"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Sandi di Balik Permata Safir
Setelah badai konspirasi dan kejatuhan Hendrawan yang mengguncang seluruh pusat finansial, Adrian mengambil keputusan cepat yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun. Ia memindahkan Elena malam itu juga ke sebuah vila privat tersembunyi yang terletak jauh di atas perbukitan kabut, sebuah wilayah terisolasi yang tidak tersentuh oleh hiruk-pikuk publik maupun radar sisa-sisa anggota Syndicate. Vila megah bergaya arsitektur gotik modern itu dikelilingi oleh hutan pinus yang lebat dan dijaga ketat selama dua puluh empat jam penuh oleh tim keamanan internal elite dari Arsa Group yang dipersenjatai lengkap. Bagi Adrian, tempat ini adalah benteng terakhir untuk memastikan keselamatan wanita itu.
Malam semakin larut, dan hujan turun dengan sangat deras di luar, menghantam kaca-kaca jendela besar ruang kerja pribadi Adrian dengan suara berisik yang ritmis. Di dalam ruangan, suasananya justru terasa sangat kontras. Hening, hangat, dan dipenuhi oleh ketegangan yang tak kasat mata. Di atas meja kerja berbahan kayu jati kuno yang hanya diterangi oleh seberkas lampu meja temaram, kalung permata biru safir milik mendiang ibu Elena diletakkan di atas selembar kain beludru hitam pekat. Di samping perhiasan itu, sebuah perangkat pemindai laser tiga dimensi berteknologi militer tampak menyala, memancarkan sinar neon kebiruan yang bergerak naik turun memindai permukaan batu mulia tersebut. Alat itu terhubung langsung ke sebuah layar monitor komputer berukuran besar yang menampilkan diagram matriks rumit.
Elena berdiri mematung di samping kursi kerja Adrian, sepasang matanya yang indah sama sekali tidak berkedip menatap layar yang sedang memproses visualisasi struktur molekul di dalam batu safir. Rambut panjangnya yang sedikit basah karena cipratan air hujan saat turun dari mobil tadi dibiarkan terurai bebas di atas bahunya.
Sebuah jubah wol hangat berwarna hitam melingkari tubuh rampingnya. Jubah itu adalah milik Adrian yang sengaja disampirkan oleh pria itu ke bahunya sesaat setelah mereka menginjakkan kaki di vila ini karena melihat Elena yang sedikit menggigil. Aroma maskulin khas milik Adrian yang tertinggal di kain jubah itu entah bagaimana memberikan rasa aman yang aneh di dalam hatinya.
"Pemindai spektrum ini menggunakan teknologi refraksi cahaya tingkat lanjut," suara bariton Adrian tiba-tiba memecah keheningan malam, terdengar begitu berat, dalam, dan berwibawa di dalam ruangan yang sunyi.
Jemarinya yang panjang bergerak dengan sangat lincah dan terlatih di atas papan ketik, memasukkan beberapa baris perintah enkripsi. "Ayahmu, Alexander, adalah pria yang terlalu jenius untuk sekadar menyembunyikan mikrochip elektronik atau gulungan kertas mikro di dalam kompartemen rahasia kalung ini. Hal-hal seperti itu terlalu mudah dideteksi oleh sinar-X atau dihancurkan jika batu ini dipecahkan oleh musuh. Dia menggunakan teknik yang jauh lebih rumit dan tak terpikirkan: mengukir kode biner secara mikroskopis menggunakan laser berdensitas tinggi tepat di dalam serat-serat kristal alami batu safir ini."
Elena menahan napasnya selama beberapa detik saat layar monitor di depan mereka tiba-tiba berkedip dengan warna merah pekat, mengeluarkan suara titian digital pendek sebelum akhirnya seluruh grafik rumit itu berubah menjadi deretan angka koordinat geografis yang presisi, diikuti oleh sebuah baris kalimat panjang yang terenkripsi dalam bahasa kuno.
0° 00' 00" N, 0° 00' 00" E — Proyek E.D.E.N: Struktur Kepemilikan Asli.
"Proyek E.D.E.N...?" bisik Elena dengan suara lirih, nyaris seperti embusan angin. Ia mengeja setiap huruf dari kata misterius itu dengan dahi yang berkerut dalam. "Aku tidak pernah mendengar ayah menyebutkan nama proyek itu seumur hidupku. Tidak dalam obrolan makan malam, tidak juga dalam catatan-catatan pribadinya di rumah."
"Karena proyek itu adalah alasan utama mengapa Alexander harus dilenyapkan sepuluh tahun yang lalu," sahut Adrian, suaranya kini terdengar sangat dingin dan penuh penekanan. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kerja, menatap deretan data numerik di layar dengan tatapan kalkulatif yang sangat tajam.
"E.D.E.N adalah singkatan dari Economic Development & Ecological Network. Sebuah konsorsium energi rahasia berskala raksasa yang awalnya dibentuk oleh ayahmu bersama beberapa investor global untuk menguasai jalur pasokan energi mandiri masa depan tanpa campur tangan birokrasi legal. Namun di tengah jalan, Syndicate mencium potensi keuntungan bernilai ribuan triliun ini. Mereka merebut kendali konsorsium secara paksa dengan cara menyingkirkan para pendiri aslinya satu per satu, termasuk membuat ayahmu menghilang tanpa jejak."
Adrian perlahan berdiri dari kursi kerjanya. Tubuhnya yang tinggi dan tegap menjulang di samping Elena, membuat bayangan tubuhnya seolah menyelimuti dan melindungi wanita itu dari dinginnya malam. Ia menatap leher jenjang Elena yang kini tampak kosong tanpa perhiasan, lalu mengalihkan fokus matanya langsung ke dalam manik mata Elena, mengunci pandangan wanita itu dengan intensitas yang begitu kuat.
"Koordinat geografis ini menuju pada sebuah pulau privat tak berpenghuni yang terletak jauh di wilayah perairan internasional bebas, area terpencil yang tidak tunduk pada hukum negara mana pun. Di sana, di bawah tanah pulau tersebut, terdapat sebuah fasilitas pusat penyimpanan data fisik milik Syndicate.
Semua bukti keterlibatan para petinggi dunia, dalang utama di balik hilangnya Alexander, dan yang paling penting... surat kepemilikan saham asli dari aset Luminous Beauty yang sah secara hukum ada di sana. Jika kita bisa mendapatkan dokumen fisik itu, kita tidak hanya bisa menghancurkan Syndicate sampai ke akarnya, tetapi kamu juga bisa merebut kembali takhta perusahaanmu secara mutlak tanpa ada lagi yang berani mengusik."
Mendengar penjelasan itu, Elena merasakan seluruh darahnya berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang dengan ritme yang liar. Rasa takut yang sempat menghantuinya akibat insiden kejar-kejaran maut di jalan tol beberapa jam lalu kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh rasa haus akan kebenaran yang selama sepuluh tahun ini terkunci rapat di dalam dadanya. Ambisi dan keberanian mendiang ayahnya seolah mengalir penuh di dalam nadinya saat ini.
"Kita harus pergi ke pulau itu, Adrian. Kita harus mengambil apa yang seharusnya menjadi milik keluargaku," ucap Elena dengan nada yang teramat mantap, menolak untuk menunjukkan keraguan sekecil apa pun.
Adrian terdiam selama beberapa saat, tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah Elena yang diterangi oleh cahaya keemasan lampu meja, ia memperhatikan wajah Elena, ketegasan bibir, dan binar yang tekad di mata wanita itu.
Atmosfer di dalam ruang kerja itu mendadak berubah menjadi sangat intim dan sarat akan emosi yang tertahan. Adrian melangkah satu senti lebih dekat, mengangkat tangan kanannya secara perlahan, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, kontras dengan sifat diktatornya selama ini. Ia menyelipkan beberapa helai rambut Elena yang berantakan ke belakang daun telinganya. Sentuhan ujung jemari Adrian yang hangat di permukaan kulit pipinya yang halus seketika membuat tubuh Elena menegang sejenak karena sensasi elektrik yang familier.
"Ini bukan lagi sekadar perang dingin di dalam ruang rapat atau permainan angka di papan bursa saham, Elena," ucap Adrian, suaranya mendadak melunak, menyiratkan sekelumit rasa khawatir dan protektif yang begitu nyata yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik topeng acuhnya. "Pergi ke koordinat perairan internasional itu artinya kita secara sukarela melangkah masuk ke dalam sarang serigala yang paling berbahaya di dunia ini. Mereka memiliki tentara bayaran di sana. Aku bisa mengirimkan seluruh tim komando kepercayaanku ke pulau itu untuk mengambil datanya tanpa harus melibatkanmu dalam bahaya fisik."
"Tidak!" bantah Elena dengan cepat dan tegas. Tanpa sadar, ia menggerakkan tangannya untuk menggenggam pergelangan tangan Adrian yang masih berada di dekat pipinya, menahan tangan pria itu agar tidak menjauh darinya. "Ini adalah tentang ayahku, Adrian. Dan ini tentang kita. Kamu sendiri yang bilang di kantor kemarin bahwa kita adalah satu tim yang tidak bisa dipisahkan lagi. Aku tidak akan membiarkanmu pergi menghadapi bahaya maut itu sendirian sementara aku hanya duduk manis dan bersembunyi dengan aman di dalam vila ini seperti pengecut."
Adrian menatap ke arah tangan kecil Elena yang sedang menggenggam erat pergelangan tangannya, merasakan kehangatan dan kesungguhan dari genggaman tersebut.
Perlahan, sebuah senyuman tipis, bukan senyum sinis atau senyum bisnisnya yang dingin, melainkan sebuah senyuman tulus, hangat, dan sangat langka yang hanya ditunjukkan khusus untuk Elena, terukir di wajah tampannya. Ia membalikkan posisi telapak tangannya, kini ganti menggenggam erat jemari tangan Elena, lalu menarik tubuh wanita itu selangkah lebih dekat hingga jarak di antara dada mereka nyaris tak bersisa sama sekali. Elena bahkan bisa merasakan detak jantung Adrian yang kuat di balik kemeja hitamnya.
"Kamu benar-benar keras kepala, Putri Kecil," bisik Adrian, menggunakan panggilan khusus itu dengan nada suara yang begitu rendah, dalam, dan teramat posesif, membuat dada Elena bergetar hebat. "Baiklah. Jika itu maumu, kita akan pergi ke pulau itu bersama-sama. Namun, aku memiliki satu syarat mutlak yang tidak boleh kamu langgar seujung rambut pun."
"Apa syaratnya?" tanya Elena, mendongak untuk menatap langsung ke dalam manik mata gelap Adrian yang menawan.
"Selama kita berada di pulau itu nanti, kamu tidak boleh berada lebih dari satu jengkal di luar jangkauan pengawasanku. Apa pun situasi yang terjadi di sana, nyawamu dan keselamatanmu adalah prioritas tertinggiku, bahkan posisinya berada jauh di atas informasi tentang Alexander sekalipun. Mengerti, Elena?"
Elena merasakan sebuah kehangatan yang luar biasa menjalar dari genggaman tangan Adrian, mengalir lurus menuju ke dalam hatinya, meruntuhkan sisa-sisa dinding pertahanan ego yang selama ini ia bangun.
Perasaan asing namun mendalam yang selama ini selalu ia tepis dan sangkal kini sudah tidak bisa dipungkiri lagi kebenarannya. Di balik semua skenario pernikahan kontrak, pembagian saham, dan misi balas dendam ini, sosok Adrian Arsa telah berubah menjadi poros utama dari seluruh kehidupannya. Ia memercayai pria ini dengan seluruh jiwa dan raganya.
"Aku mengerti dan aku berjanji, Adrian," jawab Elena dengan suara pelan namun penuh dengan keyakinan mutlak.
Malam itu, di tengah suara badai dan hujan lebat yang terus menderu liar di luar vila perbukitan kabut, sebuah keputusan besar yang akan mengubah peta kekuatan finansial global resmi diambil oleh keduanya. Mereka tidak lagi hanya sekadar menghancurkan bidak-bidak catur kecil di permukaan seperti Hendrawan atau Bramantyo. Dengan sandi mikroskopis yang kini telah terpecahkan dari dalam kilauan permata biru safir tersebut, Adrian dan Elena kini bersiap untuk meluncurkan serangan balasan langsung ke jantung pertahanan terdalam milik Syndicate di samudra bebas. Ini bukan lagi sekadar cara untuk bertahan hidup, melainkan sebuah deklarasi perang terbuka demi sebuah pembalasan dendam yang tuntas.
......BERSAMBUNG......