"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 ~ Kerasukan Cinta Kakakmu
Ailin yang bergerak untuk memamerkan lekuk tubuhnya, tanpa sadar melepas pegangan karet celananya. Dengan cepat ia menangkap lagi, lalu menghentikan perkataannya yang membuat malu sendiri.
Sementara Juan berdehem keras dan memalingkan wajah. Entah kenapa ada rasa penyesalan karena telah mengejek sang istri sebelumnya. Sekarang malah ia yang jadi canggung sendiri.
"A-aku mau istirahat," ucap pria itu sembari berusaha menenangkan diri.
Ailin mengangguk cepat, wanita itu segera menghampiri Juan dan berdiri di belakang kursi roda. Satu tangan mendorong, satu tangan menahan celana.
"Bagaimana cara Kakak naik ke tempat tidur?" tanya gadis itu bingung setelah menghentikan laju kursi roda di samping kasur.
Juan membuka mulutnya, ingin menjawab bahwa ia hanya cacat sebelah kaki. Namun sebuah pikiran jahat kembali merasuki otaknya.
"Biasanya ... aku dipapah paman Chen. Kamu tolong panggilkan dia saja!"
Ailin mengangguk, sebuah jawaban yang tidak diinginkan Juan. "Paman Chen itu suami bibi Yu, kan? Kalau begitu aku akan keluar sebentar untuk mencarinya."
"Tunggu!"
Ailin yang sudah mundur selangkah itu menghentikan geraknya. Wanita itu menatap punggung sang suami dengan penuh tanya.
Sementara Juan mengepalkan kedua telapak tangannya. "Hem ... sepertinya mereka sudah beristirahat jam segini. Nggak papa, jangan mengganggunya! Aku bisa menggeser tubuh sedikit-sedikit."
"Tapi bukannya masih awal, ya? Masih jam 7an." Ailin bertanya dengan polos. Sedangkan Juan menemukan ide lain. Pria itu tidak lagi menjawab, melainkan menopang tangan ke kasur, berusaha mengangkat tubuh bagian bawahnya.
"Eh, biar aku yang bantu." Ailin segera mendekat, menahan tubuh besar itu dengan susah payah. Tidak sadar bahwa pria di sampingnya telah menyunggingkan senyuman tipis.
"Hahh, Ka-kak be-rat se-ka-li." Wanita itu bergumam dengan napas putus-putus. Langkahnya berat memapah tubuh besar Juan. Hingga sedikit lagi, celana Ailin yang panjang itu tidak sengaja terinjak. Tubuh keduanya jadi terpelanting ke atas tempat tidur.
Juan di bawah, Ailin di atas. Keduanya membeku seolah waktu telah berhenti. Terlebih kening Ailin tepat mendarat pada sesuatu yang lembut. Wanita itu gugup sendiri saat merasakan kecupan yang tidak disengaja itu.
"Ma-maaf, aku nggak sengaja." Ailin buru-buru bangun. Ia berdiri dengan kikuk, namun segera mendekat untuk mengangkat kedua kaki Juan lagi. Memastikan sang suami berbaring dalam posisi yang baik.
"Sudah! Aku mau keluar ambil minum dulu." Ailin berlari sebelum sempat Juan menjawab. Wanita itu tak lagi menoleh ke belakang.
"Aku ...." Juan yang tangannya terangkat untuk menahan sang istri akhirnya menurunkan dengan kecewa.
Sementara Ailin bergeming setelah menutup pintu dengan rapat. Wanita itu berdiri di sana, punggungnya bersandar pada daun pintu. Tanpa sadar tangan kanannya menyentuh dada, meresapi degupan yang tidak biasa.
"Padahal cuma jatuh sebentar, kenapa jantungku berdetak seperti habis lari maraton?... Jangan-jangan aku kena serangan jantung?" gumamnya dimiris-miriskan namun dengan wajah mesem-mesem.
Tanpa sadar, kedua kakinya telah membawanya ke dapur dengan segelas air di tangan. Ia minum dengan pelan, bergerak seperti orang yang kehilangan arah. Senyum tipis tak kunjung lepas dari wajahnya, sementara satu tangannya terus menyentuh dahi yang sempat dikecup Juan.
"Lebih baik aku menunggu sampai tengah malam, kak Juan pasti sudah tidur. Kalau langsung kembali sekarang, bisa malu setengah mati aku." Wanita itu duduk di kursi, menunggu dengan segelas air di tangan. Hingga waktu berlalu, wajahnya masih saja mengulum senyum.
"Jangan bilang, kau beneran kerasukan?" Tiba-tiba sebuah suara menghancurkan fantasi alam bawah sadarnya. Ailin mendelik, memandang Lulu dengan tajam.
Namun sedetik kemudian, bibirnya kembali mengulum senyum. "Bukan urusanmu!" ujarnya singkat nan ketus.
"Dasar gila!" Lulu memandang dengan kedua kening berkerut kesal. Ia tidak peduli lagi, lebih baik ia sibuk pada urusannya sendiri.
Gadis itu membuka-buka lemari, hingga akhirnya menemukan sesuatu yang ia cari.
"Malam-malam begini, kamu makan mie instan?" Lulu terperanjat saat Ailin berbicara tepat di belakang tubuhnya. Ia mengangkat spatula, ingin memukul kepala wanita yang langsung menghindar.
"Ehh, aku hanya bertanya, loh. Memangnya perlu pakai kekerasan?" tanya Ailin sebal.
"Ck, pergilah! Kau di sini hanya mengacau saja."
"Kenapa enggak minta bibi Yu buatin makanan?"
"Bukan urusanmu."
"Enggak sopan. Aku kakak iparmu loh."
"Enggak pernah ku anggap, tuh."
"Sialan!"
"Keluar!"
"Ini rumah suamiku. Aku berhak di mana saja."
"Jangan lupa, suamimu itu kakakku!"
"Jadi kamu mengakui aku sebagai kakak ipar?"
.
.
.