NovelToon NovelToon
ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Istri Cadangan Sang Mafia

Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.

Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.

Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Vincent langsung melangkah cepat memasuki mansion.

Tangga dinaikinya dua anak sekaligus. Namun saat tiba di balkon... Ia justru mendapati Serina berdiri seorang diri sambil memandangi langit malam.

Mendengar langkah kaki di belakangnya, Serina menoleh. "Tuan Vincent?"

Vincent terdiam beberapa detik. Tatapannya masih melekat pada wajah wanita itu.

Serina tampak bingung. "Anda baru pulang ?"

Vincent menggeleng pelan. "Kenapa masih belum tidur?"

Serina tersenyum tipis. "Aku tidak bisa tidur. Hari ini terlalu banyak kejadian. Jadi aku memilih mencari udara segar."

Vincent mengalihkan pandangannya ke langit yang gelap. "Masuklah. Malam mulai dingin."

"Iya." Serina melangkah lebih dulu meninggalkan balkon.

Sementara Vincent masih berdiri di tempatnya.

Tatapannya kosong. Baru saja, ia benar-benar mengira telah melihat seseorang yang seharusnya tidak mungkin muncul lagi dalam hidupnya.

Serina menutup pintu kamarnya perlahan. Mansion kembali tenggelam dalam keheningan.

Di balkon, Vincent masih belum beranjak. Angin malam berembus pelan, membawa ingatannya bertahun-tahun ke belakang.

Sosok Serina yang berdiri membelakanginya tadi... Begitu mirip. Untuk sesaat, ia benar-benar mengira Jesika telah kembali. Vincent memejamkan mata. Kenangan itu kembali berputar.

Saat itu... Ia belum menjadi pria yang disegani seperti sekarang. Belum memiliki perusahaan sebesar ini. Belum menguasai jaringan yang membuat namanya ditakuti banyak orang.

Ia hanya seorang pria yang sedang membangun kekuasaan, berjalan di antara keberhasilan dan kematian setiap hari.

Di masa-masa sulit itu, Jesika sering mengeluh.

"Aku lelah hidup seperti ini, Vincent. Kita terus berhemat. Aku bahkan tidak tahu sampai kapan harus menunggu."

Vincent selalu menjawab dengan kalimat yang sama. "Tunggu sedikit lagi. Aku akan mengubah semuanya."

Namun, penantian itu tak pernah cukup bagi Jesika.

Beberapa bulan setelah Viren lahir, ia datang menemui Vincent dengan sebuah koper di tangannya. "Aku mendapat tawaran bekerja di luar negeri."

Vincent hanya menatapnya.

"Aku akan pergi bersama seseorang yang bisa memberiku kehidupan yang kuinginkan."

Tak ada air mata. Tak ada pertengkaran. Jesika telah membuat pilihannya. Ia meninggalkan Vincent. Meninggalkan Viren yang masih bayi. Dan memilih mengejar karier serta kehidupan yang lebih mewah bersama mantan kekasihnya yang telah lebih dulu sukses.

Sejak hari itu, Vincent tidak pernah mencarinya.

Bukan karena tidak mampu. Melainkan karena harga dirinya tidak mengizinkan dirinya mengejar seseorang yang telah memilih pergi. Ia memilih mengubur semua kenangan itu. Membesarkan Viren seorang diri. Dan membuktikan bahwa suatu hari nanti, ia mampu memiliki segala sesuatu yang dulu dianggap mustahil.

Vincent membuka matanya perlahan. Tatapannya kembali mengarah ke langit malam.

Sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang terasa pahit. "Jadi... Apakah kau akan menyesal setelah melihat siapa aku hari ini, Jesika?"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan paginya, suasana mansion kembali dipenuhi aktivitas.

Seorang pelayan membuka pintu ketika sebuah mobil berwarna putih berhenti di halaman depan.

Clara turun sambil membawa sebuah kotak gaun berukuran besar yang dibungkus rapi. "Selamat pagi."

"Silakan masuk, Nona Clara." Clara mengangguk sambil melangkah ke ruang tamu.

Tak lama kemudian, Vincent turun dari lantai dua dengan setelan kemeja hitam sederhana. Melihat wanita itu, ia menganggukkan kepala. "Kau datang lebih pagi."

"Aku ingin memastikan gaunnya pas sebelum acara jamuan nanti malam."

Vincent hanya menjawab singkat. "Terima kasih." Vincent menuju ruang makan.

Hubungan mereka memang telah terjalin sejak bangku SMA.

Clara mengetahui hampir seluruh perjalanan hidup Vincent, termasuk kisah cintanya dengan Jesika. Saat Vincent terpuruk karena ditinggalkan, Clara adalah salah satu dari sedikit orang yang tetap berada di sisinya. Sayangnya... Kedekatan itu tak pernah berkembang menjadi hubungan yang lebih dari sekadar sahabat.

Tak lama kemudian, Serina turun dari lantai dua.

"Pagi."

Clara tersenyum ramah. "Pagi, Nona Serina. Aku membawa gaun yang kemarin sempat kita bicarakan."

Ia membuka kotak tersebut. Sebuah gaun panjang berwarna biru keperakan tampak berkilau diterpa cahaya pagi. Potongannya sederhana, tetapi memancarkan kesan anggun.

"Silakan dicoba."

Serina menerima gaun itu. "Baik." Beberapa menit kemudian... Serina melangkah keluar dengan gaun yang telah melekat sempurna di tubuhnya.

Ruangan seketika hening. Gaun itu seolah memang dibuat khusus untuknya. Potongannya mengikuti lekuk tubuh dengan pas tanpa terlihat berlebihan.

Clara tersenyum puas. "Syukurlah. Tidak perlu diubah lagi."

Dan malam nanti... Semua orang akan melihat Serina berdiri di sisi pria yang selama ini sulit didekati siapa pun.

"Kalau begitu, gaunnya tidak perlu diubah lagi," ujar Clara sambil menutup kotak kosong tempat gaun tadi disimpan.

"Terima kasih," balas Serina.

"Tidak usah sungkan."

Seorang pelayan kemudian menghampiri. "Nona Clara, Tuan Vincent mengundang Anda untuk sarapan bersama."

Clara mengangguk. "Dengan senang hati."

...****************...

Meja makan telah dipenuhi berbagai hidangan hangat. Vincent duduk di kursi utama. Tak lama kemudian, Viren datang dengan langkah kecilnya.

Matanya langsung berbinar saat melihat Clara.

"Tante Clara!"

Clara tersenyum lebar. "Selamat pagi, Tuan Muda."

"Pagi."

Viren menghampirinya lebih dulu sebelum duduk di kursinya. "Kapan Tante datang?"

"Baru saja. Tante mengantar gaun untuk Serina."

"Oh."

Tak lama kemudian, Serina keluar dari dapur sambil membawa sebuah kotak bekal berwarna biru. Ia meletakkannya di depan Viren. "Bekal makan siang."

Viren langsung membuka sedikit tutupnya. "Wah... ada ayam kesukaanku."

Serina tersenyum. "Tapi harus dihabiskan."

"Iya." Tanpa diminta, Viren segera memasukkan kotak bekal itu ke dalam tas sekolahnya.

Clara memperhatikan semua itu dalam diam.

Tatapan Clara kembali jatuh pada Serina.

Wanita itu sedang merapikan kerah seragam Viren. Tanpa protes. Tanpa wajah cemberut.

Viren hanya diam, bahkan sesekali mengangkat dagunya agar Serina lebih mudah membetulkan dasinya.

Pemandangan itu membuat Clara mengembuskan napas pelan. Dalam hati ia bergumam, "Jadi... bukan karena Viren sulit didekati. Melainkan karena selama ini... belum ada orang yang benar-benar berhasil menyentuh hatinya."

Tak lama kemudian, Viren menyampirkan tas sekolahnya ke bahu. "Tante Serina, ayo. Nanti kita terlambat."

"Iya."

Serina berpamitan kepada Vincent dan Clara sebelum menggandeng tangan kecil Viren menuju mobil. Tak lama kemudian, kendaraan itu meninggalkan halaman mansion. Vincent memperhatikan dari balik jendela hingga mobil tak lagi terlihat. Barulah ia berbalik menuju ruang kerjanya.

Clara menatap Soraya yang berdiri tidak jauh dari meja makan. Soraya membalas tatapan itu sambil tersenyum kecil, seolah mengerti isi pikiran Clara.

"Anda pasti heran, Nona Clara," ucap Soraya pelan.

Clara mengangguk. "Sedikit. Dulu Tuan Muda hampir tidak pernah membiarkan siapa pun mengurusnya. Bahkan saat masih kecil."

"Iya."

"Puluhan pengasuh pernah datang ke mansion ini. Tak ada yang bertahan." Clara terdiam.

"Tuan Muda selalu menolak mereka. Kalau tidak membuat mereka menangis, beliau yang memilih mengurung diri di kamar."

Soraya tersenyum geli mengingat kejadian-kejadian itu. "Saya yang sudah puluhan tahun bekerja di sini pun tidak pernah bisa sedekat itu dengannya."

Sementara di Sekolah.

Bel masuk baru saja berbunyi ketika beberapa teman berlari menghampiri Viren.

"Viren!"

"Selamat, ya! Kemarin keluargamu menang!"

"Iya, Ayahmu keren sekali!"

"Dan wanita yang datang bersamamu..." Seorang anak perempuan tersenyum kagum. "Dia cantik sekali."

Teman yang lain mengangguk antusias. "Iya. Dia juga baik. Waktu kamu menghilang, dia kelihatan sangat khawatir."

Anak laki-laki di samping Viren lalu bertanya polos, "Viren... Itu benar ibumu?"

Viren terdiam. Tatapannya perlahan menunduk.

Ingatannya kembali pada Serina yang setiap pagi menyiapkan bekal, merapikan seragamnya, menemaninya bermain.

Bibir kecilnya perlahan terbuka. Namun... Tak satu pun kata keluar.

Lalu... siapakah sebenarnya Serina baginya?

1
Kayla Rane
Vincent kayak gak suka Ibunya. apa jangan² ada sesuatu dibalik itu
Kam1la
ibu tirinya Vincent...kak
Kayla Rane
neneknya viren kah? orangtuanya ibunya viren🤭
Kayla Rane
serina mah tipe cewek yang gak kegatelan mandiri juga. mungkin itu yg di sukai vincent🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Anonim
Heeemmm😍😍
Anonim
Semakin menarik 🤭🤭🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Kayla Rane
kereen
Anonim
Lanjut 🤭🤭🤭
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Iya, iya, yuk.
Tio Buki
Iya lengkaplah, kan udah tersedia
Tio Buki
Iya sama sama.
Tio Buki
Jangan tanya aku, aku juga tidak tau
Tio Buki
Minumlah
Tio Buki
Itu cuma secara kebetulan saja
Tio Buki
Itu kamar namanya, kalau rumah, ada diluarnya🤣🤣
Tio Buki
Biarkanlah
Tio Buki
Oh begitu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!