NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romantis / Cintamanis
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Tak perlu tes DNA

Matahari mulai condong ke barat. Langit masih menyisakan warna keemasan ketika motor Keanu berhenti di depan rumah.

Keanu memarkirkan motornya, lalu mematikan mesin. Begitu membuka helm, tawa kecil langsung menarik perhatian mereka.

Anindia langsung menoleh ke arah teras, Keanu juga ikut melakukan hal yang sama.

Di sana, Shaka duduk di pangkuan Oma-nya, tangannya bergerak aktif. Di depannya, ayah Keanu tampak sedang menggodanya, membuat suara tawa Shaka pecah begitu saja.

Anindia tersenyum tanpa sadar. Rasa khawatir yang sejak tadi mengikutinya perlahan runtuh begitu saja. Keanu tidak langsung turun dari motornya, ia justru memperhatikan momen itu sedikit lebih lama.

"Anteng banget dia," gumam Keanu pada dirinya sendiri.

Anindia melangkah lebih dulu, mendekati teras dengan langkah yang lebih cepat. "Assalamualaikum," ujarnya lembut, lalu mencium tangan kedua mertuanya.

Keanu akhirnya turun dari motornya, menghampiri kedua orang tuanya. Lalu, ia mencium takzim tangan keduanya, seperti biasa.

Ibu Keanu langsung menoleh, sembari menyunggingkan senyum hangat. "Waalaikumsalam. Nah, ini yang di tunggu akhirnya datang juga."

Ayah Keanu mengangguk singkat. "Waalaikumsalam. Udah pulang?" Tanyanya.

"Udah Pa," jawab Keanu singkat.

Shaka yang mendengar suara itu langsung menoleh. Matanya berbinar ketika melihat kedua orang tuanya.

"A-yah!" Ocehnya, tangannya menepuk-nepuk tangan Oma-nya.

Anindia dan Keanu sama-sama terdiam beberapa detik, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja mereka dengar.

Keanu menoleh cepat ke arah Shaka, alisnya sedikit terangkat. "Barusan dia bilang, ayah?"

Anindia juga menatap Shaka lamat, matanya melebar sedikit. "Iya Mas," gumamnya pelan, masih sedikit kaget. "Tadi jelas banget."

Shaka justru tertawa kecil, tangannya kini terangkat ke arah mereka. Keanu langsung melangkah mendekat. "Sini-sini, sama ayah," ujarnya, tangannya sudah siap untuk menggendong.

Namun, Shaka justru menggeleng cepat. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, ekspresinya berubah sedikit manja, menggemaskan sekali. "Uh-uh."

Tangan mungil Shaka beralih ke arah Anindia. "Bu-na!" Panggilnya, suara kecil itu terdengar lebih jelas sekarang.

Anindia langsung tersenyum lebar, tidak bisa menyembunyikan rasa gemasnya. "Ya Allah..." Gumamnya, lalu segera menggendong Shaka ke dalam pelukannya.

Keanu yang tangannya menggantung di udara hanya bisa menatap, lalu menghela nafas pendek dengan ekspresi pasrah.

"Udah bisa manggil ayah, tapi tetap milih bunda," ujar Keanu dengan gelengan kepala.

Anindia terkekeh, mengayun Shaka pelan. "Ya wajar, Mas."

Shaka bersandar nyaman di pundak Anindia, wajahnya menghadap ke arah Keanu. Matanya masih berbinar, seolah ingin menunjukkan sesuatu.

Keanu menatap putranya sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Coba lagi," ujar Keanu lembut. "Panggil ayah."

Shaka hanya menatap, lalu tertawa kecil tanpa benar-benar mengulang. Dan itu justru membuat suasana semakin hangat.

Ibu Keanu menatap Shaka dengan mata membulat penuh haru. "Ya Allah, tadi dia bilang ayah, kan?" Ujarnya dengan suara lembut.

Ayah Keanu juga tidak bisa menyembunyikan senyum bangganya. Ia mengangguk pelan, menatap cucunya dengan sorot mata yang hangat. "Iya, jelas. Udah mulai lancar itu."

Ibu Keanu tertawa kecil. "Cepat banget ya perkembangannya, kemarin masih bu-na."

"Sekarang udah lengkap," ujar ayah Keanu menimpali, lalu melirik ke arah putranya. "Walaupun yang dipilih tetap ibunya."

Keanu hanya terkekeh pelan, sementara Anindia hanya tersenyum. Lain halnya dengan ibu Keanu, yang malah semakin gemas. "Aduh, pintar banget sih cucu Oma," ujarnya, tangannya mengusap kepala Shaka pelan.

"Aamiin, terima kasih doanya Oma," ujar Anindia yang menirukan suara anak kecil, mencontohkan pada Shaka.

Shaka yang tidak mengerti apa-apa justru tertawa lagi, membuat mereka ikut tersenyum. Momen kecil itu terasa sederhana, tapi entah mengapa terasa lebih hangat, kontras dengan langit sore itu.

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Malam perlahan turun, menggantikan hangatnya sore dengan suasana yang lebih tenang. Lampu ruang makan menyala terang, menerangi meja yang sudah dipenuhi berbagai hidangan sederhana, namun menggugah selera.

Anindia duduk di salah satu kursi, sementara Shaka berada di pangkuannya. Sesekali ia menyuapi anaknya dengan sabar, meski lebih sering makanan itu berakhir di sekitar mulut kecilnya.

"Pelan-pelan, nak," ujar Anindia lembut, sembari menyeka pipi Shaka yang sedikit belepotan.

Di seberangnya, Keanu duduk santai sambil mengambil lauk. Tatapannya sesekali melirik ke arah Shaka, memperhatikan tingkah anaknya dengan sudut bibir yang terangkat samar.

"Baru aja makan, udah berantakan," ujar Keanu.

Anindia melirik sekilas, "Namanya juga anak kecil, Mas."

Ayah Keanu terkekeh kecil dari ujung meja. "Dulu kamu juga gitu," ujarnya santai.

Keanu langsung menoleh, Enggak mungkin, Pa." Bantahnya cepat.

Ibu Keanu mengangguk mantap, seolah membenarkan perkataan suaminya. "Iya persis, bahkan lebih parah."

Anindia langsung menahan senyum, sementara Keanu hanya bisa menghela pelan, tidak bisa membantah lagi. Keanu menatap putranya beberapa saat, lalu menggeleng pelan. "Foto copy ayah, ya?"

Anindia tertawa kecil, "Kan anaknya, Mas. Gimana sih?"

Keanu tersenyum, tatapannya kini beralih pada Anindia. Cukup lama, seolah sedang memperhatikan senyum itu lebih lama. Lalu, ia mengalihkan kembali pandangannya pada piring di hadapannya.

Di meja makan itu dipenuhi dengan obrolan ringan. Sesekali terdengar tawa kecil, dan dentingan sendok yang beradu dengan piring. Semua itu terlihat jelas, bukan hanya sekedar makan malam, tapi ini tentang rumah.

Waktu berlalu tanpa terasa, obrolan di meja makan perlahan mereda. Anindia mengusap pelan bibir Shaka yang masih belepotan, lalu menatap Keanu.

"Mas, bentar ya," ujar Anindia yang mengalihkan Shaka ke dalam gendongan Keanu.

Keanu yang awalnya santai, langsung sigap menyesuaikan posisi. "Sini, sama ayah," ujarnya sembari menepuk pelan punggung kecil itu.

Anindia bangkit dari duduknya, mengumpulkan piring-piring kotor di meja. Meski di rumah itu ada asisten yang biasa mengurus pekerjaan rumah, tangannya tetap bergerak ringan, sudah menjadi kebiasaannya.

Anindia membawa piring-piring itu ke dapur, mencucinya satu persatu. Sementara Mbak Tika langsung membantu membilasnya, merasa tidak enak.

"Biar saya bantu, Mbak." Ujar asisten itu.

"Terima kasih, Mbak," ujar Anindia dengan seutas senyum.

Air mengalir pelan, suara gesekan air dan sabun terdengar lembut di tengah malam yang mulai tenang, diiringi dengan perbincangan santai dengan Mbak Tika. Beberapa menit berlalu, Anindia akhirnya menyelesaikan tugasnya.

Setelahnya, Anindia melangkahkan kakinya menuju kamar. Langkahnya perlahan menaiki anak tangga.

Begitu pintu kamar terbuka, pemandangan sederhana langsung menyambutnya, Keanu dan Shaka sedang bermain di atas kasur. Robot dan beberapa bola warna-warni berserakan di atasnya.

Keanu duduk dengan satu kaki dilipat, tangannya memegang salah satu robot. Ia menggerakkan maju mundur dengan suara efek yang dibuat seadanya.

"Bip... Bip," ujar Keanu menirukan suara robot, sembari menggerakkan mainan itu ke arah Shaka.

Shaka yang berada di depannya langsung tertawa lepas. Tangannya menepuk-nepuk kasur, lalu meraih salah satu bola kecil.

Anindia yang berdiri di ambang pintu hanya terdiam sejenak. Pemandangan itu sederhana, tapi selalu membuat hatinya terasa penuh.

Anindia tidak langsung menghampiri mereka, ia hanya tersenyum tipis. Lalu, ia melangkah menuju meja belajarnya, menyelesaikan sedikit tugas kuliahnya.

Anindia menarik kursi perlahan, duduk dengan tenang. Tangannya meraih buku dan beberapa lembar catatan yang masih terbuka, lalu beralih pada pena yang tergeletak di atas meja.

Anindia menunduk, mulai melanjutkan tugasnya. Sesekali, suara tawa Shaka terdengar, diselingi dengan suara Keanu yang memomong nya. Tanpa sadar, sudut bibir Anindia terangkat.

Tak terasa, waktu berlalu begitu cepatnya. Setengah jam telah berlalu, suasana di kamar perlahan mulai berubah. Hening, tidak ada lagi suara-suara seperti sebelumnya.

Anindia berhenti menulis, alisnya sedikit mengernyit. Lalu, ia menoleh ke arah kasur. Di sana, Keanu dan Shaka sudah terlelap.

Keanu dengan posisi setengah berbaring, satu tangannya terjatuh di samping tubuhnya. Sementara Shaka tertidur di dekatnya, tubuh kecilnya meringkuk dengan robot dalam genggamannya.

Anindia memperhatikan sejenak, lalu ia beranjak perlahan ke arah tempat tidur. Satu persatu mainan Shaka ia kumpulkan, lalu meletakkannya kembali ke tempatnya.

Setelahnya, tangannya beralih pada Shaka. Dengan hati-hati ia melepaskan robot itu dari genggaman tangan mungil putranya, lalu mengangkat tubuh kecil itu perlahan.

Anindia memindahkannya ke samping Keanu, membaringkan Shaka dengan lembut di atas bantal. Anindia kemudian menarik selimut, menutupi tubuh keduanya hingga sebatas dada.

Anindia memperhatikan wajah suami dan anaknya yang begitu tenang, membuatnya tersenyum sedikit. Ia kemudian kembali ke mejanya, merapikan buku-bukunya yang masih berantakan.

Selesai dengan bukunya, Anindia kembali melangkah. Kali ini kakinya menuju ke arah kamar mandi. Ia menutup pintunya perlahan, agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan keduanya. Air mengalir dari keran, cukup untuk menyegarkan diri setelah seharian beraktivitas.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi kembali terbuka. Anindia keluar sembari mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil. Namun, ketika pandangannya tertuju ke kasur, langkahnya langsung berhenti.

Anindia sedikit tercengang, matanya secara bergantian menatap Keanu lalu Shaka. Posisi tidur keduanya sama persis.

Keanu tidur dengan satu tangan bertumpu di perutnya, sementara tangan satunya terangkat ke atas kepala, sedikit menekuk. Wajahnya tenang, nafasnya teratur.

Di sampingnya, Shaka dengan ukuran tubuh yang jauh lebih kecil, meniru posisi itu tanpa sadar. Satu tangan mungilnya berada di atas perut, satu tangan lainnya terangkat ke atas, sama persis seperti ayahnya.

Anindia menahan senyum. Ia melangkah mendekat, lalu menunduk sedikit. Seolah memastikan bahwa ia tidak salah melihat.

"Ini mah," gumam Anindia pelan, nyaris tak terdengar. "Nggak perlu tes DNA."

Nada suaranya dipenuhi dengan rasa gemas yang tidak bisa disembunyikan. Anindia menggeleng kecil, lalu duduk di tepi tempat tidur.

Di hadapannya, dua orang yang paling penting dalam hidupnya tidur dengan cara yang sama, tanpa mereka sadari. Dan entah kenapa, hal itu terasa begitu lucu namun juga hangat.

Senyum Anindia belum juga hilang. Matanya masih bergantian melirik Keanu juga Shaka, seolah tidak ingin melewatkan detail sekecil apapun dari momen itu.

Tanpa banyak pikir, Anindia langsung meraih ponselnya di atas meja kecil. Ia membuka kamera, lalu mengatur kameranya agar tidak menimbulkan suara. Posisi tubuhnya sedikit membungkuk, mencari sudut yang pas.

Cekrek!

Satu foto berhasil ia dapatkan. Anindia berhenti sejenak, memperhatikan hasilnya. Sudut bibirnya kembali terangkat, merasa belum cukup.

Anindia menggeser posisi, kali ini lebih dekat. Ia memastikan kedua wajah itu masuk ke dalam satu frame yang sama.

Satu foto lagi tersimpan. Anindia memperhatikan layar ponselnya lebih lama. Tanpa sadar, jempolnya mengusap pelan layar, seolah ingin menyentuh momen itu lebih dekat.

Anindia menarik nafas pelan, lalu mematikan ponselnya. Benda pipih itu ia letakkan kembali dengan hati-hati. Lalu, pandangannya kembali pada si kecil Shaka.

"Lucu banget," gumam Anindia lirih.

Setelah memastikan semuanya aman, Anindia mematikan lampu kamar. Hanya menyisakan lampu tidur sebagai penerangan.

Anindia naik ke atas kasur, penuh kehati-hatian. Ia menyelip di sisi yang kosong, tepat di samping Shaka. Tangannya secara refleks meraih tubuh kecil itu, mengusap punggungnya pelan.

Anindia memposisikan tubuhnya lebih nyaman, kepalanya bersandar di bantal. Matanya sempat melirik Keanu yang sudah tertidur pulas, lalu kembali melirik Shaka.

Anindia mulai memejamkan matanya perlahan. Suara nafas yang teratur dari dua orang di sampingnya, menjadi satu-satunya irama malam itu. Dan di antara keheningan yang nyaman, akhirnya Anindia ikut terlelap.

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!