NovelToon NovelToon
Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andrean Matabuh

Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'

Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.

Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pembantaian di Rumah Utama

Malam hari tiba membawa badai besar yang mengguyur seluruh sudut kota. Petir menyambar bergantian, membelah langit hitam dan menyinari gerbang besi besar Rumah Utama keluarga Wijaya yang kini telah jeblok dan miring dari engselnya. Dua mobil SUV hitam besar dengan kaca gelap terparkir melintang di halaman rumah mewah tersebut, melindas tanaman hias yang hancur berantakan.

Di dalam ruang tamu utama yang berukuran sangat luas, suasananya jauh lebih mencekam daripada badai di luar. Pecahan vas porselen mahal dan pajangan dinding berserakan di atas karpet. Erika terduduk lemas di sudut ruangan dengan pakaian yang acak-acakan dan air mata yang terus mengalir deras membasahi riasannya yang hancur. Di sampingnya, Kevin terkapar di lantai dengan wajah penuh lebam dan darah yang mengalir dari sudut bibirnya yang pecah.

Di tengah ruangan, berdiri lima orang pria tegap dengan setelan taktis hitam tanpa atribut resmi. Mereka semua memegang senjata api laras pendek jenis Glock-17 dengan silencer terpasang, sementara pemimpin mereka—seorang pria kekar berambut cepak dengan bekas luka segaris di pipi kanannya—sedang duduk santai di kursi kebesaran Kakek Bramasta sambil menimang sebuah pisau komando. Mereka adalah tim pembunuh bayaran 'Black Cobra'.

Kakek Bramasta sendiri berdiri di bawah todongan senjata salah satu anak buah Black Cobra di sudut lain, tubuh tuanya bergetar hebat menahan rasa takut yang amat sangat.

"Tinggal sepuluh menit lagi," pria berwajah luka itu melirik jam tangan taktisnya, lalu menatap Kakek Bramasta dengan pandangan haus darah. "Jika tikus bernama Adrian itu tidak memunculkan batang hidungnya di rumah ini dalam sepuluh menit, aku akan mulai memotong jari tangan cucu dan menantumu ini satu per satu sebagai hidangan pembuka."

"T-tolong... jangan... uang! Saya bisa memberi kalian uang sebanyak apa pun yang kalian minta! Tolong jangan bunuh kami!" ratap Erika dengan suara serak, memohon dengan sangat menyedihkan.

"Uang? Kontrak kami dengan Teguh Baskoro bernilai lima puluh miliar rupiah untuk melenyapkan Adrian dan seluruh orang yang berhubungan dengannya. Uang recehmu tidak ada gunanya, wanita tua," sahut sang pemimpin dengan tawa meremehkan.

Brak!

Tepat setelah kalimat itu terucap, sepasang pintu jati ganda ruang tamu utama mendadak meledak hancur berkeping-keping dari luar. Potongan kayu besar berterbangan membelah ruangan, membuat para anggota Black Cobra refleks mengangkat tangan mereka untuk melindungi wajah dari serpihan tajam.

Di balik debu dan reruntuhan pintu yang hancur, sesosok pria melangkah masuk dengan sangat tenang di bawah guyuran air hujan yang membasahi jubah kasual hitamnya. Sepasang mataku berkilat dengan warna merah redup yang sangat mengerikan di tengah kegelapan malam. Aura membunuh yang terpancar dari dalam tubuhku akibat aktivasi Seni Bela Diri Dewa Asura mendadak memenuhi seluruh ruangan, membuat suhu udara di dalam rumah terasa turun drastis hingga ke titik beku.

"Kalian sedang mencari aku?" ujarku dengan nada suara yang sangat datar, namun gema suaranya terdengar begitu berat dan mengintimidasi, bergetar menembus dada setiap orang yang ada di sana.

"Adrian...!" Erika berteriak histeris, seolah melihat malaikat maut sekaligus penyelamat hidupnya datang bersamaan.

Sang pemimpin Black Cobra langsung berdiri dari kursinya, matanya menyipit menatapku dengan pandangan tajam seorang pembunuh profesional. "Jadi kamu yang bernama Adrian? Berani datang sendirian tanpa membawa pengawal... kamu benar-benar memiliki nyali yang besar, atau hanya sekadar bodoh." He melambaikan tangan kirinya dengan malas. "Dua orang, habisi dia sekarang."

Dua orang anak buah Black Cobra yang berada di barisan depan langsung mengangkat senjata mereka, mengarahkan moncong pistol Glock tepat ke arah dadaku. Jari-jari mereka sudah bersiap menarik pelatuk untuk melubangi tubuhku dalam sekejap.

Namun, di dalam kesadaranku, waktu seolah-olah berjalan sangat lambat. Energi hangat yang sangat dahsyat dari Dewa Asura telah memenuhi seluruh otot dan urat saraf di kedua kakiku. Sebelum kedua pembunuh itu sempat menekan pelatuk senjata mereka, tubuhku sudah bergerak maju dengan kecepatan kilat yang melampaui batas kecepatan penglihatan mata manusia biasa.

Wusss!

Aku menghilang dari posisi berdiriku semula, meninggalkan kepulan angin tipis di lantai.

"Apa?! Di mana dia?!" teriak salah satu pembunuh dengan mata membelalak panik saat mendapati target bidikannya mendadak lenyap dari pandangan.

"Di belakangmu," sebuah bisikan dingin sedingin es tiba-tiba terdengar tepat di belakang tengkuknya.

Sebelum pembunuh itu sempat membalikkan badannya, aku mencengkeram pergelangan tangan kanannya yang memegang pistol, lalu memutarnya ke arah berlawanan dengan kekuatan absolut sekeras besi raksasa.

Krak!

Suara tulang lengan yang patah menjadi beberapa bagian terdengar sangat mengerikan. Pembunuh itu bahkan tidak sempat berteriak saat tangan kiriku bergerak maju, melayangkan sebuah pukulan telak bermuatan tenaga dalam tepat ke arah ulu hatinya.

Duak!

Tubuh kekar pembunuh pertama langsung terlempar ke belakang sejauh lima meter, menghantam dinding beton rumah hingga retak dan langsung tewas di tempat dengan organ dalam yang hancur total.

Pembunuh kedua yang berada di sampingnya tertegun syok melihat rekannya tewas dalam waktu kurang dari dua detik. Dengan panik, dia mengarahkan pistolnya secara acak ke arahku dan menembak bertubi-tubi.

Dor! Dor! Dor!

Tiga butir peluru melesat membelah udara ruangan. Namun, dengan kelincahan tingkat tinggi dari Seni Bela Diri Asura, aku menekuk tubuhku ke bawah, membiarkan peluru-peluru itu bersarang di dinding belakang. Dalam satu lompatan rendah yang sangat cepat, aku sudah berada di bawah dagu pembunuh kedua. Aku mengayunkan telapak tangan kananku ke atas dengan gerakan memotong yang sangat tajam.

Prak!

Hantaman telapak tanganku mematahkan rahang bawah dan leher pembunuh kedua secara instan. Tubuhnya ambruk ke lantai seperti tumpukan baju kotor, tidak bernyawa lagi.

Dua pembunuh bayaran internasional kelas atas kini telah tewas di bawah tangan kosongku hanya dalam waktu kurang dari lima detik.

[Ding! Evaluasi Pertarungan Fisik Tahap Pertama Berhasil!]

[Efisiensi Serangan Tuan Rumah: 100% Mematikan!]

[Hadiah Tambahan Diaktifkan: Keterampilan 'Langkah Bayangan Asura' (Memungkinkan pergerakan instan tanpa suara dalam radius 10 meter) telah ditingkatkan ke level maksimal!]

Sisa dua anak buah Black Cobra yang bertugas menodong Kakek Bramasta dan menjaga pintu samping mendadak menjatuhkan senjata mereka ke lantai. Seluruh keberanian dan profesionalisme yang mereka banggakan runtuh total digantikan oleh kengerian yang teramat sangat melihat bagaimana aku mencabut nyawa rekan mereka tanpa berkedip sedikit pun. Mereka berbalik dan mencoba berlari menuju jendela untuk menyelamatkan diri mereka sendiri.

"Mau pergi ke mana?" ujarku dingin.

Menggunakan Langkah Bayangan Asura, tubuhku mendadak berkedip dan muncul tepat di depan jendela, menutup jalur pelarian mereka. Sebelum mereka sempat memohon ampun, dua pukulan cepat dariku bersarang telak di dada mereka, menghancurkan tulang rusuk dan jantung mereka secara instan.

Tubuh mereka ambruk tak bernyawa di atas lantai yang kini mulai digenangi darah segar.

Kini, satu-satunya orang luar yang tersisa di dalam ruangan itu hanyalah sang pemimpin Black Cobra. Wajah pria berwajah luka itu kini tidak lagi memiliki ekspresi tenang. Pisau komando di tangannya gemetar hebat, dan matanya menatapku seolah-olah dia sedang melihat perwujudan dewa kematian yang bangkit dari dalam neraka.

Aku melangkah maju perlahan mendekatinya, membiarkan suara langkah sepatuku yang basah menciptakan ketukan intimidasi yang mematikan di dalam keheningan aula darah tersebut.

"Sekarang," aku berhenti tepat tiga langkah di depan pemimpin yang ketakutan itu, menatapnya dengan mata merah redupku yang menusuk jiwa. "Katakan padaku, apakah ada instruksi lain yang diberikan oleh Teguh Baskoro sebelum dia mendekam di penjara, atau kamu ingin menyusul keempat anak buahmu ini ke neraka malam ini juga?"

Sang pemimpin langsung menjatuhkan pisau komandonya ke lantai, lalu dengan tubuh yang gemetar hebat, dia berlutut dengan kedua lututnya di atas genangan darah anak buahnya sendiri, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan kakiku untuk memohon sisa hidupnya. Kehancuran total sisa-sisa sekutu keluarga Baskoro di kota ini telah diselesaikan dengan mandi darah malam ini.

1
Darns Jabat
👍
Andrean Matabuh: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!