NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:228
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Benih Rasa di Balik Kesunyian

Sejak kejadian di ruang kerja itu, Elara merasakan ada perubahan halus namun jelas dalam kesehariannya. Pandangannya terhadap Raja Valerius tidak lagi terbatas pada sosok penguasa yang agung, dingin, dan harus dihormati dari kejauhan. Kini, di dalam hatinya, pria itu memiliki makna yang berbeda—ia bukan lagi sekadar raja yang memberi perintah, melainkan orang yang telah memberinya tempat berteduh, melindunginya meski ia hanyalah orang asing yang tak memiliki kedudukan apa pun di dunia ini.

Tugas membersihkan dan merapikan ruang kerja pribadi sang Raja pun akhirnya menjadi tugas tetap yang dipercayakan padanya, dilakukan setiap dua hari sekali. Awalnya, setiap kali melangkah menuju lorong menuju ruangan itu, jantung Elara selalu berdebar kencang karena gugup dan takut melakukan kesalahan lagi. Namun seiring berjalannya waktu, ketegangan itu perlahan memudar, berganti dengan rasa tenang dan nyaman yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

Biasanya, saat Elara bekerja, Valerius lebih banyak diam. Ia duduk di belakang meja besarnya, sibuk membaca laporan dari berbagai wilayah kerajaan, memeriksa peta yang menggambarkan batas-batas wilayah, atau menandatangani dokumen penting dengan tinta emas. Suasana ruangan itu hening, hanya sesekali terdengar suara halus kain lap yang menyentuh kayu, atau lembaran kertas yang dibalik perlahan. Namun bagi Elara, keheningan itu terasa hangat dan aman, bukan menegangkan seperti sebelumnya.

Suatu sore, langit di atas Kerajaan Aetheris berubah menjadi kanvas yang indah. Sinar matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya berwarna jingga keemasan yang perlahan berubah menjadi merah lembayung. Cahaya itu masuk melewati celah jendela kaca tinggi, menyebar ke seluruh ruangan, menerangi debu-debu halus yang melayang bagai bintang-bintang kecil di udara. Elara baru saja selesai menyeka debu dari rak buku paling atas yang menjulang hingga mendekati langit-langit, saat pandangannya tertuju pada satu jilid buku tua yang tergeletak agak menjorok keluar dari deretan buku lainnya di sudut rak paling bawah.

Sampul buku itu terbuat dari kulit tebal yang sudah menguning dan lapuk dimakan usia, namun tetap terawat dengan baik. Di bagian tengahnya terukir simbol yang sangat ia kenal sekarang—bintang berujung tujuh yang dikelilingi lingkaran cahaya, lambang kuno yang menjadi identitas Kerajaan Aetheris sejak berabad-abad silam. Rasa penasaran yang mendalam muncul di hati Elara. Selama ini ia selalu ingin tahu lebih banyak tentang dunia ini, terutama tentang bagaimana ia bisa terlempar ke sini dan apakah ada jalan untuk kembali.

Tanpa sadar, ia berjongkok perlahan dan mengulurkan tangan untuk mengambil buku itu. Jari-jarinya menyentuh permukaan kulitnya dengan sangat hati-hati, seolah takut sentuhannya saja bisa merusak benda bersejarah itu. Namun sebelum ia sempat membuka lembaran pertamanya, sebuah suara tenang namun terdengar mendalam memecah kesunyian.

“Itu adalah catatan paling lengkap yang kita miliki tentang perjalanan antar-dunia.”

Elara terkejut seketika. Ia segera menoleh dan berdiri tegak dengan gerakan agak tergesa, takut dianggap melanggar aturan. Di belakangnya, Raja Valerius telah berdiri diam, menyandarkan satu bahunya pada tiang jendela, menatap buku yang ada di tangan Elara dengan pandangan yang dalam dan penuh makna.

“Maafkan saya, Yang Mulia!” seru Elara dengan nada sedikit gugup, lalu segera mengulurkan tangannya hendak mengembalikan buku itu ke tempat semula. “Saya tidak bermaksud mengambil atau menyentuh barang yang bukan menjadi hak saya. Hanya saja saya melihatnya tergeletak terbalik, jadi ingin merapikannya kembali.”

Namun Valerius hanya menggeleng pelan, senyum samar terukir di sudut bibirnya—senyum yang jarang sekali terlihat oleh orang lain di istana ini. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Elara. Kau tidak sedang berbuat kesalahan. Bahkan, mungkin kebetulan ini memang sudah ditakdirkan untuk membawamu menemukan jawaban yang selama ini kau cari.”

Mata Elara terbelalak mendengar ucapan itu. Ia memandang sang Raja dengan tatapan bingung sekaligus penuh harapan. “Jawaban… yang saya cari? Maksud Yang Mulia?”

Valerius melangkah mendekat, lalu menunjuk ke arah kursi empuk yang terletak di dekat jendela, menghadap ke taman yang mulai berubah warna terkena cahaya senja. “Duduklah. Kita punya waktu sebelum malam tiba.”

Elara mengikuti perintahnya dengan hati-hati. Ia duduk di bangku kecil yang tersedia, sementara Valerius mengambil tempat di kursi yang lebih tinggi di seberangnya, sehingga mereka kini saling berhadapan. Cahaya keemasan menerangi sisi wajah sang Raja, membuat sorot matanya yang sewarna danau itu terlihat lebih lembut dari biasanya.

“Selama ini, aku melihat matamu setiap hari,” mulai Valerius perlahan, suaranya terdengar tenang dan menenangkan. “Kau bekerja dengan rajin, patuh pada setiap aturan, dan tidak pernah mengeluh meski tugasmu terasa berat. Namun di balik tatapan tenangmu itu, aku selalu melihat ada kerinduan yang mendalam. Kerinduan akan rumahmu, akan kehidupan yang kau tinggalkan di dunia asalmu, bukan?”

Mendengar kata-kata itu, dada Elara terasa sesak namun juga terasa lega. Selama ini ia menyimpan perasaan itu sendirian, takut jika mengungkapkannya akan dianggap tidak bersyukur atas kesempatan yang diberikan. Namun mendengarnya diucapkan oleh Valerius sendiri, rasanya beban yang selama ini membebani hatinya perlahan terangkat. Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan tatapan jujur.

“Benar, Yang Mulia,” jawabnya dengan suara lirih namun jelas. “Setiap malam, sebelum terlelap, saya selalu bertanya-tanya. Apakah saya akan bisa kembali ke tempat asal saya? Apakah saya akan selamanya terjebak di sini, jauh dari keluarga dan segala hal yang saya kenal? Rasanya seperti separuh jiwa saya tertinggal di sana.”

Valerius mendengarkannya dengan perhatian penuh, tanpa menyela sedikit pun. Ia mengangguk pelan, seolah memahami perasaan itu.

“Itu wajar,” ujarnya lembut. “Legenda kuno yang tercatat di dalam buku yang kau pegang itu menceritakan bahwa dunia ini tidak berdiri sendiri. Ada banyak alam yang terpisah oleh ruang dan waktu, namun sesekali, keseimbangan alam berubah dan membuka celah—sebuah gerbang yang menghubungkan satu dunia dengan dunia lainnya. Gerbang itulah yang terbuka saat kau berada di jembatan itu, dan membawamu ke sini.”

Ia menjulurkan tangannya sedikit ke depan, seolah ingin menyentuh udara. “Namun gerbang itu tidak selalu terbuka. Ia hanya muncul pada waktu-waktu tertentu, dipandu oleh posisi bintang-bintang dan kekuatan energi alam yang sangat spesifik. Jika kondisinya tidak sama persis seperti saat kau datang, maka gerbang itu tidak akan bisa terbuka lagi untuk mengantarkanmu pulang.”

Hati Elara berdebar kencang. Harapan yang sempat redup kini kembali menyala terang. “Jadi… masih ada kemungkinan saya bisa kembali? Bukan berarti saya terjebak selamanya?”

“Masih ada kemungkinan itu,” jawab Valerius dengan nada meyakinkan. “Namun membutuhkan waktu yang tidak sebentar, kesabaran yang besar, dan pengetahuan yang cukup untuk memahami kapan dan di mana gerbang itu akan muncul kembali. Buku yang kau pegang itu berisi semua catatan pengamatan para leluhur kita selama ratusan tahun. Tidak semua tulisannya mudah dimengerti, dan sebagian ada yang masih menjadi teka-teki, namun di sanalah petunjuk yang kau butuhkan.”

Ia menatap mata Elara dalam-dalam. “Selama kau menunggu saat yang tepat itu, kau tidak perlu merasa seperti orang asing atau tamu yang tak diundang. Anggaplah istana ini sebagai rumah keduamu. Selama kau tetap jujur dan menjaga dirimu, tempat ini akan melindungimu, dan aku pun akan memastikan tidak ada siapa pun yang menyakitimu.”

Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat bagi hati Elara yang telah lama merasa sendirian di dunia baru ini. Senyum yang tulus dan lebar pun akhirnya terukir di bibirnya—senyum yang jarang ia tunjukkan sejak hari pertama kedatangannya. Matanya berkaca-kaca, kali ini bukan karena kesedihan atau ketakutan, melainkan karena rasa syukur yang meluap-luap.

“Terima kasih, Yang Mulia,” ucapnya dengan suara yang bergetar karena emosi. “Tanpa kebaikan dan kepercayaan yang kau berikan, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya. Kalau bukan karena Anda, mungkin saya sudah tersesat atau terbuang di luar tembok istana ini.”

Mendengar itu, sudut bibir Valerius terangkat lebih tinggi, membentuk senyum yang terasa begitu tulus hingga membuat wajahnya yang tampan itu bersinar lebih indah dari biasanya. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang penguasa terhadap mereka yang membutuhkan perlindungan,” jawabnya. “Lagipula… kehadiranmu di sini ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan sebelumnya. Justru keheningan di ruangan ini terasa lebih terisi sejak kau datang merapikannya.”

Pujian yang sederhana itu membuat pipi Elara seketika memerah merona. Ia menundukkan wajah untuk menyembunyikan rasa malunya, namun jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari biasanya. Ada perasaan baru yang mulai tumbuh dan menyebar perlahan ke seluruh dadanya—rasa kagum yang berubah menjadi rasa percaya, lalu perlahan berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih hangat, dan sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata biasa.

Sejak sore itu, hubungan mereka tidak lagi sekadar antara raja dan pelayan. Di sela-sela waktu luang, ketika tugas Elara selesai dan tidak ada urusan kerajaan yang mendesak, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Valerius menceritakan sejarah panjang Kerajaan Aetheris, keindahan alamnya, serta tantangan dan tanggung jawab berat yang harus ia pikul sebagai pemimpin. Sebaliknya, Elara pun bercerita tentang dunianya—tentang gedung-gedung tinggi yang menjulang, kendaraan yang bergerak tanpa kuda, cahaya yang menyala sepanjang malam, dan kehidupan yang sangat berbeda dari apa yang ada di Aetheris.

Setiap kali mereka berbicara, waktu terasa berlalu begitu cepat. Elara mulai menyadari sesuatu yang membingungkan hatinya. Semakin ia mengetahui Valerius, semakin ia tidak hanya memikirkan tentang jalan pulang ke dunianya sendiri. Ada suara kecil di hatinya yang mulai bertanya: jika ia benar-benar menemukan jalan itu, apakah ia sanggup pergi begitu saja, meninggalkan tempat ini dan orang yang telah memberinya makna baru dalam hidupnya?

Suatu malam, saat Elara sudah selesai merapikan semuanya dan hendak berpamitan untuk kembali ke ruang istirahat, Valerius memanggil namanya dengan nada yang lebih lembut dan penuh makna dibanding biasanya.

“Elara.”

Elara berhenti melangkah, lalu menoleh kembali menghadapnya. “Ya, Yang Mulia?”

Valerius berdiri dan melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa langkah saja. Cahaya dari lampu kristal menerangi wajahnya yang terlihat serius namun lembut.

“Aku ingin menanyakan sesuatu,” katanya perlahan. “Jika suatu hari nanti kau benar-benar menemukan cara untuk membuka kembali gerbang itu dan bisa kembali ke duniamu sendiri… apakah kau akan melangkah masuk tanpa menoleh ke belakang lagi? Atau akankah ada sesuatu yang membuatmu ingin tetap tinggal di sini?”

Pertanyaan itu menggantung di udara, terasa berat namun juga penuh harapan yang tersembunyi. Elara tertegun, matanya menatap lurus ke dalam mata Valerius. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa jawaban atas pertanyaan itu tidak sesederhana yang ia bayangkan sejak awal kedatangannya. Di dalam hatinya, benih-benih rasa itu telah tumbuh terlalu kuat untuk diabaikan begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!