Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSIAPAN RITUAL
Di desa sebelah, keluarga Pak Ardi sedang bersiap.
Karena mendapat undangan dari saudara dari istrinya yang sebentar lagi akan mengadakan acara ritual.
"Pak, apa kita perlu hadir? Sebenarnya, acara itu kan syirik jatuhnya, Pak." Bu Rahma terlihat bingung.
"Tapi kan mereka saudara mu, Bu. Kita tidak perlu meniatkan ikut juga ritual. Kita datang hanya memenuhi undangannya saja. Nggak enak, mereka sangat baik pada kita."
Bu Rahma terdiam. Walau dalam hati sangat enggan menghadiri. Namun, sadar bahwa keluarganya telah banyak di bantu oleh Kakanya itu, akhirnya Bu Rahma menyetujui saran suaminya.
"Nduk, bawa kue saja yang kita bikin tadi pagi, niat kita silaturahmi, bukan membenarkan ritual syirik itu." Pesan Bu Rahma kepada anak gadisnya itu.
"Enggeh, Bu." Wardah segera menyiapkan kue, yang dia bikin bersama Ibunya subuh tadi.
"Sebenarnya, ritual apa Bu. Mengapa seolah ini sangat penting bagi mereka? Bukankan, kita meminta kepada Tuhan, tidak dengan cara ritual seperti itu?" Tanya wardah yang masih belum paham dengan kepercayaan yang di anut keluarga bude sekeluarga.
Bu Rahma tersenyum. "Mereka salah langkah, Nak. Ibu pun tidak bisa berkata-kata lagi. Sudah di kasih tau, tapi tetap ngeyel. Ibu pun sampai tak tau lagi, harus dengan apa menyadarkan mereka." Dengan wajah sedihnya lalu ketiganya mengendarai motor menuju rumah kediaman, Pak Anwar.
***
Di tempat Parmi berada. Dia menyunggingkan senyum senang. "Akhirnya, bakalan terbebas dari gangguan si setan Yusuf dan Seruni. Emang sialan banget dua orang itu. Sudah mati pun, masih saja membuatku sengsara. Coba kamu itu nggak nikah sama Yusuf pria idamanku, Seruni! Dan tidak lebih bahagia dari rumah tanggaku, pasti hidupmu sangat aman, sekarang. Eh... sekarang, udah jadi setan juga, masih mengganggu kehidupanku, dan juga kehidupan ndoroku. Sekarang tau rasa kamu, sebentar lagi, jiwamu itu akan benar-benar di musnahkan! Jangankan gentayangan, masuk neraka atau surga pun, nggak yakin kamu bisa. Hihihi...!" Parmi cekikikan sendiri dengan kata-kata nya yang menurutnya lucu.
"Parmi! Ngapain kamu cekikikan kayak kunti, begitu? Ayo cepat! Kita sudah di tunggu sama, mbak Sulis." Seno meneriaki istrinya yang sibuk bicara sendirian di cermin.
"Iya-iya, aku sudah siap kok." Parmi pun melenggang
mantap menuju suaminya.
"Fitri, Fia. Ibu dan Bapak, tinggal dulu. Kalian jaga
rumah ya? Hanya kalian di rumah, Randi sedang membantu Beni, di rumah Pak Anwar."
Fitri dan Fia saling tatap senang. "Iya, Bu. Tenang aja. Kami nggak kemana-mana kok." Sahut keduanya. Setelah orang tuanya jauh, Fitri dan Fia mulai menghubungi seseorang.
Tidak beberapa lama, yang di hubungi pun datang.
"Mas! Masuk, cepetan." Fitri memberi kode kepada dua lelaki itu supaya cepat memasuki rumah lewat pintu belakang. Supaya tidak ada tetangga yang melihat.
"Tumben, Fit. Kalian di tinggal sendirian. Biasanya ada Abang kamu." Ujar pacar Fitri. Yang terlihat rambutnya pirangan coklat terang.
"Makanya, mumpung sepi, kita bisa senang-senang sepuasnya, Mas Budi." Jawab Fitri yang kini sudah menempel di lengan, Budi.
Keduanya saling tatap. "Fitri, aku kangen sama kamu. Padahal baru kemarin kita nyemak."
Fitri mengulas senyum sangat manis. "Itu, pertama kalinya aku berbuat seperti itu, Mas. Dan buat aku ketagihan." Sahut Fitri Malu-malu.
Budi tersenyum nakal. Jadi nggak apa-apa kan? Jika kita mengulanginya lagi?"
fitri mengangguk malu.
sementara di kamar sebelah, tepatnya kamar Randi,
Fia sudah bermesraan dengan pacar tercintanya.
"Mas, Agus, aku kangen banget sama kamu." Fia yang sudah bucin sekali itu pasrah dengan apa pun yang pacarnya lakukan kepadanya.
Agus tak mengindahkan ucapan, Fia. Dia asik dengan tubuh di hadapannya saja. Walau Fia merasa di abaikan. Namun, dengan sentuhan Agus yang membuatnya kec*nd*an, dia hanya bisa pasrah.
Begitulah kedua wanita yang kini terpengaruh cinta buta mereka. Tanpa berpikir, akan seperti apa nasib mereka kedepannya.
***
Sesajen lengkap telah tersedia di meja besar yang terletak tepat di tengah halaman rumah, Pak Anwar.
Seorang pria yang berpakaian adat jawa kuno lengkap dengan blangkonnya, melangkah memasuki gerbang pagar dengan di ikuti beberapa lelaki lainnya, yang lebih terlihat mereka adalah asisten dari lelaki itu di liat dari caranya berjalan di belakang pria itu.
Sambil menatap tajam ke sekeliling, membuat yang melihatnya sedikit ketakutan. Karena pandangannya terlihat seperti mengintimidasi.
Dia pun mengelus janggutnya yang panjang berwarna abu-abu, sambil manggut-manggut.
"Hemmm...!" Gumamnya nampak merasakan sesuatu.
Sulis dan Pak Anwar beserta keluarga segera menyambutnya.
"Embah, syukurlah, Embah sudah datang. Hehe.... Saya kira, Embah, tidak bisa datang lagi." Ujar Sulis menyapa dengan ramah.
Lelaki yang di sebut, Embah itu pun hanya melirik.
Sulis terlihat kikuk sendiri.
"Saya orang yang sangat penting dan sangat sibuk.
Kalau mahar nggak sesuai dengan apa yang saya minta, tentu saja saya tidak akan datang. Kamu pikir ngusir setan itu gampang!" Ucapnya.
Sulis mengerutkan keningnya. Dia pun paham, pasti ini ulah si Parmi, pasti dia mau nego, supaya uang itu bisa ia korupsi.
Awas kamu Parmi.
Sulis menatap Parmi tajam, lalu kembali focus kepada si lelaki itu.
Parmi yang mendengar jadi salah tingkah. Namun berusaha tenang kembali. Seno terus memandangi Sulis, terlihat benar rona kekaguamannya. Kemudian bibirnya tersenyum merekah kala melihat senyum Sulis.
Parmi yang sadar suaminya terus menatap Ndoronya, menyikut perut, Seno.
"Mata di jaga! Dia itu majikan kita. Dasar lelaki buaya! Sudah ada yang cantik begini, masih saja melirik wanita lain. Awas kamu kalau sampe rumah." Lirih Parmi yang tak di hiraukan oleh Seno. Parmi maki geram! Rasa-rasanya ingin segera melenyapkan Sulis, kalau saja Sulis wanita seperti, Seruni. Dia pun hanya menahan amarahnya sebisa mungkin.
"Banyak sekali makhluk halus yang berkeliaran di rumah ini. Sepertinya, kalian mempunyai banyak dosa kepada orang-orang yang sudah mati." Pria tua itu berhenti sejenak lalu melirik, Pak Anwar dan Sulis.
"Lalu, bagaimana, Embah? Apa bisa di usir semuanya?" Tanya Pak Anwar yang sudah ketakutan.
"Saya mohon, Embah. Usir semuanya tanpa sisa, makhluk-makhluk yang berniat jahat kepada kami." Sulis menangkupkan kedua tangannya.
Si lelaki tua itu diam sejenak melirik kembali ke Sulis dan ke Pak Anwar. Lalu kembali mengelus janggutnya yang nggak begitu tebal, mungkin rontok, karena factor usia.
"Bisa-bisa. Saya ini dukun terkuat, dan paling di takuti oleh bangsa setan, dan juga jin-jin. Bahkan iblis sekalipun, saya bisa takhlukan dengan mudah. Tapi, semua pasti harus dengan mahar yang setimpal juga. Hemmm!" Si lelaki itu manggut-manggut. Di lihatnya meja yang benar-benar penuh sesuai dengan keinginannya.
"Berapa pun, Embah. Mahar yang di minta akan saya bayar. Asal keselamatan kita sekeluarga, juga orang-orang di desa ini bisa hidup adem ayem, dan tentrem, Embah." Pak Anwar yang benar-benar merasa bersalah atas kejadian masa lalu yang tidak ia cek dulu kebenarannya. Dan saat dia tahu yang sebenarnya, dari Beni. Dia pun merasa sangat menyesal.
Dari kejauhan, Beni menatap Ibunya dengan rasa kekecewaan yang teramat mendalam.
Masih terbayang, saat mbak Anita memberitahunya tentang kejadian masa lalu Ibunya.
Ibumu. Sebenarnya hamil bukan karena perbuatan Ustad itu. Aku sebenarnya... ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Kakek kamu. Tapi, aku tak punya banyak keberanian saat itu. Sekarang, semoga kamu tak ikutan membenci Ustad itu, supaya terhindar dari balas dendam nya. Itulah kata Anita waktu itu.
Anda benar-benar jahat, Bu. Kau manusia berhati iblis! Andai semua warga desa tau kebenarannya, mungkin bukan hantu itu yang akan membunuhmu, tapi warga. Dan sekarang, aku tidak tau, apa yang harus aku lakukan. Aku bingung sekarang. Walau kekecewaan ini begitu besar, tapi, kau tetaplah ibu kandungku, dan aku tidak tega bila kau menderita.
Beni menampakkan wajah sedihnya.
"Bang Ben! Kok keliatan murung gitu? Ada apa?" Tiba-tiba Wardah menghampiri.
Beni menoleh, segera menggelengkan kepala. "E-nggak kok. Wardah dari kapan datang?" Tanya Beni basa- basi.
"Bang Ben. Bukannya ritual itu hukumnya syirik... Ya?" Ucap Wardah dengan suara pelan.
Beni hanya diam. Wardah pun tak mau lagi bicara.
Entah mengapa, Beni yang di lihatnya saat ini sangat berbeda. Dia pun menatap ke sekeliling.
Dahinya mengerut. "Hem? Sepertinya aku pernah lihat dia?" Gumamnya.
Nampak sosok lelaki yang memakai jacket hitam memantau kegiatan keluarga Pak Anwar dari jarak jauh.
Wardah segera berlari mendekati. Namun... lelaki itu pun segera menghindar lalu menghilang di dalam hutan.
Wardah yang tersengal nampak kesal karena tak berhasil mengejar lelaki itu.
"Nyesel nggak nanya namanya waktu itu." Dengan gontai, dia pun kembali.