Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Api di Balik Dinding
Beberapa hari setelah malam di Rumah Tua, Sekar mendengar suara benda pecah dari kamar Kevin.
Ia sedang berada di ruang kecil yang menyambung ke koridor paviliun, menyusun beberapa surat undangan keluarga yang diminta kepala pelayan untuk diperiksa. Tugas itu tidak penting. Mungkin memang diberikan agar ia tampak berguna tanpa perlu dipercaya. Namun ketika suara pecahan kaca terdengar dari balik dinding, jari Sekar berhenti di atas amplop.
"Kamu pikir aku tidak tahu cara kerja Liem Group?" suara Kevin terdengar tertahan marah.
Suara Celine menjawab lebih pelan, tetapi cukup tajam untuk menembus dinding. "Aku pikir kamu terlalu lambat."
Sekar tidak bergerak.
Ia tahu seharusnya pergi. Mendengar pertengkaran orang lain bisa berbahaya di rumah ini. Tetapi sejak menjadi mata dan telinga Renard, bahaya tidak selalu berarti menjauh. Kadang bahaya justru berarti mendengar sampai akhir.
"Aku sudah masuk divisi akuisisi," kata Kevin. "Engkong tidak akan langsung memberiku akses besar."
"Kalau kamu terus menunggu Engkong, Renard akan mengambil semuanya."
Nama Renard membuat Kevin tertawa kasar. "Jangan sebut dia."
"Kenapa? Takut?"
"Celine."
"Kamu memang takut." Suara Celine semakin rendah. "Darren punya cabang pertama. Renard punya orang-orang gelapnya. Kamu punya apa? Nama cabang lima dan tunangan boneka dari keluarga Tan?"
Sekar menggenggam amplop sampai ujungnya terlipat.
"Felicia tidak ada hubungannya dengan ini," geram Kevin.
"Justru karena dia tidak ada gunanya, kamu harus mencari jalan lain. Aku dengar ada rencana akuisisi tanah di luar Jakarta. Kalau kamu bisa masuk sebelum Renard, kamu punya modal untuk bicara di depan Engkong."
Ada jeda.
Sekar bisa membayangkan Kevin berjalan mondar-mandir, amarahnya perlahan berubah menjadi perhitungan yang tidak matang. Itulah yang lebih menakutkan daripada ledakan. Orang bodoh yang ingin membuktikan diri sering memecahkan pintu tanpa tahu ruangan di baliknya berisi api.
"Dari mana kamu dengar soal itu?" tanya Kevin.
"Aku punya teman."
"Teman atau orang yang kamu bayar?"
Celine tertawa kecil. "Bedanya apa kalau hasilnya berguna?"
Sesuatu kembali terbanting. Sekar refleks mundur, tetapi tidak pergi. Setelah itu suara mereka merendah, hanya potongan kalimat yang terdengar: nama divisi, kontrak awal, rapat Engkong, dan sekali lagi nama Renard dengan nada benci.
Malamnya, Sekar menulis laporan singkat di ponsel baru.
Kevin dan Celine membicarakan akuisisi tanah luar Jakarta. Celine mendorong Kevin bergerak sebelum Renard. Kevin marah tapi mendengar.
Balasan Renard datang cepat.
Kevin lebih berbahaya daripada yang kamu pikir. Dia tidak pintar, tapi orang bodoh bisa melakukan hal yang tidak berani dilakukan orang pintar.
Sekar membaca kalimat itu dua kali.
Ia sudah tahu Kevin egois. Ia tahu Kevin pengecut. Namun memikirkan Kevin sebagai bahaya aktif membuat udara di kamar terasa lebih sempit. Selama ini ia menganggap Kevin hanya pintu rusak yang harus dilewati. Ternyata pintu rusak pun bisa roboh dan menimpa orang di dekatnya.
Ponsel lamanya bergetar sebelum ia sempat membalas.
Nama di layar membuat dadanya langsung mengeras.
Nyonya Tan.
Sekar mengangkat. "Nyonya."
"Kamu lama sekali menjawab."
"Maaf."
"Bagaimana Kevin?"
Sekar menatap pintu kamar yang tertutup. "Dia sibuk dengan urusan grup."
"Itu bukan jawaban. Dia harus terlihat baik di depan Engkong. Kamu berada di sana untuk memastikan keluarga Tan tidak dipermalukan."
"Saya mengerti."
"Tidak. Kamu belum mengerti." Suara Lilian terdengar sangat tenang. "Jika posisi Kevin turun, pernikahan ini kehilangan nilai. Jika pernikahan ini kehilangan nilai, kamu kehilangan alasan untuk kami biarkan keluargamu nyaman."
Sekar menutup mata.
Kata nyaman dari mulut Lilian terdengar seperti ancaman.
"Saya akan berusaha," katanya.
"Berusaha bukan hasil."
Sekar menggenggam ponsel lebih erat. "Apa yang Nyonya ingin saya lakukan?"
"Buat Kevin tampak berguna. Dorong dia bicara dengan Engkong. Jaga agar Celine tidak terlalu terlihat. Aku tidak peduli caranya."
Sekar hampir tertawa pahit. Lilian ingin ia memperbaiki pria yang bahkan tidak menganggapnya manusia, menjauhkan perempuan yang justru Kevin pilih, dan tetap menjaga wajah keluarga Tan tetap bersih.
"Baik," katanya.
Di seberang, Lilian diam sebentar. Ketika bicara lagi, suaranya lebih rendah.
"Dengar. Ada kabar dari Surabaya."
Seluruh tubuh Sekar membeku.
"Ibumu..." Lilian memberi jeda yang sangat kejam. "Kondisinya memburuk."
Ponsel hampir terlepas dari tangan Sekar.
"Mama Hwee kenapa?"
"Tekanan darahnya naik. Dokter bilang perlu pemeriksaan tambahan. Biayanya tidak kecil."
"Saya mohon, jangan hentikan obatnya."
"Maka jangan membuat kami merasa membayarnya sia-sia."
Panggilan terputus.
Sekar tetap memegang ponsel di telinga meski suara di seberang sudah mati. Di depannya, layar ponsel baru dari Renard masih menyala dengan pesan terakhir tentang Kevin.
Orang bodoh bisa melakukan hal yang tidak berani dilakukan orang pintar.
Ia mencoba menelepon nomor perawat Mama Hwee. Tidak tersambung. Ia mencoba sekali lagi, lalu sekali lagi, sampai suara operator yang sopan terasa seperti dinding yang dibangun khusus untuknya. Pesan kepada Bella juga hanya menunjukkan satu centang abu-abu. Mungkin adiknya sedang belajar. Mungkin ponselnya disita. Mungkin orang keluarga Tan sudah berdiri terlalu dekat.
Sekar menghapus kata Tan dari pikirannya sendiri, seolah bahkan dalam kepalanya ia harus takut meninggalkan bukti.
Sekar menurunkan kedua ponsel ke pangkuan.
Untuk sesaat, ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan: Kevin yang mungkin membakar rumah ini karena ambisi bodoh, atau Lilian yang bisa memadamkan hidup Mama Hwee hanya dengan satu keputusan.
Yang ia tahu, jarak antara dirinya dan Surabaya mendadak terasa seperti jurang tanpa dasar.