Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabib Misterius di Garis Batas
Kereta kayu itu terus dipacu membelah kegelapan yang semakin pekat. Roda-rodanya berderit nyaring, beradu dengan ranting-ranting mati dan jalanan tanah yang kian berbatu tajam. Mereka kini telah melewati batas terluar wilayah timur Sanjaya, memasuki sebuah wilayah tak bertuan yang menjembatani wilayah luar Kerajaan Warden dan hamparan pegunungan Kerajaan Tang Yang. Di sini, angin tidak lagi berembus lambat, melainkan menderu bagai lolongan serigala lapar, membawa hawa sedingin es yang menusuk hingga ke hulu hati.
Di dalam kereta, keadaan Naomi kian kritis. Tubuhnya sudah kaku layaknya mayat yang membeku. Lapisan embun es yang tipis kini tidak hanya menutupi rajah hitam di lengan kirinya, melainkan telah merayap naik hingga ke leher dan sebagian pipinya yang pias. Kesadarannya telah hilang sepenuhnya; napasnya begitu tipis, hampir-hampir tak terasa lagi saat Martha mendekatkan jemarinya yang gemetar ke bawah hidung sang anak.
"Ingdrit... cepatlah! Dia tidak akan bertahan lima menit lagi! Jantungnya... detak jantungnya melambat!" jerit Martha dengan suara yang pecah oleh tangis yang tak lagi bisa dibendung.
Ingdrit, yang sedang memegang tali kendali di bangku depan, memacu kuda-kuda istana dengan sisa-sisa keputusasaan.
"Bertahanlah, Martha! Sedikit lagi kita mencapai wilayah aman!" Teriaknya, meski ia sendiri tahu, di wilayah tak bertuan ini, tidak ada tempat berlindung dari maut yang sedang menjemput putri mereka.
KREEEKKKK!
Tiba-tiba, kuda-kuda kereta meringkik keras, mengangkat kaki depan mereka ke udara sebelum berhenti mendadak hingga membuat bodi kereta terguncang hebat. Ingdrit hampir saja terlempar dari bangku kemudi. Di depan mereka, di tengah jalanan yang berkabut tebal, berdiri sebuah siluet tinggi yang samar-samar diterangi oleh lentera minyak kecil yang dipegangnya.
"Siapa di sana?!" bentak Ingdrit sambil meraih belati kecil di pinggangnya, waspada jika itu adalah pasukan bayaran Ratu Ara atau pengawal dari Warden.
Siluet itu melangkah maju dengan tenang. Saat cahaya lentera menerangi wajahnya, tampaklah seorang pria muda berwajah teduh dengan pakaian jubah pengembara yang sederhana namun rapi. Di punggungnya, terikat sebuah kotak kayu besar yang biasa digunakan oleh para tabib untuk menyimpan tanaman obat.
"Turunkan senjatamu, Pak Tua," suara pemuda itu terdengar sangat tenang, memiliki resonansi yang anehnya sanggup meredam kepanikan di udara. "Aku tidak berniat buruk. Bau hawa dingin yang mati dari dalam keretamu ini yang menghentikan langkahku."
Martha menyembul dari balik tirai kereta dengan wajah yang berlumur air mata.
"Tolong... tolong anak kami! Siapa pun Anda, tolonglah!"
Pemuda itu tidak membuang waktu. Tanpa meminta izin lebih lanjut, ia melangkah mendekati pintu kereta dan naik ke dalam. Begitu matanya menangkap sosok Naomi yang membeku, alisnya bertaut rapat. Ia segera meraih pergelangan tangan kanan Naomi, menempelkan dua jarinya untuk memeriksa denyut nadi.
"Dingin ini... ini bukan karena cuaca," gumam pemuda itu, matanya berkilat saat melihat pola rajah hitam yang tertutup es di lengan kiri Naomi. "Ini kutukan pembalikan energi bumi. Kulitnya menolak jiwanya sendiri karena ia dipisahkan dari tanah kelahirannya."
Ingdrit dan Martha tertegun. Bagaimana bisa seorang pengembara asing mengetahui rahasia rune itu hanya dengan sekali lihat?
"Siapa sebenarnya Anda?" tanya Ingdrit dengan nada menyelidik namun penuh harap.
"Namaku Heo Jun," jawab tabib muda itu pendek, tanpa menjelaskan dari mana asalnya atau ke mana tujuannya. "Dan jika kalian ingin gadis ini tetap bernapas saat fajar tiba, berhentilah bertanya."
Tabib Heo Jun membuka kotak obat di punggungnya dengan cekatan. Ia mengambil sebotol kecil cairan berwarna perak pekat, lalu meneteskan beberapa tetes ke atas bibir pucat Naomi. Keajaiban kecil terjadi; lapisan es di leher Naomi perlahan mencair, meskipun tubuhnya masih bergetar hebat.
"Obat ini hanya penahan sementara untuk mencegah jantungnya membeku total," ujar Heo Jun sambil bangkit berdiri, menatap Ingdrit dengan serius. "Energi di tempat terbuka ini terlalu tipis. Kita harus membawanya ke tempatku, sebuah tempat tersembunyi di kaki bukit batas Tang Yang. Di sana ada mata air belerang panas yang bisa mengimbangi dinginnya rune ini untuk sementara waktu sementara aku memeriksa jalur nadinya lebih lanjut."
Martha mengangguk cepat tanpa ragu. "Bawa kami ke sana, Tabib Heo. Lakukan apa saja, asalkan Naomi-ku selamat."
Heo Jun mengambil alih kemudi di samping Ingdrit, mengarahkan kereta kuda itu berbelok menembus jalan setapak tersembunyi di balik dinding tebing batu. Di tengah kegelapan malam perbatasan yang membingungkan, kehadiran tabib misterius bernama Heo Jun ini menjadi satu-satunya titik terang bagi nasib Naomi, membawa sang putri pelarian menuju babak baru perlindungannya yang jauh dari jangkauan Sanjaya maupun Warden.