BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.
👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 kemarahan seorang anak
Seketika, suasana yang semula riuh berubah hening mencekam. Satu-satunya suara yang merobek kesunyian itu hanyalah isak tangis Yefan—serak, terputus-putus, dan sarat akan keputusasaan yang mendalam.
Tuan Muda Jiun Yi, yang sedari awal menyaksikan adegan itu dari udara, didera rasa takut luar biasa setelah melihat teknik aneh milik Yefan. Ia bisa merasakan betapa mengerikannya eksistensi tak kasat mata yang menghapus pria tadi. Teknik itu tidak sekadar membunuh, melainkan melenyapkan eksistensi seseorang hingga tak berbekas, bahkan menutup rapat pintu reinkarnasi.
Jiun Yi meneguk ludah. Seandainya tadi ia bersikeras menolak menjadi budak dan melanjutkan pertarungan melawan Yefan, mungkin saat ini dirinya sudah menjadi ketiadaan—tanpa menyisakan jasad sedikit pun. Meski niat awalnya mendekati Yefan adalah untuk menyelamatkan sang adik sekaligus mempelajari tekniknya secara diam-diam, kini ia justru dibuat bingung dan bergidik. Kekuatan magis itu sudah melompati batas pemahaman nya yang ia ketahui.
"Kurang ajar! Kurang ajar! Berani-beraninya kau membunuh Tuan Muda Bai We!" teriak seseorang, memecah hening.
Seketika, lapangan itu kembali gempar.
"Bunuh dia! Bunuh dia! Jadikan dia seperti wanita pendosa itu!" teriak yang lain dari tengah kerumunan.
Namun, begitu kata "wanita pendosa" terlontar dari mulutnya, nasib malang yang menimpa Tuan Muda Bai We merembet padanya.
"I-ini... apa?! Kekuatan macam apa ini?!" jeritnya histeris. "Aaaaagggghhh! Tidak! Tolong aku! Selamatkan aku! Di mana para penjaga Keluarga Yujin?!"
Tubuhnya perlahan memudar hendak terhapus dari dunia.
BOOM!
Tepat saat ia hendak lenyap sepenuhnya, sebuah gelombang aura kuat melesat menembus kerumunan dan menyelimuti tubuh pria itu. Merasakan aura mendominasi yang menutupi fisiknya, pria itu sempat merasa sedikit lega. Namun, kepanikan kembali memuncak kala ia menyadari proses penghapusan tubuhnya tetap berjalan. Usaha penyelamatan itu sama sekali sia-sia!
"Aaaakh! Tidak! Mohon ampuni aku! Selamatkan aku!" teriaknya meronta-ronta dengan sisa kekuatannya.
Sebagai seorang tuan muda dengan masa depan yang cerah, ia tak sanggup menerima takdir tragis ini. Namun, rontaan itu tak berarti apa-apa. Jeritan minta tolongnya menggema ke segala arah sebelum akhirnya wujudnya benar-benar lenyap, tak menyisakan sebutir debu pun.
"Hm... menghapusnya dari muka bumi tanpa bisa bereinkarnasi?" gumam sebuah suara berat yang bergema, dipenuhi rasa terkejut yang tak bisa disembunyikan.
Kerumunan makin didera kepanikan dan ketakutan saat mendengar gumaman itu.
"Siapa dia?! Pria itu pasti seorang monster jenius!" teriak beberapa orang di antara barisan kerumunan.
"Oh, tidak... Bukankah tadi dia menyebut 'Ibu' kepada wanita pe—" Pria itu mendadak menghentikan kalimatnya. Tubuhnya gemetaran hebat. Tepat saat kata "pendosa" hendak terucap, eksistensi tak kasat mata sudah berembus menyelimuti tubuh dan jiwa nya, siap menghapusnya dari dunia.
Pria itu langsung ambruk terduduk di tanah dengan wajah pucat pasi. "Untung saja... untung saja aku cepat menahan diri!" batinnya bersyukur dalam ketakutan.
Wuuussss!
Di tengah kekacauan yang tak terkendali, sebuah aura yang jauh lebih menakutkan menerjang udara, berasal dari balik rindangnya pepohonan besar tak jauh dari lokasi. Aura itu melesat cepat menuju tempat Yefan.
Melihat sosok yang datang, kerumunan yang panik perlahan mulai mendapatkan kembali rasa aman mereka.
"Itu Penatua Yan Feng, Paman Ketiga Yulin Zou! Dan Tuan Muda Yunan Zili, adik Yulin Zou!" teriak orang-orang seraya membungkuk hormat.
"Yang Mulia! Mohon bunuh bajingan itu! Dia adalah putra dari mayat wanita yang selama ini diburu oleh Keluarga Yujin!" teriak salah seorang dari mereka dengan niat membunuh yang meluap-luap.
Penatua Yan Feng, yang sedari tadi mengamati Yefan yang mengacaukan wilayahnya, seketika diselimuti murka.
"Bunuh dia, Paman!" jerit Yunan Zili dengan penuh kebencian. Dendamnya terhadap pemuda bermarga Ye ini sudah meresap hingga ke tulang belulang. Jelas Penatua Yan Feng sendiri adalah dalang utama di balik penyiksaan mengerikan terhadap ibu Yefan selama bertahun-tahun—sebuah peringatan berdarah bagi siapa saja yang berani mengusik kehormatan Keluarga Yujin.
"Ibu..."
Yefan, yang sedari tadi tenggelam dalam kesedihan dan penyesalan mendalam, merasa jiwanya tercabik-cabik. Bayangan saat ia pamit berangkat mencari Teratai Hitam Tujuh Daun, Buntalan ransel berisi bekal roti yang dibuatkan sang ibu selama dua hari penuh, serta bisikan lembut "Ibu menunggumu pulang" terus mengiang di telinganya. Kata-kata itu menusuk hingga kejiwa nya. "Membuat tubuh nya bergetar.
Saat mendengar nama Yan Feng dan Yunan Zili Yang bermarga Yujin, amarah di dada Yefan meledak membakar hati nya.
"Yunan Zili... Yan Feng..." bisik Yefan dengan suara serak. Ia mendongak, menatap mereka dengan kedua mata yang memerah darah.
BOOOOMMM!
Aura yin pembantaian berwarna hitam pekat menerjang keluar dari tubuh Yefan. Langit dan bumi seketika meredup, terselimuti aura Yin hitam pekat yang sangat dingin dan mematikan. Kerumunan kultivator yang tidak bersiap langsung terhantam gelombang Yin pekat ini. Tubuh mereka terkorosi, meleleh bagai lilin, lalu tewas mengenaskan.
"Aaargh! Tidak, tidak! Lepaskan aku! Lepaskan!"
"Kau... kau lebih kejam daripada iblis!"
Ratapan histeris dan jeritan keputusasaan menggema di seluruh lapangan.
Melihat aura mengerikan yang memancar dari tubuh pemuda di hadapannya, alis Penatua Yan Feng terangkat. Dengan cepat ia membentangkan perisai Qi untuk melindungi keponakannya, Yunan Zili, beserta beberapa bawahan di belakangnya hingga mampu menetralkan dampak aura pembantaian tersebut.
Sebagai seorang Penatua yang telah mencapai tahap awal Alam Roh, Yan Feng sama sekali tidak gentar menghadapi ancaman aura dari pemuda di hadapan nya. Namun, hal yang membuatnya terkejut adalah fakta bahwa Yefan—yang baru berada di tahap awal Alam Transenden—mampu mengeluarkan tekanan aura yang setara dengan kultivator puncak Alam Transenden, belum lagi teknik ajaib tak terduga yang ia perlihatkan sebelumnya.
"Bocah ini benar-benar jenius yang mengerikan. Mengusik monster seperti ini sangat berisiko... Namun karena keadaan sudah menjadi seperti ini, aku harus membereskan dendam ini secepatnya sebelum dia berkembang. Lagipula, dia tidak memiliki latar belakang keluarga besar yang mendukungnya," batin Yan Feng bengis.
"Kau, seorang pendosa! Berani-beraninya kau membunuh pewaris Keluarga Yujin-ku!" bentak Penatua Yan Feng. Wajahnya menggelegak bengis saat mengingat kembali jasad Yulin Zou yang hancur tanpa kepala.
BOOOMMM!
Aura Alam Roh tahap awal mendadak meletus dari tubuh Yan Feng, memancar kuat ke segala arah hingga bentrok dengan aura pembantaian Yefan.
BOOOMMM!
Bentrokan dua kekuatan dahsyat terjadi di udara. Gelombang kejutnya membuat tebing tebing di sekitar hancur menjadi serpihan membuat Yefan terdorong mundur berkali-kali, kedua kakinya menyeret tanah hingga menciptakan garis dalam.
Namun, Yefan yang telah dikuasai amarah dan kepedihan mendalam tetap berdiri tegak. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, sementara air mata darah hitam tak henti-hentinya mengalir dari kelopak matanya yang memerah, mengunci pandangan ke arah rombongan Yan Feng.
Di dalam dirinya, dengan ketakutan yang selama ini telah ia singkirkan hingga menjelma menjadi entitas Entitas tak berbentuk yang berasimilasi dengan jantung nya. Yefan yang sekarang tidak lagi memiliki rasa takut sedikit pun dalam hidupnya—bahkan jika dunia itu terbalik. Menghadapi lawan di tahap awal Alam Roh yang teramat sulit ia kalahkan saat ini pun, tak ada gejolak sedikit pun di matanya, yang ada hanya lah,"Pembantaian.
(Bersambung)
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏