Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERINGATAN
"Srikandi, apa kau menemukan sesuatu di hutan?" tanya Adipati Sengko masih menatap guratan di dinding.
"Itu ...," Sengko mendekati guratan, jantung Srikandi berdetak kencang.
Pria itu menunduk dan meraba guratan. Bukan ia tak tau apa yang ditulis di kayu itu. Tapi sepertinya tulisan itu sudah dirusak. Ia menghela nafas panjang.
"Kau benar-benar keras kepala Srikandi," ucap Sengko kecewa.
Srikandi hanya diam, ia masih belum mempercayai siapapun sekarang. Bahkan jika Sri Baginda Raja sendiri menemukan ukiran itu, ia akan tetap diam.
Sengko menatap gadis yang wajahnya berbedak arang. Sungguh, Srikandi akan jadi sangat cantik jika didandani. Wajah bulat telur, kulit terang laksana bulan purnama, rambut hitam tebal, alis seperti semut beriring, hidung mancung, bibir tipis dan dagu yang lancip.
Tubuh Srikandi juga sangat bagus dipandang, pinggul yang ramping, bokong dan dada yang berisi. Hanya saja, lengan gadis itu yang berotot. Sengko yakin telapak tangan Srikandi sangat kasar melihat bagaimana ia begitu kuat memegang kapak Ki Abot, kapak dengan berat dua puluh lima kilo.
"Kau boleh merasa hebat, Srikandi ...," ujarnya begitu tenang, matanya masih menelisik pikiran sang gadis.
"Paman ...," Srikandi ingin membantah.
"Jangan potong perkataan orang tua, Nduk!" sambar Sengko masih tak suka dengan sikap Srikandi yang terlalu menyerang.
"Paman sangat tau kau sedang terluka dan kecewa ...."
"Berarti benar jika ayahku terbunuh bukan?" potong Srikandi cepat.
Ia mengangkat wajah, menatap pria besar di hadapannya. Matanya berkaca-kaca, hatinya ingin menjerit, ia ingin sekali bertarung ilmu dengan Sengko.
"Nduk ... Percayalah. Kami juga begitu kecewa ... Bukan hanya kamu ...."
"Siapa yang hendak Paman bohongi di sini?" desis Srikandi menahan segudang kesedihannya.
"Srikandi ...."
"Jika sudah selesai dan tak ada kepentingan lagi. Hamba rasa Paman tidak perlu berlama-lama di sini ...."
"Kau mengusirku?"
"Aku hanya tidak ingin Bibi Windu memarahiku ...!" seru Srikandi membuat Sengko diam.
Istrinya memang sangat membenci Srikandi. Entah apa pasalnya, sampai sekarang ia tak tau dan tak mau cari tau.
"Baiklah, Nduk. Paman hanya berpesan padamu," ujar Sengko melangkah ke pintu.
"Jangan jadi sok paling berduka dan jangan ambil tindakan yang membuatmu dan kami tambah terluka," lanjutnya tenang.
Lalu sekali kelebatan, tubuh besarnya hilang dari pintu. Tubuh Srikandi menggelosor ke lantai. Ia langsung menangis tersedu-sedu. . satu kenyataan yang pasti, ayahnya benar-benar tak pernah kembali.
Tangisannya begitu menyayat sampai terdengar di telinga Sengko yang menuruni lereng. Airmata pria itu juga mengalir, ia juga kecewa dengan keputusan sang raja yang menyembunyikan kematian Abda.
"Maaf Nduk, Paman tidak bisa melindungi ayahmu ...," gumamnya lalu kembali menambah kekuatan agar cepat menyingkir dari lereng bukit.
Ia ingin cepat pergi dari lereng agar tak mendengar tangisan pilu Srikandi. Tangisan anak perempuan yang kehilangan pelindungnya.
Srikandi yang merasa kelelahan baik raga maupun jiwa. Akhirnya tertidur sambil duduk, ia tidur dengan kesedihan yang mendalam.
Sementara Sengko sudah sampai di istana. Ia yang juga tengah kecewa tak lagi menjalani ketataan kerajaan.
"Berhenti Adipati. Ini Kerajaan, jangan berjalan seakan kau pemilik tempat ini!" seru salah satu panembahan istana.
"Aku berjalan sebagai rakyat!" teriak Sengko menggunakan hampir seluruh ilmunya.
Teriakan Sengko menggetarkan istana. Semua abdi dalam dan para prajurit sampai terjatuh ke lantai dan melindungi kepala mereka dengan lengan.
"Prabu! Aku Sengko menuntut penjelasan!" teriak Sengko makin keras.
Grrrrtttt ... Goncangan itu sempat keras dan kuat. Tapi sejurus kemudian lemah dan tak lagi menggetarkan seluruh bangunan.
"Sengko!" Prabu Laksa muncul dengan amarah besar.
Sengko menatap marah pada rajanya. Airmatanya masih mengalir, telinganya masih merekam bagaimana tangisan pilu Srikandi. Baru kali ini Prabu Laksa melihat kehancuran seorang Adipati.
"Sengko ...."
"Prabu ... Coba ... Jelaskan ...," suara Sengko tercekat mengatakannya.
"Di lereng itu ada seorang anak perempuan ... Prabu ...!" airmatanya makin mengalir deras.
"Ayahnya ...," Sengko berhenti karena betapa memilukannya tangisan Srikandi.
"Ayahnya sudah satu minggu gugur di medan perang ...!"
Airmata Sengko membasahi janggutnya yang memutih.
"Dan Raja Kali Ireng hanya mengirimnya sekotak makanan dan satu kantung kecil uang!" teriaknya lalu ia jatuh bersimpuh dan menangis.
Tangisan Sengko kembali menggetarkan lorong istana, begitu juga hati semua orang di sana.
Suasana di aula utama Istana Kali Ireng mendadak senyap bagai kuburan. Goncangan hebat yang sempat meretakkan beberapa pilar marmer akibat lengkingan tenaga dalam Adipati Sengko kini menyisut, menyisakan keheningan yang menyesakkan dada.
Para prajurit penjaga dan abdi dalem yang tadinya bertumbangan di lantai perlahan bangkit dengan tubuh gemetar. Mereka menatap tak percaya.
Seorang Adipati Sengko—singa tua perkasa yang biasanya tegak lurus pada titah mahkota—kini bersimpuh di atas lantai batu, menangis tersedu-sedu dengan janggut memutih yang basah oleh air mata.
Prabu Laksa berdiri terpaku di undakan tahta. Amarah besar yang memuncak di wajah sang Raja saat mendengar provokasi Sengko tadi, perlahan-lahan luntur, digantikan oleh gumpalan rasa bersalah yang amat sangat.
Rahangnya mengatup rapat, menatap sahabat seperjuangannya yang kini hancur lebur hanya karena mendengar tangisan seorang gadis yatim piatu di lereng bukit.
"Adipati ... bisakah kau tetap percaya padaku?" tanya Prabu Laksa sangat tenang.
Tubuh Sengko yang luruh dan hatinya yang penuh penyesalan, tiba-tiba tergugah. Ia menatap pria yang sangat agung.
Prabu Laksa Anartepa Ireng, usianya sama dengannya. Tubuhnya kekar dan tinggi, tampan dan punya tatapan setajam elang. Ia juga sering mendengar jika Rajanya itu telah belajar ilmu kanuragan selagi belia. Bahkan sampai usianya dua puluh tahun, ia melanglang buana untuk menyempurnakan kanuragannya.
Makanya ketika Prabu Laksa dipilih jadi Raja Kali Ireng. Ia mengalahkan empat kandidat putra mahkota terbaik. Selain sakti, Prabu Laksa juga sangat pintar dan paling dekat dengan rakyatnya.
"Adipati Sengko, aku bertanya sebagai sesama sahabat. Apa kau masih percaya padaku?" tanya Prabu Laksa begitu tenang.
Airmata Sengko berhenti mengalir, entah kenapa. Tiba-tiba seluruh beban di pundaknya menghilang.
"Ampun Sri Baginda Raja. Hamba tentu percaya!" serunya tersadar jika ia berhadapan dengan seorang raja.
Prabu Laksa mendekati Adipatinya. Ia menunduk dan merengkuh bahu Sengko agar berdiri sejajar dengan dirinya. Inilah yang membuatnya jadi Raja Kali Ireng. Laksa mampu menurunkan ego kebangsawanannya.
"Paduka Yang Mulia," suara sang Adipati begitu lirih.
"Abda adalah punggawa terbaik dan gugur secara terhormat karena melindungi kita semua. Panah itu bahkan hangus karena begitu kuatnya ia menahan semua racun agar tak menyebar dan membunuh seluruh wilayah Kerajaan Kali Ireng ...," Sengko terkejut mendengar perkataan rajanya.
"Sengko ... Aku tengah menyelidiki ini semua. Aku masih mengumpulkan bukti-bukti itu ...."
"Hamba bisa bantu ...."
"Lalu mengorbankan dirimu sama seperti Abda?" Prabu Laksa menggeleng pelan.
"Tapi jika terus diam. Srikandi sudah melangkah jauh. Ia telah menemukan panah itu ...."
"Panah itu sudah ada di tanganku Sengko!" Prabu Laksa mengambil sesuatu di pinggangnya.
"Tadi aku juga di sana, aku melihat betapa cepatnya Srikandi merusak tulisan di dinding hanya dengan tatapan mata. Jujur aku begini juga atas kemauan Ki Abda, Sengko," lanjutnya mengeluh.
"Apa?" Sengko terkejut bukan main.
Bersambung.
Wah ... Ada apa ini? Kenapa Ki Abda berpesan agar Sri Baginda membiarkan Srikandi mencari tau semuanya?
Next?
nyi padan serem akh
lanjut