoleh kembali ke arah Zass.
"Apakah... apakah aku boleh berkunjung ke gubukmu lagi besok, Zass?" tanya Celestia penuh harap.
Zass mengangguk dengan senyuman hangat. "Pintu tempat tempaku selalu terbuka untukmu, Putri."
Dengan hati yang diliputi perasaan hangat dan kebahagiaan baru, Celestia berlari kecil menuju gerbang istana, membawa pulang sebuah belati kayu dan sebuah kenangan indah tentang pemuda penempa pedang yang telah mengubah pandangannya tentang arti sebuah kehidupan.