NovelToon NovelToon
Jejak Kaki Di Kotaku

Jejak Kaki Di Kotaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.

Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.

Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Perasaan Yang Aneh

Waktu terus berjalan di kotaku. Banyak cerita tentang canda, suka, tawa, sedih, amarah, dan segala macam rasa membekas dalam persinggahanku. Tidak ada beban dalam diriku, dan Aku menanggapinya seperti keniscayaan rutinitas semesta.

Begitu juga penghujung masa putih biruku, sampailah sudah pada masanya. Dimana diriku bersiap akan meninggalkannya.

"Nanti kita latihan soal lagi Pras." Juli mengingatkanku saat kami berjalan pulang sekolah.

"Ya... Jam empat Aku ke rumahmu."

"Kemarin Firman bilang mau ikutan gabung," kata Juli, "dia ingin nilai ujian akhirnya cukup untuk diterima di SMA Negeri," sambungnya lagi.

"SMA Satu atau Dua ?" Aku menyinggung SMA Negeri di kotaku yang memakai NEM untuk dapat diterima saat itu.

"Entahlah, tapi dia pinginnya satu SMA dengan kita."

"Tentu sangat menyenangkan kalau kita bisa satu SMA nanti ..... Kamu tetep pengin ke SMA Dua kan ?" Aku menegaskan lagi rencana sekolah yang sering kami bicarakan.

Aku sendiri sudah mantap memilih meneruskan SMA di sana bukan karena tak berminat di SMA Satu yang bersebelahan, tetapi garansi diterima di SMA itu sudah ada di tanganku sejak Aku sering mewakili SMP-ku di pertandingan sepakbola.

"Ah kamu enak Pras, sejak SMP kita juara sepakbola Kabupaten, mudah bagimu diterima di sana." Juli sepertinya tahu, tiket untuk memasuki gerbang putih abu-abu salah satu SMA favorit di kotaku sudah kudapatkan lewat jalur prestasi olahraga.

"Aku cuma beruntung saja bisa terpilih dan kebetulan menang sampai bisa jadi juara." Aku merendah menanggapi kata-kata Juli.

"Tapi kamu memang jago main bolanya Pras." Juli tetap saja menyanjungku.

"Sudahlah, kita jalan. Hari makin panas." Teringat harus menjemput Christ dan Dion adikku, Aku mengajak Juli secepatnya meninggalkan sekolah kami.

***

"Maaaas ... !" Suara Dion terdengar memanggilku dari gerombolan bocah SD yang sedang asik bermain menunggu jemputan di sekolahnya.

"Christ mana ?" Tak melihat keberadaan adik perempuanku, Aku menanyakannya ke Dion yang berlari mendekat.

"Masih di kelas," jawab Dion.

"Kamu sudah lama di luar ?"

"Sudah mas, dari tadi Dion main sama temen .... Rame .... Tadi Dion menang main kasti." Seperti kebiasaannya, adik laki-lakiku itu terus nyerocos memamerkan apa yang barusan dilakukannya.

"Tadi dapat nilai berapa ?" Duduk di selasar sekolahnya, sambil menunggu Christ, Aku menanyakan pelajaran Dion hari itu.

"Dapat sepuluh mas," pamer Dion sambil mengeluarkan buku matematikanya.

"Wah Ibu pasti senang nanti," kataku setelah melihat nilai berhitung di buku yang dipamerkannya.

Dion mengangguk membenarkan apa yang kukatakan. Sepertinya dia sedang membayangkan makan siang yang menyenangkan di rumah nanti. Nilai sepuluh berhitungnya akan menjadi senjata penangkal omelan Ibu di meja makan jika dia berbuat ulah.

"Pras !" Suara panggilan yang kukenali mengalihkan perhatianku.

"Ah kamu sudah di situ rupanya," kata hati kecilku setelah menengok ke arah suara panggilan tadi.

Aku beranjak mendekati bocah perempuan yang memanggilku barusan. "Mas tunggu di sana ya," kataku ke arah Dion. Tanganku menunjuk ke arah bocah perempuan yang kulihat duduk di bawah keteduhan pohon asam jawa besar tak jauh dari kelas Christ.

"Ya mas, Dion main lagi ya," kata adikku sambil ngeloyor ke arah gerombolannya lagi.

"Sudah lama Liz ?" tanyaku setelah ikut duduk di samping bocah perempuan yang memanggilku tadi.

"Sudah. Nih coklat." Bocah itu menyodorkan coklat yang dipegangnya tanpa basa basi.

"Ahaha .... simpan saja. Aku tak terlalu suka coklat." Aku menolak halus pemberiannya.

"Ah kamu selalu menolak apa saja yang kutawarkan," nada merajuk keluar dari bibir tipisnya. Dia terus menatapku.

"Bukan begitu Liz, Aku memang tak terlalu suka jajanan permen, es krim atau coklat." Aku memberinya alasan yang paling gampang, dan untungnya bocah perempuan itu mau menerimanya seperti yang sudah-sudah.

"Kamu mentang-mentang sudah jadi pemain bola, makanan apa saja dihindari ... hihihi.... " Kali ini dia terkekeh riang menanggapi alasanku. "Beneran nih gak mau ?" katanya lagi sambil sengaja memamerkan coklat yang digigitnya.

"Ahahaha.... sudahlah, habiskan saja." Aku ikut terkekeh melihat polahnya.

Sejak berpisah di bangku SMP, Aku malah bertambah akrab dengan Eliza, bocah perempuan kawan SD-ku dulu. Kebetulan adik perempuannya satu kelas dengan Christ adikku.

Hampir setiap hari kami bertemu saat menjemput adik masing-masing tak pelak menjadikan banyak cerita yang kami bahas untuk menghabiskan waktu.

"Tapi kamu memang sialan Pras," tiba-tiba saja Eliza mengungkapkan isi hatinya.

"Weit ada apa ?" Aku sedikit bingung dengan ucapannya.

"Ya pokoknya sialan .... Hihihi .... " Dia terus memojokkanku dengan teka-tekinya.

"Ah kalau ada yang membuatku kesal. Aku minta maaf Liz... Tapi ini tentang persoalan apa ?" Hatiku terus bergemuruh dengan teka-tekinya.

Seingatku, tidak pernah Aku membuat ulah yang menyakitinya sejak kami sering mengobrol di sekolah adik kami. Lagipula, bisa berdekatan lagi dengan bocah secantik dia sejak berpisah setelah kami lulus SD sangat menyenangkan hatiku. Membuat waktu menunggu Christ dan Dion tak terasa membosankan di dekatnya.

"Pokoknya kamu jahat !" Dia terus memancing reaksiku. Bibirnya cemberut.

"Ok, Aku minta maaf Liz .... Tapi tolong katakan apa salahku," akhirnya Aku menyerah. Kali ini kuberanikan menatap wajahnya. Hal yang selama ini tak pernah kulakukan secara terang-terangan selain sesekali mencuri pandang ke arahnya jika dia lengah.

"Janji tak akan melakukannya lagi ?" Dia balas menatapku dengan ketegasan permintaannya.

"Ok," kataku lirih.

Sungguh baru kali ini Aku tak bisa berpikir jernih setelah saling menatap yang begitu aneh menurutku. "Kenapa Jantungku bergetar hebat ?" bisik hati kecilku, "Tuhan semoga dia mau mengatakan dan memaafkan ulahku," kali ini hati kecilku malah ikut menyalahkan diriku sendiri yang terus menebak apa gerangan yang salah.

"Gara-gara kamu, sekolahku gagal masuk final sepakbola kemarin !" Sedikit sengit, akhirnya keluar juga apa yang dipendamnya.

"Aduuuuh.... " Hatiku terasa terbang mendengar protes kerasnya barusan.

Ungkapan kekesalan Eliza mengingatkan pertandingan sepakbola melawan SMP Bruderan, saat empat golku bersarang tanpa ampun ke gawang SMP Eliza yang menjadi lawanku di turnamen Kabupaten yang barusan kuikuti.

Bagaimana urusan permainan sepakbola jadi topik obrolan yang menyeret kelanjutan pertemananku dengan Eliza tentu saja membuatku terdiam sesaat.

Aku tak menyangka dia akan membahasnya setelah kebungahan hatiku menjuarai turnamen itu.

"Seharusnya kamu gak usah banyak-banyak bikin golnya. Bikin malu sekolahku saja ... Enam nol tanpa balas tuh kayak gimana perasaanku waktu menontonnya ...."

Aku masih gagal paham mendengar protesnya lagi. Kali ini Aku malah lebih tertarik kepada tawa lepasnya setelah puas mengomel di hadapanku.

"Aku malah bingung Liz." Giliranku menanggapi tawanya sebisaku.

Jika semula kuanggap dia merajuk tentang urusan lain. Ternyata dia malah mempersoalkan empat golku saat permainan itu berakhir.

"Untung kamu yang main Pras. Jadi aku terus menontonnya sampai bubar," kata Elisa masih dengan tawanya.

"Wah jadi kamu ikut nonton toh. Sumpah Aku gak tahu," akhirnya Aku mulai tahu tentang teka-tekinya, "maaf kalau itu membuatmu sedih," lanjutku lagi.

"Aku gak sedih Pras setelah tahu kamu ikut main di tim-mu, cuma ya itu tadi.... Empat golmu itu jadi bahan olok-olok kiper kami di sekolahku ... jahat banget .... Hihihi .... Senang kamu main luar biasa, tapi gak tega lihat kekalahan telak sekolahku."

"Ah.... terus Aku harus bagaimana ... hehehe.... " Aku akhirnya ikut tertawa, "Sumpah kalau tahu kamu ikut nonton Aku gak akan main Liz." Aku mencoba menjawab teka-tekinya.

"Jangaaaaan.... Tapi ya mbok jangan setega itu kamu hancurkan lawanmu. But permainanmu oke banget lah." Dia mengacungkan dua jempol ke arahku.

"Waduh ... jadi Aku harus berterimakasih atas pujianmu, atau minta maaf nih ?"

"Dua-duanya .... " Kali ini Dia mengerling penuh teka teka lain ke arahku ....

***

*NEM : Nilai Ebtanas Murni pada era 90-an adalah angka kelulusan dari Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional yang menjadi penentu utama kelulusan siswa dan syarat utama untuk mendaftar ke jenjang sekolah berikutnya.

1
Dhatu Lukita
🌹 untukmu 🤭💪
Dhatu Lukita
kemekel aku bacanya 😄
Wawan: Tengs .... semoga jadi inspirasi buatmu Thor 🤭👍
total 2 replies
Dhatu Lukita
banjir rob itu apaan ya kak
Wawan: Banjir sebab amblasnya tanah dan naiknya permukaan air laut .... Semarang dan Jakarta jadi contoh terkini banjir rob parah ... tengs atensinya
total 1 replies
SANG
Iklan lagi untukmu thor 👍💪
SANG
Lanjut thor👍💪
SANG
Semangat ya thor 👍💪
ginevra
salam juga pras
Aya Ansyar
Semangat terus berkarya Author 👍🏻
SenandikaMaret
percaya diri itu emang harus 🤣
Wawan: Nah kan .... 🤭🤭🤭😍
total 1 replies
asepnya bikin korong jadi irenk🤣
waktu kecil sering gogoh ikan di sawah, dapet seplastik, tapi malah sering lupa dibawa pulang, kerna keasikan maen ... pas diliat lagi dah jadi bangke🤣
ikan melem itu yang kayak apa kak?
jadi inget pas masih angon wedus pas jelas 3 SD🤭
ini cerita authornya kah🤭
Wawan: Hahaha ....simpulkan 🤣
total 1 replies
bjir, raup tayi🤣
kena pecut ekornya
temannya kek nama kakakku bjir🤣
enak tuh daging biawak, kek ayam
kalo anjingku dulu pas SD namanya Bopi, terus pas jalan" ke pameran ada ibu yang manggil bayinya Bopi, kakakku langsung cekikikan🤭
biasanya abis cari ular🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!