NovelToon NovelToon
AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Duda / Komedi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.

Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.

Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.

Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.

Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. ROSÈ BLACKPINK

"Al..."

Erina kembali membuka kedua matanya, lemah dan menitik basah. Sepenggal nama itu pun meluncur lirih--begitu saja--dari bibirnya yang kering dan pucat seakan kurang darah.

"Sudah sadar, Bu?"

Dokter dan Perawat dengan sigap mendekat dan memeriksa. Erina mengerjap linglung.

"Ibu bisa dengar suara saya?" tanya dokter.

Erina mengangguk lemah.

Usai melakukan pemeriksaan dengan stetoskop, sang dokter pun mengeluarkan senter kecil dari saku jasnya dan hendak mengetes reaksi pupil Erina.

"Bisa lihat saya dengan jelas?"

Erina mengangguk. Matanya refleks menyipit usai disorot cahaya senter itu.

"Fungsi indera baik," sang dokter mengangguk. "Ibu baru saja menjalani operasi pengangkatan tumor otak. Kami harus pastikan neurologis Ibu juga berfungsi normal... coba angkat tangan kanan Ibu, ya. Perlahan saja. Bisa?"

Erina merasa kepalanya berkabut dan tubuhnya hampir kebas, tetapi ia sanggup mengangkat tangan kanannya sesuai perintah dokter. Kemudian menggenggam dengan tangan kiri. Kemudian menggerakkan kedua kaki sampai ujung jari.

"Bagus sekali. Sekarang, bisa sebutkan nama Ibu?"

Erina berbisik serak, "Rosè Blackpink."

Dokter dan perawat sama-sama mengerjap dan bungkam beberapa detik.

"Ma...!"

Saga yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan ICU untuk menunggui ibunya, tak tahan lagi untuk memanggil--matanya melebar dan ekspresinya sangat khawatir.

"Saga...," Erina hampir meneteskan air mata lagi, terharu melihat putranya setia menjaganya, sesuai janjinya semalam.

"Ibu ingat nama anak Ibu? Bagus... tolong sebut nama asli Ibu sekali lagi," pinta dokter, sorot pandangnya menajam.

Erina hampir merengut.

"Nama asli saya Erina Hutomo... tapi saya mau jadi Rosè Blackpink..."

Perawat yang sedang mencatat di clipboard-nya tak bisa lagi menahan senyum.

"Kenapa mau jadi Rosè, Bu?"

"Ya kalau jadi Rosè--cantik dan pintar menyanyi-- saya pasti tak akan ditolak Jungkook jadi istri...," Erina mencebik muram, teringat mimpinya.

Saga menghela napas panjang sembari mengacak rambutnya sendiri. Ia pikir ibunya selalu bersikap dan berpikir absurd gara-gara ada tumor di otaknya. Tetapi setelah gumpalan daging itu diangkat pun, kelakuan sang ibu ternyata tak berubah.

Tetapi setidaknya, itu menunjukkan Erina baik-baik saja. Saga diam-diam tersenyum lega.

"Oke. Ibu ingat sekarang tahun berapa?" tanya dokter lagi.

"2026. Dan saya akan semakin tuwir di tanggal 1 Januari 2027 nanti," jawaban Erina hampir seperti keluhan.

Dokter pun tersenyum.

"Ingatan Bu Erina berfungsi baik. Ini melegakan."

"Nggak sekalian nanya kode spare part motor yang biasa saya input di komputer kantor? Harga cabe yang saya beli tahun lalu? Saya ingat semua," gerutu Erina.

"Saya percaya ingatan Ibu memang sebagus itu... saya mungkin kalah," timpal sang dokter ramah. "Sekarang apa ada gejala tertentu yang Ibu rasakan? Mual? Pusing?"

Setelah memastikan kondisi Erina cukup baik dan stabil, dokter dan perawat pun undur diri dengan ekspresi tenang. Saga tak ragu mendekat dan menggenggam tangan ibunya, air matanya menggenang.

"Terima kasih, Ma..."

Erina mengernyit. "Untuk apa...? Mama belum kasih kamu kado, kamu belum ulang tahun..."

Saga tertawa kecil, dan mengusap matanya.

"Mama tepat janji--melewati operasi dengan selamat. Itu lebih indah dari kado ulang tahun mana pun..."

Erina tersenyum, diam-diam menahan haru.

"Berarti nanti ulang tahun nggak usah dibelikan PS6, ya?" goda Erina.

Giliran Saga mengerutkan kening.

"Belum rilis kali, Ma... lagian Saga nggak pernah bilang pengen PS. Saga nggak begitu suka main game," ujarnya tanpa basa-basi.

"Ah... iya," Erina menepuk dahi, merasa malu sendiri--Saga yang minta PS6 itu hanya ada dalam mimpi. Saga yang asli akan lebih suka dibelikan samsak tinju dan berlatih menghajar sungguhan daripada cuma meninju lawan dalam layar permainan.

Mengenai mimpi, Erina jadi teringat Alvin yang menikahinya tetapi kemudian mengakhiri hidup dengan tragis gara-gara salah paham perkara kolor.

Mimpi macam apa itu?

Meski merasa konyol, namun Erina diam-diam mulai menaksir sekitar--seakan berharap ada orang lain di sana. Lebih tepatnya, berharap Alvin ada di ruangan itu juga--sebab Alvin hampir tak pernah absen membesuk dan menjaganya sejak ia dirawat di rumah sakit.

"Kenapa, Ma?"

Gelagat Erina tertangkap netra hitam dan tajam. Saga.

"Ah... enggak," Erina tersenyum kecil untuk menyembunyikan perasaan. "Cuma lihat-lihat aja... ICU ternyata dalamnya kayak gini, ya... persis kayak di film-film..."

"Hmm," gumam Saga. "Kirain nyariin Om Alvin."

Erina tak bisa mencegah wajahnya memerah. Tetapi ia berusaha untuk tetap tenang.

"Nggak lah. Ngapain juga nyariin Om Alvin... nggak penting tuh orang," tukas Erina kalem, meski inti dadanya mulai terasa menghentak. "Udah dibilang Mama tertarik lihat-lihat dalamnya ICU. Kayaknya peralatan di sini mahal banget, ya? Milyaran pasti ya harganya. Duit segitu ditaruh di kontrakan kita bikin semua ruangan penuh kali ya... sampai semut pun mungkin nggak punya cukup ruang buat puter balik dan kentut..."

Saga tahu racauan Erina kali itu untuk menutupi perasaannya. Justru Erina yang tak tahu, bahwa Saga menyaksikan dan mendengar semua igauannya begitu operasi selesai dan dipindahkan ke kamar ICU--termasuk, kalimatnya dalam mimpi yang kemudian mengalun lirih secara nyata, "Aku mencintaimu, Alvin..."

Kalimat itu menohok Saga dalam--tapi hingga Erina siuman dan mengoceh, ia memutuskan tak berkomentar atau membahasnya.

"Mama kalau butuh atau ingin sesuatu bilang, ya...," ujar Saga lembut.

"Hmm... Mama ingin sesuatu...," gumam Erina, wajahnya tersipu.

Saga membeku, bahkan nyaris membelalak.

Jangan bilang Mama ingin Om Alvin...?!

"Ingin apa, Ma?" tanya Saga tajam, jantungnya berdentam-dentam.

"Bukan apa...," sanggah Erina malu-malu. "Tapi siapa..."

Saga benar-benar tak siap dengan semua ini--suara hati ibunya, dan kemungkinan ia akan segera punya ayah tiri meski ia sama sekali tak ingin dan tak sudi.

"Yang benar aja Ma!" Saga tak tahan lagi hingga hampir berteriak. "Masa Mama ingin laki-laki itu? Sadarlah, Ma! Jangan kelewatan gini...!"

Erina mengerjap. Mukanya semakin merah dan bibirnya melekuk muram.

"Iya maaf... Mama kelewatan ya..."

Saga membuang napas kasar. "Ya, tolonglah, Ma..."

"Iya, maaf... Mama nggak akan bilang ingin Jungkook lagi..."

Saga benar-benar ternganga sekarang.

"Hah?"

"Iya maaf Mama nggak tahu diri... masa di saat begini Mama malah ingin Jungkook," Erina menarik napas dalam, raut mukanya kian suram. "Memangnya dia cokelat yang bisa dengan gampang didapat di minimarket... halu dan asbun kali Mama... maaf ya Ga..."

Saga mengerjap, entah harus merasa jengkel atau lega. Penyakit ibunya yang satu itu--asbun, ngaco, halu--sepertinya tak akan pernah sembuh dengan operasi apapun. Sudah setelan pabriknya begitu, dan sampai kiamat akan terus begitu.

Tapi mungkin lebih baik Erina terus menginginkan Jungkook yang tak mungkin digapainya sampai masuk liang kubur, daripada ia menginginkan Alvin yang sudah masuk daftar hitam Saga sebagai buaya dengan modus berbahaya dan tak bisa dipercaya.

"Mama istirahat aja deh," gumam Saga. "Tidur. Siapa tahu nanti ketemu Jungkook dalam mimpi... halunya sekalian aja jadi mimpi bahagia..."

Erina serta merta tersenyum cerah.

"Iya juga ya... siapa tahu di mimpi berikutnya Mama bisa menikah sama Jungkook--apalagi si Glioma Boxer udah nggak ada, jadi nggak bakal lagi dia bisa menghalangi Mama memeluk Jungkook dengan kaca dan spanduk, hahaha...!"

Saga--yang tak sepenuhnya mengerti apa yang diocehkan dan ditertawakan Erina--berusaha keras tak membenturkan jidatnya ke monitor detak jantung di sebelah pembaringan sang ibunda, dan hanya bisa tersenyum pasrah.

***

1
Shamira Zee
Udah dibilang jangan ngurus langsung vin yanh ada kamu ambyaaarr
Shamira Zee
Saga nggak pulang, Alvin tiba-tiba diserang... Erina juga kayaknya belum sembuh... mulai dar-der-dorr ceritanyaa
Shamira Zee
Dari tumor ganti jamur... asbun kali Harum 😭🤣 Kayaknya konfliknya mulai naik ya /Chuckle/
Shamira Zee
Jangan macem-macem deh vin... yang ada tambah rusuh bukannya tambah beres /Hammer/
Shamira Zee
Nggak sama vin... emak dan masmu kayak es batu, sementara kamu semprul 🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
Nah lhoo kepergok ibunda ratu... astagaa malu gak tuuh 🤣🤣🤣
Nyonya Billy
😂😂😂😂 alvin ini orang kaya dan baik tapi kayaknya nasibnya kurang baik 😂
Nyonya Billy
Kasihan Saga salah paham terus punya mama kayak Erina 😂
Nyonya Billy
Walau absurd dan kocak, tapi mimpinya nyambung sama kondisi Erina yang lagi diangkat tumornya... bisa aja bikin beginian thor 😂
Nyonya Billy
Perutku sakit, ngak bisa berhenti ketawa... aduuh 😂
Nyonya Billy
Kasihan Erina... semoga lekas sembuh
Nyonya Billy
Rusuh tapi lucu 😂
Nyonya Billy
Rosalinda... makhluk berbatang pisang... astagaa 😂
Nyonya Billy
Kamar bersalin dan Alvin melahirkan... thor kamu kocak amat sih 😂
Shamira Zee
Gimana konsepnya lagi mimpi ena-ena lah kebangun sama ringtone hp sendiri yang nyeleneh 🤣🤣🤣 Alvin emang koplak 🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 wes gak tahu mau bilanh apa erina absurdnya udah di luar nurul, makanya tumornya juga kocak 😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 capek mgakak 🤣🤣🤣😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
Susahnya dapat restu 😭 Bu andin ngidam apa dulu bu anaknya modelan alvin 😭🤣
Shamira Zee
Jangan galak-galak Ga itu calon bapakmu udah baik banget lho mau yang spek kayak gimana lagi coba... mana mamamu absurd orangnya 😭🤣
Nyonya Billy: Setuju 😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!