Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15.
Di ruangannya Salindra mengerjakan tugasnya, tapi pikirannya tidak fokus. Ia memanggil seorang OB bernama Egi membawakan minuman dingin. Mendengar perintah dari Salindra Egi langsung membuatkannya dan membawa ke ruangan Sekretaris.
Tok tok tok
"Masuk!"
Pintu di buka Egi masuk membawa minuman pesanan Salindra dan meletakkan di atas meja. "Terimakasih," ucap Salindra langsung meminumnya.
Air dingin itu begitu lancar masuk ke dalam kerongkongannya membuat organ tubuhnya ikut terasa dingin.
“Kakak seperti sedang ada masalah berat," celetuk Egi melihat wajah Salindra yang agak aneh dimatanya.
Salindra terdiam sesaat lalu menggeleng. "Aku hanya ingin minum minuman dingin," katanya berbohong.
“Kalau punya masalah lebih baik cerita sama aku, mumpung aku sedang tidak ada kerjaan," kata Egi sambil duduk dengan santai.
Salindra melihat sikap Egi merasa tidak nyaman mencoba berbicara sopan agar membuat Egi tidak merasa sakit hati. "Kembali ke tempat kerja, nanti dimarahi sama Pak Haikal baru tahu rasa kamu," Salindra mengusir Egi.
"Siap Kakakku, aku permisi mau lanjut kerja," pamit Egi beranjak dari tempat duduk dan keluar dari ruangan.
Salindra bernapas lega setelah Egi keluar dan kembali berkutat dengan tugasnya.
Egi terkejut saat keluar dari ruangan sekretaris ada Asisten Rayan berdiri di belakangnya dengan wajah datar menatap Egi. Egi langsung menunduk lalu, berkata.
"Maaf Pak Asisten, saya baru saja mengantar minuman untuk kak Salindra,“ kata Egi dengan perasaan takut.
Asisten Rayan melihat sikap Egi sekilas lalu melihat pintu ruang sekretaris. "Kenapa lama sekali, apa yang kamu lakukan di dalam?“ tanya Asisten Rayan.
“Tidak ada, Pak. Tadi hanya bicara omong kosong saja tidak ada hal lainnya, sumpah," jawab Egi dengan wajah menunduk kemudian melangkah pergi.
Asisten Rayan berjalan menuju ruangannya. Namun, pikirannya teringat Salindra yang terlihat suntuk. "Ada apa dengannya?" batinnya.
...----------------...
Di ruang divisi Citra merasa ada yang aneh, ia melihat Salindra masuk kerja dan lebih anehnya lagi Salindra bersiap biasa saja tanpa adanya luka. Ia berpikir keras mengingat rencananya yang ia buat sedemikian rupa. Kemudian menghubungi seseorang melalui chat. Tidak lama terbalas dan orang itu merasa yakin dengan apa yang dikerjakan sesuai perintahnya, namun Citra tidak percaya.
Citra menggebrak meja dengan sangat keras, semua orang di ruangan terkejut melihat ke arahnya dengan pandangan aneh.
"Citra, kamu kenapa menggebrak meja kalau punya masalah jangan bawa ke tempat kerja dong, bikin orang lain tidak konsentrasi, pergi sana," usir Agil menatap Citra dengan tajam.
“Bodo amat," sahut Citra sewot.
"Lama-lama bisa setres kamu," celetuk Dila.
“Kamu ngatain aku setres, kamu sendiri juga setres mikirin pacar gak nikahi kamu," balas Citra cuek.
Dila beranjak dari tempat duduknya hendak membalas Citra tapi tangannya di tahan Agil, Dila berusaha melepaskan diri tapi Agil tidak membiarkan mereka bertengkar di dalam ruangan.
"Kamu membela dia... Jelas-jelas dia yang salah harus di lawan," seru Dila ingin meluapkan perasaannya kepada Citra.
"Sudahlah, percuma melawan dia lebih baik fokus bekerja atau kamu nanti akan berurusan dengan Pak Haikal," Agil memberi nasehat kepada Dila.
Dila akhirnya duduk tapi matanya tidak lepas dari Citra sambil menatap tajam seolah menantang Citra. Di tempat duduk Citra tersenyum senang melihat Dila marah sambil memainkan ballpoint.
"Aku tidak takut," kata Dila.
“Aku juga tidak takut," balas Citra.
Agil menatap dua teman perempuan sampai geleng-geleng kepala. "Kalian itu kayak anak kecil kalau sedang bertengkar, lucu sekali," ucap Agil.
Kedua perempuan itu langsung melengos tanpa mempedulikan Agil. Mereka akhirnya fokus dengan pekerjaan masing-masing.
...----------------...
Menjelang pulang ponsel Salindra berdering panggilan masuk dari kakaknya, diangkat. "Iya ,Kak. Sebentar lagi aku pulang,“ katanya.
"Kamu tidak usah jemput kakak. Hezel yang jemput, kamu langsung pulang saja," jawab Jayanti.
“Baiklah kalau begitu," sahut Salindra lalu menutup panggilan teleponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas kemudian berjalan menuju motor lalu, menyalakan mesinnya.
Baru akan keluar motornya dihadang oleh mobil milik Citra membuat Salindra terkejut. “Citra melihat motor Salindra mengerutkan alisnya heran. "Apa orang suruhanku salah merusak motor milik Salindra?" batin Citra.
"Maaf Kak, bisa cepetan gak jalannya?“ Salindra memperhatikan gerak-gerik Citra yang aneh melihat motor miliknya.
Citra terkesiap sadar kalau Salindra sedang memperhatikannya langsung pergi dengan cepat. Salindra curiga saat melihat wajah Citra seperti ada sesuatu. "Apa ada hubungannya dengan kejadian semalam?" batin Salindra.
Salindra melajukan motornya keluar dari area perusahaan. Hari ini akhir pekan ia akan mengajak Hafsah teman dekatnya mentraktir makan. sepulang kerja ia bersiap untuk pergi.
Sampai di rumah Jayanti sudah pulang dan sedang berbicara dengan Hezel kekasihnya. Salindra menyapa mereka kemudian masuk ke kamar.
"Salindra punya pacar?" tanya Hezel setelah memperhatikan Salindra masuk ke dalam rumah.
"Mungkin," jawab Jayanti sambil mengangkat bahu.
"Aku rasa kita harus secepatnya menikah, takutnya ke duluan adik kamu," kata Hezel dengan nada menggoda.
Jayanti merasa tersipu mendengar perkataan kekasihnya. "Sabar dulu, aku kan juga butuh persiapan segala keperluan pernikahan,"
“Mikirnya jangan kelamaan, nanti kesangkut," canda Hezel sambil mencubit dagu Jayanti.
“Gombalnya keluar," balas Jayanti menjauhkan wajahnya agar Hezel tidak menggoda lagi.
"Aku pulang dulu, mau persiapan tempat buat pernikahan kita," kata Hezel berpamitan.
Jayanti terkejut menatap Hezel lekat."Kok cepat sekali, aku kan belum mempersiapkan semuanya,"
Hezel tersenyum lalu, mencium kening Jayanti. "Aku sudah katakan semua biar aku yang mengurus, kamu tinggal terima jadi," Hezel memberi pengertian kepada Jayanti.
Jayanti mencoba mengulur waktu karena ia ragu kalau Hezel benar-benar menyanggupi biaya pernikahan sedangkan dirinya hanya menerima saja, hal itu menurutnya aneh. Biasanya pihak perempuan yang akan repot dengan berbagai macam perlengkapan dan prasmanan sampai MUA.
Hezel tahu apa yang dipikirkan Jayanti, ia paham kondisi keluarga kekasihnya itu dan tidak mempermasalahkannya. Hezel menerima apapun kondisi Jayanti. Ia juga memikirkan adik iparnya yang sedang mulai bekerja.
Hezel pamit pulang karena hari sudah menjelang malam, tidak baik seorang pria bermain ke rumah seorang perempuan apalagi tidak ada kedua orang tua, pasti akan menimbulkan fitnah.
Setelah membersihkan diri dan berhias tipis natural, Salindra menghubungi Hafsah. Beberapa saat kemudian panggilan terjawab.
"Salindra tunggu sebentar aku sedang bersiap-siap, nanti kita ketemu dimana?" tanya Hafsah sambil merias diri.
"Di tempat biasa setelah itu kita jalan," jawab Salindra dengan semangat.
"Baiklah, tunggu aku kalau sudah sampai duluan," sahut Hafsah.
Panggilan pun berakhir Salindra keluar menuju motornya dan menyalakannya. Jayanti melihat Salindra nampak cantik di akhir pekan merasa curiga.
“Mau pergi ke mana?" tanya Jayanti.
"Ketemuan sama Hafsah," jawab Salindra.
"Berdua saja?" Jayanti menelisik wajah Salindra.
Salindra mengangguk sambil memakai helem kemudian meninggalkan kakaknya sendirian di rumah.
Seseorang melambaikan tangannya ketika Salindra masuk ke dalam kafe. Ia berjalan mendekati meja Hafsah yang sudah lebih dulu sampai. Salindra mengerutkan alisnya melihat seorang pria duduk di samping Hafsah.
“Dia siapa?" Salindra meminta penjelasan kepada Hafsah.
Hafsah tersenyum hatinya merasa bersalah, tanpa memberitahu Salindra mengenai pria di sebelahnya. "Kenalkan, dia kakak sepupu ku Patih,"
Salindra tersenyum sungkan sambil duduk sedangkan Patih mengulurkan tangan hendak berjabat tangan dengannya tapi di tolak. “Sombong sekali," batinnya melirik Salindra, namun hatinya merasa tertarik.