Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15 - MHB
Pagi setelah badai di vila itu menyisakan kecanggungan yang berbeda. Bukan lagi kecanggungan karena benci, melainkan karena ada sesuatu yang mulai mencair di antara mereka. Begitu kembali ke apartemen di Jakarta, Maya merasa ada dorongan aneh untuk mengenal siapa sebenarnya pria yang tidur di kamar sebelah itu pria yang semalam mendekapnya dengan begitu tenang saat ia ketakutan.
Kesempatan itu datang saat Arka sedang berada di kampus untuk ujian terakhirnya. Maya, yang mengambil cuti setengah hari karena kelelahan pasca-badai, masuk ke kamar Arka untuk mengambil tumpukan cucian kotor sebuah gestur "balas budi" yang ia buat-buat untuk menutupi rasa pedulinya.
Namun, perhatiannya teralih pada sebuah buku catatan besar bersampul kulit hitam yang tergeletak terbuka di atas meja belajar. Di sampingnya, layar monitor ganda Arka masih menyala, menampilkan barisan kode pemrograman yang rumit namun terlihat sangat rapi.
Maya, yang memiliki latar belakang manajemen bisnis dan sering berurusan dengan tim IT di kantornya, mendekat. Awalnya ia hanya penasaran, namun saat matanya memindai barisan logika di layar dan sketsa arsitektur sistem di buku catatan tersebut, jantungnya berdegup lebih kencang.
Maya tertegun. Ia bukan orang awam. Di depannya ada rancangan sistem keamanan data berbasis AI yang sangat mutakhir, sesuatu yang sedang menjadi tren panas di dunia korporasi global. Sketsa tangan Arka menunjukkan bagaimana sistem itu bisa memprediksi serangan siber sebelum terjadi. Itu jenius. Itu bukan sekadar tugas kuliah; itu adalah prototipe produk bernilai miliaran.
Maya membalik halaman buku catatan itu perlahan, seolah sedang membuka rahasia terlarang. Di sana, terselip beberapa kartu nama dari petinggi perusahaan teknologi papan atas, lengkap dengan catatan kecil: "Kami menunggu keputusanmu untuk posisi Lead Developer setelah lulus." Ada juga tawaran beasiswa penuh untuk jenjang Master di Stanford yang sudah ditandatangani oleh dekan.
Maya terduduk di tepi ranjang Arka. Rasanya seperti baru saja disiram air es.
Selama ini, ia membangun benteng harga diri dengan label "Wanita Karier yang Mapan". Ia memandang Arka sebagai "brondong" yang beruntung bisa menikahinya. Ia menganggap dirinya adalah hadiah bagi Arka. Namun melihat kenyataan di atas meja ini, perspektif itu jungkir balik.
Dia bukan sedang mengejar kelulusan demi aku atau aturan konyolku, pikir Maya. Dia sedang menyiapkan kerajaan.
Rasa minder mulai merayap di sela-sela egonya. Maya menyadari bahwa di usia dua puluh dua tahun, Arka sudah diincar oleh raksasa teknologi. Sementara di usianya, Maya masih harus berjuang berdarah-darah untuk mempertahankan posisi manajerial di bawah ancaman ayahnya sendiri. Masa depan Arka bukan hanya cerah; itu menyilaukan. Jika Arka mau, dia bisa meninggalkan apartemen ini, meninggalkan pernikahan ini, dan dunia akan menyambutnya dengan tangan terbuka.
Jadi, kenapa dia masih di sini? Kenapa dia mau repot-repot mengurusku yang galak ini?
Pikiran itu membuatnya merasa kecil. Selama ini ia merasa superior karena "kemapanan", namun ternyata ia sedang tinggal bersama seorang jenius yang hanya memilih untuk tetap rendah hati.
Suara pintu apartemen terbuka mengejutkan Maya. Ia buru-buru keluar dari kamar Arka dengan wajah pucat, hampir menabrak Arka yang baru pulang dengan tas ransel tersampir di satu bahu.
"Lho, Kak? Katanya mau tidur?" Arka menyapa, masih dengan senyum santainya. Namun ia menyadari ekspresi Maya yang aneh. "Kamu kenapa? Sakit lagi?"
Maya menatap Arka lama. Ia melihat kaus oblongnya yang sedikit pudar, rambutnya yang berantakan, dan wajahnya yang tampak lelah namun puas. Bagaimana bisa pria ini menyembunyikan prestasinya sedalam itu?
"Aku tadi masuk kamarmu... mau ambil cucian," suara Maya pelan, hampir bisik-bisik. "Tapi aku lihat laptopmu. Dan buku catatan itu."
Senyum Arka perlahan memudar, berganti dengan tatapan yang sulit dibaca. Ia meletakkan tasnya di sofa. "Oh. Jadi Kakak sudah tahu."
"Kenapa kamu nggak pernah bilang?" tanya Maya, suaranya sedikit meninggi karena emosi yang campur aduk. "Kenapa kamu diam saja saat aku meremehkanmu? Saat aku bilang kamu itu beban, atau saat aku menuntutmu lulus tepat waktu seolah kamu itu mahasiswa bodoh yang malas? Kamu punya tawaran dari perusahaan-perusahaan besar itu, Arka! Kamu jauh lebih hebat dari pria mana pun yang pernah aku kenal di kantorku."
Arka berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Maya. Ia tidak tampak bangga atau sombong. Ia justru terlihat... sedih?
"Buat apa aku pamer, Kak?" Arka bertanya balik dengan suara rendah. "Kalau aku bilang aku hebat, apa Kakak bakal berhenti memandangku sebagai adik tingkat? Nggak, kan? Kakak bakal merasa terintimidasi, persis seperti yang Kakak rasakan sekarang."
Maya tersentak. Arka membacanya dengan tepat.
"Aku nggak butuh validasi dari perusahaan itu buat merasa mapan," lanjut Arka. "Aku cuma mau Kakak melihatku sebagai pria. Bukan sebagai 'direktur IT', bukan sebagai 'mahasiswa berprestasi', tapi sebagai Arka. Pria yang memilih untuk menikah denganmu bukan karena dipaksa orang tua, tapi karena aku memang ingin."
Maya menelan ludah. "Tapi aku merasa... aku jadi tidak ada apa-apanya dibanding kamu, Arka. Karierku, semua yang aku banggakan... rasanya jadi kecil."
Arka meraih pundak Maya, memaksa wanita itu untuk menatap matanya. "Maya, dengar. Suksesku nggak akan pernah mengurangi suksesmu. Kita bukan sedang lomba lari. Kita ini satu tim. Aku nggak butuh istri yang minder. Aku butuh Maya yang galak dan ambisius itu, tapi yang tahu kalau dia punya tempat untuk pulang tanpa harus merasa perlu jadi sempurna setiap saat."
Maya menunduk, satu tetes air mata jatuh. Rasa minder itu perlahan berganti menjadi rasa haru yang menyesakkan. Ia selama ini takut jika Arka adalah beban, namun ternyata Arka adalah jangkar yang jauh lebih kuat dari dirinya.
"Jadi... kamu nggak akan pergi?" tanya Maya lirih. "Maksudku, kalau kamu lulus dan pergi ke Silicon Valley atau semacamnya?"
Arka tertawa kecil, ia menarik Maya ke dalam pelukan hangat yang kini terasa sangat menenangkan. "Silicon Valley bisa menunggu. Tapi memastikan istriku nggak telat sarapan besok pagi? Itu prioritas utamanya."
Bersambung....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡