Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerjang Hadangan
Pekikan tawa melengking perlahan surut, meninggalkan gema berdenging yang menyakitkan. Namun, keheningan yang kembali datang justru terasa jauh lebih mengintimidasi.
Di sudut ruangan, beberapa siswa masih meringkuk dengan napas tersengal, wajah mereka pucat pasi.
Rahman dan Agil perlahan bangkit dengan tubuh yang masih gemetar. Bagi mereka yang masih berada di E-Class, serangan tadi membuat tubuh begitu lemas hingga sulit untuk sekadar digerakkan.
Di sisi lain, Rena berteriak kesakitan sambil berguling ke sana kemari. Isabella yang dilanda kepanikan berusaha menahan tubuh sahabatnya itu, mengabaikan fakta bahwa kondisinya sendiri belum pulih sepenuhnya.
Sang Kuntilanak Merah merangkak di langit-langit kantin dengan gerakan patah-patah yang sangat cepat, meninggalkan jejak kemerahan di sepanjang jalurnya.
Makhluk itu menukik ke arah Johandi dengan cakar hitamnya yang panjang.
Johandi menyilangkan kedua lengannya ke depan, mengerahkan energi spiritualnya hingga aura sekujur tubuhnya memadat di kedua tangannya.
BOOM!
Gelombang kejut tercipta menyapu debu-debu di lantai kantin.
"Sekarang, Ryan!" geram Johandi, bersusah payah menahan tekanan berat dari cakar yang terus bergesek nyaring.
Di sayap kanan, Ryan bergerak tanpa suara, melewati meja dan kursi kantin yang berantakan. Tangan kanannya yang mengepal erat mulai diselimuti oleh desis tipis aura miliknya, siap melepaskan hantaman kuat.
Sayangnya, insting sang entitas tingkat tinggi itu sangat tajam. Sebelum kepalan tangan Ryan mendarat, makhluk itu melesat mundur, meninggalkan bayangan semu yang membuat serangan Ryan hanya menghantam udara kosong.
Sambil melayang di udara, sokok tersebut tertawa lirih. Kemudian, dengan nada suara halus ia berbisik, “Datanglah kemari…”
Johandi segera mengambil sikap waspada penuh. Berdasarkan informasi yang ia ingat, Kuntilanak Merah mampu memanggil puluhan kuntilanak putih yang setara Tier B di sekitar lokasi untuk membantunya.
Hening…
Kuntilanak Merah itu melirik ke sana kemari dengan patahan leher yang kaku. “Mengapa... tidak ada yang datang...?”
Hantu itu melayang-layang di tempatnya, menampakkan gestur yang tampak kebingungan.
Rahman yang menyadari situasi itu tertawa geli di dalam batinnya, Hahaha, tidak akan ada satu pun makhluk astral kelas teri yang berani mendekat selama Ryan ada di sini.
Menyadari panggilannya diabaikan, makhluk itu kembali mengunci pandangannya pada Johandi dan Ryan. Kilat amarah memancar dari balik rambutnya yang tebal.
Pecahan batu, meja, dan kursi-kursi besi di sekitarnya terangkat ke udara. Benda-benda tersebut berterbangan bagai proyektil yang mengincar Johandi dan Ryan.
Hantu itu ikut melesat maju di balik badai benda-benda tersebut, siap menyerang langsung menggunakan cakarnya.
Namun, setelah menyadari bahwa pertahanan spiritual Johandi terlalu tebal untuk ditembus, sang makhluk astral dengan cerdik mengalihkan targetnya menuju Ryan.
"Ryan! Jangan sampai terkena cakarnya!" teriak Johandi memperingatkan.
Johandi tahu betul bahwa cakar Kuntilanak Merah mengandung kutukan yang secara perlahan membuat pembuluh darah korbannya pecah hingga berujung pada kematian.
Namun, Ryan berulang kali berhasil meloloskan diri dari setiap cabikan mematikan yang dilancarkan makhluk astral dengan gerakan minimal.
Begitu perhatian sang kuntilanak sepenuhnya teralih kepada Ryan, Rahman segera menjalankan rencana mereka.
Menyatukan kedua telapak tangannya, mengunci jemarinya erat-erat sembari memejamkan mata agar bisa fokus.
Seberkas cahaya putih murni menyembur dari dadanya. Cahaya itu memadat menjadi bayangan pudar sebelum akhirnya mewujud utuh sebagai sesosok Harimau Putih. Tanpa menimbulkan suara, sang khodam bergerak lincah, menyelinap masuk ke dalam gudang kantin.
Ukuran gudang kantin yang sempit membuat pencarian tak memakan waktu lama. Melalui koneksi indra penglihatan khodamnya, Rahman langsung mengunci target utama mereka: sebongkah batu merah delima yang melayang misterius di tengah ruangan, memancarkan pilar cahaya merah pekat yang menjulang tinggi menembus atap.
Tanpa ragu, ia memerintahkan sang Harimau Putih untuk menerjang inti energi tersebut.
Begitu merasakan fluktuasi energi asing yang mendekati objek yang dijaganya, sang kuntilanak berbalik arah dan melesat bak kilat merah, menukik lurus menuju gudang dengan kemarahan memuncak demi melindungi batu tersebut.
Tak membiarkan rencananya hancur, Johandi segera mengalirkan energi ke sepasang kakinya, melompat dengan daya dorong yang meledak-ledak. Tubuhnya melesat maju memotong jalur terbang sang hantu, mengadangnya secara frontal di udara hingga menghantam langit-langit kantin.
BOOM!
Plafon bangunan hancur berantakan. Di tengah kepulan debu tebal yang mengaburkan pandangan, tubuh Johandi terempas bebas ke lantai. Namun, pengorbanan itu tidak sia-sia. Di dalam gudang, seolah tak memedulikan kekacauan di luar, rahang sang Harimau Putih telah mengunci sasarannya. Taring tajamnya meremukkan batu merah delima tersebut hingga hancur berkeping-keping.
Seketika, gemuruh dahsyat yang memekakkan telinga bagai cermin raksasa yang pecah kembali berdentum hebat, mengguncang seluruh fondasi bangunan kantin.
Tubuh Kuntilanak Merah mendadak membeku di udara. Aura merah yang sebelumnya bergolak mulai berkedip tidak stabil.
Rahman segera menarik kembali khodamnya. Matanya terbuka sentak, tangannya langsung teracung lurus ke arah sudut ruangan. "Cepat, lari ke sana!"
Johandi langsung bangkit dan menerjang dinding beton di arah yang ditunjuk Rahman, menjebolnya hingga hancur berantakan demi membuka jalan pintas.
Di belakangnya, para siswa segera berhamburan lari. Isabella bergerak cepat, memegangi bahu Rena yang kondisinya tak kunjung membaik.
Meskipun langkah mereka sempoyongan dan kepala masih pening luar biasa akibat efek serangan psikis sang kuntilanak, mereka berlari sekuat tenaga.
"Rena, bertahanlah! Sedikit lagi!" bisik Isabella, mencoba menguatkan sahabatnya.
Di barisan paling depan, Johandi melihat dinding penghalang gaib. Mengumpulkan seluruh daya spiritualnya, ia menerjang penghalang itu.
KRAK!
Sebuah lubang retakan selebar lima meter berhasil tercipta. Johandi segera memasang badan tepat di tengah celah tersebut, menahan kedua sisi dinding gaib yang mulai bergetar.
Agil melompat keluar terlebih dahulu melalui celah tersebut, sambil berteriak panik, "Ayo, semuanya cepat keluar!"
Satu per satu siswa berhasil meloloskan diri. Namun, retakan pada dinding penghalang merapat, berusaha memperbaiki dirinya.
Johandi menggeram, kedua tangannya berusaha menahan celah yang perlahan menyusut.
Tepat di saat kritis tersebut, pekikan tawa melengking sang kuntilanak kembali membahana. Bersamaan dengan itu, guncangan gempa dahsyat melanda, membuat Johandi nyaris terjatuh.
"Cepat, anak-anak!"
Saat melirik sekilas ke belakang sebuah kaki raksasa berbulu hitam lebat tiba-tiba menjebol atap dan menembus bangunan kantin. Tubuh utamanya bahkan belum terlihat, tertutup kabut mistis pekat, sementara sang Kuntilanak Merah tampak melayang setia di dekatnya.
Genderuwo.
Napas Johandi tercekat. Bahkan tanpa melihat tubuhnya secara utuh, ia sudah mengenali pemilik kaki raksasa itu.
Makhluk itu seharusnya dihadapi oleh satu unit tempur penuh.
Ryan dan Rahman sudah berada di depan celah pelarian. Namun, begitu menyadari ada yang kurang, keduanya serentak menoleh ke belakang.
Di tengah ruangan yang hancur, Rena ambruk ke tanah sambil menggeliat kesakitan, disusul Isabella yang ikut terjatuh sambil mendekap telinganya erat-erat.
Tanpa pikir panjang, Rahman kembali memanggil sesosok Harimau Putih untuk melesat bersama Ryan yang sudah bergerak terlebih dulu, menerobos kembali ke dalam area berbahaya meski kepalanya mulai berdenyut menyakitkan saat gelombang suara itu mulai mengunyah kesadarannya.
Ryan menyambar tubuh Rena dan Isabella, lalu melempar keduanya ke atas punggung Harimau Putih.
Sang Harimau Putih langsung melesat pergi.
Napas Johandi memburu. Tubuhnya dibanjiri keringat dingin saat menahan bobot yang kian menekan.
Begitu melihat Harimau Putih berhasil membawa Rena dan Isabella melesat keluar melewati celah, Rahman tidak lantas menyusul. Ia tetap bertahan di dalam, berdiri tegang di dekat celah penghalang sambil berbalik penuh cemas dan berseru lantang, "Ryan, cepat!"
BAM!
Satu hentakan kaki raksasa kembali memicu gempa susulan. Getaran hebat itu merusak keseimbangan Ryan, menahan langkahnya tepat di tengah kepungan bahaya.
Detik itu juga, sang Kuntilanak Merah memanipulasi puluhan bongkahan batu besar dari reruntuhan bangunan untuk melesat liar mengincar Ryan.
BOOM! BOOM! BOOM!
Ledakan demi ledakan batu menghantam tanah secara beruntun.
"Ryan!" jerit Rahman dari posisinya di dekat celah. Menyaksikan dengan horor bagaimana rekannya dibombardir tanpa ampun hingga siluet tubuhnya tenggelam sepenuhnya di balik kepulan debu tebal.
Kabut debu masih bergulung ketika sebuah siluet tiba-tiba menerobos keluar darinya.
Ryan.
Tangannya bergerak cepat mencengkeram kerah seragam Rahman, menariknya untuk ikut melompat keluar melewati celah.
Begitu semua orang berhasil lolos, Johandi langsung melepas kekuatannya. Ia melompat mundur melewati celah, tepat sebelum dinding penghalang itu menutup.
Hanya dalam hitungan detik, dinding gaib tersebut kembali merapat sempurna, seolah tak pernah terusik.