NovelToon NovelToon
Simpanan CEO Muda

Simpanan CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aulia risti

Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.

Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.

Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.

“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”

Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.

Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Sementara disisi lain Amira berada di gudang. Lampu neon berkedip-kedip, bau debu dan kardus lama langsung menyeruak begitu pintu didorong.

“Nggak lagi-lagi aku buat kesalahan didepan bu mis,?” gumam Amira pelan, menatap tumpukan berkas dan kursi rusak yang berserakan di lantai.

Harusnya gudang sebesar ini perlu tiga orang untuk memberikan, tapi kalau Amira menolak, Bu Mis pasti malah makin marah.

Terpaksa Amira mulai memunguti pecahan kaca sampah yang berserakan, memindahkan barang-barang yang terjatuh lalu menyapu lantai nya.

Tiba-tiba gerakan tangan Amira terhenti saat membaca nama dikertas yang dipegangnya.

“Kenapa sih dia selalu begitu?” Seru Amira saat pagi tadi Zian yang tiba-tiba mode cuek, dingin.

Clek!

Suara pintu terbuka, Amira menoleh, itu Bu mis. Wanita itu berjalan membawa nampan berisi air minum.

"Ini buat kamu, jangan sampai dehidrasi terus pingsan." Kata mis.

"Makasih Bu."

"Jangan kepedean saya kesini buka cuma antar minum tapi sekalian liat, apa kamu kerjanya benar."

 “Ini lagi saya kerjakan, Bu.”

Bu Mis mendekat, matanya menyipit melihat tumpukan berkas di tangan Amira.

“Kamu tahu nggak, Amira? Orang yang kerja asal-asalan itu biasanya punya alasan buat nyembunyiin sesuatu.”

Amira mengernyit. “Maksud Bu miss?”

“Maksud saya, jangan kira saya nggak tahu kamu dekat sama Pak Zian akhir-akhir ini.”

Amira diam jantung nya berdegup kencang. Dia menelan ludahnya saat mendengar perkataan Bu Miss. Apa Bu miss liat?

“Datang bareng, pulang nggk tentu. Karyawan lain sudah mulai ngomongin kamu tuh.” lanjut Bu Miss sambil tangan nya membantu Amira membereskan dokumen yang berserakan.

“Itu…Nggak seperti yang Ibu pikirkan, saya....”

“Yang saya pikirkan atau bukan , itu nggak penting. Yang harus kamu tahu Amira. Sadar, mereka orang-orang kaya bisa buang kita kapan aja.”

Amira tak menjawab, dia mendengar semua yang Bu Miss.Sejak awal Amira tahu itu, dia juga tidak ingin bermain perasaan.

"Yasudah lanjutkan lagi, setelah selesai kamu langsung pulang aja." Kata Bu Miss sebelum pergi.

Amira mengangguk, Bu mis keluar dari gudang.

 

Sementara di restoran, Zian menikmati waktunya bersama sang Daddy dan adiknya, Rian.

Tawa Rian yang khas terdengar memenuhi meja. Khail sesekali menyela dengan cerita lama yang membuat mereka bertiga tertawa. Untuk sesaat, Zian bisa melupakan penatnya.

Tapi di luar, langit yang sedari tadi mendung perlahan menghitam.

Hujan turun tiba-tiba.Disertai petir dan guruh yang menggelegar.

Zian mengerutkan kening. Tanpa sadar tangannya berhenti memutar gelas ditangan nya.

Pikiran itu muncul begitu saja. Amira. Namanya terlintas begitu saja.

Zian meraih ponsel, membuka chat Amira. Jarinya ragu sejenak sebelum akhirnya mengetik:

"Kamu sudah pulang?"

Namun beberapa menit berlalu tak ada jawaban, mata Zian melirik kearah jendela hujan benar-benar turun deras.

Zian menghela napas pelan, lalu menoleh ke Kevin yang duduk di kursi dekat pintu, menunggu perintah.

“Kevin,” panggilnya pelan, suaranya datar tapi ada nada cemas yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Coba cek keadaan Amira Sekarang.” bisik nya. Tanpa terdengar siapapun.

Kevin mengangguk cepat. “Siap, Pak.”

Rian yang duduk di seberang menangkap perubahan ekspresi kakaknya.

“Kak? Ada apa? Kenapa tiba-tiba tegang?”

Zian memaksakan senyum kecil.

“Tidak ada apa-apa. Cuma… hujan deras. Takut listrik padam.”

Rian mengangguk, tapi matanya masih menatap Zian curiga. Khail di sampingnya hanya tersenyum bijak, tidak berkomentar.

Sementara disisi lain Amira menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Suara hujan terdengar diluar. Gemuruh hujan menggelegar kencang.

Amira menutup telinga, secepat mungkin dia berlari kearah pintu untuk keluar namun saat gagang pintu diputar, ternyata macet, tidak bisa terbuka. Amira menarik nafasnya.

Suara gemuruh hujan semakin keras, Amira takut dia menggedor-gedor pintu. Berharap siapapun akan membukakan pintu.

“Bu Mis? Pak Satpam? Tolong” Teriak Amira, suara bercampur dengan rasa takut.

Amira menggedor pintu sekuat tenaga. Suara kayu yang beradu dengan kepalan tangannya terdengar nyaring di dalam, tapi di luar… hening.

Tidak ada jawaban. Tidak ada langkah kaki.

Seolah seluruh kantor sudah lupa kalau ada orang di dalam gudang ini.

Amira merogoh saku celananya, berharap ada ponsel di sana. Tapi Kosong.

Baru saat itu ia ingat—tasnya masih tertinggal di luar, di atas meja dapur kantor.

Di dalam tas itu ada ponselnya, dompet, semua yang bisa ia pakai buat minta tolong.

tiba-tiba. Jgarrrr!

Tubuh Amira gemetar hebat, saat dentuman gemuruh langit menggelegar dahsyat tepat di atas atap, tubuhnya langsung luruh ke lantai, mendekap lutut sambil menutup telinga rapat-rapat.

Rasa takut seoalah mencekik dadanya. Napasnya tersengal.Air mata jatuh tanpa bisa Amira bendung.

Jgarrr!

Dentuman guntur kembali untuk kedua kalinya menghantam atap genteng membuat Amira semakin merapatkan tubuhnya di balik tumpukan kardus lama. Kedua tangannya menekan telinga kuat-kuat, mencoba menghalau suara badai yang terus memanggil memori kelamnya.Di tengah isak tangisnya yang tertahan, terdengar suara gedoran keras dari balik pintu besi gudang yang macet.

"Amira! Kamu di dalam?!" Sebuah suara familier berteriak panik dari luar, teredam oleh suara hujan deras. Itu suara Zian.

Amira ingin menjawab, namun tenggorokannya terasa tercekat. Bayangan masa lalu seolah sedang mencengkeram lehernya.

"Amira, jawab saya! Tolong jangan bikin panik!" Zian menghantamkan tubuhnya ke pintu.

Brak!

Pintu besi tua itu akhirnya terbuka paksa.

1
Blu Lovfres
lampir sinting😁🤣
Blu Lovfres
nyesek y ternyata nasibnya zian
Blu Lovfres
hadehh amira terlalu lebay banget 😁🤣
Blu Lovfres
😁🤣
Blu Lovfres
next thor
Blu Lovfres
ceo tolol o'on lebih tolol lagi astinnya, 😁
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care
Blu Lovfres
y udah datangkan saja mba kunti bibir merah untuk zian thor 🤣🤣🤣🤣
Blu Lovfres
ga tau kelanjutannya pernikahan amira dn zian
Ni Cristi
yuk yukk pernah baca dimana nihh alur yang mirip nya
Blu Lovfres
Kayak nya ada pernah baca deh alur novel ini ,
Blu Lovfres
mampir kesini thor 😘
Ni Cristi: Welcome 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!