Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 TOTAL COLLAPSE
Tanah di lapangan tengah SMK PGRI Cikampek bergetar hebat. Debu-debu kering membubung tinggi, terhempas oleh tekanan hawa membunuh dari tiga zona pertempuran yang pecah secara bersamaan.
Zone 1: Friza vs Ageng Carlos
"MATI LU, ANJING!!"
Ageng Carlos meraung bagaikan banteng terluka. Tubuh raksasanya menerjang maju, mengayunkan tinju kanannya yang sebesar helm motor lurus ke arah wajah Friza. Pukulan itu meluncur dengan kecepatan dan daya hancur yang luar biasa!
SRET!
Friza memiringkan badannya ke kiri hanya seujung kuku. Pukulan raksasa Ageng meleset menembus udara kosong, tapi tekanan angin dari pukulan itu sempat mengibarkan rambut Friza.
Tanpa membuang mikro-detik, Friza memanfaatkan celah pertahanan Ageng yang terbuka lebar. Dia memutar tubuhnya, mengumpulkan tenaga di otot paha, lalu melayangkan tendangan melingkar (roundhouse kick) yang menghantam tepat di leher samping Ageng!
DUAAAGH!!
Suara benturan keras terdengar nyaring. Namun, Ageng Carlos hanya terhuyung selangkah ke samping! Otot leher dan bahunya yang tebal menahan dampak tendangan Friza seperti benteng beton. Ageng menyeringai mengerikan dengan bibir berdarah, lalu mengepalkan kedua tangannya ke atas dan menghantamkannya ke bawah secara bersamaan—Double Axe Handle!
"MAMPUS!!"
Friza melompat mundur ke belakang secara refleks.
BANGK!!
Kedua tangan raksasa Ageng menghantam ubin beton lapangan tempat Friza berdiri sejuta detik lalu. Beton ubin itu retak seribu, hancur berkeping-keping menimbulkan kepulan debu tebal!
Dari balik kepulan debu, Friza melesat masuk kembali bagaikan kilat. Matanya menyala tajam.
BAM! BAM! BAM! BAM!
Kombinasi pukulan beruntun (rapid straight) dilepaskan Friza tanpa ampun! Pukulan kiri dan kanan Friza mendarat presisi di wajah, rahang, dan rusuk Ageng Carlos. Setiap pukulan Friza dilapisi oleh gaya dorong maksimal yang membuat tubuh raksasa Ageng bergetar dan mundur berturut-turut!
"Kh... Khah!" Ageng Carlos memuntahkan cairan bening berdarah.
Namun emosi Ageng sudah membakar rasa sakitnya. Ageng tiba-tiba merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menerima semua pukulan Friza secara sengaja, lalu meluncur maju melakukan bear hug—mencoba mencengkeram dan meremukkan tubuh Friza dengan pelukan raksasanya!
"Gua remukkin tulang-tulang lu sampai hancur!!" raung Ageng.
"Dalam mimpi lu, Babi!" bentak Friza.
Friza menancapkan kedua kakinya ke tanah, menarik kepalanya ke belakang, lalu menghentakkannya ke depan secara mendadak—Headbutt!
PAK!!
Dahi keras Friza bertabrakan telak dengan tulang hidung Ageng Carlos! Hidung Ageng patah seketika, mengucurkan darah segar dalam jumlah banyak. Ageng berteriak kesakitan, refleks melepas cengkeraman tangannya seraya memegangi mukanya.
Friza mengambil dua langkah mundur, mengambil napas dalam-dalam, lalu melompat ke udara setinggi dua meter. Kaki kanannya ditarik penuh ke belakang, siap melayangkan pukulan atau tendangan pamungkas!
Zone 2: Ryuka Wijaya vs Ben Bekman
Sementara itu di sisi kanan lapangan, bentrokan antara Ryuka dan Ben Bekman berlangsung dalam ritme yang sangat cepat dan berbahaya.
TAK! TAK! TAK!
Ben Bekman bergerak agresif. Sebagai spesialis adu jotos cepat, tangan Ben berayun membentuk pola boxing combination yang sangat rapi. Pukulan jab-cross-hook meluncur bertubi-tubi mengincar titik-titik vital di wajah dan leher Ryuka.
Ryuka menangkis dan memiringkan kepalanya bergantian. Sway dan ducking yang dilakukan Ryuka begitu halus, membuat semua sabetan tinju Ben Bekman hanya menyapu angin.
"Cuma segini kecepatan lu, Hah?!" ledek Ryuka sambil menyunggingkan senyum miring yang sangat memprovokasi.
Ben Bekman menaikkan pitamnya. "Jangan belagu lu, Cikuy!"
Ben sengaja memancing dengan pukulan straight kanan liar. Begitu Ryuka menggeser kepalanya ke kiri buat menghindari serangan itu, Ben sudah menyiapkan serangan kejutan: knee strike (dengkul) kiri yang melesat naik mengincar rahang bawah Ryuka!
SRET!
Mata Ryuka membelalak tipis. Refleks bertarung Ryuka bekerja secara spontan. Ryuka menyilangkan kedua telapak tangannya ke bawah, menahan benturan dengkul Ben Bekman tepat beberapa sentimeter sebelum menyenggol dagunya!
BAM!
Daya dorong dengkul Ben cukup kuat hingga membuat tubuh Ryuka terangkat tipis dari tanah. Tapi Ryuka tidak membiarkan momentum itu hilang. Masih dalam posisi tergantung di udara, Ryuka memanfaatkan lutut Ben sebagai pijakan!
SRET-TAK!
Ryuka melompat dari atas lutut Ben, memutar tubuhnya 360 derajat di udara, lalu mengepalkan tangan kanannya sekuat tenaga!
"Makan nih, Bajingan!" seru Ryuka bergelora.
Pukulan melingkar dari udara (Spinning Superman Punch) meluncur deras!
DUAAAAAGH!!
Pukulan mentah Ryuka mendarat telak di pipi kanan Ben Bekman! Benturan itu begitu dahsyat hingga suara retakan tulang pipi terdengar jelas. Tubuh Ben Bekman terpental hebat ke samping, menyeret tanah sejauh tiga meter sebelum akhirnya menabrak tiang gawang basket hingga besi gawang berdering kencang!
Crrhh!
Ben Bekman tersungkur di tanah, memuntahkan darah bercampur dua buah giginya yang tanggal. Dia berusaha bangkit sambil memegangi wajahnya yang lebam parah dan membengkak.
Ryuka mendarat dengan kedua kakinya secara sempurna. Dia merapikan kerah seragamnya yang kusut, menyapu peluh di dahinya, lalu berjalan mendekati Ben Bekman dengan langkah perlahan.
Aura di sekitar Ryuka mendadak memberat. Senyum konyol yang tadinya menghiasi wajah Ryuka lenyap total, berganti dengan tatapan mata yang dingin, pekat, dan tak bersahabat.
"Lu udah nyerang sekolah gua... ganggu pertarungan gua sama Zela..." bisik Ryuka dengan suara yang rendah dan dalam. "Sekarang... bangun lagi. Bikin gua terhibur sebelum gua bener-bener ngeremukkin lu."
Ben Bekman yang mendongak menatap Ryuka mendadak gemetar hebat. Nyalinya ciut seketika ketika melihat seolah ada bayangan hitam pekat yang menyelimuti tubuh Ryuka dari belakang.
Zone 3: Zela vs Bayu Wahyudi
Di sisi kiri lapangan, duel antara dua spesialis teknik tinggi—Zela dan Bayu Wahyudi—berlangsung dengan keanggunan yang mematikan.
SUSH! SUSH!
Bayu Wahyudi mengandalkan jangkauan kakinya yang panjang. Dia melepaskan Taekwondo kick combination yang luar biasa cepat: Roundhouse Kick bawah menyasar tulang kering, dilanjutkan tanpa jeda dengan Tornado Kick yang mengincar pelipis Zela.
Zela tidak panik sedikit pun. Pandangan matanya yang dingin mengunci setiap sudut pergerakan sendi paha dan lutut Bayu.
Zela melangkah mundur satu tapak untuk menghindari sabetan kaki bawah Bayu, lalu sedikit merundukkan badannya (bobbing) tepat saat kaki Bayu berputar tebas di atas kepalanya.
Angin dari tendangan Bayu menyapu rambut Zela.
Saat kaki Bayu baru saja selesai berputar dan hendak menjejak tanah kembali—di sinilah titik paling lemah dari posisi tubuh seorang penendang. Dan Zela menyadari celah emas itu dalam sekejap!
"Terlalu banyak gerakan yang gak perlu," ucap Zela dingin.
TAP!
Zela melesat maju menutup jarak dalam satu ketukan langkah. Tangan kirinya menjangkau dan mencengkeram kerah baju Bayu Wahyudi, menarik tubuh Bayu ke arahnya secara paksa!
"Apa?!" Bayu membelalak kaget karena kehilangan keseimbangan.
Saat tubuh Bayu tertarik maju, Zela melepaskan pukulan uppercut kanan jarak pendek yang amat sangat presisi tepat ke arah ulu hati Bayu!
DUAAGH!!
"Khhaaakk!!"
Udara di paru-paru Bayu Wahyudi tersedot habis seketika. Matanya melotot lebar, warna matanya memutih menahan rasa sakit luar biasa yang menjalar ke seluruh organ dalamnya. Serangan ulu hati Zela bener-bener mematikan!
Belum sempat Bayu jatuh pingsan, Zela memutar badannya dan melepaskan elbow strike (sikutan) balasan tepat ke rahang samping Bayu!
PAK!!
Tubuh Bayu Wahyudi terlempar ke udara, berputar setengah lingkaran sebelum akhirnya jatuh terhempas keras ke ubin lantai lapangan dalam kondisi pingsan total! Matanya terpejam rapat, lidahnya sedikit menjulur keluar, sepenuhnya tak berdaya.
Zela berdiri tegap di samping tubuh Bayu yang tak bergerak. Dia menghembuskan napas panjang, merapikan lengan baju seragamnya yang terangkat, lalu mengusap memar tipis di wajahnya sendiri.
"Satu tumbang," gumam Zela datar.
Klimaks Pertarungan: Tiga Puncak Menyatu
BOOOOMM!!
Di saat yang bersamaan dengan tumbangnya Bayu Wahyudi di tangan Zela, pertarungan Friza dan Ryuka di dua poros lainnya mencapai titik puncaknya!
Di udara, Friza yang tadi melompat melepaskan flying knee (dengkul terbang) berkecepatan tinggi tepat ke wajah Ageng Carlos yang baru saja bangkit!
DUAAAGH!!
Hantaman lutut Friza membuat tubuh raksasa Ageng Carlos yang seberat seratus kilogram lebih itu terangkat dari tanah dan terlempar ke belakang sejauh lima meter, menghantam barikade tembok pembatas hingga roboh berhamburan! Ageng Carlos terkulai lemas di dalam reruntuhan batu bata, pingsan tak sadarkan diri!
Sementara itu di sisi Ryuka, Ben Bekman yang mencoba berdiri secara nekat langsung disambar oleh tendangan memutar balik (back kick) Ryuka yang mendarat telak di dadanya!
BAM!!
Ben Bekman melayang menabrak tumpukan meja kayu bekas di pinggir lapangan, hancur berkeping-keping dan langsung kehilangan kesadarannya secara mutlak!
Suasana lapangan tengah SMK PGRI Cikampek seketika hening total.
Ratusan kroco musuh dari SMK Insan Tazaka yang tersisa di lapangan hanya bisa berdiri mematung dengan bibir gemetar. Tiga pilar terkuat mereka—Ageng Carlos, Ben Bekman, dan Bayu Wahyudi—telah dibantai habis dan diratakan dengan tanah hanya oleh tiga orang!
Friza berdiri di atas reruntuhan tembok tempat Ageng tumbang, Ryuka berdiri di tengah pecahan kayu meja sambil menyunggingkan senyum miringnya, dan Zela berdiri tenang di samping tubuh pingsan Bayu Wahyudi.
Asap debu pertempuran perlahan-lahan menipis diterpa angin sore Cikampek.
Ryuka memutar lehernya hingga berbunyi benturan tulang, lalu menoleh melirik Zela dan Friza di sampingnya.
"Gimana?" kekeh Ryuka santai. "Siapa yang paling banyak numbalin mereka nih?"
Zela melirik Ryuka dingin, namun sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman tipis. "Gua gak ngitung kroco... Gua cuma tahu pilar mereka runtuh di tangan gua."
Friza menghembuskan napas panjang, menyulut sebatang rokok baru dari sakunya di tengah lapangan yang hancur itu. "Kalian berdua... bener-bener anak kelas 2 yang merepotkan."
Dari balkon lantai 3 gedung sekolah, Argantara, Ken, Hyto, dan Kairi menyaksikan pemandangan lapangan bawah dengan senyuman dan rasa kagum. Tiga monster dari generasi baru telah menunjukkan taring mereka... Dan benteng pertahanan Bayoer sore hari itu berhasil dipertahankan secara mutlak!