Wen Sekar tidak pernah suka dengan keramaian.
Di usia 26 tahun, dia hanyalah karyawan administrasi biasa di Kota Angin — gaji pas-pasan, tidak punya teman dekat, dan lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar kos-nya. Satu-satunya kenangan berharga adalah kasih sayang Kakek dan Nenek Wen yang membesarkannya sejak bayi, setelah ia ditemukan di pinggir jalan oleh mereka.
Suatu malam, tusuk konde mutiara peninggalan Nenek tiba-tiba memberikannya kemampuan luar biasa: sebuah ruang penyimpanan ajaib di mana waktu berhenti, dan mimpi-mimpi yang menunjukkan bencana dahsyat yang akan melanda dunia.
Sekar tidak menunggu. Dia mulai menimbun — beras, minyak goreng, obat-obatan, alat pertanian, senapan berburu, empat buku panduan bertahan hidup. Semua disimpan dalam ruang ajaibnya. Ketika orang lain masih tertawa, Sekar sudah siap.
Dan bencana datang. Satu per satu: banjir besar, gempa dahsyat, pandemi global, dan akhirnya — letusan Supervulkan Yellowstone yang menyelimuti bumi dalam musim dingin vulkanik selama sepuluh tahun.
Sendirian di dataran tinggi Pulau Karang, lalu di kedalaman Hutan Damai di Kalimantan, Sekar bertahan. Dia belajar menanam singkong, berburu babi hutan, membuat tempe, membangun rumah dengan tangannya sendiri. Dia menghadapi perampok, binatang buas, dan kesunyian yang tak berujung — dan menang.
Tapi kisah ini bukan hanya tentang bertahan hidup.
Di usia 46 tahun, Sekar menemukan seorang bayi perempuan yang dibuang di depan gerbang kota. Dan saat itu, dia teringat dirinya sendiri — bayi yang pernah dibuang di pinggir jalan, lalu diselamatkan oleh cinta tanpa syarat.
Sekar mengambil bayi itu dan menamainya Anin.
Dari seorang gadis pendiam yang bertahan sendirian, Sekar menjadi seorang Mama — meneruskan warisan cinta yang dulu diterimanya dari Kakek dan Nenek Wen.
Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun untuk hidup — tetapi menemukan alasan untuk hidup demi seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 031
Mengikuti Air
Jepang sedang tenggelam.
Kalimat itu mengikuti Sekar sampai pasar kecamatan atas.
Ia tidak memaksa naik lebih jauh malam itu. Kabut turun sebelum langit benar-benar gelap, menutup tikungan seperti kain basah. Rumah singgah kecil di dekat pasar sudah penuh oleh keluarga dari bawah dan beberapa orang yang baru turun dari kapal. Pemiliknya hanya bisa memberi tempat di bale-bale belakang warung, dekat tumpukan karung bawang.
"Kalau mau, tidur duduk juga boleh," kata perempuan itu. "Tapi motor tanggung sendiri."
"Tidak apa-apa, Bu. Saya cuma istirahat sebentar."
Sekar membayar murah, memarkir motor di sudut yang terlihat dari bale-bale, lalu duduk dengan tas di pangkuan. Ia tidak benar-benar tidur. Setiap beberapa menit, ada orang batuk, anak menangis, atau suara motor lewat di jalan berkabut. Radio warung terus mengulang berita Jepang sampai pemilik warung mematikannya dengan tangan gemetar.
Subuh, Sekar bangun dengan leher kaku.
Udara dataran tinggi menggigit kulit. Tidak sedingin mimpi musim dinginnya, tetapi cukup membuat napas keluar seperti tipis asap. Ia mencuci muka di keran belakang warung, makan satu biskuit dan sisa kecil wajik Bu Sari, lalu membuka peta kertas di atas jok motor.
Hari ini, ia tidak mencari penginapan.
Ia mencari air.
Tanpa air, tanah tinggi hanya batu yang indah dilihat dari jauh. Dengan air, batu bisa menjadi dinding, lereng bisa menjadi kebun, dan tempat asing bisa berubah menjadi rumah.
Di pasar kecil, beberapa pedagang baru membuka lapak. Sekar membeli teh panas dalam plastik dan bertanya kepada seorang pria tua yang menjual pisang rebus.
"Pak, kalau sungai yang airnya tetap ada sampai musim kering, arah mana?"
Pria itu menatapnya lama. "Mau kebun?"
"Mungkin."
"Jangan cari dekat jalan besar. Airnya ada, tapi orang juga banyak. Kalau mau sepi, ikuti jalan ke kebun cengkih lama. Ada sungai kecil turun dari batu. Tapi jalannya rusak."
"Motor bisa lewat?"
"Kalau pelan dan tidak hujan, bisa. Kalau hujan, jangan."
Sekar mengangguk. "Nama jalannya?"
Pria itu menunjuk dengan pisang rebus. "Lewat jembatan kecil setelah pohon beringin kering. Belok kanan. Kalau dengar air, jangan langsung turun. Lihat atasnya dulu. Banyak tanah miring."
Nasihat terakhir itu membuat Sekar menatapnya lebih serius.
"Terima kasih, Pak."
Ia mengikuti arah itu setelah matahari naik sedikit.
Jalan ke kebun cengkih lama lebih sempit daripada jalan utama. Aspalnya putus-putus, berganti batu dan tanah keras. Di kiri kanan, rumah makin jarang. Beberapa kebun tampak ditinggalkan setengah, pagar bambunya roboh, rumput tinggi menutup bedengan lama. Sesekali ia melihat asap dapur dari rumah jauh di lereng, tetapi tidak ada kerumunan.
Suara air pertama kali terdengar setelah tikungan panjang.
Bukan deras.
Hanya gemericik yang konstan, seperti seseorang menuang air tanpa henti dari tempat tersembunyi.
Sekar mematikan mesin motor.
Diam langsung turun.
Di antara batu-batu hitam, sebuah sungai kecil mengalir jernih. Lebarnya mungkin hanya dua meter. Airnya melewati dasar batu, bukan lumpur. Di pinggirnya tumbuh semak, pakis, dan beberapa pohon berdaun kecil yang akarnya masuk ke sela bebatuan.
Sekar tidak langsung turun.
Ia berdiri di jalan, melihat arah aliran, lereng di atas, bekas longsoran, jejak kaki, jejak ban, dan rumah terdekat. Ada satu gubuk kebun jauh di seberang, atapnya miring, tidak tampak berpenghuni. Lebih atas lagi, jalan setapak naik ke lereng yang terbuka.
Air ada.
Orang sedikit.
Tetapi terlalu dekat dengan tikungan jalan.
Ia mencoret titik itu di peta, lalu menulis: dekat jalan, rawan terlihat.
Sekar kembali menyalakan motor dan mengikuti aliran sungai ke arah atas.
Satu jam berikutnya habis untuk berhenti, mencatat, dan menolak tempat.
Di satu lokasi, sungai terlalu dekat dengan rumah warga. Di lokasi lain, tanahnya datar tetapi bekas ban baru menunjukkan banyak orang lewat. Ada tempat dengan pemandangan bagus, tetapi lereng di belakangnya penuh batu lepas. Ada juga tanah lapang yang tampak kosong, namun di bawahnya ia menemukan bekas aliran banjir lama, ranting tersangkut tinggi di dahan semak.
Ia menulis semuanya.
Jangan bangun di jalur air.
Jangan terlalu dekat jalan.
Jangan di bawah tebing retak.
Jangan memilih hanya karena pemandangan indah.
Menjelang siang, matahari cukup kuat untuk membuat jaketnya terasa panas. Sekar berhenti di bawah pohon yang akarnya mencengkeram batu. Ia minum sedikit, makan kacang rebus yang dibeli dari Kota Watu, lalu membuka peta lagi.
Aliran sungai di peta tidak selalu sesuai dengan suara di lapangan. Beberapa cabang kecil tidak tercatat. Beberapa jalan setapak tidak muncul. Peta membantu, tetapi kaki dan mata tetap harus memutuskan.
Saat ia hendak berangkat lagi, sepasang suami istri lewat dengan motor dari arah atas. Mereka membawa keranjang kosong.
"Mbak, jalan atas masih bisa?" tanya Sekar.
Laki-laki itu mengurangi kecepatan. "Bisa sampai kebun lama. Setelah itu jalan batu. Mau ke mana?"
"Lihat tanah saudara."
Perempuan di boncengan menatapnya sebentar, lalu berkata, "Kalau sendiri jangan kemalaman. Sinyal hilang setelah tikungan besar. Kalau ada apa-apa, teriak pun tidak ada yang dengar."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Mereka pergi, meninggalkan debu tipis.
Sekar mencatat: setelah tikungan besar, sinyal hilang.
Peringatan itu seharusnya membuatnya mundur.
Sebaliknya, sebagian kecil dari dirinya justru menjadi lebih waspada dan lebih tertarik. Tidak ada sinyal berarti sulit meminta bantuan, tetapi juga berarti tidak banyak orang sengaja datang. Jika tempatnya benar, kesepian bisa menjadi pagar pertama.
Ia melanjutkan.
Setelah tikungan besar, jalan benar-benar berubah. Batu-batu tajam muncul di tengah jalur. Motor harus berjalan pelan. Sungai kecil tidak lagi terlihat dari jalan, tetapi suaranya tetap ada di bawah lereng, mengikuti seperti benang yang tidak putus.
Lalu jalan setapak di kanan terbuka.
Sekar menghentikan motor.
Di balik semak, tanah naik landai ke sebuah lereng yang tidak terlalu curam. Dari sana, ia bisa melihat sungai kecil berbelok di bawah, cukup dekat untuk diambil air, cukup jauh untuk tidak langsung menerjang jika meluap. Di belakang lereng ada batu besar dan pohon-pohon rapat yang menahan angin. Di depannya, lembah terbuka memberi pandangan panjang ke jalan bawah.
Sekar tidak bergerak selama beberapa detik.
Ia turun dari motor dan berjalan beberapa langkah, sepatu menginjak rumput pendek yang tumbuh di antara batu. Tidak ada bekas ban baru. Tidak ada sampah plastik segar. Hanya jejak kecil hewan, daun kering, dan tanah yang tidak terlalu lembek. Angin datang dari arah lembah, tetapi batu besar di belakang memecah hembusannya sebelum mencapai bagian datar.
Ia memungut segenggam tanah.
Ada pasir halus, serpihan daun, dan warna lebih gelap daripada tanah merah di bawah.
Belum cukup untuk menyebutnya subur.
Tetapi tidak mati.
Ia belum memilih.
Belum.
Tetapi tangannya turun sendiri ke rem, menahan motor tetap diam.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Pulau Karang, tempat di depannya tidak hanya terlihat aman.
Tempat itu terlihat mungkin.