NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden jendela paviliun VIP, membawa kecerahan baru yang menyapu bersih sisa-sisa kemuraman di kamar rawat.

Sudah satu minggu sejak Reza terbangun dari komanya. Meski tubuhnya masih agak kurus dan warna kulitnya belum sepenuhnya kembali bugar, binar angkuh yang jenaka di kedua matanya telah kembali.

Pagi ini, Reza duduk bersandar pada tumpukan bantal di atas brankar yang posisinya sudah dinaikkan setengah duduk. Di atas pangkuannya, sebuah laptop kerja menyala menampilkan deretan grafik laporan keuangan Baskara Group.

Tangan kanannya bergerak lincah di atas trackpad, sementara tangan kirinya memegang secangkir teh hangat yang masih mengepul.

Tok... Tok...

Suara ketukan pintu yang teratur mengalihkan perhatian Reza dari layar monitor. Detik berikutnya, pintu kayu jati itu terbuka, memunculkan sosok Hani yang melangkah masuk dengan pakaian kerja yang rapi, blus berwarna krem yang dipadukan dengan celah kain hitam formal. Di tangannya, ia membawa sebuah stopmap jepret tebal berwarna biru tua.

Melihat siapa yang datang, sudut bibir Reza seketika terangkat, membentuk sebuah senyuman lebar yang langsung mengubah atmosfer dingin di wajahnya menjadi penuh kehangatan.

"Selamat pagi, Pak Reza," sapa Hani dengan nada formal yang santun, meskipun ada binar jenaka yang tertahan di sudut matanya. Ia melangkah mendekati brankar dan meletakkan stopmap tersebut di atas meja nakas.

"Ini adalah dokumen laporan audit internal terbaru dari divisi administrasi yang sudah ditandatangani oleh Pak Narendra. Beliau meminta saya untuk menyerahkannya langsung kepada Anda."

Reza tidak langsung menyentuh map tersebut. Ia justru menutup laptopnya dengan satu sentakan pelan, lalu melipat kedua tangannya di dada, menatap Hani dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat akrab di mata Hani.

"Hani, Hani..." Reza menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak pelan. "Kita berada di kamar rumah sakit, bukan di kubikel lantai lima kantor pusat. Dan setahu saya, seminggu yang lalu kamu menangis sambil memegangi pipi saya dan memanggil nama saya tanpa embel-embel 'Pak'. Kenapa sekarang kita kembali ke setelan pabrik yang kaku begini, hm?"

Wajah Hani seketika merona merah mendengar sindiran telak itu. Ia berdeham salah tingkah, berpura-pura merapikan letak pulpen di saku blusnya untuk menghindari tatapan mata Reza yang terlalu intens.

"Saat itu kondisinya sedang darurat, Pak. Sekarang Anda sudah sadar dan kembali menjadi atasan saya. Saya hanya mencoba bersikap profesional sebagai karyawan Baskara Group," jawab Hani, mencoba membela harga dirinya yang mulai terkikis oleh godaan pria itu.

Reza terkekeh pelan. Suara tawanya yang renyah terdengar sangat melegakan di telinga Hani, mengingat seminggu lalu suara itu sempat hilang tertahan alat bantu napas.

"Profesional, ya?" Reza memajukan sedikit tubuhnya, menatap Hani dengan senyuman misterius.

"Karyawan mana yang berani memukul adik kandung pemilik perusahaan, lalu mengompres luka bosnya dengan air mata? Jika itu termasuk dalam deskripsi pekerjaan administrasi, saya rasa saya harus menaikkan gajimu sepuluh kali lipat, Hani."

"Pak Reza!" potong Hani, wajahnya kini benar-benar terasa panas seperti terbakar. "Tolong jangan membahas kejadian itu lagi. Saya melakukannya karena terpaksa."

Reza tertawa lagi, namun kali ini perlahan-lahan ekspresi wajahnya melunak. Guratan canda di matanya berganti dengan tatapan yang teramat dalam dan sarat akan ketulusan. Ia mengulurkan tangan kanannya, memberi isyarat agar Hani mendekat.

Hani sempat ragu sejenak, menoleh ke arah pintu seolah takut ada perawat atau Pak Narendra yang tiba-tiba masuk. Namun, melihat sorot mata Reza yang tidak menerima penolakan, Hani akhirnya melangkah setapak lebih dekat dan membiarkan jemarinya disambut oleh genggaman hangat pria itu. Kali ini, genggaman tangan Reza sudah jauh lebih bertenaga dan mantap.

"Terima kasih, Hani," ucap Reza, suaranya merendah penuh perasaan. "Bukan hanya karena kejadian itu, tapi karena kamu tetap di sini. Papah menceritakan semuanya kepada saya. Kamu tidak pulang selama berminggu-minggu demi menunggu saya bangun. Mengapa?"

Hani menunduk, menatap tautan jemari mereka di atas hamparan selimut. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. "Anda bertaruh nyawa untuk menyelamatkan saya, Pak. Jika sesuatu terjadi pada Anda karena saya, saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya seumur hidup. Lagipula..."

Hani menjeda kalimatnya, mengulum bibir sejenak sebelum memberanikan diri menatap langsung ke dalam manik mata Reza. "...saya juga ingin memastikan bahwa orang yang berjanji akan selalu mengusik hidup saya di kantor benar-benar menepati janjinya."

Mendengar pengakuan jujur yang tersirat dari bibir Hani, genggaman tangan Reza semakin mengerat. Ada rasa lega dan kebahagiaan luar biasa yang membuncah di dalam dada pewaris Baskara Group itu. Perjuangan dan rasa sakit yang ia lalui rasanya terbayar lunas detik itu juga.

Di tengah momen hangat yang tercipta di antara keduanya, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu. Langkah kaki yang tergesa-gesa dan aroma parfum mawar yang sangat pekat seketika memecah keheningan ruangan.

Hani dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Reza, melangkah mundur dua langkah untuk menjaga jarak aman.

Rachel Adiguna melangkah masuk dengan wajah yang tampak cemas namun juga dipenuhi guratan amarah yang tertahan.

Penampilannya hari ini tidak semodis biasanya, rambutnya sedikit acak-acakan dan riasan wajahnya tampak tipis, menunjukkan bahwa ia datang dengan terburu-buru setelah mendengar kabar perkembangan terbaru.

"Reza! Ya ampun, kamu benar-benar sudah sadar?" Rachel langsung menghambur ke sisi brankar, mengabaikan keberadaan Hani sepenuhnya seperti biasa. "Kenapa Om Narendra tidak memberi tahu keluargaku kalau kamu sudah melewati masa kritis? Aku sangat mengkhawatirkanmu, Reza!"

Reza mengembus napas pendek dengan kentara, ekspresi wajahnya yang semula penuh kehangatan saat bersama Hani mendadak berubah menjadi sedingin es dalam sekejap mata. "Rachel, sudah kubilang jangan datang ke sini lagi. Kamar rawatku bukan tempat wisata."

Rachel mengerucutkan bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca karena penolakan dingin yang selalu ia terima.

"Tapi, Reza! Kita ini... keluarga kita sedang dalam situasi sulit! Papa bilang hubungan bisnis kita terguncang karena masalah Om Hendra. Aku ke sini untuk memastikan kamu baik-baik saja dan menjelaskan bahwa keluargaku tidak tahu apa-apa tentang rencana gila Om Hendra!"

"Aku tahu," potong Reza pendek dan ketus. "Polisi sudah mengonfirmasi bahwa Om Hendra bergerak sendiri tanpa melibatkan Om Adiguna. Jadi bisnis tetap bisnis. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa aku tidak ingin diganggu saat masa pemulihan. Terutama olehmu."

Rachel tersentak, wajahnya memucat karena malu dan sakit hati. Pandangannya kemudian beralih dengan tajam ke arah Hani yang berdiri diam di sudut ruangan. Sepasang mata Rachel menyipit penuh dendam saat melihat stopmap biru di atas nakas.

"Dan kenapa perempuan ini masih ada di sini?!" seru Rachel dengan suara melengking yang egois. "Reza, dia ini cuma karyawan rendahan! Kenapa dia selalu punya akses untuk berduaan denganmu di kamar VIP ini? Apa dia sengaja memanfaatkan jasanya yang 'sok pahlawan' malam itu untuk merayumu?!"

"Rachel!"

Bukan suara Reza yang memotong kalimat Rachel kali ini, melainkan sebuah suara berwibawa dan berat dari arah pintu yang baru saja terbuka kembali.

Narendra Baskara melangkah masuk dengan langkah tegap, menatap Rachel dengan pandangan yang sarat akan ketegasan seorang pemimpin tertinggi.

"Om... Om Narendra," bisik Rachel, nyalinya seketika menciut melihat kedatangan ayah Reza.

Narendra tidak memedulikan Rachel. Ia berjalan lurus ke arah Hani, lalu memberikan sebuah senyuman tulus yang sangat hangat. "Hani, terima kasih sudah mengantarkan laporan auditnya. Dan mengenai statusmu di perusahaan..."

Narendra menoleh ke arah Rachel, seolah sengaja ingin memberikan penekanan mutlak agar wanita manja itu mendengar setiap kalimatnya.

"...mulai hari ini, jajaran direksi telah sepakat untuk memulihkan nama baik almarhum ayahmu secara resmi di seluruh media nasional. Sebagai bentuk kompensasi atas ketidakadilan selama delapan tahun ini, serta atas jasa besarmu menyelamatkan nyawa putraku, Baskara Group secara resmi mengangkatmu menjadi Head of Administrative Division yang baru, langsung di bawah pengawasan direksi utama."

Mendengar pengumuman itu, Rachel membelalakkan matanya sempurna dengan mulut yang setengah terbuka karena syok. Kepala Divisi Administrasi di usianya yang masih sangat muda?

Itu adalah posisi eksekutif yang sangat terpandang di perusahaan. Status Hani kini bukan lagi sekadar 'karyawan biasa' yang bisa ia injak-injak harga dirinya.

Sementara itu, Reza tersenyum bangga dari atas brankarnya, menatap Hani dengan tatapan yang seolah mengatakan "kamu pantas mendapatkannya."

Hani membungkuk dalam-dalam kepada Narendra, air mata haru kembali menggenang di matanya. "Terima kasih banyak, Pak Narendra. Saya... saya akan menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya demi nama baik almarhum ayah saya."

"Kamu sangat pantas menerimanya, Hani," ucap Narendra tulus, lalu menoleh ke arah Rachel dengan tatapan dingin.

"Rachel, jika kedatanganmu ke sini hanya untuk membuat keributan dan menghina salah satu pejabat eksekutif baru di perusahaanku, aku minta kamu keluar sekarang juga. Hubungan keluarga kita tidak akan bisa melindungimu jika kamu terus bersikap tidak sopan."

Dengan perasaan malu yang teramat sangat, hancur, dan dikalahkan sepenuhnya, Rachel menyambar tas mewahnya dengan kasar.

Ia melirik Hani dengan tatapan benci yang mendalam untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi keluar dari kamar rawat dengan hentakan kaki yang keras, membanting pintu di belakangnya.

Setelah kepergian Rachel yang dramatis, Narendra terkekeh pelan melihat ekspresi putranya yang tampak tidak sabar.

"Baiklah, sepertinya urusan administrasi kalian sudah selesai. Papah harus kembali ke kantor pusat untuk memimpin rapat umum pemegang saham. Reza, jangan terlalu banyak bekerja, dan Hani... tolong awasi anak nakal ini agar tidak nekat kabur dari rumah sakit."

"Baik, Pak Narendra," jawab Hani tersenyum.

Begitu pintu kembali tertutup rapat, menyisakan keheningan yang tenang di antara mereka berdua, Reza langsung menatap Hani dengan binar mata yang kian menggoda.

"Jadi... Selamat pagi, Ibu Kepala Divisi yang baru," goda Reza, memberikan penekanan pada kata 'Ibu Kepala Divisi'.

"Sekarang jabatanmu sudah sangat tinggi di kantor. Berarti, kamu sudah memiliki otoritas penuh untuk menemani bosmu ini makan siang setiap hari, bukan?"

Hani melangkah mendekati brankar dengan senyuman manis yang kini terukir bebas di wajahnya. Rasa beban masa lalu yang selama delapan tahun ini menghimpit pundaknya telah menguap sepenuhnya.

Kini, di hadapannya, terbentang sebuah lembaran baru yang merona bersama pria yang telah memberikan segalanya untuknya.

"Tentu saja, Pak Reza," jawab Hani lembut, matanya berbinar cerah. "Tapi dengan satu syarat."

"Apa itu?" tanya Reza penasaran.

"Anda harus menghabiskan bubur rumah sakit ini sampai bersih terlebih dahulu tanpa mengeluh," ucap Hani sambil mengambil mangkuk sarapan di atas meja nakas dengan tawa kecil yang merdu.

Reza mengeluh manja, namun ia menerima suapan pertama dari Hani dengan senyuman paling bahagia di wajahnya. Lembaran baru kehidupan mereka baru saja dimulai, dan kali ini, tidak akan ada lagi rahasia atau kasta yang mampu memisahkan mereka.

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!