NovelToon NovelToon
Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lonafx

Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.

Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.

Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.

Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.

____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?

kuyyy ikuti kisahnya ya~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Dikagumi Diam-Diam

Tamara menegakkan tubuh, dengan mata yang nyaris tak berkedip membaca beberapa rentetan pesan yang masuk.

Pesan itu dikirim dari nomor yang bahkan tidak ia simpan. Namun, dari pola emosi dan tulisannya, ia jelas tahu siapa pengirimnya. Andra.

Tamara sayang, kamu serius beneran nikah sama cowok itu?

Kamu keterlaluan banget, sumpah. Kamu serius ninggalin aku?

Padahal aku yang selalu mengerti dan paling peduli sama kamu.

Kamu kalau masih kesel dan marah sama aku, tapi jangan gini.

Tiba-tiba nikah? Ini bukan kamu banget.

Seperti biasa, Tamara lebih memilih mengabaikannya. Akan tetapi, detik berikutnya satu pesan kembali masuk.

Kata-kata yang ditulis Andra, membuatnya menatap lebih lama dari yang seharusnya.

Kamu nggak mikirin perasaan aku? Sakit tahu… liat foto-foto dan video pernikahan kamu berseliweran dimana-mana. Mana pamer kemesraan lagi.

Tamara tidak kaget, karena namanya memang dikenal orang-orang. Tidak juga heran, karena selama ini popularitas memang sudah menjadi bagian hidupnya.

Hal yang mengejutkannya justru satu kata itu. "Kemesraan?" gumamnya dengan alis terangkat.

Sejak hari pernikahan kemarin, ia bahkan belum membuat postingan apapun, karena memang tak berniat memamerkannya.

Tamara membenarkan posisi duduk, memegang ponsel sedikit lebih erat. Jarinya bergerak lincah, membuat layar berpindah pada aplikasi media sosial miliknya.

Layar menampilkan linimasa—entah sejak kapan, potongan foto dan video pernikahannya sudah beredar luas.

Beragam tagar, mention, hingga judul-judul narasi beberapa portal berita, menyorot wajah mereka dengan berbagai sudut dan tafsir.

Pandangannya berhenti pada satu postingan video, yang diunggah oleh akun pribadi salah satu sahabatnya. Meliza.

Unggahan itu berisi caption sederhana: Happy wedding my Bestie. Namun, potongan videonya membuat Tamara menahan napas sejenak.

Video itu menampilkan momen dirinya bersama Arvin setelah akad kemarin: saling tatap, sesekali tersenyum, hingga perlakuan manis Arvin yang mengusap pipi serta merapikan ujung rambutnya.

Secara keseluruhan, itu terlihat seperti potongan momen keromantisan dua orang, yang baru merayakan bersatunya cinta di atas pelaminan.

Harusnya ia tidak terlalu kaget.

Sebagai pemilik sekaligus 'wajah' dari brand kecantikan ternama yang terlalu akrab dengan media sosial, sejak lama ia memang terbiasa jadi pusat perhatian.

Setiap langkah dan keputusannya pun, tak luput dari komentar dan spekulasi publik, tapi kali ini berbeda.

Ini bukan peluncuran produk ataupun rencana bisnis, bukan pula segala pencapaian yang bisa ia kendalikan narasinya.

Ini tentang pernikahannya, yang ia pikir tidak perlu menjadi konsumsi publik.

Komentar pun berhamburan. Mulai dari ucapan selamat, ungkapan bahagia dan terbawa perasaan, sampai opini-opini yang masih bisa diterima.

Sampai sini ia masih bisa duduk tenang, merasa kalau ini bukanlah hal yang menakutkan. Cepat atau lambat, orang-orang juga akan tahu.

Cukup tahu, dan berhenti disitu.

Nyatanya, ia salah. Alisnya terangkat tinggi, begitu menemukan kolom komentar berikutnya.

Isinya bukan lagi ucapan selamat, tapi sebagian besar netizen justru datang dengan satu reaksi yang sama: kaget.

Tamara menarik napas pendek. Ia benar-benar terdiam saat membaca cuitan yang bernada heran, agak absurd, dan nyaris histeris.

Matanya melebar, karena hampir semuanya fokus pada satu sosok: Arvin.

Kak Tamara kok gak ada posting apa-apa sih? Tiba-tiba aja nikah. Btw, suaminya ganteng woy.

Kok mendadak? Tolong jangan bilang kalian dijodohkan ya, itu terlalu menyakitkan.

Prof. Arvin nggak pernah kelihatan punya kehidupan pribadi, ternyata nikahnya sama Tamara Hadinata yang "Too much life".

Tamara belum berhenti menggulir layar. Menatap komentar-komentar itu dengan mulut sedikit terbuka.

Anjrr... Profesor idola gue tiba-tiba banget jadi suami orang. Gue perlu materi tambahan soal 'kesehatan mental'' 😭

Beliau pernah ngajarin cara mengatasi serangan panik, tapi lihat berita ini, saya gagal praktik.

Beliau ngajar dengan tenang, nikahnya juga tenang. Kami yang panik.

Tamara menatap lebih lama, tak tahu harus bereaksi apa selain kaget.

Kolom komentar itu sudah hidup semalaman dengan berbagai celotehan massal. Tertumpuk. Sudah seperti posko darurat pengaduan patah hati nasional.

"Dia profesor apa selebriti?" bisiknya heran, tapi juga ikut penasaran.

Jarinya terus menggulir layar, dengan sorot mata fokus menumbuk tiap kalimat-kalimat itu.

Bahkan tanpa sadar menghabiskan waktu hampir satu jam, hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

Orang-orang saling berbagi dan menimpali informasi tentang suaminya, yang bahkan ia sendiri tak pernah tahu, dan ia jadi paham akan satu hal: wajar orang-orang kaget.

Arvin selama ini dikenal sebagai sosok yang nyaris tak punya kehidupan pribadi. Hidupnya seperti habis untuk ruang kelas, forum diskusi ilmiah, dan semua hal yang tak jauh-jauh dari dunia pendidikan.

Tak pernah terlihat punya media sosial. Reputasinya bersih, tak pernah tersorot media gosip.

Orang-orang justru mengenalnya dari panggung pada ruang-ruang nyata, yang hampir tak tersentuh oleh Tamara.

Sekarang, yang membuat netizen itu lebih heboh, karena orang seperti Arvin malah menikah dengannya yang terbiasa dengan sorotan.

Jari Tamara berhenti di udara, beberapa detik, sebelum akhirnya menutup layar ponsel. Ia meletakkan benda itu di atas meja, tak jauh dari cangkir kopi yang masih bersisa.

Udara lembab semakin terasa menusuk kulit, tak lantas membuatnya beranjak dari sofa.

Tamara menyandarkan punggung. Pandangannya terlempar keluar balkon, dengan pikiran yang masih sibuk mencerna situasi yang ada.

Orang-orang bukan lagi fokus padanya, setidaknya itu yang ia tangkap.

Tapi suaminya? Yang namanya saja bahkan tidak pernah muncul di linimasa, kini justru disebut berulang kali oleh orang-orang yang diam-diam memujanya.

Tamara menggigit jari, sempat terdiam lama.

"Dia penuh kejutan... " gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

Hingga pandangannya beralih, sudut matanya menangkap kehadiran seseorang yang membuat bahunya refleks terangkat singkat.

Arvin berdiri di ambang pintu, dengan bahu menyandar santai dan satu tangan di saku celana.

Wajahnya, terlalu tenang untuk seorang akademisi terkemuka yang sedang ramai diperbincangkan di dunia maya.

Tamara langsung menegakkan tubuh, menata ekspresi yang sempat kaget agar terlihat lebih santai.

"Kamu ngapain berdiri disitu?" tegurnya.

Arvin berjalan beberapa langkah untuk menghampirinya. Aroma segar dan kesan bersih tercium samar dari tubuhnya, ketika duduk di samping Tamara.

"Tadi mau langsung negur kamu, tapi kamu lagi merenung," kata Arvin.

Tamara tak langsung menanggapi, hanya sorot matanya yang terlihat mengedip beberapa kali.

Ia mengurungkan niat untuk bicara, ketika melihat Arvin tiba-tiba meletakkan sebuah kartu bank di atas meja.

"Aku mau ngasih ini," ujar laki-laki itu, suaranya tenang dan stabil seperti biasa.

Tangannya sedikit mendorong kartu itu ke arah Tamara. Gerakannya rapi, mensejajarkan dengan tepi meja.

"Ini rekening keduaku... gaji, tunjangan, dan honor lainnya. Biasanya aku transfer kesitu," kata Arvin pelan.

Tamara mengangkat alis saat menatap kartu itu. Reaksi normal yang pertama muncul, bagi seorang perempuan mandiri dan tidak perlu bergantung pada siapa pun.

"Tapi—"

"Aku tahu," potong Arvin sopan, suaranya tetap tenang.

Ia terdiam sebentar, seolah memberi jeda agar kalimat berikutnya tidak terkesan seperti perintah.

"Aku tahu kamu punya segalanya, tapi aku memberikannya bukan karena kamu kekurangan," ucapnya.

Tamara terdiam. Ia belum mengambil kartu itu, hanya melihatnya sekali lagi.

Bukan tatapan meremehkan. Hanya saja, sebagai orang yang terbiasa memberi, ia kaget dan sedikit bingung.

"Aku hanya ingin kamu menggunakannya, tanpa harus merasa sedang menerima apapun," kata Arvin lagi.

Ia melanjutkan dengan suara lebih lembut. "Kamu bebas pakai sesuka kamu, atau enggak sama sekali, dan aku nggak akan nanya."

Tamara belum bersuara. Egonya memang masih ingin menolak, tapi entah kenapa hatinya merasa aneh.

Ini pertama kalinya ada laki-laki yang siap memberikan sesuatu untuknya, tanpa bualan atau pun janji-janji manis yang terucap ringan.

Alih-alih tersinggung, Tamara justru tersentuh.

Ia pun tak mengerti. Mereka belum kenal lama, tapi tiap kali menatap mata Arvin, ada ketulusan yang terlalu sulit untuk ia abaikan.

Arvin memang menikahinya, tapi laki-laki itu tidak mendekatinya secara impulsif.

Ia masih memberi ruang. Hanya membukakan pintu, dan seolah membiarkan Tamara memilih sendiri kapan ingin masuk.

Tamara akhirnya mengambil kartu itu. Tidak terburu-buru, juga tidak ragu.

Hanya gerakan sederhana dari seorang perempuan yang ingin menghargai, sekaligus mulai belajar untuk mencoba bersandar pada seseorang.

Sudut bibirnya sedikit terangkat, kemudian menatap Arvin, sambil memperlihatkan kartu yang sudah dipegangnya.

"Oke, aku akan simpan ini," ujarnya terdengar ringan.

Arvin mengangguk, mengiyakan. Senyumnya tipis, terlalu jelas, meski wajahnya tetap super tenang seperti biasa.

Tamara menurunkan tangannya, tetap memegang benda itu dengan aman.

Matanya berkilat hangat. "Tapi jangan marah, kalau seandainya aku khilaf menghabiskannya."

Nada suaranya sedikit bercanda, membuat suasana di antara keduanya lebih ringan.

Arvin mengiyakan lagi. "Kalau kamu bersedia, kamu juga bebas mengatur segala urusan rumah."

Tamara mengerjap. "Kok aku?"

Arvin menatapnya lembut. "Karena kamu bukan tamu di rumah ini, Tamara. Kamu... nyonya besarnya."

Tamara menahan napas sebentar. Tidak langsung setuju, tapi juga tidak menolak. Diamnya, menyisakan hening yang terasa damai malam itu.

...

Sementara itu di sebuah kelab malam sisi lain kota, dunia lebih menunjukkan kebisingannya seolah tak memberi ruang untuk berpikir.

Musik berdentum keras dan berulang. Lampu-lampu menari liar menyorot gerak bebas tubuh orang-orang, yang larut dalam ritme di lantai dansa.

Udara terasa hangat oleh campuran aroma parfum tajam, asap tipis, dan alkohol yang mengisi gelas-gelas kaca.

Andra duduk di sudut bar, gelas miliknya sudah setengah kosong di atas meja, tanpa benar-benar ingin terburu menghabiskannya.

Bahunya sedikit merosot, ketika masih menatap ponsel. Layar menampilkan ruang obrolan yang hanya ramai oleh pesan darinya, tanpa ada satu pun balasan dari Tamara.

Sementara suara gelak tawa dari seorang temannya, terdengar memekakkan telinga.

"Parah lo, Ndra! Udah punya cewek spek kayak Tamara, masih lo kadalin juga. Sekarang beneran ditinggalin kan lo."

Seorang laki-laki seumurannya, menyeletuk dengan nada ledekan.

"Mana berita pernikahannya lagi rame. Banyak netizen dibikin baper malah. Lo bener-bener udah nggak ada kesempatan, Bro." Tawa ringan itu terus berlanjut.

Andra mengusap rambut kasar, gerakan dari hati yang gelisah. "Gue juga nggak nyangka dia bakal nikah secepat itu. Apes banget sih, gue!" sungutnya.

Andra menutup layar ponsel, menyimpannya kembali. "Tapi gue masih sayang. Tamara itu sumber segalanya. Gue bener-bener nggak bisa kehilangan dia."

Temannya itu menghentikan tawa. "Terus, mau ngerebut bini orang, lo?"

"Apa boleh buat. Lagian gue yakin, Tamara juga nggak mungkin bener-bener mau nikah. Gue tau banget dia gimana."

Tangannya meraih gelas, meneguk habis minumannya. "Gue nggak butuh dia lepas dari suaminya. Gue cuma butuh... bisa milikin dia kayak dulu lagi."

Temannya itu sedikit mencondongkan tubuh. "Percaya diri juga lo, Bro."

Andra tersenyum bangga. "Gue sama Tamara itu, pernah pacaran hampir satu tahun. Sering berantem. Menurut lo, kenapa dia bisa balik terus ke gue?"

Temannya menunggu jawaban, hanya dengan pandangan sedikit menunduk.

Andra kembali melanjutkan, "Karena gue yang paling tahu, kelemahan seorang Tamara Hadinata."

Senyumnya miring. Bukan hanya senyum percaya diri, tapi juga senyum yang penuh siasat.

BERSAMBUNG...

Wedeww... kalok berondongnya kek ginii... siapa yang tahan wakk 😂

Andra Julio (23 Thn)

1
༺⬙⃟⛅Jemima__🦋⃞⃟𝓬🧸
pdhal dalem hati udh pengen maki ya wkwk
༺⬙⃟⛅Jemima__🦋⃞⃟𝓬🧸
gak usah ngatur tante
tata pasti tau posisinya 🗿
༺⬙⃟⛅Jemima__🦋⃞⃟𝓬🧸
berasa lagi masuk kelas gak tuh /Facepalm/
PrettyDuck
belom tau aja tante tata aslinya bertanduk 🙈
tapi hari ini kayaknya kalah ruh sama emak2 bawel /Chuckle/
PrettyDuck
ah elah bisa aja si tante /Facepalm/
-Thiea-
ada apa dengan besok??
-Thiea-
deg-degan ya tam. aku juga. 🤭
-Thiea-
dikasih alat tempur. 🤭 temannya emang pengertian. 😅
-Thiea-
masa lalumu udah kelar kan Vin, jangan sampai mengganggu masa depan mu.
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
untung sejalan yaa pikiran kalian berdua😂 cocok lahh
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
iyaa Vin, gak usah... ribet entar.. 😄
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
hmm mulutnya manisss amatt pak, habis nelen gula berapa kilo 🤣🤣
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
wkwk tiba-tiba banget Vin dilirik parpol😄
Afriyeni
kalau gitu, Tamara adalah obat tidur yg tepat, tante🤭
Afriyeni
lucu banget ya tam? di bilang kalem dan lemah lembut padahal sebaliknya🤣
Afriyeni
syukurlah, keluarga Arvin bisa menerima kehadiran Tamara dengan baik
Nuri_cha
yaah, langsung disuruh tidur. gak ada malam pertama, Mas Arvin? 😅
Nuri_cha
Uhuy, dikasih baju dines 🥳🥳 hmmm, dipake gak yaaa
Nuri_cha
semoga Arvin orangnya mengemban amanah ya walaupun di awal-awal pasti sulit
Xlyzy
udah mulai bergantung ya sama pasangan yang biasa nya mandiri bisa apa apa sendiri sekarang sudah sedikit melunak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!