NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26: CEO, Mie Ayam, dan Harga Diri yang Tertukar

Hangzhou di pagi hari adalah perpaduan antara embun, kabut, dan aroma masakan yang menggoda dari kios-kios pinggir jalan. Lukas Arkan berjalan di sampingku, masih dengan setelan kemeja yang sama, tapi kini dasinya sudah hilang entah ke mana. Dia tampak canggung. Sangat canggung. Seolah-olah dia sedang berjalan di atas ladang ranjau, bukan trotoar.

"Kamu yakin ini aman?" tanya Lukas dengan nada skeptis yang sangat CEO. Dia menatap tumpukan kursi plastik berwarna biru cerah dengan tatapan yang sama seperti saat dia menatap sistem yang error.

Aku tertawa, hampir tersedak ludah sendiri. "Kak, ini namanya street food. Ini adalah tempat di mana manusia normal sarapan. Tidak ada bug di sini, tenang saja."

Dia mendengus, lalu dengan ragu-ragu menarik kursi plastik yang—sayangnya—sedikit goyang. Dia terduduk dengan postur tubuh yang sangat tegak, seperti sedang bersiap untuk rapat pemegang saham, sementara aku duduk dengan santai di depannya.

Seorang ibu pemilik kedai datang dengan senyum ramah. "Mau pesan apa, anak muda?"

Lukas terdiam. Dia melihat menu yang ditulis tangan di papan tulis kapur. Matanya menyipit, seolah sedang menganalisis algoritma di balik bahan-bahan mie tersebut.

"Saya ingin... customizable carbohydrate intake dengan kaldu yang dioptimalkan," ucap Lukas sangat serius.

Aku langsung memukul dahinya pelan. "Bu, kasih dia mie kuah pedas satu, jangan pakai bawang daun, dan minta air putih. Satu lagi, saya mie ayam biasa kuah pedas. Terima kasih, Bu!"

Ibu itu tertawa lebar, lalu pergi ke dapur. Lukas menatapku dengan mata melotot. "Kenapa kamu memotong penjelasan spesifikasiku? Aku sedang berusaha memastikan komposisi nutrisinya tepat."

"Lukas, itu mie ayam! Bukan komponen Artificial Intelligence!" aku tertawa lepas, suaraku memecah keheningan pagi. "Kamu tidak bisa memesan makanan di warung dengan bahasa pemrograman."

Lukas menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi yang goyang itu. "Dulu... aku tidak pernah peduli apa yang kumakan. Asal perut kenyang, aku bisa lanjut kerja. Tapi sekarang... hidup sepertinya menjadi jauh lebih rumit dengan standar yang harus kujaga."

"Nah, itu dia. Kamu terlalu sibuk menjaga standar 'Lukas Arkan' sampai lupa caranya menjadi manusia," aku menunjuknya dengan sumpit.

Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Dua mangkuk mie yang mengepul panas. Aroma kaldu ayam yang gurih langsung memenuhi indra penciumanku. Lukas menatap mangkuknya seolah itu adalah benda asing yang baru ditemukan dari luar angkasa. Dia mengambil sendok plastik, lalu mulai mengaduk mienya dengan sangat hati-hati, seperti sedang melakukan bedah saraf.

"Coba, dimakan," desakku.

Lukas menyuap sedikit mie itu ke mulutnya. Dia mengunyahnya pelan, matanya sedikit terpejam. Aku memperhatikan perubahan ekspresinya. Dari yang tadinya kaku seperti manekin, perlahan otot-otot wajahnya mulai rileks.

"Bagaimana?"

Dia membuka matanya, menatapku dengan jujur. "Rasanya... persis seperti mie instan di bengkel Pak Edi."

Aku tersenyum. "Ingat kan? Dulu kamu yang paling cerewet kalau mie-nya kurang air, saat Main dirumah Kak Hazel."

"Itu karena kamu sering lupa menyalakan kompor sampai airnya habis!" balasnya cepat.

Kami berdua terdiam. Suasana mendadak menjadi hangat. Tawa yang sempat hilang kini kembali. Lukas tiba-tiba melakukan sesuatu yang membuatku hampir menjatuhkan sumpitku: dia menyeruput mienya dengan suara yang sangat keras—sluuuurrrp!—persis seperti Luq yang dulu.

Dia terbelalak, lalu menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya memerah padam. "Oh Tuhan, apa yang baru saja kulakukan? Citra Lukas Arkan..."

Aku meledak dalam tawa. Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa sampai air mata keluar dari sudut mataku. "Itu dia! Itu Kak Luq yang kukenal! Lukas Arkan yang dingin tidak akan pernah menyeruput mie seperti itu!"

Lukas menatapku dengan wajah yang sangat merah, tapi perlahan, senyum kecil—senyum yang benar-benar nakal—muncul di bibirnya. Dia menghela napas, lalu tertawa kecil. "Sialan. Kamu memang selalu tahu cara membuatku terlihat bodoh, Rea."

"Bukan bodoh. Kamu hanya terlihat seperti manusia, Kak."

Kami melanjutkan sarapan dengan lebih santai. Ada banyak cerita yang kami bagi. Dia bercerita tentang betapa sulitnya beradaptasi dengan budaya korporat di China, tentang bagaimana dia harus belajar bahasa Mandarin hanya dalam waktu empat bulan agar bisa bernegosiasi dengan investor, dan tentang kesepian yang dia rasakan di balik pintu kantor mewahnya.

Di sisi lain, aku bercerita tentang betapa stuck-nya aku saat harus berhadapan dengan dosen pembimbing yang perfeksionis, dan betapa anehnya hidup sebagai mahasiswi beasiswa di negeri orang.

"Aku merindukan Hazel," tiba-tiba dia berkata di sela kunyahannya. "Aku sering melihat profil media sosialnya diam-diam. Dia sudah punya anak, ya?"

"Iya, namanya Bintang. Kamu harus lihat, dia mirip sekali dengan Kak Hazel waktu kecil," kataku.

"Mungkin suatu hari nanti..." Lukas berhenti, lalu menatapku. "Mungkin suatu hari nanti, aku harus pulang. Bukan sebagai Lukas, tapi sebagai Luq. Tapi aku belum siap."

"Tidak ada yang bilang kamu harus besok pulang, kak. Langkah kecil itu cukup."

Saat kami hendak membayar, Lukas mengeluarkan kartu kredit hitamnya dari dompet kulit mahal. Ibu penjual mie itu menatap kartu itu dengan bingung, lalu menatap kami. "Mas, di sini cuma terima uang tunai. Atau mobile payment."

Lukas membeku. Dia merogoh saku jasnya—kosong. Dia merogoh saku celananya—kosong. Dia menatapku dengan ekspresi panik yang sangat lucu. "Rea... aku tidak punya uang tunai."

Aku tertawa, lalu mengeluarkan uang lembaran dari dompetku. "Sudah kubilang, jangan jadi CEO di sini. Sini, biar aku saja."

Lukas terlihat sangat tersinggung, tapi juga sangat malu. "Aku akan menggantinya! Transfer, atau apa pun!"

"Tidak usah," kataku sambil menariknya berdiri. "Anggap saja ini pajak untuk Luqman yang sudah kembali menyeruput mie dengan berisik."

Kami berjalan kembali ke kantor. Suasana pagi Hangzhou yang sibuk kini tidak terasa mencekam bagi Lukas. Dia berjalan di sampingku, tidak lagi menjaga jarak, tidak lagi terlihat kaku.

"Rea?" panggilnya saat kami sampai di depan gedung kantornya yang megah.

"Ya?"

"Terima kasih untuk mie-nya. Dan... terima kasih karena tidak menyerah padaku."

Aku tersenyum, menatap mata pria yang kini terlihat jauh lebih manusiawi daripada kemarin. "Tugas seorang debugger adalah memastikan sistem berjalan dengan baik sampai akhir, Kak. Kamu anggap saja adalah sistem yang paling berharga yang pernah kukenal."

Dia terdiam, seolah ingin mengatakan sesuatu yang lebih dalam, tapi kemudian dia hanya mengangguk. "Baiklah. Kamu punya kelas pagi, kan? Jangan sampai bolos hanya karena harus mengajari CEO cara makan mie."

"Siap, Bos!" kataku sambil memberi hormat, lalu berbalik pergi.

Saat aku berjalan menjauh, aku menoleh sekali lagi. Lukas masih berdiri di sana, menatapku. Dia tidak langsung masuk ke dalam gedung. Dia berdiri di sana, membiarkan angin pagi menyentuh wajahnya, tampak seperti seseorang yang baru saja menarik napas panjang setelah bertahun-tahun menahan napas.

Aku tersenyum lebar. Episode hari ini adalah sebuah kemenangan kecil. Kami belum memperbaiki semuanya—masih ada luka yang perlu disembuhkan, masih ada masa lalu yang perlu dimaafkan—tapi setidaknya, sistem kami sekarang sudah bisa terhubung kembali.

Dan di dalam kepalaku, aku sudah merancang rencana untuk Episode 27: bagaimana cara membuat Lukas Arkan setuju untuk ikut jogging di taman kota besok pagi tanpa harus memakai setelan jas.

Perjalanan 80 episode ini mungkin masih sangat panjang, tapi melihat senyum Lukas tadi, aku yakin kami akan sampai di garis finis dengan cara yang paling seru.

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!