Miranda Amalia, seorang gadis miskin berumur 16 tahun, dilamar oleh keluarga Pratama yang kaya raya untuk dinikahkan dengan anak tunggal mereka, Kevin Pratama, yang baru berusia 17 tahun. Ternyata Miranda dijadikan menantu agar bisa merawat Kevin yang lumpuh akibat sebuah kecelakaan.
Hingga suatu hari, seorang dokter berhasil menyembuhkan Kevin dari kelumpuhan. Dan untuk membalas budi pada dokter itu, Keluarga Pratama menjodohkan Kevin dengan anak sang dokter yang bernama Celine Richardo. Karena itu, mereka menceraikan Miranda dari Kevin dan mengusirnya.
Sepuluh tahun berlalu, tiba-tiba Kevin menemukan Miranda bekerja menjadi karyawati di sebuah perusahaan yang baru dibelinya. Merasa bersalah pada gadis itu, ia pun mendekatinya. Namun, yang dirasakan ternyata lebih dari sekedar rasa bersalah, tetapi juga rasa cinta, yang dulu tak pernah terpikirkan olehnya saat masih menjadi suaminya.
Maukah Miranda menerima Kevin yang terus mengejarnya, sedangkan Kevin telah beristri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Three Flowers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETAHUAN
Makanan dan minuman di meja telah tersaji seluruhnya. Kevin mempersilahkan Miranda untuk menyantapnya. Miranda sesekali mencuri pandang ke tempat Jaya Pratama duduk di meja yang lain.
“Kevin, apa tidak sebaiknya kita pergi dari sini. Aku khawatir Papamu salah paham pada kita,” bisik Miranda. Wajah wanita cantik itu kini tampak pucat pasi.
Kevin tersenyum tipis. “Sudah, nikmati saja makanannya. Aku sudah bilang, aku yang akan menghadapinya,” ujarnya tenang sambil menikmati makanannya.
Miranda merasa sangat canggung dengan situasi itu. Sambil menyantap makanannya meski dipaksakan, ia terus berpikir. Kira-kira apa yang dipikirkan oleh ayah Kevin saat ini? Dan apa yang akan dilakukannya nanti padanya? Apakah ia akan memberitahukan hal ini pada keluarganya?
“Miranda, ayo habiskan! Kamu suka ini, kan?” Kevin menatapnya tanpa rasa bersalah sambil menambahkan lauk kesukaan Miranda ke piring wanita itu.
“Kevin, apakah Papamu akan melaporkan hal ini pada Mamamu? Bagaimana kalau istrimu tahu bahwa kamu sedang makan bersamaku?” tanya Miranda sambil berbisik.
“Biarkan saja mereka. Salah sendiri mereka memisahkan aku dengan istriku,” sahut Kevin tidak peduli.
Miranda menatapnya tajam, “Kamu tidak bisa begitu, Kevin. Kamu sendiri juga sudah menerima perjodohan itu dan menikahinya. Jadi kamu harus bertanggungjawab pada keluargamu.”
Kevin tersenyum getir, “aku sudah menjalani keinginan mereka dengan baik. Tapi ada satu hal yang secara naluriah tidak bisa dipaksakan.”
“Aku tidak peduli dengan masalah rumah tanggamu, Kevin. Yang jelas, aku tidak ada hubungan denganmu lagi! Kita sudah berakhir,” ujar Miranda, lalu ia segera menyantap makanannya karena ingin segera berlalu dari tempat itu. Tempat dimana ayah Kevin juga makan di situ dan sesekali menatap ke meja mereka dengan tatapan dingin.
Kevin tidak menanggapi kata-kata Miranda. Ia hanya diam sambil terus menikmati makanannya, seolah kejadian tadi bukan masalah besar baginya. Miranda pun akhirnya diam dan melanjutkan makannya dengan susah payah karena lidahnya terasa kelu untuk menelan.
Setelah selesai makan dan memanggil pelayan untuk membayar tagihannya, Kevin pun berdiri dari duduknya. Miranda ikut berdiri, masih dengan kegugupannya karena Papa Kevin masih berada di sana.
“Ayo, Miranda. Kita berpamitan pada Papa!” ajak Kevin pada Miranda.
Miranda tersentak. ‘Harus, ya? Iya, harus! Tidak sopan kalau tidak pamit. Bagaimanapun pernah saling mengenal dan pernah menjadi keluarga,’ batin Miranda memantapkan niat.
Miranda mengikuti langkah Kevin menuju ke meja Papanya dengan jantung berdebar kencang. Lalu sampailah mereka di depan meja makan Jaya Pratama. Lelaki berwajah kharismatik itu menatap Kevin.
“Papa, aku pamit dulu,” Kevin mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Papanya.
Jaya Pratama menyambut uluran tangan itu, lalu Kevin mencium punggung tangannya.
“Sa-saya juga pamit, Pak Jaya,” ucap Miranda dengan canggung sambil membungkukkan badannya. Ia tidak berani mengulurkan tangan untuk bersalaman karena takut ada penolakan dari pria paruh baya itu.
Jaya Pratama mengangguk. “Bagaimana kabarmu, Miranda?” sebuah pertanyaan tak terduga untuk Miranda.
“Saya baik-baik saja, Pak Jaya,” sahut Miranda sopan, tapi debaran jantungnya makin tak beraturan.
“Bagaimana kalian bisa bertemu?” kali ini pertanyaan itu ditujukan pada Kevin karena tatapan mata Jaya jatuh pada putranya itu.
“Tuhan yang mempertemukan kami kembali,” jawab Kevin dingin. Tampak kemarahan yang selama ini tidak pernah ia ungkapkan sebelumnya, atas keputusan orang tuanya yang menjodohkan dia dengan Celine dan membuang Miranda.
Miranda tersentak. Jawaban macam apa itu? Ia khawatir Jaya Pratama akan semakin marah mendengarnya.
“Oh,” ternyata hanya itu komentar Jaya Pratama. Lalu pria itu memalingkan wajah dari mereka berdua dan melanjutkan makannya, seolah kehadiran keduanya tidak pernah ada.
Kevin menggandeng tangan Miranda dan membawanya pergi dari hadapan Papanya. Miranda tidak bisa menolaknya, karena ia merasa takut, putus asa dan butuh perlindungan. Mentalnya yang menciut di depan mantan ayah mertuanya telah diselamatkan oleh Kevin.
Keluar dari restoran, Miranda melepaskan genggaman tangan Kevin dan menghela nafas lega sambil memegang dadanya.
“Fiuhhh...” gumamnya lega.
Kevin yang melihat hal itu langsung tersenyum geli. “Kenapa, Miranda? Kamu takut?”
“Tentu saja aku takut, Kevin!” jawab Miranda kesal. “Aku merasa seperti ....”
“...seperti apa?”
“... seperti pelakor yang sedang ketahuan.”
Kevin tertegun mendengar jawaban Miranda itu. Rasa prihatin menelisik dalam hatinya, sambil mencari celah pembenaran di sana.
“Tapi kamu bukan pelakor. Kamu tidak bersalah dan kita tidak pernah bercerai secara langsung,” sanggah Kevin.
“Sepuluh tahun adalah waktu yang bahkan terlalu berlebihan untuk menceraikan suatu ikatan pernikahan,” sanggah Miranda.
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak menolak ku malam itu?” tanya Kevin seakan mengujinya.
“Malam itu aku tidak berdaya melawan kekuatanmu. Dan aku tidak mungkin berteriak meminta tolong pada orang lain karena aku tidak mau menimbulkan kekacauan yang akan menghancurkan mu!” jelas Miranda.
“Jadi kamu masih mengkhawatirkan ku dan rela membiarkan dirimu sendiri hancur?” tanya Kevin lagi, kali ini ia terlihat puas mendengar jawaban Miranda tadi.
Miranda terdiam dan tidak ingin menjawab. Semakin dijawab, Kevin akan semakin mengejarnya. Ia cukup diam sambil memendam rasa marahnya pada pria itu.
Sepanjang perjalanan dengan menggunakan taxi, Miranda mengutuki dirinya sendiri yang masih bersama Kevin. Apalagi Kevin mengajaknya berhenti di sebuah toko pakaian dan membelikannya bebarapa baju meski ia sudah menolaknya. Kevin dengan mudah meminta pelayan toko untuk mengambilkan baju yang sesuai untuk Miranda. Lalu beralih pada baju untuk Silvia, Kevin kembali meminta bantuan pelayan toko.
“Aku tidak mau menerimanya!” tolak Miranda tegas.
“Kalau bajumu kotor selama beberapa hari di sini, apa kamu mau mencuci dan menjemurnya di balkon rumah sakit?” ledek Kevin.
Miranda tidak menjawabnya lagi, namun tetap tidak mau mengambil tas yang berisi baju-baju itu. Ia berjalan tanpa menghiraukan Kevin lagi, meski pada akhirnya ia tetap masuk ke dalam taxi yang sama bersama Kevin untuk kembali ke rumah sakit.
****
Keesokan paginya, Miranda baru bisa merasa tenang, karena Kevin tidak muncul lagi di ruang rawat inap Silvia. Pria itu mengatakan ia akan menyelesaikan pekerjaannya di Ibu kota ini bersama papanya.
“Seharusnya memang begini, Kevin. Aku tidak butuh kamu temani, karena itu akan menimbulkan masalah dan rasanya canggung kalau selalu bersama suami orang,” gumam Miranda.
Dengan leluasa ia bisa menemani Silvia yang sedang dalam penanganan medis. Silvia nampak lemas karena efek dari prosedur medis yang dijalani, tapi mata gadis kecil itu tampak berbinar saat Miranda memberikannya kesempatan untuk video call dengan mamanya.
Marina, kakak Miranda satu-satunya, yang merupakan ibu dari Silvia, sangat senang anaknya ditolong oleh Kevin untuk mendapatkan pengobatan yang terbaik. Miranda telah menceritakan pertemuannya yang tak terduga dengan Kevin dan menceritakan maksud baik Kevin pada Silvia.
Miranda tidak menceritakan tentang insiden yang dialaminya bersama Kevin pada malam saat kebakaran pabrik itu, biarlah itu menjadi rahasianya seumur hidup. Ia hanya menceritakan segala hal baik tentang Kevin agar kakaknya itu tidak kepikiran.
“Kalau Silvia sembuh, Mama akan pulang dan membuka warung nasi, jadi bisa menemani Silvia lagi,” janji Marina pada putrinya. “Silvia harus semangat, ya!”
Miranda menatap Silvia yang sedang menatap wajah kakaknya melalui ponselnya. Dalam hati, ia juga ingin keluar dari pabrik itu, bekerja dengan kakaknya dan meninggalkan semua urusannya dengan Kevin.
‘Silvia, cepatlah sembuh. Kita pasti akan hidup bahagia bersama mamamu,’ ucap Miranda dalam hati.
Miranda lalu menyapukan pandangannya pada kamar rawat inap Silvia itu. Ruang VVIP yang begitu mewah, dan mereka akan berada di sini dalam waktu lama. Belum lagi biaya dokter dan obatnya. Pasti Kevin akan mengeluarkan banyak uang untuk Silvia.
‘Bagaimana aku bisa membalasnya? Butuh berapa lama untuk mencicil semua biaya pengobatan ini?’ batinnya sedih. Padahal jelas-jelas Kevin tidak akan memintanya untuk mengembalikan semua itu, tapi Miranda merasa sangat tidak enak hati.
Dua hari kemudian, Kevin mendatanginya lagi setelah lama tidak menampakkan diri. Ia datang membawakan makanan untuk Miranda dan Silvia, tentu saja jenis makanan yang aman bagi Silvia karena ia sudah berkonsultasi dengan Dokter terlebih dahulu.
Kevin tidak lagi bersikap berlebihan pada Miranda, karena ia hanya sempat menjenguk sebentar. Ia mengatakan akan kembali ke kota tempat mereka tinggal karena urusan pekerjaannya di ibu kota ini sudah selesai.
“Penuhi segala kebutuhanmu dengan kartu debit itu, Miranda,” ujar Kevin pada Miranda. “Kamu tidak perlu merisaukan apapun karena lama tidak bekerja.”
“Terimakasih, Pak Kevin,” kali ini Miranda kembali memanggilnya dengan sopan.
Kevin mengernyitkan dahinya, “Pak?”
Miranda tersenyum. Sikapnya kembali menjadi karyawan yang patuh pada Atasannya.
“Maafkan saya yang selama ini sudah berlaku tidak sopan,” ucap Miranda tulus.
Ia telah merenung selama dua hari tanpa Kevin dan akhirnya menyadari betapa besarnya pertolongan Kevin padanya dan Silvia. Dan ia juga menyesal karena telah bersikap kasar pada Kevin hanya karena masalah pribadinya.
“Aku lebih senang kamu memanggilku Kevin,” ujar Kevin.
Miranda menggelengkan kepalanya. Kevin lalu tersenyum padanya. ‘Kamu mulai membuat batas lagi rupanya,’ batin Kevin.
Tapi ia membiarkannya karena tidak ingin membuat wanita itu marah-marah terus. Kevin harus segera kembali mengurus pekerjaannya. Urusan Miranda dianggapnya sudah teratasi dengan kartu debitnya. Wanita itu pasti bisa bertahan hidup dengan baik selama di ibu kota meski tanpa dirinya.
****
Setibanya di rumah, Kevin dikejutkan dengan kehadiran kedua orang tuanya. Mereka sedang duduk santai bercengkrama di ruang tamu bersama Celine. Papa Kevin memang pulang sehari lebih cepat daripada putranya itu.
“Akhirnya kamu datang juga, Kevin!” seru Maya, mama Kevin.
Celine langsung menghambur ke arah suaminya dan menciumnya mesra. Jaya Pratama hanya menatapnya sekilas, lalu melanjutkan menikmati kopinya.
“Mama kapan datang?” tanya Kevin sambil menyalami dan mencium tangan Mamanya.
“Sejam yang lalu. Mama rindu sekali padamu, jadi mengajak Papamu ke sini,” jawab Maya dengan mata berbinar.
“Pa...,” Kevin mengulurkan tangannya pada Papanya. Jaya menyambutnya meski dengan wajah dingin.
‘Apakah Papa sudah menceritakan tentang Miranda pada Mama dan Celine? Sepertinya belum, melihat mereka masih bersikap normal padaku,’ batin Kevin sambil mencium punggung tangan Papanya.
“Duduk sini dulu, Kevin,” pinta Maya pada putranya.
Kevin duduk di sebelah mamanya. Sang Mama memandangi wajah putranya dengan lembut.
“Kemarin mertua kamu, Dokter Richardo dan Bu Meli datang ke rumah. Mereka membicarakan tentang keinginan mereka untuk menimang cucu dari Celine,” ujar Mamanya.
Kevin tersentak. Cucu? Tumben mereka membahas hal ini lagi setelah sekian lama.
“Hanya untuk itu?” tanya Kevin sinis. Celine menatapnya sedih.
Maya menarik nafas panjang sebelum mulai berkata lagi. “Mereka ingin kamu dan Celine melakukan pemeriksaan kesuburan. Kalau memang ada masalah, biar segera dapat ditangani sebelum usia Celine menuju ke usia rawan kehamilan.”
“Aku tidak bisa memberi kalian cucu,” sahut Kevin singkat. “Kalau mertuaku ingin cucu, sebaiknya mereka menikahkan Celine dengan orang lain saja, aku tidak keberatan.”
“Kevin!” bentak Celine dan Maya hampir bersamaan.
Jaya Pratama langsung mengangkat kepalanya dan menatap Kevin dengan tajam. Kevin justru menantang tatapan tajam papanya itu, seolah mengingatkan bahwa laki-laki itu sudah tahu alasannya.
“Mama, dia selalu berkata begitu setiap kali diajak konsultasi ke dokter!” Celine langsung mengadu pada Maya. Matanya berkaca-kaca, menggambarkan betapa sakitnya ia dengan ucapan kasar Kevin tadi.
“Kevin, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Jangan seperti itu, nak,” akhirnya Maya merendahkan suaranya.
“Celine,” Kevin menatap mata istrinya, “katakan saja pada Mama apa yang terjadi sebenarnya!”
“Ada apa, sih?” tanya Maya pada Celine.
“Kevin masih trauma, Ma. Dia selalu menolakku karena merasa terancam,” jawab Celine dengan muka memerah. Menceritakan hal itu sama saja dengan melukai harga dirinya sendiri, karena membuka aibnya sebagai seorang istri yang selalu ditolak suaminya.
“Jadi kalian tidak pernah melakukannya?” tanya Maya, terbelalak kaget. Celine dan Kevin mengangguk bersamaan.
Tiba-tiba Jaya Pratama terkekeh dan sontak semua menatap heran padanya.
“Kenapa Papa malah tertawa?” tanya Maya.
“Sudah sepuluh tahun lebih masih trauma?” ejek Papanya. “Aku tidak yakin.”
“Maksud Papa?” tanya Celine, tercengang dengan ucapan ayah mertuanya itu. Sementara Kevin menatap Papanya dengan tatapan tajam sambil mengepalkan kedua tangannya.
*** BERSAMBUNG***
Apakah Jaya Pratama akan mengatakan pada keluarganya bahwa ia telah bertemu dengan Kevin yang kembali bersama Miranda saat berada di Ibu Kota?
IKUTI TERUS KELANJUTANNYA YA...
tapi mana mungkin, hehehehe...
biar kevin tahu rasa