NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Retakan di Balik Layar

Malam semakin larut ketika sedan sport hitam Adrian membelah jalanan aspal basah kota Valerika yang berkilau terpantul lampu-lampu jalan.

Gerimis tipis masih turun, menciptakan lapisan kabut tipis di atas kap mesin yang panas.

Di kursi belakang, Julian duduk terdiam dengan tatapan kosong yang terpaku pada jendela luar, sementara Alea bersandar lelah pada kursi penumpang depan.

Di bawah kungkungan keheningan kabin, Alea masih mengenakan blazer tebal milik Adrian yang kini tidak hanya memberikan kehangatan fisik, tetapi juga rasa aman yang aneh dan intens.

Suasana di dalam kabin mobil begitu sunyi, hanya diiringi oleh deru halus mesin V8 yang bertenaga besar dan ketukan konstan wiper yang menyapu sisa gerimis di kaca depan dengan ritme yang monoton.

Adrian mengemudikan mobil dengan satu tangan pada kemudi, sementara tangan kirinya sesekali mengetuk layar monitor digital di dasbor, memantau laporan terenkripsi dari tim keamanan taktisnya yang baru saja selesai mengamankan seluruh area dermaga tua setelah sistem sangkar Faraday dilumpuhkan secara paksa.

"Kita tidak bisa membawa Julian ke kompleks apartemen atau penthouse kita, Adrian," ucap Alea memecah keheningan yang panjang, suaranya terdengar letih setelah ketegangan ekstrem yang baru saja mereka lalui, namun intonasinya tetap jernih dan penuh perhitungan.

"Dan membawa dia kembali ke apartemen pribadinya sendiri juga terlalu berisiko jika dia masih berada di dalam pantauan langsung oleh 'orang dalam' yang merancang konspirasi ini."

"Aku sudah mengatur tempat yang paling tepat untuknya," sahut Adrian tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan tajamnya dari kondisi jalanan di depan.

"Sebuah rumah aman (safe house) milik Hutama Industries yang terletak di pinggiran kota bagian barat. Tempat itu terisolasi dengan baik. Di sana dia akan diawasi oleh tim medis internal dan personel keamanan bersenjata selama dua puluh empat jam penuh. Dia akan aman di sana, dan yang jauh lebih penting bagi skenario kita, dia tidak akan bisa membuat gerakan ceroboh atau impulsif lagi yang bisa merusak rencana kita."

Dari kursi belakang, Julian mendengus pelan, seulas senyum pahit yang penuh keputusasaan muncul di wajahnya yang pucat karena kedinginan.

"Kalian berdua... benar-benar terlihat seperti sepasang monster korporasi yang sempurna sekarang. Di dalam kepala kalian, tidak ada lagi ruang untuk sebuah kesalahan kecil, dan sama sekali tidak ada ruang untuk sebuah perasaan."

Adrian melirik sekilas melalui kaca spion tengah, sepasang matanya berkilat dingin menembus kegelapan kabin belakang.

"Perasaan adalah sebuah komoditas yang terlalu mahal dan tidak menguntungkan di dalam dunia kita, Julian. Dan seperti yang kau lihat dan rasakan sendiri di dermaga tua malam ini, perasaan emosionalmu yang kekanak-kanakan hampir saja membuatmu berakhir mati membeku di dalam ruang isolasi nitrogen."

Tiga puluh menit kemudian, sedan hitam itu melambat dan berbelok memasuki sebuah halaman vila bergaya minimalis modern dengan pagar beton yang sangat tinggi.

Lokasinya tersembunyi di kawasan perbukitan sunyi yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun.

Sistem pengamanan di tempat ini terlihat sangat berlapis, lengkap dengan kamera sensor termal dan kawat berduri dialiri arus listrik di sepanjang dinding atas.

Dua pria bertubuh tegap pakaian hitam dengan perangkat komunikasi taktis di telinga langsung mendekat dan membukakan pintu belakang untuk Julian.

Sebelum melangkah keluar dari kabin mobil, Julian sempat menahan gerakan Alea yang hendak berbalik menatapnya. Gesturnya tidak lagi agresif, melainkan penuh kepasrahan.

"Alea... mengenai draf wasiat kakekmu itu," cetus Julian dengan suara parau yang bergetar.

"Aku berani bersumpah demi apa pun, cetakan tanda tangan kakekmu pada kertas itu terlihat sangat nyata dan identik dengan yang asli. Jika dokumen itu memang sebuah replika palsu seperti yang dikatakan suamimu, maka orang yang membuatnya pasti tahu persis detail-detail historis spesifik yang hanya diketahui oleh lingkaran keluarga inti Corisand."

Alea tertegun sejenak mendengar penuturan terakhir Julian.

Dia menatap mantan kekasihnya itu dengan saksama, mencoba mencari kebohongan di dalam matanya, sebelum akhirnya mengangguk pelan dengan rahang yang mengencang.

"Aku akan menyelidikinya sampai ke akar-akarnya, Julian. Sekarang, masuklah dan istirahatlah."

Setelah Julian dibawa masuk ke dalam perlindungan ketat rumah aman oleh para personel keamanan, Adrian segera menginjak pedal gas, melajukan kembali mobilnya membelah malam menuju penthouse utama mereka di pusat distrik bisnis.

Sepanjang sisa perjalanan yang memakan waktu dua puluh menit, kata-kata terakhir Julian terus berputar secara konstan di dalam kepala Alea, menciptakan retakan baru dalam analisis taktisnya mengenai siapa dalang di balik sabotase ini.

Begitu mereka tiba di penthouse dan pintu lift privat berlapis baja tertutup rapat di belakang mereka, Alea langsung melepas blazer hitam tebal milik Adrian dan meletakkannya dengan rapi di atas sofa kulit di ruang tengah.

Dia membalikkan tubuhnya, menghadap langsung ke arah Adrian yang sedang berjalan menuju dapur bersih untuk menuangkan air putih ke dalam sebuah gelas kaca bening.

"Adrian, apa yang dikatakan oleh Julian sebelum dia turun tadi ada benarnya," ujar Alea dengan ekspresi wajah yang sangat serius, melangkah mengikuti pergerakan Adrian.

"Jika draf wasiat itu direplikasi dengan printer termal menggunakan detail spesifik keluarga Corisand, artinya pelaku utama memiliki akses fisik langsung ke dokumen-dokumen arsip lama kakekku sebelum beliau wafat. Ini bukan sekadar kasus peretasan siber eksternal dari jarak jauh oleh peretas sewaan."

Adrian berjalan mendekati Alea, memberikan gelas berisi air putih itu kepadanya dengan gerakan yang tenang.

"Aku sudah memikirkan kemungkinan itu sejak awal. Itu sebabnya saat aku memeriksa file sistem CMS kantormu yang jebol tadi siang, aku menyuruh Doni, kepala analis IT-ku untuk menyalin dan mengirimkan seluruh daftar riwayat login administrator dalam tiga bulan terakhir ke peladen pribadi Hutama."

Adrian mengeluarkan gawai satelit taktisnya dari saku, lalu dengan satu ketukan jari, dia memproyeksikan sebuah bagan data digital beresolusi tinggi langsung ke dinding kaca raksasa penthouse.

Layar proyeksi itu menampilkan visualisasi grafik akses jaringan yang sangat rumit dengan baris-baris kode biner.

"Lihat dengan teliti pada bagian ini," tunjuk Adrian pada salah satu baris kode akses yang telah diberi tanda warna merah menyala oleh sistem analisisnya.

"Ada satu akun administrator bayangan (ghost account) yang menggunakan protokol enkripsi kuno. Jenis protokol ini adalah modul yang sama dengan yang digunakan oleh dewan direksi lama Corisand Group lima tahun yang lalu. Akun mati ini mendadak aktif tepat empat puluh delapan jam sebelum serangan sabotase listrik di penthouse kita terjadi."

Alea melangkah maju beberapa senti mendekati dinding kaca, membaca nama enkripsi dan nomor registrasi akun tersebut dengan detak jantung yang berdegup jauh lebih kencang dari biasanya.

"Ini... ini tidak mungkin. Ini adalah kode akses enkripsi milik mendiang pamanku, Arthur Corisand. Tapi dia sudah didepak secara tidak hormat dari dewan direksi dan diasingkan ke luar negeri sejak kasus penggelapan dana korporasi lima tahun lalu!"

"Arthur Corisand mungkin sudah tidak memiliki kekuasaan fisik lagi di dalam gedung kantormu saat ini," sahut Adrian, melingkarkan kedua lengannya di depan dada tegapnya sambil terus menatap tajam ke arah bagan data digital di dinding.

"Tapi dia adalah rubah tua. Dia masih memiliki loyalitas buta dari orang-orang lama yang dulu dia tempatkan di dalam struktur analisismu. Seseorang yang saat ini duduk di dalam ruang redaksimu, Alea, sedang bekerja secara aktif sebagai mata, telinga, dan tangan kanan untuk pamanmu. Serangan siber hari ini dikendalikan dari dalam kantormu sendiri."

Alea menarik napasnya dalam-dalam, merasakan beratnya rasa pengkhianatan yang perlahan-lahan mulai terkuak dari dalam lingkaran keluarganya sendiri.

Rasa frustrasinya sempat memuncak, namun ketika dia menoleh ke arah Adrian, dia menemukan pria itu sedang menatapnya dengan sepasang mata elang yang tidak lagi sedingin atau sekaku biasanya.

Di balik topeng pragmatis dan kalkulatif milik sang taipan muda, kini ada kilatan determinasi yang kuat untuk melindungi integritas aliansi mereka berdua.

"Pernikahan kontrak kita... pada awalnya hanya dirancang di atas kertas untuk menstabilkan fluktuasi harga saham dan menenangkan dewan pengawas independen pasca-merger," ucap Alea dengan suara yang merendah, terdengar intim di tengah keheningan malam penthouse yang mewah.

"Tapi sekarang, kita berdua sedang menghadapi sebuah perang keluarga yang sesungguhnya, sebuah konspirasi yang ingin menghancurkan kita berdua sekaligus."

Adrian mengambil satu langkah maju ke depan, memperkecil jarak spasial di antara mereka hingga Alea bisa merasakan kehangatan fisik yang memancar dari tubuh pria itu.

Kedekatan ini tidak lagi terasa mengintimidasi, melainkan memberikan rasa aman yang kokoh.

"Kesepakatan kontrak kita mungkin memang berawal dari tanda tangan di atas kertas formal, Alea," bisik Adrian, suaranya terdengar berat, dalam, dan sarat akan otoritas mutlak yang tidak terbantahkan.

"Tapi siapa pun arsitek di balik layar yang mencoba menghancurkan Corisand Media Group saat ini, mereka secara otomatis juga sedang menantang validitas dan kehormatan dari nama besar Hutama. Dan aku adalah tipe pria yang tidak akan pernah membiarkan sekutuku jatuh atau dihancurkan oleh musuh."

Adrian mengulurkan tangan kanannya perlahan.

Gerakan itu bukan lagi sebuah jabat tangan formal yang kaku seperti di awal kesepakatan bisnis mereka, melainkan sebuah gerakan personal yang mendarat lembut di sisi wajah Alea.

Dengan ujung jemarinya yang hangat dan tegas, dia merapikan beberapa helai rambut panjang Alea yang berantakan akibat embusan angin laut di dermaga tua tadi.

Sentuhan personal Adrian yang tak terduga itu mengirimkan gelombang getaran asing yang kuat, membuat Alea terpaku di tempatnya, menatap lurus ke dalam manik mata pria yang kini menjadi suaminya tersebut.

"Mulai besok pagi saat matahari terbit," bisik Adrian, matanya mengunci pandangan Alea dengan tingkat intensitas yang mutlak dan penuh dominasi.

"Kita tidak akan lagi bermain secara bertahan di dalam catur mereka. Kita akan mengambil alih kendali permainan, masuk ke ruang redaksimu, dan membersihkan orang-orang pamanmu dari dalam sistem satu demi satu tanpa sisa."

Alea merasakan sebuah keyakinan dan kekuatan baru yang membakar habis sisa-sisa rasa frustrasi di dalam dadanya. Dia perlahan mengangkat tangan kanannya, meletakkannya di atas tangan Adrian yang masih menempel hangat di pipinya, lalu mengangguk dengan sorot mata yang penuh determinasi.

"Mari kita hancurkan mereka bersama-sama, Adrian. Jangan sisakan satu pun dari mereka."

Di luar jendela kaca raksasa penthouse, lampu-lampu kota Valerika berkedip-kedip indah seperti hamparan permata di kegelapan malam yang pekat. Namun, di sebuah tempat tersembunyi yang sangat jauh dari pusat kota, di dalam sebuah ruangan bawah tanah yang diterangi oleh deretan monitor, Arthur Corisand sedang duduk di kursi kerjanya.

Matanya yang keriput menatap layar komputer yang baru saja menampilkan notifikasi sistem: Peringatan: Akun Bayangan Arthur-05 Telah Terdeteksi oleh Enkripsi Hutama.

Sebuah senyuman licik yang penuh kemenangan perlahan terkembang di wajah tua pria paruh baya tersebut.

Skenario jebakan menggunakan nitrogen di dermaga tua tadi malam sejak awal memang tidak pernah dirancang olehnya untuk berhasil mengunci atau mencelakai keponakannya secara fisik.

Sebaliknya, tekanan ekstrem itu sengaja diciptakan sebagai katalisator untuk memaksa kedua raksasa muda itu menyatukan seluruh kekuatan, logika, dan rasa percaya mereka secara total, tepat seperti skenario jangka panjang yang sedang ia persiapkan dengan matang untuk babak penghancuran yang sesungguhnya.

Roda gigi takdir kini telah berputar lebih cepat, membawa semua pemain masuk ke dalam pusaran konflik yang tidak akan menyisakan ruang bagi mereka yang lemah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!