Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.
Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.
Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.
"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
big bang (3)
Dua hari setelah insiden penyerangan di pos penjagaan sektor timur, ketegangan di jalanan kota Surabaya bagai bubuk mesiu yang hanya menunggu secercah percikan api untuk meledak.
Pesan penuh ancaman yang dibawa oleh anak buah Roni malam itu sama sekali tidak membuat Danu dan Dani gentar justru sebaliknya, mereka merasa terhina. Bagi aliansi besar sekelas Four Men Crew, perlawanan kecil dari kelompok jalanan yang nyaris bangkrut seperti Big Bang adalah sebuah bentuk makar yang harus segera dipadamkan dengan darah dan kekerasan mutlak.
Tepat pada malam Jumat berikutnya, bentrokan besar yang telah lama diantisipasi akhirnya pecah.
Bukan lagi sekadar perkelahian jalanan antar kelompok kecil, malam itu pimpinan tertinggi Four Men Crew turun tangan langsung.
Danu dan Dani memimpin pasukan besar yang terdiri dari puluhan petarung jalanan pilihan, mengepung markas utama Big Bang di kawasan pinggiran kota.
Suasana seketika berubah mencekam. Suara mesin motor berderu memekakkan telinga, memecah keheningan malam saat puluhan lampu sorot kendaraan menyinari halaman markas yang sudah usang.
Galang, bersama Evan dan seluruh sisa anggota inti Big Bang yang berjumlah tidak lebih dari dua puluh orang, berdiri tegap menyambut kedatangan pasukan musuh. Meskipun kalah telak dari segi jumlah dan persenjataan, tidak ada satupun dari mereka yang memilih mundur. Harga diri kelompok dan nama besar Indra pendiri yang mereka hormati menjadi perisai mental yang menahan langkah mereka untuk tidak lari.
"Keluar kalian, tikus-tikus selokan!" teriak Dani lantang dari atas motor sportnya, matanya menatap tajam ke arah Galang dengan seringai meremehkan.
Di sampingnya, Danu memegang tongkat bisbol besi, mengetuk-ngetuknya pelan ke telapak tangan dengan ekspresi dingin tanpa ampun.
Tanpa banyak bicara lagi, pertempuran masif pun pecah. Suasana langsung berubah menjadi lautan kekacauan. Benturan besi, teriakan kesakitan, dan deru amarah bergemuruh di udara.
Anak-anak buah Big Bang bertarung habis-habisan, melompat dan menerjang tanpa rasa takut demi melindungi sisa-sisa kehormatan kelompok mereka.
Evan, dengan luka lebam yang belum sepenuhnya sembuh dari malam sebelumnya, mengayunkan tinjunya menjatuhkan dua orang lawan sekaligus sebelum akhirnya ia sendiri tersungkur akibat hantaman benda tumpul di bagian belakang kepalanya.
Di tengah kekacauan itu, Galang menjadi pusat perhatian. Ia bergerak seperti singa yang terluka, menembus kerumunan demi mencari Danu dan Dani. Satu per satu anak buah Four Men Crew dirobohkannya dengan pukulan telak yang penuh tenaga.
Namun, kelelahan fisik setelah berhari-hari berjaga dan luka robek di rusuknya akibat pisau Roni tempo hari mulai memperlambat refleks tubuhnya.
Melihat Galang mulai terengah-engah, Danu dan Dani saling bertukar pandang lalu tersenyum sinis. Mereka tidak berniat membiarkan Galang mati begitu saja; mereka ingin mematahkan mental sang pemimpin secara perlahan di hadapan seluruh anak buahnya.
"Cukup main-mainnya," desis Danu dingin.
Dalam hitungan detik, Danu dan Dani secara bersamaan menerobos maju, memotong jalur Galang. Belasan anak buah lainnya langsung mundur, memberikan ruang bagi duel puncak malam itu.
Galang, dengan napas memburu dan peluh bercampur darah yang menetes di pelipisnya, menatap kedua petinggi Four Men Crew itu dengan mata menyalang penuh kebencian.
"Mau menyerah sekarang, Galang, atau kami habisi semua anak buahmu yang tersisa di sana?" tantang Dani sambil menunjuk ke arah Evan dan anggota Big Bang lainnya yang sudah terkapar tak berdaya di tanah basah, dikelilingi oleh puluhan musuh yang menodongkan senjata tumpul.
Galang menggeram tertahan. Keputusannya sudah bulat; ia tidak boleh membiarkan anak buahnya dibantai malam ini juga. Sebelum ia sempat membuka suara untuk membalas, Dani melayangkan tendangan keras yang langsung menghantam rusuk kirinya, disusul oleh hantaman siku Danu yang telak mengenai rahang Galang.
Pertempuran itu sama sekali tidak seimbang. Dengan kondisi fisik yang sudah terkuras, Galang harus menghadapi dua petarung paling berbahaya di aliansi tersebut secara bersamaan.
Setiap kali ia mencoba bangkit melayangkan pukulan, kombinasi serangan brutal dari Danu dan Dani kembali menjatuhkannya ke atas aspal. Tulang rusuknya terasa retak, pandangannya mulai mengabur, dan rasa sakit yang luar biasa menjalar di seluruh tubuhnya.
"Bang Galang!" teriak Evan histeris dari kejauhan, berusaha merangkak maju namun segera diinjak kepalanya oleh salah satu algojo Four Men Crew hingga mengerang kesakitan.
Galang, yang kini berlutut dengan satu tangan menopang tubuhnya di atas genangan darah dan air hujan, memuntahkan cairan merah dari mulutnya.
Napasnya tersenggal-senggal, paru-parunya seperti terbakar.
Danu berjalan mendekat, mencengkeram kerah jaket hitam berlogo Big Bang di punggung Galang, lalu menariknya ke atas secara kasar hingga wajah babak belur itu terpaksa mendongak menatapnya.
"Permainan sudah selesai, Galang," bisik Danu di dekat telinga Galang dengan nada mengejek.
"Sekarang, pilihan ada di tanganmu. Mau melihat seluruh sisa anak buahmu dihabisi malam ini sampai mati, atau Big Bang resmi tunduk, membubarkan diri, dan bergabung sepenuhnya di bawah bendera Four Men Crew sebagai budak suruhan kami?"
Suasana di sekitar mendadak sunyi senyap, menyisakan suara rintihan tertahan dari para anggota Big Bang yang menatap cemas ke arah sang ketua.
Galang mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan, melukai kulitnya sendiri. Harga dirinya berteriak menolak, namun akal sehatnya mengatakan bahwa melawan berarti mengorbankan nyawa orang-orang yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Dengan sisa-sisa kesadaran dan harga diri yang tersisa, Galang akhirnya menutup matanya sejenak, menelan mentah-mentah kepahitan kekalahan telak tersebut.
"Gue... terima," ucap Galang parau, suaranya nyaris tenggelam di tengah desau angin malam.
"Asal... lepaskan anak buah gue."
Dani tertawa puas mendengar jawaban itu. Ia melepaskan cengkeramannya begitu saja, membuat tubuh Galang terjerembab jatuh ke tanah.
"Pilihan yang cerdas untuk ukuran seorang pecundang," cibir Dani, sebelum ia dan Danu memberi isyarat kepada pasukannya untuk mundur dan meninggalkan markas Big Bang yang kini telah hancur lebur menjadi saksi bisu keruntuhan sebuah era.
Tanpa disadari oleh siapa pun di lokasi pertempuran yang kacau balau itu, beberapa ratus meter dari tempat kejadian di balik rindangnya pohon perindang jalanan yang gelap, sepasang mata tengah mengawasi seluruh drama tersebut dengan rasa ngeri dan penasaran yang mendalam.
Bara berdiri mematung di atas trotoar basah. Mengenakan jaket kasual berukuran pas badan, remaja itu baru saja turun dari bus malam dan berniat berjalan kaki pulang ke rumahnya.
Namun, suara keributan dan deru motor yang masif membawanya tanpa sengaja mendekati tempat kejadian.
Dari balik jarak pandangnya yang terhalang remang-remang lampu jalan, Bara menyaksikan detik-detik ketika Galang pemimpin yang selama ini dikenal sebagai sosok tak tersentuh di jalanan dihajar habis-habingan hingga bertekuk lutut di hadapan Danu dan Dani.
Jantung Bara berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena gelombang kejut yang asing dan kuat menghantam batinnya. Dunia malam kota ini ternyata jauh lebih kelam, brutal, dan penuh intrik kekuasaan daripada apa pun yang pernah ia bayangkan selama ini.
Namanya berputar-putar di kepala Bara 'Four Men Crew'. Sebuah nama aliansi raksasa yang malam itu berhasil menundukkan kelompok jalanan tertua di kota.
Bara terdiam cukup lama, menatap punggung Danu dan Dani yang pergi meninggalkan lokasi bersama pasukannya, sementara Galang dipapah bangun dengan susah payah oleh Evan di tengah reruntuhan markas yang terbakar sisa emosi.
Ada bara api rasa ingin tahu yang tiba-tiba tersulut di dalam dada remaja itu—sebuah rasa penasaran gelap mengenai siapa sebenarnya orang-orang di balik aliansi misterius tersebut dan bagaimana rimba raya jalanan kota ini bekerja.
Namun, dering pelan dari ponsel di saku celananya membuyarkan lamunan panjang Bara. Ia melirik layar kecil yang menyala, menampilkan pesan pengingat dari ibunya tentang jam malam.
Bara menghela napas panjang, merapatkan jaketnya untuk menepis udara dingin malam Surabaya, lalu membalikkan badan melangkah pergi meninggalkan lorong gelap tersebut.
Malam ini, ia resmi kembali ke kota ini untuk menjalani hari-hari biasa sebagai seorang pelajar sekolah menengah, namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa dunianya tidak akan pernah sama lagi setelah apa yang baru saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.