Hehehe… jadi istri penurut, cengeng, penakut? Tidak buruk sama sekali. Setidaknya Jia bisa makan gratis tanpa kerja, cukup menumpahkan air mata, pasang wajah sedih dan imut… sambil tetap menggerakkan suami buasnya sesuka hati.
“Aku harus ke bengkel sebentar, sedikit lagi pekerjaan selesai,” Su Hao lalu berdiri, namun terduduk kembali. Ia menatap istrinya dengan serius, nada suaranya tegas.
“Jangan coba-coba kabur lagi, kalau berani…!”
Su Hao kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulut ke telinga Lu Jia dan berbisik:
“Kedua tungkaimu… akan ku jadikan bahan bakar besiku.” Ia pun berbalik lalu melangkah keluar rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smi 2008, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Ayam Terakhir di Rumah Lu.”
"Memangnya berapa biaya sekolah adik tercintaku itu untuk lanjut tahun depan?" tanya Jia sambil menyeka jari yang berminyak. "Supaya kami tahu... harus jual apa lagi kali ini."
Mendengar pertanyaan itu, senyum puas langsung terbit di bibir Kakek Lu dan Lu Junjie. Sementara Wei Lanhua serta Lu Yuer tampak biasa saja.
Bagi mereka, sekolah memang bukan hak anak perempuan. Toh, pujian dan kehormatan kelak hanya akan jatuh pada keluarga anak laki-laki itu.
"Bagus," ujar Kakek Lu. "Setelah Junjie lulus dan masuk universitas, keluargamu akan hidup enak. Di rumah suamimu pun, tak akan ada yang berani menindasmu."
Ia menatap Su Hao dengan pandangan meremehkan, seolah pria itu seharusnya bersyukur bisa ikut menikmati cahaya kejayaan keluarga Lu.
"Ini demi kebaikan kita bersama," sambung Lu Junjie dengan nada sok dewasa. "Kalau nanti Kak Jia ada masalah, datang saja padaku. Semua bisa kuselesaikan dengan mudah."
Jia menyandarkan dagunya pada satu tangan. Ia mendengarkan mereka berbicara sambil memandang seolah sedang menonton badut di pinggir jalan-ribut, percaya diri, dan yakin semua orang wajib mengagumi pertunjukannya.
"Untuk satu tahun sekolahnya, biayanya dua ratus lima puluh yuan," lanjut Kakek Lu. "Aku dan ayahnya sudah mengumpulkan tujuh puluh yuan. Sisanya... kau dan suamimu yang melunasi."
"Kau ini kakak tertua. Berbuat baik dan berkorban untuk adik laki-laki itu sudah seharusnya."
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan seolah baru teringat hal sepele.
"Aku juga akan menyewakan kamar untuknya lebih dekat ke sekolah. Biar pikirannya fokus belajar. Sewanya lima puluh sembilan yuan setahun. Aku harap kau bisa menanggungnya juga."
"Masalah ini sudah diputuskan," ujar Kakek Lu dengan nada final. "Setelah naik kelas, ia akan pindah ke sana. Berikan saja apa yang ada sekarang, sisanya lunasi nanti saat waktunya tiba."
"Selama kalian masih bagian dari keluarga Lu, kewajiban ini ada pada kalian."
Ia menyapu pandangan ke arah Jia dan Su Hao dengan tatapan memaksa.
Ayam di piringnya sudah habis bersih.
Piring Jia dan Su Hao juga kosong.
Sementara piring Lu Jinjie dan Lu Yuer hampir tak tersentuh, seolah makanan itu hanya properti, bukan kebutuhan.
Jia meletakkan sendoknya.
Ting.
Bunyi kecil itu membuat percakapan terputus seketika.
"Kakek." Jia memanggil
Kali ini semua orang menoleh ke arahnya. Jia menarik napas panjang, lalu bertanya dengan tenang.
"Seberapa besar peran paman, bibi, ayah, kakek... dan juga Jinjie, saat aku masih berstatus gadis di rumah ini?"
"Apa keuntungan fisik yang pernah kuterima dari kalian, selain luka-luka yang masih tertinggal di tubuhku?"
"Atau mungkin ada hal lain yang terlewatkan? Perlindungan? Kesempatan sekolah? Atau sekadar pilihan untuk menentukan hidupku sendiri?"
Matanya terangkat, menatap langsung ke arah kakeknya.
"Lalu dari mana datangnya kepercayaan diri yang tidak tahu malu itu, sampai Kakek merasa berhak menagih pengorbanan padaku?"
"Menurut Kakek,"
"aku dan suamiku tidak punya otak... sampai mau mengorbankan hidup kami demi seorang pria yang bahkan tidak tahu arti namanya sendiri?"
"Lu Jia."
Nama itu keluar dari mulut Kakek Lu.
Bibir tuanya bergetar hebat. Jarinya terangkat, menunjuk tepat ke wajah Jia, penuh umpatan yang tak lagi disaring.
"Anak anjing!" bentaknya. "Pergi dari sini! Lahir dari ibu binal, pantas kelakuan anaknya juga liar!"
"Aku sudah mengizinkanmu duduk di kursi ini, makan di mejaku, dan inikah balasanmu?" lanjutnya, napasnya memburu. "Kau kira setelah menikah kau bisa berlagak seenaknya? Di rumah ini tidak ada tempat bagimu berbicara!"
Jia mengangkat sudut bibirnya dengan sinis.
"Aku bahkan tidak pernah menganggap tempat ini rumahku,"
"Keluarga beracun seperti kalian... apa layak disebut keluarga?"
"Ka... Kak, kau sudah kelewatan," sela Lu Yuer cepat, suaranya dibuat lembut.
"Perempuan biadab!" maki Kakek Lu.
Ia berdiri mendadak dengan gerakan kasar. Kursi kayu yang didudukinya diangkat tinggi ke atas kepala.
Amarahnya sudah menutup akal sehatnya. Satu ayunan lagi, dan sasaran pasti kepala Jia.
Namun-
Tangan besar Su Hao lebih dulu menyambar dan menahan kursi itu dengan kuat.
Pegangannya kencang seperti besi panas. Matanya gelap, penuh amarah yang terkendali.
"Sentuh dia satu kali saja... dan aku tidak akan segan mengambil tindakan."
"Aku akui ibuku wanita paling bodoh di dunia,"
"Karena kebodohannya, ia terperangkap oleh pria yang mengaku suami, tapi tak pernah setia. Bahkan masih berzina saat istrinya sendiri belum dingin di liang lahat."
Jiaa mengangkat wajahnya.
Tatapannya lurus ke arah ayahnya yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah, lalu bergeser ke kakeknya yang masih ngos-ngosan menahan amarah.
"Katanya, ayah yang baik akan melahirkan anak yang baik."
Nada suaranya merendah, tajam.
"Lalu ayahku ini apa? Pria bersih?"
Jia terkekeh kecil.
"Kelakuannya lebih pantas disebut liar dan binal."
"Dan kalau begitu... bibitnya berasal dari siapa?"
Tatapan itu kini menetap pada satu orang saja.
"Kakek."
"Lu Jia!"
Beberapa suara keluar hampir bersamaan. Namun suara Lu Zhengyuan-lah yang paling menekan, tajam seperti cambuk.
"Kau... kau-!"
Lu Qingshan memegangi dadanya. Napasnya tersengal, wajahnya pucat keabu-abuan.
"Gadis sialan!"
Lu Zhengyuan menatap garang ke arah Su Hao.
"Kau!" hardiknya. "Ini semua ulahmu, bukan? Sejak menikah denganmu, anakku makin kurang ajar! Apa yang kau tanamkan di kepalanya, bajingan?!"
Su Hao tidak bergeming. Ia bergeser setengah langkah, menempatkan Jia di belakangnya.
"Aku tidak menanam apa-apa. Istriku hanya akhirnya melihat dengan jelas bagaimana keluarganya memperlakukannya, dan itu wajar."
"Cukup!" bentak Lu Zhengyuan.
Ia menoleh tajam ke arah istrinya dan Lu Yuer. "Kalian, masuk!"
Spontan Lu Yuer berdiri dan menarik tangan ibunya. Mereka patuh; tahu betul kapan pria ini berubah menjadi seperti macan.
Mereka berjalan masuk ke kamar. Lu Yuer terkejut saat melihat Nenek Lu dan ibu Junjie sudah ada di sana. Rupanya sejak tadi mereka mengintip. Pantas saja istri pamannya tidak muncul.
Begitu pintu tertutup, justru semakin banyak telinga yang menempel di baliknya.
Di luar, Lu Zhengyuan mengepalkan tangan.
Selama puluhan tahun, ia memegang teguh satu aturan utama yang diajarkan leluhur: tata krama yang diajarkan sejak kecil hanya satu: anak tidak boleh melawan orang tua.
Dan kini, semua itu runtuh pada putrinya sendiri.
Rasa malu dan marah bercampur menjadi satu, mendesak keluar lewat nada bicaranya yang makin mengeras.
"Tak bisa dipungkiri, akulah yang membesarkanmu."
"Aku yang memberimu makan. Aku yang memberimu tempat tinggal."
"Dan sekarang kau berani berdiri di depanku lalu membalas seperti ini?"
"Walaupun kau hanya perempuan cacat di keluarga ini, kau tidak mau kualat dan disambar petir karena durhaka, kan?"
Kakek Lu mengangguk pelan. Kepuasan tipis melintas di wajahnya.
Cucu laknat ini memang perlu diperingatkan oleh ayahnya sendiri.
Jia menatap bergantian ke arah kakek, lalu ayahnya, dan terakhir ke arah Su Hao. Ia diam sejenak, kemudian berdiri.
Kedua tangannya mencengkeram tepi meja.
BRUAAANG!
Dengan satu hentakan Meja kayu terangkat dan menghantam dinding. Mangkuk dan piring pecah berhamburan. Sisa kaldu dan tulang ayam berserakan di lantai. Kayu patah berderak, suaranya menggema di ruangan itu.
Junjie refleks berdiri dan mundur dua langkah.
Namun Jia belum selesai. Ia menendang kursi. Suara gedebum kembali terdengar saat kursi itu melayang dan menghantam meja.
Empat pria berdiri melotot.
Sebelum satu pun sempat bersuara, Jia melangkah maju. Tepat di depan kakeknya.
"Kakek... aku minta maaf."
Jia sedikit membungkukkan badan. Perlahan sudut bibirnya terangkat, lalu punggungnya kembali tegak.
"Maaf karena aku tidak bisa dan tidak mau menuruti permintaan yang konyol itu. Aku lebih rela disambar petir daripada mengeluarkan uang satu sen pun untuk parasit seperti keluarga Lu."
"Laknat kau, perempuan celaka!"
Lu Zhengyuan langsung menerjang ke arah Jia. Namun Su Hao dengan cepat menangkap tubuh mertuanya sebelum bisa menyentuh istrinya. Pria tua itu terus meneriakkan umpatan kasar yang tak terhitung jumlahnya.
Sementara itu, Kakek Lu langsung terduduk lemah di kursinya. Lu Jinjie segera menopangnya dengan tergesa-gesa. Ia juga sangat marah, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Kejadian ini membuatnya menyadari bahwa Lu Jia sudah tidak lagi seperti gadis yang selalu tunduk dan pasrah dulu.
"Semoga kau dan keturunanmu selalu celaka sepanjang hidup!" teriak ayah Jia lagi dengan suara penuh dendam.
Jia mengorek telinganya dengan acuh tak acuh.
"Aku sudah merasa sial dan celaka sejak pertama kali memiliki ayah seperti kamu," balas Jia dengan tak kalah sengit.
"Kakek, Ayah, kami pulang sekarang. Pembicaraan ini sudah selesai," ucap Su Hao.
langsung menggendong istrinya dan membawa Jia keluar dari rumah. Su Hao benar-benar tidak ingin memberi kesempatan istrinya melontarkan kalimat berikutnya.
Jia langsung bergelantungan di leher suaminya. Saat melewati ambang pintu, gadis itu bahkan sempat melambaikan tangan ke arah dalam rumah.
"Daa... salam cinta ke paman. Ayamnya enak."