Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: SAKSI BISU DI ANTARA DUA DUNIA
Pendar lampu kristal di langit-langit aula utama kediaman Hutama memantulkan cahaya yang begitu menyilaukan, seolah-olah hendak memamerkan kemegahan tanpa batas kepada setiap pasang mata yang hadir. Namun, bagi Vanya, atmosfer di dalam ruangan berlantai marmer itu terasa begitu pekat, berat, dan mencekik dada. Ia berdiri membeku di atas podium kecil yang dihiasi untaian mawar putih segar. Tubuhnya yang ramping dibalut oleh gaun malam bersiluet mermaid dari bahan silk premium berwarna sampanye, melekat sempurna, mempertegas kecantikannya yang bangsawan namun dingin.
Di samping kirinya, Derian berdiri dengan dagu yang terangkat tinggi. Setelan jas hitam custom-made dari penjahit terbaik di London membungkus tubuh proporsionalnya, memancarkan aura kemenangan yang mutlak, tak terbendung, dan hampir terasa angkuh.
Para tamu undangan yang terdiri dari jajaran kolega bisnis kelas atas, kerabat jauh yang mendadak akrab, serta para sosialita ibu kota, seketika menahan napas saat pembawa acara melangkah maju. Mikrofon di tangannya berdengung pelan, membelah keheningan yang mendadak mencekam.
"Nona Vanya Hutama," suara pembawa acara itu bergema mantap melintasi pengeras suara, menciptakan ketegangan yang membuat detak jantung seisi ruangan seakan berhenti. "Apakah Anda bersedia menerima Saudara Derian sebagai tunangan resmi Anda, dan mengikat janji suci untuk melangkah bersama ke jenjang pernikahan yang lebih serius?"
Seketika itu juga, jantung Vanya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan kasar. Telapak tangannya yang tersembunyi di balik lipatan gaun mendadak dingin dan basah. Ia melirik ke barisan depan. Di sana, sang Papa, Bramantyo Hutama, berdiri dengan kecemasan yang nampak terhadap putrinya . Wajah pria tua itu nampak dipenuhi rasa harap yang luar biasa demi keselamatan perusahaan, namun di balik itu, terselip guratan rasa bersalah yang amat dalam sebagai seorang ayah.
Vanya kemudian mengalihkan pandangannya, menatap tepat ke arah manik mata Derian. Pria itu melempar senyum—sebuah senyum manis yang menurut Vanya beberapa tahun lalu adalah hal paling menenangkan di dunia. Namun malam ini, entah mengapa, senyuman itu nampak seperti topeng porselen yang dingin, tak bernyawa, dan penuh dengan kalkulasi bisnis.
Secara tidak sengaja, ingatan Vanya justru terlempar jauh ke belakang tembok penjara. Bayangan sosok Reyhan yang babak belur di balik jeruji besi tiba-tiba melintas dengan begitu lancang di benaknya. Wajah pria itu yang lebam kebiruan, ketenangannya yang tak tergoyahkan saat dihina sebagai kecoa, dan kotak obat maag yang tersimpan rapi di laci meja paviliun.
Vanya menggelengkan kepalanya sedikit, gerakan yang sangat halus untuk mengusir bayangan itu dari kepalanya.
Kamu tidak boleh memikirkannya, Vanya! Dia itu penjahat! bentak batinnya yang dipenuhi kebencian dan rasa kecewa yang mendalam. Dia hanya seekor ular yang menyamar menjadi supir untuk menghancurkan hidupmu dan memanfaatkan posisimu!
"Nona Vanya?" pembawa acara kembali mengulang pertanyaannya. Kali ini nadanya sedikit ragu karena jeda keheningan yang diambil Vanya dirasa terlalu lama dan tidak wajar untuk sebuah acara pertunangan yang bahagia.
Vanya menarik napas panjang, mengisap oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya yang terasa menyempit. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya memutih di balik kain gaunnya.
"Ya... saya menerimanya," ucap Vanya akhirnya. Suaranya terdengar stabil, tegas, dan anggun di telinga para tamu, meskipun di dalam hatinya, jiwanya terasa limbung dan runtuh berkeping-keping.
Gemuruh tepuk tangan meriah seketika membahana, memenuhi seluruh sudut aula mewah itu. Derian dengan sigap meraih jemari kanan Vanya. Dengan gerakan yang penuh drama, ia menyematkan sebilah cincin berlian berpotongan emerald yang berkilau mewah ke jari manis gadis itu. Ia kemudian membungkuk sedikit, mengecup punggung tangan Vanya dengan kelembutan yang sengaja dipamerkan di depan kamera.
Para tamu bersorak, beberapa sosialita tampak mengusap air mata haru melihat "kembalinya sang pangeran". Namun bagi Vanya, kilatan lampu flash dari kamera para wartawan yang hadir terasa seperti ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk kulit wajahnya. Pertunjukan besar telah resmi dimulai, dan ia baru saja menandatangani kontrak seumur hidup dengan pria yang telah menjadikannya sebagai jaminan modal untuk menyelamatkan Hutama Group.
Pagi yang Abu-Abu
Keesokan paginya, cahaya matahari fajar menembus celah-celah gorden sutra di kamar Vanya. Namun, gadis itu masih enggan untuk membuka mata. Tubuhnya terasa begitu berat, seolah semua energinya telah dikuras habis oleh kepalsuan semalam. Cincin berlian yang kini melingkar di jari manisnya terasa begitu tebal dan berat, tidak seperti perhiasan, melainkan lebih menyerupai sebuah belenggu besi panas yang mengunci kebebasannya.
Tok... tok... tok...
Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya yang hampa. Bramantyo masuk ke dalam kamar sambil membawa secangkir teh chamomile hangat yang aromanya menenangkan. Pria paruh baya itu duduk perlahan di tepi tempat tidur putrinya, menatap wajah Vanya dengan tatapan sayu.
"Vanya, selamat atas acara semalam ya, Sayang," ujar Bramantyo lembut, namun nada suaranya tidak setenang dan sebahagia biasanya. "Pagi ini Papa baru saja mendapat laporan dari tim keuangan. Pihak investor dari Singapura yang dibawa oleh Derian sudah mulai memproses administrasi dana talangan mereka. Hutama Group akan kembali stabil dalam hitungan hari. Utang-utang vendor bisa segera kita lunasi.Seandainya DIRGANTARA group tidak mengkhianati kita, mungkin kamu gak perlu seperti ini."
Vanya hanya mengangguk pelan tanpa sepatah kata pun. Ia bangkit dari posisinya, bersandar pada kepala ranjang, lalu menyesap teh hangat itu dengan lidah yang terasa hambar.
"Ada satu hal lagi yang harus Papa sampaikan kepadamu," lanjut Bramantyo, raut wajahnya mendadak berubah menjadi sangat serius dan tegang. "Lusa... lusa adalah jadwal sidang perdana untuk kasus pembegalanmu. Jaksa penuntut umum meminta kehadiranmu secara mutlak sebagai saksi kunci sekaligus sebagai korban utama. Kamu harus menceritakan kronologi kejadian malam itu di depan majelis hakim."
Klating!
Sendok kecil di dalam cangkir Vanya bergetar hebat, berdenting membentuk suara yang nyaring. "Sidang? Kenapa... kenapa secepat itu, Pa?"
"Derian yang mendesak pihak kepolisian dan kejaksaan agar berkasnya segera P-21 dan disidangkan, Vanya. Dia bilang, dia tidak ingin kamu terus-menerus dihantui oleh trauma dan bayangan supir itu," jelas Bramantyo. "Papa akan menemanimu di ruang sidang nanti. Kamu harus kuat, Nak. Ceritakan saja apa yang kamu lihat, apa yang kamu tahu, dan apa yang kamu rasakan pada malam mengerikan itu."
Vanya memalingkan wajahnya, menatap kosong ke arah luar jendela kamarnya yang nampak abu-abu tertutup polusi pagi. Sidang perdana. Itu artinya, dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam, ia akan dipaksa untuk melihat wajah Reyhan lagi. Ia akan menatap mata pria itu dari atas kursi kesaksian yang terhormat, sementara Reyhan duduk terhina di kursi pesakitan dengan rompi tahanan berwarna oranye.
Kebencian di dalam hati Vanya kembali mendidih, memanas bagai lahar yang siap meletus. Namun, di sudut terjauh dari hatinya, ada secercah rasa takut yang menyelinap halus—rasa takut jika sepasang matanya tidak akan mampu membohongi nuraninya sendiri saat bertatapan dengan sorot mata Reyhan yang selalu nampak begitu dalam.
Kencan di Atas Kebohongan
Siang harinya, sekitar pukul sebelas, ponsel Vanya berdering. Nama Derian tertera di layar dengan hiasan emoji hati yang kini terasa asing. Saat diangkat, suara Derian terdengar begitu riang dan penuh energi di seberang telepon.
"Sayang, bersiaplah sekarang juga. Aku sudah memesan meja terbaik di Le Ciel untuk makan siang kita jam satu nanti. Kita butuh waktu berdua sebagai sepasang tunangan resmi. Aku akan menjemputmu tepat waktu," ucapnya manis sebelum memutus panggilan.
Vanya menghela napas panjang. Sebenarnya, fisiknya terasa begitu lelah dan kepalanya pening, ia sangat ingin menolak. Namun, ia kembali disadarkan oleh posisinya saat ini: ia adalah sang "penyelamat" yang telah dibeli. Ia harus memainkan perannya sebagai tunangan yang bahagia dengan sangat baik demi kelancaran investasi puluhan miliar tersebut.
Restoran Le Ciel terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit di kawasan bisnis Sudirman. Dari dinding kaca raksasanya, pemandangan kota Jakarta membentang luas seperti miniatur di bawah kaki mereka. Di tempat semewah itu, Derian benar-benar memperlakukan Vanya layaknya seorang ratu dari kerajaan dongeng. Pria itu menarikkan kursi untuk Vanya, memesankan menu fine dining terbaik dari koki Prancis, dan tidak henti-hentinya melayangkan pujian manis.
"Kamu terlihat luar biasa cantik hari ini, Vanya," ujar Derian dengan mata berbinar-binar penuh kepuasan sembari menggenggam jemari tangan Vanya di atas meja yang beralaskan kain linen putih. "Lusa, setelah sidang sialan itu selesai dan si gembel itu resmi divonis belasan tahun penjara, aku akan membawamu terbang ke Paris. Kita akan berlibur di sana selama sebulan. Kamu butuh suasana baru yang jauh dari semua kenangan buruk ini."
Vanya memaksakan bibirnya untuk melengkung membentuk senyuman manis. "Terima kasih banyak, Derian. Kamu... kamu selalu memikirkan dan menyiapkan semuanya untukku."
"Tentu saja, Sayang. Aku mencintaimu lebih dari siapa pun di dunia ini. Jangan pernah ragukan itu," ucap Derian sembari menatap mata Vanya dengan intensitas yang dalam, mencoba menembus pertahanan gadis itu. "Aku ini cinta pertamamu yang selalu setia, Vanya. Ingat kan? Aku bahkan rela bertengkar hebat dengan orang tuaku dan meninggalkan rencana pernikahan bisnis yang mereka paksakan dulu, lalu kabur ke luar negeri... itu semua demi menjaga cintaku hanya untukmu."
Derian mengusap punggung tangan Vanya perlahan. "Aku tahu, selama beberapa minggu terakhir ini, perhatian dan fokusmu sempat sedikit teralih oleh kehadiran si Reyhan itu. Tapi kuperintahkan padamu, lupakanlah semuanya sekarang. Anggap saja si kecoa itu hanya sebuah noda kecil yang kotor dalam sejarah hidup kita, sejarah cinta kita yang sempurna."
Vanya berusaha keras di dalam otaknya untuk menyetujui setiap kata yang keluar dari mulut tunangannya. Ia mencoba memaksa memorinya untuk memutar kembali rekaman-rekaman momen manis dan romantis bersama Derian selama lima tahun masa pacaran mereka dulu.
Namun, sebuah anomali psikologis terjadi secara tiba-tiba. Saat seorang pelayan restoran datang dengan langkah anggun untuk mengantarkan hidangan pembuka, mata Vanya secara tidak sadar—seperti sebuah gerak refleks yang terkondisikan—malah melirik ke arah sudut ruangan dekat pintu masuk. Ia mencari sosok pria bertubuh tegap yang biasanya berdiri diam di sana dengan seragam supir yang rapi, dengan posisi tangan bersedekap di depan, selalu siap siaga menjaganya dari bahaya apa pun.
Sosok yang tidak ada di sana. Sosok yang kini mengering di lantai sel tahanan.
Tidak, Vanya! Cukup! Berhenti memikirkan supir pembegal itu! bentak Vanya pada dirinya sendiri di dalam hati. Ia merasa jijik dengan otaknya sendiri yang terus-menerus mengkhianati keputusannya.
Untuk mengalihkan pikirannya, Vanya memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang sedikit kasar, mencoba menenggelamkan seluruh kesadarannya ke dalam obrolan romantis dan masa depan yang terus digulirkan oleh Derian. Derian menceritakan dengan sangat detail tentang rencana desain rumah mewah baru yang akan mereka bangun di kawasan Pondok Indah, tentang liburan musim dingin mereka selanjutnya, hingga tentang jumlah anak yang ingin mereka miliki kelak setelah menikah.
Bagi siapa pun, bagi orang luar atau pengunjung restoran lain yang melihat interaksi mereka dari jauh, suasana di meja itu nampak sangat romantis, sempurna, dan membuat iri. Namun bagi Vanya, setiap untaian kata yang keluar dari bibir Derian terasa seperti sebuah naskah drama chiklit yang sudah dihafal di luar kepala—begitu rapi, begitu mekanis, namun kehilangan jiwanya.
"Derian," panggil Vanya memotong kalimat pria itu di tengah-tengah kencan mereka. Ada nada bimbang yang tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya. "Apa... apa kamu benar-benar yakin kalau Reyhan adalah otak di balik semua kejadian malam itu? Maksudku... polisi tidak mungkin melakukan salah tangkap, kan?"
Seketika itu juga, ekspresi wajah Derian berubah kaku selama sepersekian detik. Kilat matanya menegang, memancarkan aura tidak suka yang sangat pekat sebelum akhirnya dengan kecepatan seorang manipulator ulung, ia kembali memasang senyum manisnya.
"Vanya, Sayang... dengerin aku," ucap Derian dengan suara yang direndahkan, terdengar sangat protektif namun sekaligus mengintimidasi mental Vanya. "Pelaku pembegalan yang satunya—eksekutor lapangan yang ditangkap pertama kali—dia sudah bersaksi dengan gamblang di depan penyidik dan menyebut nama Reyhan. Bukti apa lagi yang kamu butuhkan untuk meyakinkan otak pintarmu ini, hm? Jangan biarkan sisa-sisa 'ilmu hitam', guna-guna, atau trik psikologis apa pun yang dimiliki si gembel itu meracuni pikiranmu lagi. Fokuslah pada kita, Vanya. Fokuslah pada masa depanmu dan pada penyelamatan Hutama Group yang ada di tanganku."
Kalimat terakhir yang diucapkan Derian adalah sebuah pukulan telak yang menghantam telinga Vanya. Penyelamatan Hutama Group. Hutang budi. Transaksi.
Vanya terdiam membisu, pandangannya turun menatap cincin berlian di jarinya yang berkilau memantulkan cahaya lampu gantung restoran. Detik itu juga, Vanya menyadari satu hal yang teramat pahit: hubungannya dengan Derian kini bukan lagi tentang rasa cinta yang tulus, melainkan tentang sebuah transaksi bisnis yang dingin. Dan kebencian serta kemarahannya pada sosok Reyhan adalah satu-satunya benteng pertahanan psikologis yang tersisa untuk membenarkan semua keputusan gila yang telah ia ambil.
"Aku pasti akan hadir di persidangan itu lusa, Derian," ucap Vanya dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat tegas, dingin, dan penuh determinasi. "Aku sendiri yang akan maju ke depan meja hijau dan memastikan supir bajingan itu menerima hukuman maksimal. Aku akan pastikan dia membusuk di dalam penjara."
Derian tersenyum sangat puas mendengar jawaban itu. Ia meraih kembali tangan Vanya, menggenggamnya erat lalu mengecupnya dengan perasaan penuh kemenangan yang mutlak. Pria itu merasa di atas angin, merasa rencananya telah sempurna tanpa ada celah sedikit pun.
Derian tidak pernah tahu, bahwa jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, di balik topeng kemarahan dan kebenciannya, Vanya sedang menangis dengan sangat melankolis. Gadis itu sedang meratapi hilangnya sosok pahlawan sejati yang pernah mempertaruhkan nyawa demi melindunginya di jalanan sepi—sosok yang kini terpaksa ia yakini sebagai seorang pengkhianat busuk demi menjaga kewarasan logikanya sendiri. Vanya tidak pernah menyadari, bahwa panggung sandiwara yang dirancang Derian dengan begitu rapi ini, justru sedang berjalan menuju sebuah tebing eksekusi yang disiapkan oleh tangan dingin seorang pewaris tunggal Dirgantara.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan