Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Goa
Saat Luc masih mengikuti jalur cahaya dari Guiding South, suara Chiron tiba-tiba terdengar lagi di sampingnya.
"Saya tahu Anda ingin tampil keren di depan seorang gadis. Tapi jangan lupa soal latihannya."
Luc langsung memasang wajah kesal. "Ugh... apa bisa kau diam sebentar sampai keadaanku lebih baik?" balasnya pelan.
Azalea yang berjalan di samping Luc kembali melirik ke arahnya. Sekali lagi Luc berbicara sendiri. Dan sekali lagi, ekspresinya terlihat seperti sedang benar-benar mengobrol dengan seseorang.
Azalea diam-diam mencoba merasakan keberadaan roh atau mana di sekitar Luc. Namun hasilnya tetap sama, ia tidak bisa merasakan apa-apa. Padahal skill aneh milik Luc jelas bukan sesuatu yang normal.
Mungkinkah roh kontraknya berada di level yang jauh lebih tinggi dariku...?
Pikiran itu kembali muncul di kepalanya.
Namun Azalea memilih tetap diam dan tidak bertanya.
Sementara itu Chiron masih melanjutkan ceramahnya tanpa peduli ekspresi Luc. "Kalau begitu, Anda harus bertarung tanpa mengandalkan skill saat bertemu monster nanti."
"Iya-iya... aku mengerti," balas Luc malas.
Apa dia benar-benar ingin aku mati di sini...?
Luc menghela napas panjang sambil mengikuti jalur cahaya Guiding South yang terus bergerak perlahan di depan mereka.
Di sisi lain, Azalea diam-diam memperhatikan wajah Luc. Meski pria itu sering mengeluh dan terlihat ceroboh, entah kenapa ia tetap berjalan maju tanpa banyak ragu.
Dan semakin lama melihatnya... Azalea mulai merasa manusia itu cukup aneh dengan cara yang sulit dijelaskan.
Mereka terus berjalan menyusuri dasar jurang selama hampir setengah jam. Untungnya, tidak ada monster yang muncul selama perjalanan itu.
Hanya suara langkah kaki mereka dan tetesan air dari sela bebatuan yang menemani suasana sunyi jurang.
Namun saat mereka melewati area berbatu yang sempit, Luc tiba-tiba berhenti.
"Hm?"
Di dinding jurang bagian depan, terlihat sebuah goa besar yang tersembunyi di antara bebatuan gelap. Mulut goa itu tampak cukup dalam dan gelap, sementara udara dingin samar keluar dari dalamnya.
Azalea langsung memasang ekspresi waspada. "Goa?"
Luc menatap jalur cahaya Guiding South. Sinar putih itu berhenti tepat mengarah ke dalam goa tersebut.
"Jangan bilang kita harus masuk ke situ?" gumam Luc.
"Kalau melihat arah skill Anda, sepertinya memang begitu," ujar Chiron santai.
Luc langsung mengernyit. "Kenapa jalan yang ditunjukin skill ini kelihatan kayak tempat boss monster tinggal?"
"Itu karena keberuntungan Anda memang buruk," jawab Chiron.
Azalea melangkah mendekati mulut goa sambil memperhatikan jejak-jejak di tanah.
"Ada sesuatu yang tinggal di dalam," gumamnya pelan.
Luc langsung menegang. "Hah?"
Azalea menunjuk tanah batu di dekat pintu goa. "Ada bekas cakar."
Luc menelan ludah pelan.
Terdengar suara gema samar seperti sesuatu sedang bergerak jauh di dalam sana. Suara gema dari dalam goa membuat suasana di sekitar langsung berubah tegang.
Luc refleks menggenggam gagang pedangnya.
Sementara itu, Azalea melangkah maju satu langkah dan menatap ke dalam kegelapan goa dengan mata waspada. Angin dingin berhembus pelan dari dalam sana.
Lalu Azalea mengangkat tangan kanannya. Mana berwarna keperakan mulai berkumpul di sekeliling tubuhnya.
Luc langsung merasakan udara di sekitar berubah.
"...?"
Azalea memejamkan matanya sejenak.
"Wahai roh penjaga hutan yang bersemayam di bawah cahaya bulan..."
Partikel-partikel cahaya putih mulai bermunculan di sekelilingnya.
"Jawablah panggilanku dan berikan bentuk pada tekadku."
Cahaya itu semakin terang.
"Vassal Armament, Lunaria."
Whoosh~
Sebuah busur putih perlahan muncul dari kumpulan cahaya.
Busur itu terlihat elegan sekaligus indah. Lengkungannya menyerupai bulan sabit dengan ukiran-ukiran halus berwarna perak. Kelopak bunga putih kristal menghiasi bagian tengahnya, sementara untaian cahaya tipis membentuk tali busur yang berkilauan seperti cahaya bulan.
Di sampingnya, sebuah anak panah kristal berwarna ungu muda perlahan terbentuk.
Busur itu tidak terlihat seperti senjata perang. Lebih mirip karya seni yang lahir dari cahaya dan sihir. Namun justru karena itulah aura yang dipancarkannya terasa luar biasa.
Mata Luc sedikit melebar. "Jadi itu senjata Vassal..."
Azalea menoleh ke arahnya. "Hmmm?"
Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Kenapa diam saja?"
Lalu ia menunjuk Luc menggunakan ujung busurnya. "Cepat panggil senjata Vassalmu."
Luc langsung tertawa pahit. "Aku tidak punya itu."
"Hah?" Azalea membeku.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia berkedip. "Apa...?"
"Aku tidak punya senjata Vassal," ulang Luc.
"Kau bercanda?" Azalea tampak tidak percaya.
"Tidak."
Azalea langsung menatap Luc dari kepala sampai kaki. Lalu kembali menatapnya. Kemudian mengulangi hal yang sama sekali lagi. Ekspresinya seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak masuk akal.
"Tunggu dulu."
Ia mengangkat satu jari. "Kau bisa menggunakan skill yang aneh, lalu punya kemampuan penyembuhan yang bahkan belum pernah kulihat sebelumnya, dan kau juga bisa membuat navigasi cahaya yang menunjukkan arah."
"Ya, itu benar..." balas Luc heran.
"Lalu kau tidak punya Vassal?" lanjut Azalea tidak percaya.
"Ya," Luc memasang wajah polos sambil mengangguk pelan.
"..."
"..."
Azalea menatapnya tanpa berkedip. "Itu tidak masuk akal."
"No komen," balas Luc.
"Tidak ada orang yang tidak memiliki Vassal," ujar Azalea masih tidak percaya.
"Dan orang yang tidak punya hal itu ada di hadapanmu sekarang," jawab Luc dengan santai.
Luc hanya bisa mengangkat bahu. Ia juga tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Faktanya, sampai beberapa hari lalu ia hanyalah seorang pangeran gagal yang bahkan tidak bisa menggunakan sihir dan tidak mendapatkan senjata vassal. Kalau Azalea mendengar cerita lengkapnya, mungkin gadis itu bakal semakin bingung.
Azalea masih terlihat tidak percaya. "Kau serius?"
"Duarius," jawab Luc.
"Jadi senjata itu..." tatapannya berpindah ke pedang di pinggang Luc.
Luc mengeluarkan pedangnya sedikit dari sarung. "Ini cuma pedang biasa."
Azalea langsung memegangi dahinya. "Bagaimana kau bisa bertahan hidup di dasar jurang dengan perlengkapan seperti itu?"
"Yah... lagipula aku sudah pernah mati sekali..." gumam Luc lirih, sangat kecil hingga tidak terdengar oleh Azalea.
Dari samping, Chiron mengangguk setuju. "Jawabannya karena keberuntungan Tuan sangat luar biasa."
"Hah!? Tadi kau bilang keberuntunganku sangat buruk, lalu sekarang kau bilang sangat baik? Mana yang benar!?" balas Luc menuntut penjelasan.
"Tentu saja itu tergantung keberuntungan Anda," jawab Chiron.
"DIAMLAH! Kau malah bikin tambah bingung!" seru Luc dengan nada jengkel.
Azalea kembali melihat Luc berbicara sendiri. Sudut matanya sedikit berkedut.
Oke... Sekarang aku benar-benar yakin dia sedang berbicara dengan sesuatu. Masalahnya... Aku tetap tidak bisa melihat apa pun.
Sebelum Azalea sempat bertanya lebih jauh, suara geraman rendah tiba-tiba terdengar dari dalam goa.
Grrrrrr...
Keduanya langsung menoleh bersamaan. Ekspresi santai Azalea menghilang seketika. Ia menarik anak panah kristalnya. Sementara Luc perlahan mencabut pedangnya.
"Sepertinya penghuni goa itu sudah tahu kita ada di sini," gumam Azalea pelan.