Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aksi Menantang ( Revisi )
Tiga hari Kais harus meninggalkan Anisa untuk ke luar kota. Malam ini Kais mengajak Anisa untuk makan malam sebelum Kais harus kembali ke rumah pribadi miliknya bersama Marsya.
" Kamu kenapa ngajak aku makan malam mas, apa kamu nggak kangen sama Marsya. Kalian bahkan sudah lama nggak ketemu kan? Ngomong-ngomong Marsya sudah pulang apa belum mas?" Anisa yang duduk di samping Kais menanyakan keadaan sahabat nya itu. Semenjak sahabatnya itu pergi ke Singapura tak pernah menanyakan keadaan Kais atau sekedar menelpon seperti biasanya dia lakukan.
"Memangnya dia nggak hubungi kamu,hemm?" Anisa menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak tahu dia pulang kapan. Aku juga nggak mau tahu juga. Aku hanya tahu kalau aku kangen sama kamu." Anisa menoleh ke arah Kais dengan wajah jutek nya.
"Ck...kamu itu kalau ngomong nggak masuk akal saja."
"Loh, kok bilang nggak masuk akal? Aku nggak bohong, aku serius."
"Ya, ya, yaa... terserah kamu. Sekarang cepat, kamu mau bawa aku makan malam di mana sebenarnya, eehhh...kok ini..kenapa kita ke hotel, jangan aneh-aneh deh mas, kamu tadi ngajak aku makan malam loh."
"Siapa yang aneh-aneh sih sayang, aku memang mau ajak kamu makan malam di sini, ayo...kita turun!"
Sampai di parkiran hotel, Kais mengajak Anisa untuk turun dari mobil.
Anisa dan Kais berjalan beriringan menuju restoran hotel, di sana tanpa sengaja Anisa dan Kais bisa melihat Marsya bersama Bagas yang juga masuk ke dalam restoran yang sama.
Anisa menoleh pada Kais. Terlihat wajah Kais yang terlihat merah rahangnya pun terlihat mengeras menahan emosi. Dari genggaman tangan Kais yang semakin erat menggenggam tangan Anisa, dia tahu jika Kais sedang berusaha untuk mengendalikan emosi nya.
"Ayo!" Kais menarik tangan Anisa ke sebuah ruangan private tempat yang sudah dia pesan.
Keduanya saling diam dan tidak ada yang ingin berusaha membuka suara. Anisa menatap Kais yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa mas, jangan bilang kamu curiga dengan mereka? Mas, kalau kamu berpikir kalau mereka punya hubungan, sebaiknya kamu tanya sama Marsya pelan-pelan. Jangan sampai kamu menuduhnya yang tidak-tidak kalau kamu tidak punya bukti."
Kais menatap Anisa dan kemudian menyandarkan tubuhnya lalu menghela nafas panjang. "Apa kamu tidak merasa curiga atau sekedar ingin tahu soal hubungan mereka? Nis, kamu lihat sendiri bagaimana interaksi Marsya dah Bagas tadi. Mereka bahkan terlihat begitu intim."
"Lalu apa bedanya sama kita mas, bahkan kita yang sudah mengkhianati mereka. Aku sudah bohong sama mereka. Bahkan dengan bodohnya aku jadi orang ketiga di rumah tangga sahabat aku sendiri. Sementara aku sudah punya Bagas, aku yang lebih salah mas. Kita, nggak seharusnya melakukan hal yang menyakiti mereka."
Kais bedecih mendengar ucapan Anisa. Dia meraih tangan Anisa dan kemudian mengecupnya singkat. "Jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri. Semua nya salahku. Aku yang sudah bawa kamu masuk dalam rumah tangga ku dan Marsya." Kais menggenggam erat tangan Anisa dan mengatakan jika dia tidak boleh menyalahkan dirinya sendiri.
Makan malam bersama mereka pun selesai. Anisa meminta Kais mengantarkannya sampai di tempat kost nya. Kais pun langsung menyetujui permintaan Anisa tanpa harus berdebat dengan Anisa.
"Kamu kenapa diam saja, apa kamu mikirin Bagas!" Anisa menoleh ke arah Kais yang ada di balik kemudi mobil nya.
"Nggak ada. Aku cuma berpikir apa hubungan mereka, sepertinya mereka kelihatan akrab banget. Bahkan tatapan Bagas terlihat____
"Sudahlah, jangan bahas mereka lagi. Malas juga aku dengernya."
"Tapi mas____
Kais menepikan mobilnya di tempat yang cukup sepi. Anisa yang melihat Kais menepikan mobilnya merasa heran. Namun saat dia ingin kembali bicara tiba-tiba saja Kais menarik tengkuk Anisa ciu*an panas pun terjadi antara mereka.
Anisa merasakan Kais menciumnya dengan kasar. Sorot matanya tersirat emosi juga terlihat begitu posesif. Anisa tak sempat menolak ,hanya ada keterkejutan di mata Anisa saat Kais melakukan nya. Bahkan Anisa tak bisa berkata-kata, tubuhnya tak bisa menolak dengan apa yang di lakukan Kais.
Kais melepaskan tautan bib*r mereka dengan terpaksa karena melihat Anisa yang sudah hampir kehabisan nafas. Namun Kais tidak melepaskan Anisa begitu saja. Di ruang yang sempit itu Kais menarik tangan Anisa dan memberikan isyarat pada Anisa untuk naik diatas pangkuannya.
"Mas... tunggu.." Anisa bicara dengan lirih dan terengah saat duduk di atas pangkuan suaminya dan merasakan ada sesuatu yang sudah menggeliat dibawah nya.
"Diam lah." suara Kais terdengar mendesis seperti menahan amarahnya. Tangan besarnya melingkar di pinggang ramping Anisa dan menahan tubuh nya agar tidak bergerak. "Kamu tahu, aku merasa benci kalau ingat kamu sama Bagas!"
"Tapi kamu tahu kan kalau aku sama Bagas____
"Kamu istri ku sekarang, kamu hanya milikku sayang!" dengan wajah memerah Kais menempelkan bi*irnya di leher jenjang Anisa dan mengecupnya lalu beralih ke bahu Anisa lalu mendarat ke bibi* Anisa lagi.
Setiap gerakan agresif atau tindakan kasar Kais seperti isyarat jika dia sedang merasakan kemarahan dan ketidak sukaan akan sesuatu yang membuatnya seolah mengatakan jika Anisa hanyalah miliknya.
Malam yang kian sunyi itu hanya di isi dengan suara merdu dari dua insan yang sedang merasa kemarahan dan juga kecemburuan, serta ingin menunjukkan kepemilikan nya atas diri mereka satu sama lain.
Di tempat sepi dan sempit itu, Kais tak membiarkan Anisa menolaknya. Anisa dengan ekstra menuruti keinginan Kais. Anisa meliuk-liukkan tubuhnya seperti menari dengan indah diatas Kais.
Suasana yang penuh dengan adrenalin yang tak biasa. Sebuah rasa yang menggebu tak bisa lagi di bendung.
"Kamu hanya milikku Anisa!!" dengan penuh penekanan, Kais membantu Anisa meraih segala sesuatu yang sebentar lagi meledak dalam diri mereka masing-masing.
"Ya, aku milikmu Kais..!!" Anisa mencengkram bahu Kais merasakan sensasi kenik*atan yang membuatnya lupa diri.
Kais melingkarkan tangannya di pinggang Anisa dan kemudian terlihat Anisa melingkarkan kedua tangannya di leher Kais.
Keduanya dengan nafas memburu akhirnya menuntaskan rasa yang kini sudah meledak didalam sana. Hanya ada suara dalam satu kesatuan yang menandakan bahwa keduanya sudah sama-sama sampai puncaknya.
Kais dan juga Anisa pun akhirnya membenahi penampilan mereka.
"Aku antar kamu ke kost. " dengan suara datar dan tatapan mata ke depan Kais bicara pada Anisa.
"Hemm.." Anisa menjawab ucapan Kais dengan singkat.
Kais menoleh ke arah Anisa sejenak dan kemudian kembali menatap lurus ke arah jalanan yang mereka lewati.
Sampai di gang tempat kost Anisa berada, Kais menghentikan laju mobil miliknya.
"Mas ,aku merasa kalau kamu seperti sedang menyembunyikan sesuatu.." Kais menoleh ke arah Anisa.
Lalu tangannya mengusap lembut rambut Anisa lalu mengecup kening Anisa. "Kamu terlalu banyak berpikir Anisa, sekarang kamu butuh banyak istirahat. Maaf aku yang tadi memaksamu untuk_____
"Sudahlah, jangan di bahas lagi. Aku turun. Kamu hati-hati di jalan." Anisa membuka pintu mobil namun belum juga pintu itu terbuka, tangan Kais mencekal lengan Anisa.
Anisa pun reflek menoleh ke arah Kais. Sebuah cium*n singkat Kais raih dan kemudian menatap Anisa dengan lembut.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Anisa buru-buru keluar dari mobil Kais dan melangkah menuju gang tempat kost nya berada.
Kais hanya bisa membuang nafas kasarnya sembari menatap punggung rapuh Anisa yang kian lama kian menjauh dari tempat dirinya berada.
Bersambung.