NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Tangga Darurat

“Kak Doni! Psstt… Ayo!”

Sentakan keras di lengan Doni berhasil menarik kesadarannya kembali dari rasa syok. Napas Doni memburu. Otak IT-nya yang biasa dengan cepat melakukan troubleshooting saat kodingannya error, mendadak buntu. Pandangannya bergerak panik dari layar ponsel Olivia ke arah eskalator di depan arena permainan arkade. Di sana, beberapa lantai di bawah mereka, Marcella sedang melangkah naik bersama teman-teman kampusnya untuk menuju ke tempat karaoke.

Jika Doni bergerak selangkah saja ke depan, Marcella dan teman-temannya bisa saja melihatnya. Apalagi, Doni masih mendekap erat tas olahraga milik Olivia. Bisa tamat riwayatnya. Dia tidak akan bisa menjelaskan apa yang dia lakukan di sini, di hari Minggu malam, saat seharusnya dia berada di kosan Adit untuk mengerjakan tugas kelompok. Banyaknya pertanyaan yang menumpuk di kepalanya saat ini membuat dia tidak bisa memikirkan jalan keluar dari tempatnya berdiri. Satu-satunya yang bisa dia pikirkan adalah dia harus buru-buru ke parkiran, dan jalannya adalah eskalator di depan arkade itu.

Namun, tak seperti Doni, Olivia bertindak cepat. Mall ini sudah tidak asing baginya. Dengan ketenangan yang nyaris tidak wajar untuk anak seusianya, dia mencengkeram jaket Doni dan menyeret pria itu kembali masuk ke area arkade dan mengambil jalan memutar menuju ke bagian sudut belakang area permainan yang remang-remang.

“Loh, Liv, mau ke mana? Kok masuk lagi? Kita langsung lewat depan aja, lari ke parkiran!” bisik Doni panik, suaranya bergetar hebat.

“Nggak bisa, lah! Emang nggak lihat tempat karaokenya dimana? Ada di seberang eskalator tadi. Kalau kita maksa lewat situ, kita pasti papasan sama Kak Cella!” balas Olivia setengah berbisik tanpa menghentikan langkah kakinya. “Ayo, buruan!”

Tepat di antara mesin permainan balap motor dan kasir tempat dia mengisi saldo kartu bermainnya tadi, terlihat sebuah pintu besi tebal berwarna abu-abu yang bertuliskan Staff Only. Gadis itu mendorongnya dengan sisa tenaga yang sudah cukup terkuras. Dia mengibaskan tangannya memanggil Doni masuk. Doni sempat ragu, namun dorongan kepanikan yang lebih besar membuatnya pasrah saat Olivia menariknya masuk ke dalam.

Cklek. Pintu besi itu tertutup rapat, seketika meredupkan suara bising dari mesin-mesin game arkade di luar menjadi samar-samar.

Suasana di balik pintu itu berubah drastis. Sebuah koridor panjang dengan dinding semen polos tanpa cat dan penerangan lampu neon putih yang agak berkedip. Bagaikan suasana koridor rumah sakit di film-film horor. Ini sebenarnya adalah jalur belakang mall, akses yang biasanya hanya dilewati oleh petugas kebersihan atau karyawan toko untuk memindahkan barang. Suasananya sunyi, dingin, dan terasa sangat asing. Suara decit sepatu basket Olivia dan sneakers Doni yang beradu dengan lantai terdengar menggema, membuatnya menjadi satu-satunya sumber suara di tempat itu.

Koridor beton ini terasa begitu kontras dengan kemegahan mall di luar. Aroma udara di sini terasa apek dan pengap, bercampur dengan bau khas dari tumpukan kardus-kardus bekas toko yang digeletakkan di pojok dinding. Setiap kali lampu neon di atas kepala mereka berkedip dan mengeluarkan suara dengung pendek, bayangan tubuh Doni dan Olivia memanjang di dinding yang berlapis semen itu, menciptakan ilusi visual yang semakin menambah kesan bahwa mereka sedang melakukan pelarian kriminal.

Doni bisa merasakan keringat dinginnya mulai merembes ke balik kaus yang dipakainya. Dengan tangan gemetar karena takut ketahuan, dia meremas tali tas olahraga di pelukannya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia bisa mendengarnya. “Liv, kalau ada yang lewat sini gimana? Ntar kita ketahuan”

“Tenang aja, aku sering lewat sini kok sebenernya. Bisa lebih cepet motong jalan, soalnya langsung nembus ke parkiran motor belakang”, sahut Olivia santai.

Doni kembali melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan beberapa menit lagi sebelum pukul setengah delapan malam, dan dia belum juga kembali ke kosan tempat mereka kerja kelompok. Doni bisa membayangkan betapa dongkolnya teman-temannya saat ini, melihat barisan kode yang sudah menjadi tugasnya, sengaja ditinggalkannya begitu saja demi urusan yang sama sekali tidak bisa dia jelaskan kepada mereka. Rasa bersalah dan cemas kini bercampur aduk, meremas isi perutnya hingga terasa mulas.

Tak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di ujung koridor yang berbentuk seperti pertigaan. Olivia menuntun Doni berbelok ke kiri, menuju sebuah pintu besi lain tak jauh dari situ yang memiliki tanda lampu hijau bertuliskan Emergency Exit.

Area tangga darurat yang berkelok terpampang di hadapan mereka begitu Olivia memaksa membuka pintu besi itu. Begitu melangkah masuk, suasananya jauh lebih sepi. Deretan tangga beton yang menuju ke atas dan ke bawah, menghubungkan setiap lantai mall, terasa seperti kesunyian yang mencekam. Hampir sama seperti koridor tadi, area ini juga mengandalkan penerangan dari lampu neon putih yang berkedip-kedip.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari sisi dinding beton yang berbatasan langsung dengan koridor luar mall, sayup-sayup terdengar suara tawa melengking beberapa wanita yang sangat familiar di telinga Doni.

Itu suara teman-teman kampus Marcella. Mereka sudah tiba di lantai ini.

Doni refleks menghentikan langkahnya saat baru menginjak anak tangga pertama, tubuhnya menempel kaku ke dinding beton. Dia bahkan menahan napasnya, seolah-olah hembusan napasnya bisa menembus dinding tebal dan terdengar oleh Marcella di luar sana. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.

Di dalam ruang sempit yang sunyi itu, jarak di antara Doni dan Olivia kembali terkikis. Doni bisa mendengar dengan jelas sisa napas Olivia yang masih agak memburu setelah dua jam bermain game tadi.

Olivia berdiri satu anak tangga di bawah Doni, membuatnya harus mendongak untuk menatap wajah pria itu. Di bawah cahaya lampu neon yang remang, sepasang mata tajam Olivia menatap dekat-dekat wajah pucat Doni yang dipenuhi ketakutan. Sudut bibir gadis itu perlahan terangkat, membentuk senyuman tipis yang sarat akan kepuasan psikologis. Dia sebenarnya sangat menikmati momen ini, momen di mana dia memegang kendali penuh atas hidup seorang mahasiswa.

Olivia memajukan wajahnya sedikit, lalu berbisik dengan nada mengejek yang sangat pelan tepat di hadapan Doni.

“Deg-degan ya, Kak? Takut banget ya kalau Kak Cella tahu kita lagi seru-seruan di belakang dia?”

Doni memandangnya dengan tatapan benci sekaligus tak berdaya. Rahangnya mengatup rapat. Dia ingin sekali membentak anak SMA di depannya ini, menyuruhnya diam dan berhenti bermain-main dengan nyawanya. Namun, sebelum sepatah kata pun sempat keluar dari mulut Doni, sebuah suara mekanis yang keras memotong ketegangan di antara mereka.

KREEEKK...

Pintu besi tangga darurat di lantai tepat di atas mereka tiba-tiba bergerak terbuka. Suara langkah sepatu yang berat melangkah masuk, menggema keras di langit-langit beton yang sunyi, bergerak turun menuju ke arah tempat Doni dan Olivia bersembunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!