Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".
Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.
Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9 : PERSELISIHAN DI LAPANGAN
Hari itu latihan pedang berlangsung ramai. Murid-murid baru belajar memegang pedang kayu dengan kaku. Namun, Lisa merasa tidak puas. Baginya pedang kayu itu terlalu ringan dan tidak memiliki 'nyawa'.
Matanya menangkap sebuah rak senjata. Di sana tersisa satu buah Pedang Latih Besi yang asli, tajam, dan beratnya pas. Lisa berjalan mendekat dan hendak mengambilnya.
"HEH! JANGAN SENTUH!" 🗣️💢
Tiba-tiba sebuah tangan kasar mendorong tangan Lisa menjauh. Seorang cowok berotot dengan wajah sombong datang dan langsung merebut pedang itu lebih dulu.
Itu adalah murid senior dari jurus bela diri, yang merasa dirinya paling jago main pedang.
"Lihat-lihat dong jalan! Ini pedang terakhir , jelas buat orang yang bisa main pedang kayak gue!" cowok itu mendecakkan lidah sinis saat melihat penutup mata Lisa.
"Ah iya ya... lupa kalau lo itu buta. Ngapain sih lo pake pedang asli? Nanti malah nyakar kaki sendiri kan?!"
Cowok itu tertawa keras, diikuti teman-temannya.
"Benar tuh! Wanita itu ciptanya buat sihir dan masak doang! Main pedang itu dunia laki-laki! Lemas lemah gitu mah pulang aja bawa sapu!"
"Cewek buta mah diem aja di pojokan! Nggak pantas pegang senjata tajam! Buang-buang tempat aja!"
Selama ini Lisa selalu diam dan cuek kalau dihina. Tapi kali ini beda.
Kata-kata itu bukan cuma menghina dirinya, tapi menghina pedang dan seni bela diri yang Lisa kuasai sendiri
Lisa adalah Dewa Pedang Sejati. Di dunia asalnya,dia adalah pencipta gaya bertarung, dia yang menentukan apa itu 'teknik sempurna'. Karna di alam para dewa tidak ada yang mengunakan tekni pedang dan Lisa lah satu satunya yang menciptakan teknik pedang
Dan sekarang... ada semut kecil yang berani bilang wanita tidak pantas pegang pedang?
GLEK. 🩸
Tubuh Lisa mulai mengeluarkan aura dingin yang membunuh. Udara di sekitarnya mendadak beku. Floyen yang dari jauh liat langsung lari mau nolong, tapi Lisa angkat tangan menahannya.
Lisa menatap cowok itu dengan tatapan mematikan. Suaranya pelan tapi terdengar mengerikan.
"Kau bilang... wanita tidak pantas memegang pedang?"
"Cih! Iyalah! Ngapain juga cewek..."
"Dan kau bilang... orang buta tidak bisa menggunakan pedang?"
"Jelas dong! Mana bisa..."
Belum selesai cowok itu bicara, Lisa tiba-tiba bergerak.
SREET!!! ⚡️
Tak ada yang melihat gerakannya. Hanya ada bayangan tipis. Tiba-tiba...
TRANG!!! 🔊✨
Suara benturan keras menggema!
Cowok itu terkejut bukan main. Dalam sepersekian detik, Lisa entah bagaimana sudah mengambil pedang lain (pedang biasa yang ada di dekatnya) dan menangkis pedang yang dipegang cowok itu dengan sangat cepat dan presisi!
Kekuatan dari tebasan Lisa itu... LUAR BIASA!
BUAAKK!! 🤕
Tangan cowok itu langsung kesemutan hebat, pedang di tangannya nyaris lepas, dan tubuhnya terpental mundur beberapa langkah terhuyung-huyung kaget!
Mata cowok itu melotot tak percaya.
'Cuma nangkis doang... tapi kekuatannya kayak ketabrak kereta kuda?!'
Lisa berdiri tegap memegang pedang dengan pose yang paling sempurna, anggun, dan mematikan. Gaya memegang pedangnya bukan gaya manusia, tapi gaya Dewa Perang.
"Dengar baik-baik ya..." suara Lisa dingin memecah keheningan.
"Di dunia ini, tidak ada yang namanya laki-laki atau perempuan dalam hal pedang. Dan tidak ada yang namanya buta atau melihat."
"Yang ada hanyalah... yang kuat dan yang lemah."
Lisa mengarahkan ujung pedangnya perlahan ke arah dagu cowok itu yang gemetar.
"Dan kau... baru saja menyinggung hal yang paling aku banggakan. Kau menghina profesiku sebagai Ahli Pedang Terhebat."
Seluruh lapangan latihan jadi hening total. Semua murid, senior, bahkan guru pembina semuanya berhenti bergerak menatap Lisa tak percaya.
Gadis buta itu... gerakannya lebih cepat dari angin! Teknik memegang pedangnya sempurna sampai rasanya berdosa kalau dilihat!
Cowok yang tadi sombong sekarang keringat dingin bercucuran.
Lisa menurunkan pedangnya dengan santai, lalu melempar pedang itu ke lantai tepat di kaki cowok itu.
Dentak!
"Ambil. Pedang itu terlalu bagus buat dipegang sama orang yang otak dan tenaganya selemah telur busuk kayak kau. Simpan buat mainan anak-anakmu nanti."
Lisa berbalik badan meninggalkannya, "Floyen, ganti pedang. Kita cari yang lain. Yang ini bau keringat rendahan."
"IYA KAKAK!!" Floyen lari setengah ketawa ngikutin kakaknya yang badass banget.
Meskipun tubuhnya terpental mundur dan tangannya masih kesemutan hebat akibat benturan tadi, cowok berotot itu tidak mau mengaku kalah. Wajahnya memerah padam karena malu dilihatin banyak orang.
"Dasar cewek beruntung!!" teriaknya keras. "Kau cuma nangkis doang! Aku bahkan belum melepaskan serangan penuhku! Belum selesai!!"
Lisa menatapnya dengan tatapan datar yang membunuh. 'Dasar rendahan, tidak tahu diri. Sudah dikasih muka malah nuntut lebih.'
Tapi cowok itu semakin berani karena merasa gengsinya diinjak-injak. Ia merogoh sakanya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan sutra.
SRETT! 💨
Dengan gerakan dramatis, ia melempar sapu tangan itu tepat ke arah wajah Lisa! Sapu tangan itu melayang dan jatuh tepat di depan kaki Lisa.
Itu adalah tanda TANTANGAN DUEL RESMI!
"AKU MENANTANGMU!!" raung cowok itu dengan mata berapi-api. "Besok kita bertarung sungguhan di arena! Kalau kau benar-benar hebat seperti yang kau pamerkan tadi... terima tantanganku! Jangan jadi pengecut!"
Pemandangan itu sontak membuat suasana jadi panas membara!
- Floyen langsung mencabut pedang naganya setengah, matanya melotot marah, "BERANI-BERANINYA DIA LEMPAR BARANG KE MUKA KAKAKKU?! MATI LO BEGO!!" 🤬⚔️
- Kyle langsung maju mau ngehajar orang itu langsung, "WOY SADAR DIRI LO HA?! LO LAWAN SIAPA SIH?! GUE BAKAL BIKIN LO NANGIS DARAH!!"
- Harit & Theo juga mengerutkan kening sangat dalam, aura membunuh mereka keluar, "Kurang ajar... dia pikir dia siapa menantang Lisa?!"
- Pangeran Kael wajahnya sedingin es, tangannya mengepal kuat sampai kuku jarinya memutih. Ia sangat ingin maju dan menghukum orang itu sendiri karena berani menghina Lisa sedemikian rupa.
Tapi... Lisa mengangkat tangan pelan, menghentikan gerakan mereka semua.
'Apa yang baru saja dia lakukan?' batin Lisa bergetar, bukan karena takut, tapi karena marah besar.
'Dia melempar sapu tangan padaku? Dia menantangku? Aku...'
'Aku yang pedangku bisa membelah lautan dan membelah langit... sekarang ditantang oleh makhluk rendahan, sampah masyarakat yang otaknya hanya penuh otot dan angin saja?!'
'Menghinaku wanita? Menghinaku buta? Dan sekarang berani-beraninya menantangku berduel?!'
Lisa bisa merasakan darahnya mendidih. Sejarah hidupnya... TIDAK PERNAH ada yang berani menantangnya. Semua orang tahu, menantang Lisa sama saja menandatangani surat kematian sendiri.
Lisa menatap ke arah cowok itu, dan meski ia memakai penutup mata, cowok itu tiba-tiba merasa bulu kuduknya merinding seluruh badan seolah ditatap oleh naga lapar.
Lisa membungkuk perlahan, mengambil sapu tangan yang terlempar di tanah itu dengan ujung jarinya. Ia memandang kain itu dengan jijik.
"Kau ingin duel?" suara Lisa pelan, tapi terdengar sangat dingin dan mengerikan sampai membuat udara di sekitarnya bergetar.
"Baiklah. Aku terima."
Lisa melepaskan sapu tangan itu dan dibiarkan terbang terbawa angin.
"Besok kita lihat siapa yang menangis!"
Lisa berbalik badan pergi, meninggalkan kerumunan yang heboh. Di dalam hatinya, Lisa sudah memutuskan... besok dia akan menghancurkan harga diri orang itu sampai ke titik nol.
Setelah latihan usai dan kerumunan mulai bubar, Floyen langsung berlari mendekati Lisa dengan wajah khawatir. Ia menarik pelan ujung baju kakaknya.
"Kakak... dengerin Floyen ya..." bisik Floyen serius. "Jangan terlalu keras nanti pas duel. Orang itu kan cuma manusia biasa. Kalau Kakak main serius dikit aja... bisa-bisa dia langsung mati beneran kena tebasan Kakak."
Lisa berhenti berjalan, lalu menarik napas panjang perlahan mencoba menetralkan emosinya yang masih mendidih tadi.
Ia menoleh ke arah Floyen dan tersenyum. Tapi bukan senyum biasa. Itu adalah Senyuman Misterius yang sangat tipis dan dingin.
"Tenanglah..." jawab Lisa lembut. "Aku janji. Aku tidak akan menggunakan kekuatan sihirku sedikitpun. Aku tidak akan menggunakan auraku. Aku juga tidak akan membunuhnya."
Mata Lisa berkilat tajam di balik kain penutupnya.
"Aku hanya akan menggunakan... teknik murni saja padanya."
😱😱😱
Mendengar itu, jantung Floyen langsung berdegup kencang. Ia tahu betul senyum itu. Senyum yang hanya muncul saat Lisa benar-benar ingin menghancurkan harga diri seseorang sampai ke titik terendah.
'Ngeri...' batin Floyen. 'Kalau Kakak cuma pake teknik doang... itu malah lebih sadis. Berarti Kakak mau ngasih liat bedanya langit dan bumi. Mau ngalahin dia pake gaya yang sempurna tanpa ngeluarin tenaga sedikitpun...'
Floyen hanya bisa menghela napas pasrah dan mengangguk. "Ya sudah... hati-hati Kakak. Jangan sampai tangan Kakak kotor kena darah orang rendahan itu."
PENASARAN GENG ELITE
Dari kejauhan, Kael, Kyle, Harit, dan Theo memperhatikan mereka berdua dengan rasa penasaran yang membuncah.
"Gila... tadi gerakannya itu beneran bukan sihir kan?" tanya Kyle masih belum percaya. "Cuma nangkis doang tapi kekuatannya nyampe ke tulang. Gue pengen banget liat dia duel beneran besok."
"Gue juga," sahut Harit sambil mencatat. "Cara dia memegang gagang pedang, posisi kakinya, berat badannya... semuanya pas banget di titik pusat gravitasi."
Theo menatap tajam. "Besok kita harus liat dari barisan depan. Kita harus tau... sebenernya Lisa itu levelnya ada di mana."
Kael tersenyum penuh antisipasi. "Bersiaplah... besok kita akan menyaksikan sesuatu yang mungkin tidak akan kita lihat lagi seumur hidup."
Keesokan harinya, arena duel sudah penuh sesak. Semua murid dan guru berkumpul. Cowok berotot tadi sudah berdiri gagah di arena dengan baju tempur dan pedang besarnya, merasa dirinya paling jago.
Tapi semua mata tertuju ke pintu masuk.
Brak.
Lisa muncul.
Namun, ia tidak mengenakan seragam akademi biasa seperti yang lain. Ia mengenakan setelan berwarna hitam pekat dengan aksen emas yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang anggun namun mematikan. Baju itu didesain khusus untuk bergerak bebas tanpa hambatan.
Dan yang paling membuat semua orang ternganga...
Di pinggang kanannya, tergantung sebuah pedang yang tidak asing. Itu adalah Pedang Pertama yang pernah ia pegang di dunia ini. Pedang tua yang sederhana, namun memiliki sejarah dan 'nyawa' yang luar biasa. Pedang yang dulu ia ambil saat pertama kali turun ke dunia manusia.
Lisa memegang gagang pedang itu dengan sangat akrab, seolah pedang itu adalah perpanjangan tangan dan jiwanya sendiri.
Penampilannya hari ini bukan lagi sebagai siswa biasa. Tapi sebagai Seorang Ahli Pedang Sejati.
Cowok berotot itu menelan ludah melihat penampilan Lisa, jantungnya tiba-tiba berdegup tak karuan merasakan aura yang berbeda.
Lisa berjalan masuk ke arena dengan langkah tenang, setiap langkahnya seolah menghentak jantung penonton.
Di mata semua orang yang melihat dari pinggir arena, pedang yang dipegang Lisa terlihat biasa saja. Hanya pedang tua yang bentuknya klasik, ukirannya cantik, dan mengkilap bersih. Tidak ada api, tidak ada kilat, tidak ada aura menyilaukan yang keluar.
Bagi orang awam: "Ah cuma pedang biasa doang, mungkin bagus tapi biasa aja."
Tapi bagi Kael, Kyle, Harit, dan Theo... bulu kuduk mereka merinding. Mereka bisa merasakan getaran aneh. Seakan-akan pedang itu diam saja tapi "menelan" seluruh energi di sekitarnya.
Namun, si Cowok Berotot sama sekali tidak merasakan itu.
Dia hanya melihat cewek berpenutup mata dengan pedang kecil di tangannya. Rasa percaya dirinya memuncak karena dia tahu rahasia yang disembunyikannya.
Sebelum naik ke arena, diam-diam dia sudah meminum sebotol cairan merah pekat yang diberikan oleh sosok misterius berkerudung tadi malam.
"Minumlah ini. Kekuatanmu akan meningkat sepuluh kali lipat. Kau akan menjadi terkuat. Bunuh gadis itu, dan hadiahmu akan berlimpah," begitu kata orang itu.
Dan sekarang, efeknya sudah bekerja!
DUG! DUG! DUG! ❤️🔥
Jantung cowok itu berdegup kencang, otot-ototnya membesar sedikit, urat-urat biru hijau aneh muncul di lengannya, dan energinya meledak-ledak tidak stabil.
Dia menatap Lisa dengan tatapan buas dan sombong.
"HAH! Akhirnya rasa sombongmu akan habis juga, wanita! Kau pikir dengan gaya sok keren begitu kau bisa menang?! Hari ini aku akan menghancurkanmu dan pedang murahanmu!" teriaknya penuh keyakinan. Tidak ada sedikit pun rasa takut di matanya. Hanya ada nafsu bertarung yang buta.
TERJADINYA DUAL
Ting! 🛎️
Tanda mulai berbunyi.
"MATILAH!!" 🗣️💢
Cowok itu melesat dengan kecepatan yang sangat tidak wajar untuk ukuran tubuh sebesarnya!
WUSH!!
Dia mengayunkan pedang besarnya dengan kekuatan yang luar biasa! Hembusan anginnya saja sampai meniup debu di lantai arena!
TRANG!!! 🔊✨
Lisa menangkis dengan santai menggunakan pedang tuanya.
TAPI...
'APA?!' 🤯
Mata Lisa terbelalak di balik penutup matanya. Tubuhnya sedikit terguncang ke belakang.
Dia terkejut.
Bukan karena sakit atau kewalahan, tapi karena aneh.
'Kekuatan ini...' batin Lisa berputar cepat menganalisis. 'Gila... ini bukan kekuatan alami. Ini bukan energi yang berasal dari latihan atau bakat bawaan.'
Lisa bisa merasakan aliran energi di tubuh lawannya itu kacau balau. Panas, tidak stabil, dan... ada bau energi yang terlarang.
'Ini kekuatan yang dipaksakan. Dimasukkan secara paksa ke dalam tubuh. Seharusnya... dengan tubuh manusia biasa selemah ini, dia sudah harus meledak dan mati saat menerima energi sebesar ini. Kenapa dia masih bisa berdiri?!'
'Dan yang paling aneh... ada jejak energi gelap yang sangat familiar. Seperti energi dari...'
Lisa terdiam sejenak. Lawannya menyerang lagi, Brak! Brak! Brak! dengan gila-gilaan. Lisa terus menangkis dan menghindar dengan wajah serius.
'Jejak ini... tidak mungkin. Ini seharusnya sudah musnah ribuan tahun lalu. Kenapa ada di sini? Dan kenapa diberikan pada manusia rendahan seperti dia?!'
Lisa benar-benar bingung dan penasaran. Bukan takut, tapi dia geram karena ada pihak ketiga yang bermain curang dan merusak aturan alam.
"Kau... dari mana kau dapat kekuatan ini?" tanya Lisa dingin di sela serangan.
Cowok itu tertawa gila, "RAHASIA! Yang penting hari ini kau yang mati!!"
Di pinggir arena, Kael, Kyle, Harit, dan Theo menatap pertarungan itu dengan kening berkerut dalam. Wajah mereka masam sekali.
"WOY WOY WOY!!" teriak Kyle tidak terima sambil menunjuk ke arah arena. "Itu kekuatan apa anjir?! Gak wajar banget!!"
Harit mengangguk cepat dengan wajah pucat, "Benar! Energi dia meledak-ledak tidak stabil! Warnanya pun gelap dan kotor! Itu..."
"RAMUAN TERLARANG!!" seru Kael dan Theo bersamaan dengan suara tegang.
GLEK! 🩸
Theo mengepalkan tangannya kuat-kuat, "Dasar sampah kurang ajar! Dia berani minum Elixir Iblis atau sejenisnya?! Itu obat yang dilarang keras oleh seluruh kerajaan karena merusak tubuh dan jiwa! Dia cuma mau menang pake cara kotor!"
"Jahat banget sih orang itu!" Kyle sudah siap mau menerobos masuk. "Dia mau bunuh Lisa pake cara curang ya?! Gue gak terima!!"
Kael menahan teman-temannya, tapi matanya menyala marah. "Tunggu... Lisa pasti sadar. Lihat pergerakan nya . Dia tidak takut, dia justru... geram karena ada yang main kotor."
KEANEKAN YANG DIRASAKAN LISA
Di dalam arena, setiap benturan terjadi, Lisa semakin yakin dengan dugaannya.
TRANG!! TRANG!! TRANG!! 🔊💥
'Ini energi... panas, liar, dan merusak. Bukan energi murni. Ini buatan. Dimasukkan paksa ke dalam tubuh.' batin Lisa menganalisis dingin.
'Orang ini bodoh sekali. Dia pikir dengan meminum ramuan kotor seperti ini dia bisa menyamaku? Dia tidak tahu bahwa kekuatan semacam ini justru akan memakan dirinya sendiri dari dalam.'
Lisa terkejut bukan karena takut, tapi karena marah. Ada pihak berani-beraninya menyebarkan barang terlarang semacam ini di akademi yang seharusnya aman.
"Kau..." suara Lisa memecah kebisingan, dingin dan tajam. "Kau menggunakan kekuatan kotor. Rendahan sekali."
"CIH! APA PEDULIMU!!" teriak cowok itu dengan mata merah membelalak, akal sehatnya mulai hilang karena efek obat. "YANG PENTING KUAT! DAN KAU AKAN MATI! HANCUR!!"
Dia menyerang dengan lebih gila lagi, ayunan pedangnya sekarang membawa angin kencang yang bisa memotong batu!
Lisa menghela napas panjang. Rasa penasaran sudah hilang, berganti dengan rasa jijik dan bosan.
"Sudah kubilang kan... aku hanya akan menggunakan teknik."
Lisa mengubah posisi kakinya sedikit. Sangat sedikit. Tapi itu cukup mengubah seluruh medan pertempuran.
"BERSIAPLAH... INI AKHIRNYA."
Melihat serangan gila yang penuh kebencian itu, Lisa tidak lagi mau main-main.
SREETTT!!! ⚡️💨
Dalam sekejap mata, sosok Lisa menghilang dari tempatnya!
Cowok berotot itu kaget, "Hah?! Mana dia?!"
Belum sempat dia menoleh ke kiri atau ke kanan...
TAP. 🤚🏻
Sebuah tangan yang lentik dan dingin mengetuk bahunya pelan dari arah belakang.
"Di sini..." bisik suara lembut yang terdengar sangat mengerikan di telinganya.
GLEK! 🩸
Cowok itu langsung mau berbalik dan menebas ke belakang dengan panik, "MATILAH!!"
SENI MENGIRIS
Tapi sudah terlambat.
Lisa tidak memberinya kesempatan.
Di saat yang bersamaan, Lisa mulai bergerak. Bukan menyerang keras, tapi menari.
Wush! Wush! Wush! 🗡️
Gerakan Lisa sangat cepat sampai mata manusia mana pun tidak bisa mengikutinya. Hanya terlihat bayangan hitam yang berputar mengelilingi tubuh cowok itu bagaikan angin puyuh.
Dan setiap kali bayangan itu lewat...
Srett! Srett! Srett!
Terjadi irisan-irisan tipis yang sangat presisi di baju dan kulit cowok itu.
Tapi anehnya... si cowok tidak merasakan sakit sama sekali.
Karena kecepatan tebasan Lisa melebihi kecepatan saraf manusia untuk merasakan rasa sakit. Dia cuma merasa angin berhembus kencang di sekeliling tubuhnya.
"Hah! Kenapa berhenti?! Seranglah!!" teriak cowok itu sombong, dia pikir dia berhasil menangkis semua serangan atau Lisa tidak bisa melukainya. Dia bahkan masih terus mengayunkan pedang ke angin kosong karena terlalu lambat.
"Dasar wanita... kau cuma bisa lari saja kah?!"
Lisa berhenti bergerak.
Ia muncul kembali berdiri tenang beberapa meter di depan cowok itu, membalikkan pedangnya dan memasukkannya kembali ke sarung dengan gerakan elegan.
Ceklek.
Suara pedang masuk sarung terdengar jelas di tengah keheningan.
Cowok itu masih berdiri tegak, napasnya memburu, wajahnya siap mengejek.
"Gimana?! Kau sudah kehabisan tenaga ya?! Akh—"
Belum selesai bicara...
Tiba-tiba...
PRUTT... 🩸
Darah segar menyembur keluar dari puluhan luka irisan tipis yang tersebar di seluruh tubuhnya! Luka di lengan, di kaki, di dada, semuanya terbuka bersamaan!
"AAHH?!"
Cowok itu terbelalak kaget. Baru saat itulah rasa sakit yang luar biasa menyerang sarafnya sekaligus!
"SAKITTTT!!"
Efek ramuan palsu di tubuhnya habis seketika karena tubuhnya menerima terlalu banyak luka. Kekuatannya lenyap, otot-ototnya lemas seketika.
JEDERR!!! 💥
Dengan suara keras, tubuh besarnya tumbuh jatuh ke tanah arena, bergelimangan darah merah yang hangat. Matanya berputar, napasnya tersengal, dan akhirnya... dia TEPAR tak berdaya.
Seluruh penonton di pinggir arena MELONGO TOTAL. Mulut mereka terbuka lebar, tidak ada suara apa pun.
Barusan... apa yang sebenarnya terjadi?
Mereka liat Lisa cuma muter-muter dikit, terus tiba-tiba orangnya jatuh berdarah gitu?!
Floyen di pinggir arena cuma geleng-geleng kepala sambil nyengir, 'Nasib... udah dibilang jangan nyari muka. Kakak Lisa itu kan Dewa Gunting alias Dewa Pedang. Dipotong pun lo gak bakal ngerasa.'
Dan di tempat lain, bayangan misterius yang ngasih obat melihat itu langsung kabur dengan ketakutan, 'Gila... cewek itu monster apa sih?! Obat level S pun gak mempan sama sekali!'
Bersambung....