NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015

Fitnah

Dan mereka sudah berdiri di dalamnya.

Sekar semalaman tidak bisa tidur.

Notifikasi WhatsApp terus menyala meski ia sudah membalik ponsel. Beberapa teman mengirim pesan pribadi, bertanya apa benar Kevin hampir memukul Adrian. Ada yang pura-pura peduli, ada yang jelas hanya ingin cerita. Yola membantu menahan rumor di grup, Steven mengirim versi kronologi singkat, tetapi rumor tidak membutuhkan kebenaran untuk tumbuh.

Rumor hanya membutuhkan bahan bakar.

Dan Adrian sudah menaburnya dengan sangat rapi.

Pagi berikutnya, Kevin menunggu di gerbang samping seperti biasa. Rambut birunya masih sedikit basah, mungkin karena ia baru mencuci muka di kamar mandi sekolah. Wajahnya terlihat tenang, terlalu tenang.

Sekar langsung tahu ia juga tidak tidur cukup.

"Kev."

"Hmm?"

"Kalau hari ini Adrian mendekat lagi, jangan hadapi sendiri."

Kevin menatapnya. "Lo pikir gue bakal mukul dia?"

"Aku pikir dia ingin semua orang percaya kamu akan mukul dia."

Kevin terdiam.

Itu lebih buruk daripada kemarahan. Karena Kevin tahu Sekar benar.

Ia mengambil tas Sekar seperti biasa, tetapi genggamannya pada tali tas lebih kuat dari biasanya. "Kalau dia ganggu lo, gue tetap nggak akan diam."

"Aku nggak minta kamu diam." Sekar menyentuh punggung tangannya. "Aku minta kamu jangan masuk ke jebakan sendirian."

Kevin menatap sentuhan itu. Ketegangan di bahunya sedikit turun.

"Oke."

Satu kata. Pendek. Namun Sekar tahu, bagi Kevin, itu sudah janji.

Sepanjang pagi, Adrian tidak muncul.

Justru ketidakhadirannya membuat Sekar makin gelisah. Ia tidak masuk kelas tutor. Tidak terlihat di kantin. Bahkan jadwal yang biasanya ia tempel rapi di papan pengumuman belum diperbarui.

"Mungkin dia sadar rencananya ketahuan," kata Bryan saat makan siang.

Yola menatapnya. "Kamu benar-benar optimis atau cuma lapar?"

"Dua-duanya."

Kevin tidak ikut bercanda. Ia duduk di samping Sekar, makan sedikit, lalu menatap koridor berkali-kali.

Saat bel pelajaran terakhir berbunyi, Bu Wati memanggil Sekar ke ruang guru.

"Sekar, sebentar. Ada revisi daftar peserta tutor. Tolong cek nama kamu, ya."

Sekar berdiri. Kevin ikut berdiri.

Bu Wati tersenyum samar. "Kevin, saya cuma pinjam Sekar lima menit. Kamu tunggu di luar saja."

Sekar menoleh pada Kevin. "Aku sebentar."

Kevin jelas tidak suka, tetapi ia mengangguk.

Ruang guru berada di lantai dua. Sekar masuk bersama Bu Wati, meninggalkan Kevin di koridor dekat tangga. Di dalam, Bu Wati menunjukkan daftar peserta yang memang perlu diperiksa. Semua tampak normal.

Terlalu normal.

Di luar koridor, Kevin bersandar pada dinding. Siswa-siswa mulai pulang, suara langkah turun naik tangga bercampur dengan tawa. Ia menunduk melihat ponsel, membaca pesan Sekar yang baru masuk.

Sekar: Aku masih di ruang guru. Jangan pergi.

Kevin hampir tersenyum.

"Kevin."

Suara Adrian muncul dari arah tangga.

Kevin mengangkat kepala.

Adrian berdiri tiga anak tangga di bawahnya, membawa beberapa map. Tidak ada orang terlalu dekat, tetapi koridor tidak kosong. Beberapa siswa melewati ujung lorong. Posisi yang cukup ramai untuk punya saksi, cukup jauh untuk tidak mendengar jelas.

Kevin langsung memasukkan ponsel ke saku.

"Mau apa?"

Adrian naik satu anak tangga, senyum tipis di wajahnya. "Tenang. Aku cuma mau bicara."

"Gue nggak."

"Tentang Sekar."

Mata Kevin mendingin.

Adrian melihat perubahan itu dan tampak puas. "Kamu tahu, orang seperti Sekar bisa punya masa depan bagus. UI, beasiswa, lomba, keluarga yang dihormati. Dia tidak perlu masalah."

"Masalahnya lo."

"Atau kamu."

Kevin melangkah turun satu anak tangga. Jarak mereka menyempit.

"Jangan bawa nama dia."

Adrian tidak mundur. "Aku cuma kasihan. Dia pintar, baik, dan terlalu percaya pada orang yang salah. Kamu pikir berapa lama dia akan tahan dengan gosip tentang pacarnya yang suka berantem?"

Tangan Kevin mengepal.

Di dalam ruang guru, Sekar selesai menandatangani daftar. Ia menyerahkan kertas pada Bu Wati, lalu terdengar suara sesuatu jatuh dari luar.

Bukan suara tubuh.

Suara map-map terlepas dan kertas berhamburan.

Sekar menoleh cepat.

Di tangga, Adrian berdiri sangat dekat dengan Kevin. Satu tangannya memegang pagar, satu lagi menahan dada seolah baru didorong.

"Kevin, jangan!"

Suara Adrian keras.

Terlalu keras.

Beberapa siswa langsung menoleh.

Kevin belum menyentuhnya.

Sekar melihat itu. Dari pintu ruang guru, ia melihat tangan Kevin masih menggantung di sisi tubuhnya, mengepal, tetapi tidak mendorong. Namun Adrian sudah melangkah mundur.

Satu anak tangga.

Dua.

Lalu tubuhnya kehilangan keseimbangan dengan cara yang terlalu rapi.

Adrian jatuh terduduk di tangga bawah, bahunya menghantam dinding, map berserakan di sekitarnya. Suara benturan cukup keras untuk membuat koridor mendadak sunyi.

Sekar berlari keluar.

"Adrian!" beberapa siswa berteriak.

"Kevin dorong dia?"

"Gue lihat Kevin dekat banget!"

"Tadi Adrian teriak jangan!"

Bu Wati keluar dari ruang guru, wajahnya berubah tegang. "Ada apa ini?"

Adrian meringis, memegang sikunya. Tidak ada luka besar, tetapi wajahnya pucat dan cukup meyakinkan. Ia menatap Kevin, lalu menunduk seolah tidak ingin memperpanjang masalah.

Itu justru membuatnya terlihat lebih seperti korban.

"Saya nggak apa-apa, Bu," katanya pelan.

Kevin berdiri di anak tangga, wajahnya kosong.

Kosong seperti orang yang baru sadar jebakan sudah menutup dari semua sisi.

Sekar sampai di sampingnya dan langsung menggenggam tangan Kevin.

Tangannya dingin.

"Kev."

Kevin menatapnya. Suaranya rendah, pecah di ujung. "Gue nggak dorong."

"Aku tahu."

Jawaban Sekar keluar tanpa ragu.

Tapi koridor sudah terlanjur ramai.

Siswa-siswa berdiri di tangga atas dan bawah. Ada yang membantu Adrian berdiri. Ada yang mengambil kertas. Ada yang diam-diam mengangkat ponsel. Bu Wati meminta semua orang mundur, tetapi suara bisikan menyebar lebih cepat daripada perintah guru.

"Kevin dorong Adrian."

"Gara-gara Sekar?"

"Dari kemarin Kevin memang marah."

"Adrian sampai jatuh."

Pak Arief datang dari ujung koridor setelah mendengar keributan. Ia melihat Kevin, melihat Adrian, lalu melihat Sekar yang berdiri menggenggam tangan Kevin seperti tidak mau melepaskannya.

"Kevin," suara Pak Arief berat, "ikut saya ke ruang guru."

Sekar langsung berkata, "Pak, Kevin tidak mendorong."

Semua mata menoleh padanya.

Adrian menunduk, suaranya pelan. "Sekar, tidak apa-apa. Aku tahu kamu ingin membela dia."

Kalimat itu seperti minyak disiram ke api.

Beberapa siswa saling pandang. Di mata mereka, Sekar bukan saksi. Ia pacar Kevin. Tentu saja ia membela.

Sekar merasakan darahnya naik ke kepala.

"Aku melihatnya," katanya tegas. "Kevin tidak mendorong."

Adrian tidak membantah. Ia hanya tersenyum lemah, cukup untuk terlihat sabar.

Pak Arief menarik napas panjang. "Kita bicarakan di ruang guru. Semua yang tidak berkepentingan kembali ke kelas atau pulang."

Namun tidak ada yang benar-benar pulang.

Di ruang guru, Bu Wati meminta Kevin duduk. Pak Arief berdiri di dekat pintu, menjaga agar siswa lain tidak masuk. Adrian duduk di kursi seberang dengan siku yang mulai memerah, ditemani satu siswa yang tadi membantunya berdiri.

"Saya perlu dengar jelas," kata Bu Wati, suaranya terkendali. "Adrian, apa yang terjadi?"

Adrian menunduk. "Saya tidak mau memperbesar masalah, Bu."

Sekar yang berdiri di ambang pintu merasa perutnya mual.

Kalimat itu terdengar baik. Terlalu baik. Seperti seseorang yang sengaja meletakkan pisau di meja lalu berkata ia tidak berniat melukai siapa pun.

Bu Wati menghela napas. "Tetap harus dijelaskan."

Adrian melirik Kevin, lalu cepat-cepat menunduk lagi. "Saya hanya mau bicara soal tutor. Mungkin Kevin salah paham. Dia mendekat, saya mundur, lalu saya jatuh. Saya tidak tahu apakah dia sengaja atau tidak."

Tidak tahu.

Dua kata itu lebih jahat daripada tuduhan langsung.

Kalau Adrian berkata Kevin mendorong, masih ada ruang untuk membantah. Tetapi dengan "tidak tahu", ia terdengar hati-hati, seolah tidak ingin menuduh. Dan justru karena itu, semua orang akan menuduh untuknya.

Bu Wati menatap Kevin. "Kevin?"

Kevin mengangkat wajah. "Saya tidak dorong."

"Kamu menyentuh Adrian?"

"Tidak."

"Kamu mendekat?"

Kevin diam satu detik. "Iya."

Adrian menutup mata sebentar, seperti orang menahan sakit.

Siswa yang membantunya tadi langsung berkata, "Saya lihat Kevin dekat banget, Bu. Adrian sudah mundur."

Sekar melangkah maju. "Karena Adrian memancing."

Bu Wati menoleh. "Sekar, kamu nanti bicara setelah dipanggil."

Kevin langsung melihat Sekar dan menggeleng kecil. Jangan.

Sekar berhenti. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia tahu Kevin tidak ingin ia ikut diseret, tetapi ia juga tidak tahan melihat semua orang menyusun dinding di sekitar kebohongan Adrian.

Dalam lima menit, grup WhatsApp sekolah sudah penuh pesan.

Kevin dorong Adrian di tangga.

Ada yang punya video?

Adrian luka?

Sekar belain Kevin, jelas lah pacarnya.

Anak kayak Kevin memang nggak berubah.

Sekar berdiri di depan ruang guru, membaca pesan-pesan itu dari ponsel Yola. Setiap kalimat terasa seperti batu kecil yang dilemparkan ke wajah Kevin.

Di dalam ruangan, Kevin duduk di kursi depan meja Bu Wati. Punggungnya lurus, kedua tangan di lutut, wajahnya tidak menunjukkan apa-apa. Justru karena itu, Sekar lebih sakit melihatnya.

Semua orang sedang menulis cerita tentang Kevin.

Tidak ada yang bertanya apakah ia benar-benar melakukannya.

Yola berdiri di samping Sekar, matanya merah karena marah. Bryan datang berlari dari kantin, napasnya terengah, wajahnya langsung berubah saat melihat grup.

"Bro nggak mungkin dorong dia," kata Bryan.

"Aku tahu," jawab Sekar.

"Tapi mereka..."

"Biarkan dulu."

Sekar mengangkat wajah, menatap pintu ruang guru yang tertutup.

Satu sekolah boleh mengatakan Kevin memukul orang.

Satu sekolah boleh percaya Adrian.

Tapi Sekar tidak akan ikut menjadi bagian dari orang-orang yang meragukan Kevin.

Karena kali ini, Kevin tidak akan berdiri sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!