Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29:Xu Muxin
Tubuhnya meluncur ke bawah dengan anggun, memotong angin sore tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia mendarat di atas tanah berbatu di tepi medan pertempuran dengan sangat rapi.
Di bawah lembah, situasi telah mencapai titik kritis yang paling menentukan. Feng Biao, Wakil Ketua Geng Serigala Hitam, melangkah maju dengan senyum seringai yang sangat lebar di wajahnya yang kasar.
Pedang perunggunya kembali bergetar, memancarkan cahaya kuning yang lebih terang dari sebelumnya saat ia mengumpulkan sisa tenaganya untuk memberikan tebasan terakhir yang mematikan kepada Pelayan Liu. Dua pengawal berbaju jubah biru lainnya telah terkapar di atas tanah dengan tubuh penuh luka tusukan, tidak lagi bernyawa.
"Mati kamu, orang tua bangka!" teriak Feng Biao sembari mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah, mengarah tepat ke leher Pelayan Liu yang sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengangkat pedang besinya yang retak.
Pelayan tua itu hanya bisa memejamkan matanya dengan pasrah, sementara di dalam kereta kuda, terdengar suara jeritan ketakutan dari seorang gadis muda yang menahan tangisnya.
Ting!
Sebuah suara dentingan logam yang sangat nyaring dan melengking tiba-tiba bergema di seluruh penjuru lembah, memotong suara angin dan teriakan para bandit seketika. Gelombang suara dari dentingan tersebut bahkan membuat beberapa bandit tingkat rendah yang berdiri di dekatnya merasakan telinga mereka berdenging kesakitan.
Feng Biao terbelalak hebat, pupil matanya mengecil hingga seukuran biji kacang. Langkah kakinya terhenti secara paksa di tempat, dan seluruh berat tubuhnya seolah-olah tertahan oleh sesuatu yang besar.
Ketika ia melihat ke depan dengan pandangan mata yang penuh dengan rasa tidak percaya, ia melihat sebilah pedang perunggu miliknya yang telah dihentikan tepat di tengah udara, hanya berjarak beberapa inci dari leher Pelayan Liu.
Yang menahan pedang tajam berenergi spiritual tersebut bukanlah sebilah pedang pusaka lain, melainkan dua buah jari tangan, jari telunjuk dan jari tengah dari seorang pemuda asing yang mengenakan pakaian kain kasar berdebu khas petani biasa.
Chen Lin berdiri di sana dengan posisi tubuh yang sangat tegak, kakinya menapak kokoh di atas tanah berbatu seolah-olah ia adalah sebuah pilar raksasa yang menyangga langit.
Dua jari tangan kanannya menjepit mata pedang perunggu Feng Biao dengan sangat santai, seolah-olah ia hanya sedang memegang sebatang ranting pohon yang rapuh.
Di sela-sela jarinya, seberkas cahaya perak yang sangat tipis dan berkilau samar tampak mengalir, menetralkan seluruh energi Qi kuning milik Feng Biao hingga hancur berantakan menjadi percikan cahaya yang padam di udara.
"Si-siapa kamu?!" Feng Biao berteriak dengan nada suara yang gemetar hebat akibat rasa terkejut yang luar biasa.
Ia mencoba menarik kembali pedang panjangnya dengan mengerahkan seluruh kekuatan miliknya, hingga otot-otot di lengan kanannya menegang keras dan wajahnya memerah karena menahan beban.
Namun, pedang perunggu itu tetap berada di dalam jepitan dua jari Chen Lin, tidak bergeser bahkan satu milimeter pun, seolah-olah benda itu telah tertanam erat kedalam batu.
Pelayan Liu yang tadinya sudah bersiap untuk menerima kematian perlahan membuka sepasang matanya dengan rasa heran yang mendalam. Ketika ia melihat punggung seorang pemuda berpakaian petani yang berdiri kokoh di depannya, menahan serangan seorang kultivator Marrow Purification Tingkat 6 hanya dengan dua jari kosong, jantungnya berdegup dengan sangat kencang.
Pengalaman hidupnya yang luas memberi tahunya bahwa pemuda di depannya ini bukanlah manusia biasa, ia adalah seorang yang kekuatannya berada jauh di atas tingkatannya sendiri.
"Senjatamu terlalu kotor, dan teknik pedangmu terlalu penuh dengan celah yang cacat," ucap Chen Lin dengan nada suara yang sangat datar, tenang, namun bergema langsung di dalam pusat kesadaran Feng Biao seperti suara gemuruh petir.
"Kultivator sejati tidak akan pernah mengotori pedang mereka dengan darah kaum fana hanya untuk memuaskan keserakahan yang dangkal. Orang-orang sepertimu... adalah noda terburuk dalam jalur kultivasi."
"Bajingan kecil! Jangan berlagak sombong di hadapanku! Semuanya, serang dia bersama-sama! Cincang tubuhnya menjadi potongan daging!" teriak Feng Biao dengan histeris kepada belasan anak buahnya yang masih berdiri tertegun di sekitar tempat itu.
Rasa takut yang tiba-tiba menyerang naluri bertahannya membuat ia kehilangan akal sehat dan memilih untuk menggunakan jumlah pasukan untuk menekan lawan.
Mendengar perintah dari wakil ketua mereka, belasan bandit Geng Serigala Hitam itu tersentak sadar dari keterpukauan mereka. Dengan teriakan liar yang dipaksakan untuk mengusir rasa takut, mereka serentak mengayunkan golok besar dan tombak besi mereka, berlari maju dari berbagai arah untuk mengeroyok Chen Lin yang berada di tengah.
Chen Lin bahkan tidak sudi untuk menolehkan kepalanya ke arah para bandit rendahan tersebut. Di matanya, gerakan belasan orang itu terasa sangat lambat, penuh dengan kelemahan, dan tidak memiliki ancaman sedikit pun bagi keselamatan jiwanya.
Dengan sedikit sentakan pada pergelangan tangan kanannya, Chen Lin melepaskan secercah kecil energi astral perak murni dari Tingkat 6 Marrow Purification miliknya ke dalam mata pedang perunggu milik Feng Biao.
Pedang panjang perunggu yang merupakan senjata andalan Feng Biao itu seketika dipenuhi oleh garis-garis retakan bercahaya perak, sebelum akhirnya meledak hancur menjadi ratusan serpihan logam tajam yang melesat ke segala arah dengan kecepatan yang sangat luar biasa.
Serpihan-serpihan logam yang membawa sisa energi astral perak itu meluncur bagaikan badai jarum rahasia, menembus jubah abu-abu milik Feng Biao dan langsung menghantam dada serta perutnya dengan telak.
"Ughaaa!" Feng Biao menjerit kesakitan saat tubuh nya terlempar mundur sejauh belasan meter di udara, sebelum akhirnya menghantam dinding tebing batu dengan sangat keras hingga menciptakan retakan kecil di permukaan tebing tersebut.
Ia jatuh merosot ke atas tanah berdebu, memegangi dadanya yang kini dipenuhi oleh luka robek yang mengalirkan darah segar, lalu memuntahkan tiga teguk darah hitam yang kental.
Pada saat yang bersamaan, sisa serpihan pedang yang meledak tadi juga melesat menyapu belasan bandit Serigala Hitam yang sedang berlari maju mendekatinya. Tanpa sempat memberikan perlawanan atau menghindar, serpihan logam tajam itu langsung menebas pergelangan kaki dan tangan mereka dengan sangat presisi, memotong urat-urat otot mereka dalam sekejap mata.
Belasan bandit itu serentak jatuh berlutut di atas tanah berbatu, menjatuhkan senjata-senjata mereka ke tanah sambil memegangi kaki dan tangan mereka yang bersimbah darah.
Suara jeritan kesakitan yang saling bersahutan kini memenuhi seluruh area lembah yang tadinya sunyi, mengubah medan pertempuran menjadi pemandangan yang penuh dengan penderitaan dalam hitungan detik.
Chen Lin telah melumpuhkan seluruh pasukan bandit tersebut hanya dengan memanfaatkan hancurnya senjata milik pemimpin mereka sendiri, tanpa perlu melangkah satu senti pun dari posisi berdirinya.
Suasana di sekitar kereta kuda mewah itu seketika berubah menjadi sangat hening dari aktivitas pertempuran, menyisakan suara erangan pelan dari para bandit yang terluka serta angin sore yang meniup debu-debu kering di atas tanah.
Pelayan Liu berdiri mematung dengan mulut yang sedikit terbuka karena rasa syok. Ia telah bersiap untuk mengorbankan nyawa tuanya demi melindungi nona mudanya, namun dalam sekejap mata, seluruh ancaman mematikan dari Geng Serigala Hitam yang begitu menakutkan bagi mereka telah ditumbangkan dengan cara yang begitu mudah dan efisien oleh seorang pemuda misterius.
Chen Lin membalikkan tubuhnya dengan santai, mengabaikan seluruh erangan kesakitan di belakang punggungnya. Pandangan matanya yang tenang tertuju langsung pada Pelayan Liu yang masih memegang dadanya yang terluka.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Chen Lin mengulurkan tangan kanannya ke depan, mengarahkan telapak tangannya ke arah kotak persegi panjang berwarna perak kehitaman yang berada di dalam dekapan pelayan tua tersebut.
Melihat gerakan tangan Chen Lin, Pelayan Liu secara insting sempat menegang kecil dan mempererat dekapannya pada kotak tersebut. Ia tahu bahwa kotak itu adalah satu-satunya harapan bagi keselamatan klan mereka di kota.
Namun, ketika ia menatap langsung ke dalam sepasang mata Chen Lin yang sedingin es malam namun memancarkan aura kedalaman yang tak terbatas bagaikan hamparan bintang di langit, seluruh keberanian dan niat untuk menolak di dalam jiwanya seketika runtuh tanpa sisa.
Ia menyadari dengan sangat jelas bahwa jika pemuda di depannya ini berniat untuk merebutnya dengan kekerasan, tidak ada satu pun makhluk di tempat ini yang bisa menghentikannya. Bahkan, pemuda ini baru saja menyelamatkan nyawanya dari tebasan pedang Feng Biao.
Dengan tangan yang gemetar akibat kombinasi antara luka fisik dan rasa hormat yang mendalam, Pelayan Liu perlahan melepaskan dekapannya. Ia mengangkat Kotak Giok Astral tersebut dengan kedua tangannya yang bernoda darah, lalu menyodorkannya ke depan dengan tubuh yang membungkuk sedalam mungkin, memberikan penghormatan tertinggi yang biasa diberikan kepada seorang tetua sekte besar.
"Se-Senior... Terima kasih atas bantuan keselamatan yang telah Senior berikan kepada kami," ucap Pelayan Liu dengan suara yang bergetar penuh ketulusan dan rasa hormat yang teramat sangat.
"Jika Kotak Giok Astral ini adalah barang yang menarik perhatian Senior, maka sudah sepantasnya barang ini menjadi milik Senior sebagai upah atas budi penyelamatan nyawa kami ini. Mohon Senior untuk menerimanya."
Chen Lin tidak menolak atau berpura-pura sungkan. Ia menggerakkan jari tangannya sedikit, menggunakan sedikit sisa daya tarik spiritual untuk membuat kotak perak kehitaman itu melayang lembut dari tangan Pelayan Liu langsung menuju ke dalam genggaman tangan kanannya.
Begitu jemarinya menyentuh permukaan kotak yang dingin tersebut, sensasi getaran energi bintang yang sangat murni langsung merambat masuk melalui pori-pori kulitnya, memberikan rasa nyaman yang luar biasa pada dantian dan meridian miliknya.
"Aku menerima barang ini sebagai bentuk transaksi yang adil atas nyawa kalian yang tersisa," ucap Chen Lin dengan nada suara yang datar namun berwibawa.
Ia memasukkan kotak perak kehitaman tersebut ke dalam buntalan kain di punggungnya dengan gerakan yang tenang.
"Mengenai orang-orang dari Geng Serigala Hitam ini, mereka telah kehilangan seluruh kekuatan mereka dan tidak akan bisa mengejar kalian lagi. Pergilah dari tempat ini secepatnya sebelum malam tiba, jika kalian masih ingin mempertahankan sisa nyawa kalian."
"Baik, Senior! Kami akan selalu mengingat nasihat dan budi kebaikan Senior!" jawab Pelayan Liu dengan cepat sambil kembali membungkuk dalam.
Tepat pada saat itu, pintu kayu cendana hitam dari kereta kuda mewah tersebut perlahan berderit terbuka ke arah luar. Sebuah tangan kecil yang berkulit putih bersih bagaikan giok tanpa cela tampak menyibak tirai sutra biru yang menutupi jendela kereta.
Tak lama kemudian, sosok seorang gadis muda berusia sekitar enam belas tahun melangkah keluar dari dalam kereta dengan gerakan yang anggun namun sedikit ragu-ragu.
Gadis itu mengenakan gaun jubah sutra berwarna putih salju yang indah, dengan rambut panjang hitam yang disanggul rapi menggunakan tusuk konde berbentuk burung phoenix perak.
Wajahnya sangat cantik dan halus, tipikal seorang nona muda dari klan bangsawan kultivasi yang terpandang, meskipun saat ini wajah cantiknya tampak sedikit pucat dengan sisa-sisa air mata yang mengering di sudut kelopak matanya yang indah.
Gadis muda itu, yang tidak lain adalah Nona Muda Klan Xu yang bernama Xu Muxin, menatap sosok Chen Lin dengan sepasang mata yang dipenuhi oleh kombinasi rasa kagum, rasa tidak percaya, dan rasa takut yang mendalam.
Ia telah menyaksikan seluruh rangkaian pertempuran singkat yang luar biasa dari balik celah tirai kereta. Baginya, pemuda yang mengenakan pakaian kain kasar khas petani biasa ini tampak seperti seorang dewa.
Xu Muxin melangkah maju dengan sangat hati-hati, menjaga jarak yang sopan di samping Pelayan Liu. Ia kemudian merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, lalu membungkukkan tubuhnya yang ramping dengan sangat anggun memberikan penghormatan kepada Chen Lin.
"Xu Muxin dari Klan Xu di Kota Batu Hitam... hormat kepada Senior," ucap gadis itu dengan nada suara yang lembut, merdu bagaikan dentingan kecapi, meskipun masih menyisakan sedikit getaran emosional akibat ketakutan yang baru saja lewat.
"Budi penyelamatan nyawa yang Senior berikan hari ini kepada saya dan Pelayan Liu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kami lupakan seumur hidup kami. Jika di masa depan Senior sudi untuk singgah atau melewati Kota Batu Hitam, Klan Xu kami berjanji akan menyambut Senior dengan penghormatan tertinggi dan menyediakan seluruh fasilitas terbaik yang kami miliki untuk membalas kebaikan Senior."
Chen Lin menatap wajah gadis muda itu sejenak dengan pandangan mata yang tetap datar tanpa emosi, tidak terpengaruh sedikit pun oleh kecantikan fisik atau status sosial yang dimilikinya. Baginya, keindahan wanita fana atau kultivator tingkat rendah hanyalah kepulan asap tipis yang akan lenyap disapu oleh waktu yang terus berjalan maju.
Namun, tawaran mengenai akses dan informasi di Kota Batu Hitam terdengar cukup berguna bagi rencana perjalanannya yang baru saja dimulai.
"Kota Batu Hitam adalah tujuanku selanjutnya," jawab Chen Lin dengan tenang, suaranya terdengar sangat acuh tak acuh namun pasti.
"Jika situasi mengizinkan, aku mungkin akan melihat seberapa besar ketulusan dari klan kalian di kota tersebut. Untuk saat ini, urus sisa perjalanan kalian."
Setelah memberikan kalimat terakhir tersebut, Chen Lin tidak menunggu jawaban lebih lanjut dari Xu Muxin atau Pelayan Liu. Ia membalikkan tubuhnya dengan sangat cepat, mengaktifkan kembali teknik Langkah Bintang Pengembara miliknya dengan kekuatan penuh.
Dalam satu kedipan mata, tubuh pemuda berpakaian kain kasar tersebut tampak mengabur, membentuk bayangan perak tipis yang melesat cepat ke arah bukit batu di depan, sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya dari batas pandangan mata Xu Muxin dan Pelayan Liu, meninggalkan lembah berdarah itu dalam kesunyian.
Xu Muxin tetap berdiri di tempatnya selama beberapa menit, sepasang mata indahnya menatap lurus ke arah jalur perbukitan kosong di mana Chen Lin baru saja menghilang dari pandangan.
Sesuatu yang sangat aneh dan tidak biasa bergetar di dalam pusat jiwanya yang terdalam, ia belum pernah bertemu dengan seorang pemuda yang memiliki kekuatan begitu menakutkan namun memiliki sikap yang begitu acuh tak acuh dan mandiri terhadap status serta kecantikan dirinya.