Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15: Dualitas
Marisa melihat penglihatan yang ditulis oleh Cakra, sedangkan Cakra masih terbaring lemas seakan akan inti tenaga dalamnya kosong setelah beberapa saat tak kosong.
“Hah…. Hah….”
“Aku sangat lelah”
“Sepertinya jikalau faksi itu tak memiliki timbal balik akan dunia itu akan memberikan ku perasaan akan efek asli yang terjadi pada dunia ini karena faksi itu”
Cakra duduk setelah dia merasa sedikit pulih dan langsung masuk ke posisi meditasi.
“Haaaaa… Huuuu” dia menghirup dan membuang nafas.
Inti energinya yang semula kosong mulai terisi secara penuh. Setelah benar benar penuh cakra mengetes kembali tenaga dalamnya yang rupanya sudah mulai tercampur secara sempurna dengan tenaga alam. Hanya saja masih terpisah cakra mengetes membentuk sebuah energi padat, tapi fokusnya langsung terpecah. Sementara itu Marisa telah menyelesaikan penglihatannya.
“Sepertinya teknik peningkatan kami itu membuat energi dunia semakin tipis”
“Kalau begitu apakah aku bisa mengembalikannya?”
Cakra membuka matanya.
“Mengembalikan?”
“Bagaimana?”
“Para praktisi setauku setelah melihat esensi mereka bahkan gak bisa melakukan itu”
“Tapi…”
“Bukankah dunia akan dalam masalah jikalau semua orang berkultivasi dan menggunakan magic?” Marisa bertanya dengan penasaran.
“Ya tapi jikalau melihat kemampuan para ksatria sepertinya merekalah penyeimbang itu”
“Tapi umur mereka tak Panjang”
“Mari kita coba tuliskan tentang Ksatria dan para penyair”
Cakra mengambil buku, dan mulai menulis lagi kali ini tulisannya bercahaya kembali membawanya masuk ke dalam penglihatan. Terlihat di esensi ksatria dua orang manusia berpasangan terbangun dari tidurnya, dan terlihat bingung akan tempat mereka berada sekarang.
“AAAAAAAA” sang Wanita berteriak.
“Siapa kau?”
“Kenapa kau hanya mengenakan pakaian dalam?”
“AAA-Aku gak tau” pria juga panik berusaha menutup matanya.
“Sepertinya ini bukan duniaku”
Sang pria langsung menjauh, dirinya terlihat membuat sebuah pakaian dari dedaunan di sekitar.
“Ini gunakan ini….”
Wanita mengambil pakaian yang sudah jadi dan memakainya.
“Terima kasih walau aku gak tau siapa kau”
“Biarkan aku bertanya dulu”
“Kau berasal dari mana?”
“Oh aku?”
“Aku berasal dari tahun 2012”
“Dari negara China”
“China?”
“2012?” sang pria terlihat heran.
“Aku berasal dari tahun 2091”
“Dari sebuah negara bernama Nusantara”
“Apa?”
“Bagaimana mungkin?”
“Harusnya tak ada yang tak mungkin setelah kita berada di dunia ini”
“Dan untuk negaramu setauku adalah negara yang Bersatu menjadi wilayah asia keseluruhan”
“Bagaimana mungkin?”
“Harusnya mungkin karena aku di masa depan”
“Aku gak tau apa yang harus dilakukan di tanah kosong ini”
“Terlihat sama sekali gak ada tanda tanda manusia pernah ada disini”
“Kau benar”
“KK-Kau apa perkerjaan dan namamu?”
“Aku Yun Qi”
“Aku adalah seorang penyair”
“Diriku?”
“Aku Altar”
“Seorang ahli bertahan hidup”
“Di masa depan kami harus membuat segala hal dengan keahlian kami karena adanya mahluk yang menyerang dunia kami tapi gak bisa kami lawan” Dengan wajah sedih menjawab.
“Mahluk apa itu?”
“Aku gak tau…”
“Tapi mahluk itu sangat besar dan dunia kami hanyalah salah satu mimpinya”
“Tapi di dunia ini aku gak merasakan keberadaan mereka”
“Hmm”
“Mirip dengan cerita fantasy ya tapi kenapa kita berdua dipindahkan itu masih misteri”
“Eh sebentar bagaimana kita bisa berbicara lancar satu sama lain?” Terlihat Yun qi baru menyadari hal ini.
“Iya juga”
“Bukannya bahasa kalian adalah bahasa kuno”
“Bagaimana mungkin bisa kita berbicara dengan mudah” Altar juga penasaran,
“Hmm aku akan mencoba menulis”
Yunqi mengambil sebuah ranting dan mulai menulis ditanah.
“Ini bukan bahasa ku yang kutulis”
“Tapi itu juga bukan bahasa ku”
“Apakah kita dikirim ke dunia ini untuk berkembang biak” Malu malu menyebutkan setiap kata.
“Ah”
“Maaf”
“Aku rasa mungkin begitu”
Tiba tiba sebuah cakar membuat waktu di penglihatan dipercepat ke 10 tahun kemudian. Terlihat Altar yang sekarang sedang memainkan sebuah pedang, sedangkan Yun qi menulis sebuah puisi memakai bahasa dunia tersebut. Tidak ada dialog hanya terus menerus menulis dan mengayunkan terlihat anak anak mereka sudah lahir. Altar sekarang terlihat mampu menebas sebuah gunung menunjukkan ke anak anaknya. Juga Yun qi yang puisinya bisa mengatur posisi geografis gunung dan membuka aliran sungai.
Waktu maju kembali ke hari tua kedua orang ini, Altar sudah terlihat sangat tua dengan anak anaknya membuka jalan ke barat. Sedangkan Yun qi anak anak hasil ajarannya pergi ke timur membangun peradaban manusia.
“Andai duniaku sebelumnya aku memiliki kekuatan yang sama” Altar berbicara dengan wajah sedih.
“Sudahlah masa lalu kita harus menjaga dunia ini dan memperingatkan anak anak kita tentang mahluk luar dunia”
“Kita telah meninggalkan kemampuan yang tak perlu mengikis energi dunia”
“Ilmu beladiri mu dengan berbagai senjata yang membantu menebas hukum para mahluk luar, tanpa meminjam energi dari alam”
“Dan kemampuan syair ku yang membantu cerita cerita tentang melindungi dunia”
“Aku tak tau apakah kita akan bisa berhasil, semoga keturunan kita tak melupakan”
Kedua orang ini akhirnya meninggalkan dunia ini, dan kemampuan mereka berubah menjadi energi yang mengisi dunia tersebut bahkan meningkat dunia tersebut untuk mulai membangun jiwa. Di tempat lain keturunan kedua orang ini mulai membangun kedua Kerajaan, masing masing dari mereka menceritakan tentang kisah kemampuan mereka menebas dewa. Juga para penyair yang menyebarkan kisa para mahluk yang lahir dari dunia milik mereka.
Penglihatan gak berhenti masih terus berlanjut, tapi kisah kisah mulai pudar dan rupanya gak semua orang memiliki bakat untuk belajar bela diri. Juga beberapa lagi tak memiliki bakat menjadi penyair. Perang pun jatuh, kerajaan timur dan barat tidak lagi saling mengenal. Ini karena kisah mereka rupanya mulai berbeda walaupun intinya melindungi dari mahluk luar mereka hanya fokus ke peperangan. Penyair dan Knight memberikan level penigkatan berbeda dimana tiap dari mereka membagi menjadi rendah, menengah dan tinggi.
Perang terus berlanjut tapi tiba tiba sebuah petir memunculkan raksasa, orang orang yang sedang berperang berhenti.
“Kalian pasti para dewa luar” seorang pria tua dengan baju besi menatap tajam sambil mengeluarkan aura membunuh.
“Tidak kami adalah hukum dunia ini” mencoba mengelak.
“Hukum?”
“Kau?” Seorang sarjana tua maju.
“Kau sama sekali gak pantas”
Mahluk itu panik lalu mencoba menyerang mereka berdua. Tapi sang Ksatria langsung memotong aliran petir menyebabkan petir menghilang sebelum sampai, dan sang penyair terlihat menetapkan hukum petir hanya beberapa meter. Mahluk itu gemetar, Sang penyair mengatakan hukum untuk mengekang minyak atau mahluk luar. Sedangkan Ksatria langsung menerjang menebas tubuh tersebut jadi dua.
“Aku tak akan menyerah”
“Apakah kalian pikir dengan menghapus avatarku itu cukup? HAHAHAHAHAHA”
Penglihatan berakhir dengan kedua Kerajaan akhirnya gencatan senjata dan menulis monument untuk mengingatkan mereka akan ancaman sebenarnya.
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...