Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayi Besar yang Manja
"Bang, bentar dulu. Jangan langsung rebahan. Raya balurin dulu pakai minyak angin, biar badan Abang lebih enak." Raya duduk di samping Juan sambil membuka tutup botol minyak angin. Aroma khasnya langsung memenuhi kamar.
Juan yang semula hendak kembali bersandar hanya mengembuskan napas pelan.
"Hem..." patuh Juan sambil mengubah posisi duduknya.
"Sini, duduk yang tegak dulu." Raya memperagakan posisi duduk yang benar.
Juan menurut tanpa membantah.
"Kaosnya dilepas dulu, Bang. Nanti minyak anginnya malah nempel di baju."
Juan menoleh sekilas. Tatapannya jatuh pada wajah Raya yang terlihat begitu serius.
"Ayo, Bang."
Tanpa banyak bicara, Juan melepaskan kausnya lalu membalikkan badan menghadap jendela.
"Nah, gitu." ucap Raya dengan senyum mengembang diwajahnya, ia bahagia karena Juan mau nurut padanya. Ia menuangkan sedikit minyak angin ke telapak tangannya, lalu mengusap perlahan punggung Juan.
Juan memejamkan matanya, ia merasakan bahunya yang sedikit sakit saat Raya pijat, namun perlahan dapat meredakan rasa pegal dan ketegangan yang menimpa pundaknya. "Masuk angin, ya?"
"Iya bang, kulitnya merah-merah. Abang si kalau pulang kerja itu pake baju hangat, walaupun didalam mobil juga angin malam atau angin sore itu kalau kata ibu Raya itu penyakit."
"hemm heem"
Jemari Raya mulai memijat perlahan kedua bahu Juan. Gerakannya lembut, tidak terburu-buru, seolah takut membuat suaminya semakin tidak nyaman.
Juan memejamkan mata.
Entah karena pijatan itu atau karena perhatian yang diberikan Raya, rasa berat di kepalanya perlahan mulai berkurang.
"Enakan pijatan Raya, jangan temenin keahlian Raya ini bang." tanya Raya.
Juan mengangguk pelan.
"Yasudah jadi tukang pijat abadi saja."
Raya terkekeh. Semburat merah menghiasi pipinya, entah mengapa sepenggal kalimat yang barusan keluar dari mulut Juan membuat hatinya berdenyut hangat.
"Abang ini kalau lagi sakit berubah jadi penurut." Raya berusaha mencairkan suasana.
"Terlalu banyak komentar. Lanjut pijat yang bener."
"Iya, iya."
Raya kembali memijat punggung dan bahu Juan dengan sabar.
Sesekali ia meniup pelan telapak tangannya yang terasa hangat karena minyak angin.
"Habis ini tidur yang nyenyak, ya. Besok pasti badan Abang udah lebih enakan."
Juan tidak menjawab.
Namun untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang benar-benar memperhatikannya tanpa mengharapkan apa pun.
Beberapa menit kemudian Raya menepuk pelan punggung Juan.
"Udah. Besok juga udah enakan."
Ia mengambil kembali kaus hitam milik Juan.
"Ayo dipakai lagi. Nanti malah masuk angin lagi."
Juan mengenakannya tanpa protes.
Raya tersenyum kecil.
"Alhamdulillah, udah Raya pijitin, jangan rewel ya bang." ucap Raya seraya bangkit membereskan semua peralatan yang tadi ia gunakan, menyimpan minyak angin di atas nakas.
Juan merebahkan tubuhnya sambil menyandarkan kepala pada bantal.
Tatapannya diam-diam mengikuti setiap langkah Raya yang sedang menyiapkan obat dan segelas air hangat.
Gadis desa itu bergerak dengan cekatan.
Tidak ada keluhan.
Tidak ada wajah kesal.
Seolah merawat Juan memang sudah menjadi tanggung jawab yang ia jalani dengan sepenuh hati.
"Bang..."
"Hm?"
"Obatnya diminum dulu." Raya duduk dipinggiran kasur sebelah Juan. Tangannya sedikit bergetar memegang segelas air yang akan diberikan pada Juan.
Juan bangkit perlahan.
Dengan patuh ia meminum obat yang disodorkan Raya.
"Sekarang istirahat," ucap Raya seraya menepuk pelan bahu Juan.
Raya hendak membawa mangkuk dan gelas ke dapur.
Namun baru melangkah satu langkah, pergelangan tangannya kembali ditahan.
"Mau ke mana?" tanya Juan dengan suara serak, efek radang tenggorokan.
"Ke dapur dulu." Raya menoleh, tidak lupa binar mata selalu menghiasi wajah mungilnya.
"Nanti saja." ucap Juan, pria tampan dengan sejuta pesona itu memejamkan mata sambil mengernyitkan dahi. Kembali merasakan denyutan nyeri pada kepalanya.
"Kenapa bang?, sebentar aja kok."
"Duduk dulu, pijitin lagi kepalanya sakit..."
Raya nurut, tangannya kembali memijat pelan kepala Juan.
"Abang benar-benar manja kalau lagi sakit."
Juan tidak membalas.
Ia hanya melepaskan pegangan tangannya pelan.
Raya akhirnya bisa turun ke lantai bawah.
Di ruang keluarga, Bu Sinta dan Pak Bram masih duduk santai sambil menonton televisi.
"Ray, Juan gimana?"
"Udah lumayan, Ma. Tinggal istirahat."
"Bagus."
"Oh iya, Ma. Bang Juan minta minuman hangat."
Bu Sinta langsung berdiri.
"Kalau lagi demam biasanya Mama bikinin susu cokelat hangat."
"Susu?"
Raya sempat mengernyit.
Bu Sinta langsung tertawa.
"Susu sapi yang di kulkas."
Raya ikut tertawa malu.
"Iya, Ma."
Pak Bram hanya menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Ngerjain menantu terus."
"Gemes, Pa."
Tak lama kemudian Raya membuatkan segelas susu cokelat hangat.
Mbok Uti membantu mengambil bubuk cokelat, sementara Raya mengaduknya hingga harum.
"Udah pas manisnya?"
"Udah, Mbok."
"Kalau gitu cepat dibawa ke atas, den Juan suka sekali minum susu yang masih hangat."
Raya mengangguk.
Sesampainya di kamar, ia mendapati Juan masih memejamkan mata.
"Bang..."
"Hm?"
"Susu hangatnya diminum dulu."
Juan membuka mata perlahan lalu menerima gelas itu.
Tanpa banyak bicara, ia menghabiskannya sampai tetes terakhir.
"Bagus."
Raya mengambil kembali gelas kosong itu.
"Kalau lagi sakit ternyata Abang nurut juga."
Juan hanya mendengus pelan.
Raya terkekeh.
"Lucu."
"Apa?"
"Nggak biasanya Abang diem."
Juan memejamkan mata lagi.
"Pusing, pijit lagi."
"Iya, iya."
Raya duduk di sisi tempat tidur lalu mengusap pelan rambut Juan yang masih sedikit lembap.
"Semoga besok udah sembuh, ya bang."
Beberapa menit berlalu.
Suasana kamar menjadi sangat tenang.
Raya mengira Juan sudah tertidur.
Namun tiba-tiba pria itu mengubah posisi tidurnya.
Tanpa sadar, kepalanya bersandar di bahu Raya.
Raya membeku.
"Bang...?"
Tak ada jawaban.
Juan justru semakin mendekat, lalu tanpa sadar melingkarkan sebelah lengannya di pinggang Raya.
"Mama..." gumamnya lirih.
Raya menahan tawa.
"Iya, iya... bayi besar."
Tangannya mengusap pelan rambut Juan.
"Tidur yang nyenyak."
Juan tidak bergerak lagi.
Napasnya mulai teratur.
Demam yang tadi membuat wajahnya tegang kini perlahan mereda.
Raya hanya bisa tersenyum sambil membiarkan Juan bersandar nyaman di bahunya.
"Semoga besok Abang benar-benar sembuh."
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Raya merasa kehadirannya benar-benar dibutuhkan.
Dan tanpa disadari Juan, kehangatan sederhana malam itu menjadi awal tumbuhnya rasa nyaman di antara mereka.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan like, ya, Readers. Dukungan kalian selalu menjadi semangat Author untuk melanjutkan kisah Juan dan Raya. 🤍