NovelToon NovelToon
Istri Kedua Untuk Tuan Duda

Istri Kedua Untuk Tuan Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Ibu Pengganti / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cerita Tina

Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.

Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.

Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.

Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.

Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.

Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hormat

Sore berganti malam. Aroma masakan Bi Ratih memenuhi ruang makan yang hangat dengan cahaya lampu kuning lembut.

Meja panjang dari kayu jati itu tampak rapi, beralas taplak krem dengan piring dan sendok tersusun seimbang.

Willie turun dari lantai dua dengan pakaian santai. Ia melangkah perlahan, sempat melirik ke arah Tisha yang sudah berada di ruang makan.

Alia duduk di kursinya, wajahnya ceria. “Bu, duduk di sini ya, sebelah aku.” Katanya sambil menepuk kursi di sampingnya.

Tisha sempat menoleh ke Bi Ratih yang sedang menata piring. “Bi,” panggilnya. “Waktu Bu Vira masih ada, beliau biasanya duduk di mana, ya?”

Bi Ratih menatapnya, sejenak terdiam sebelum menjawab. “Biasanya almarhumah duduk di tengah, Bu. Di antara Bapak dan Nona Alia.”

Tisha mengangguk pelan. Ada jeda sunyi beberapa detik. “Oh begitu…” gumamnya lirih.

Ia lalu menatap kursi itu sesaat. Kursi yang kini kosong di antara mereka. Lalu dengan hati-hati, ia memilih duduk di ujung tepat di sebelah Alia.

“Biar di sini saja, Bi,” ucapnya lembut. “Aku tak ingin mengubah apa pun yang sudah jadi kenangan mereka.”

Bi Ratih hanya mengangguk pelan, sorot matanya penuh pengertian.

Willie memperhatikan diam-diam. Ia melihat sikap Tisha itu sederhana, tapi penuh hormat. Ada sesuatu yang membuatnya tertegun.

Ia tak berkata apa-apa, hanya duduk di tempatnya, mengambil sendok perlahan.

Alia mulai berceloteh riang, menceritakan hal-hal kecil dari sekolah. Tisha mendengarkan dengan senyum sabar, sesekali menimpali.

Willie ikut menyuap makanannya, tanpa sadar ikut tersenyum mendengar tawa Alia dan suara lembut Tisha yang menenangkan.

Suasana makan malam itu sederhana, tapi penuh rasa hangat seolah rumah yang sempat muram perlahan belajar bernapas kembali.

Setelah makan malam selesai, Willie berbisik

“Tisha, ikut aku sebentar.”

Tisha menoleh. Ia pun ikut menyusul langkah Willie menuju ruang tengah. Ruang itu hangat dengan cahaya lampu oranye. Di dindingnya tergantung sebuah bingkai foto besar. Didalam foto itu, Willie, Vira, dan Alia yang masih balita.

Tisha sempat berhenti melangkah. Matanya menangkap senyum lembut Vira di foto itu. Ada rasa hangat dan sesak yang datang bersamaan. Ia tersenyum kecil, lalu menunduk hormat sebelum berjalan lagi.

Willie sudah duduk di sofa, posturnya tegap namun wajahnya tampak canggung.

“Ada apa, Pak?” tanya Tisha lirih.

“Duduklah,” ucapnya sambil menggeser duduknya sedikit.

Tisha duduk pelan di ujung sofa, menjaga jarak secukupnya. Willie menghela napas tipis, lalu merogoh sesuatu dari sakunya. Ia menyerahkan sebuah kartu kecil.

“Untukmu,” katanya pelan. “Maaf aku telat memberikannya.”

Tisha mengerutkan kening bingung. “Ini… apa ya?”

“Kartu debit,” jawab Willie. “Terimalah. Mulai hari ini kau sudah jadi tanggung jawabku.”

Tisha terdiam. Ia menatap kartu itu, lalu menatap Willie.

“Aku akan transfer nafkah bulanannya,” potong Willie lembut tapi tegas. “Kau tidak perlu meminta. Itu sudah kewajibanku.”

Tisha menggenggam ujung kerudungnya. Rasanya canggung. Seperti sedang memegang sesuatu yang terlalu besar untuknya.

“Pak Willie, saya tidak enak hati,” ucapnya.

Willie menatapnya. “Tisha, pernikahan ini mungkin kontrak, tapi tanggung jawabku sebagai suami tetap sama. Aku tidak mau kau kekurangan apa pun.”

Tisha menunduk. Jemarinya meremas kartu itu pelan. “Baiklah, terima kasih.” jawabnya.

Willie mengangguk sekali. “Kalau tidak cukup atau butuh apa pun, bilang saja. Jangan ditahan. Oh ya, passwordnya adalah tanggal pernikahan kita."

Tisha mengangguk paham

Bel rumah tiba-tiba berbunyi nyaring. Bi Ratih yang dari tadi beres-beres dapur langsung bergegas menuju pintu depan.

Tak lama kemudian, ia muncul kembali sambil membawa sebuah kotak besar yang dibungkus kertas kado berwarna krem keemasan.

“Tuan,” panggilnya pelan. “Ada paket.”

Willie berdiri, Tisha ikut bangkit. Mereka mendekati Bi Ratih yang meletakkan kotak itu di meja ruang tengah. Di atasnya ada kartu kecil bertuliskan, "Untuk pengantin."

Willie mengerutkan kening. “Dari siapa, ya?”

Tisha menggeleng perlahan, tampak sama bingungnya. “Saya tidak tahu.”

Bi Ratih mengambil gunting dan menyerahkannya. Willie mulai membuka bungkusan itu perlahan. Suasana seketika menjadi sangat hening.

Begitu kertasnya terbuka, tampak sebuah pouch satin ivory berisi set perlengkapan ibadah, mukena lembut berbordir halus, tasbih kecil, dan sajadah tipis dengan motif elegan.

Namun tepat di sampingnya ada sebuah flashdisk kecil berwarna hitam dan selembar kertas dengan tulisan tangan.

Willie mengambil kertas itu dan membacanya.

“Selamat atas pernikahan kalian.

Ini hadiah kecil dariku.

Tolong simpan flashdisk itu dengan baik."

Rani.

Nama itu membuat Willie terdiam sesaat. Ia menjulurkan tangan, mengambil flashdisk itu, lalu dengan gerakan refleks ia memasukkannya ke dalam saku celananya.

Willie paham, pasti ada sesuatu dalam flashdisk itu. Mungkin jejak menyangkut jejak kematian istrinya.

Tisha memperhatikan dengan bingung. Alisnya terangkat pelan.

“Ini, dari siapa, ya?” tanyanya hati-hati.

Willie menatapnya sebentar sebelum tersenyum samar. “Dari sahabatnya Vira,” jawabnya tenang.

Sekilas, raut wajah Tisha berubah. Ada rasa canggung dan tidak enak yang muncul,

Willie menyadari perubahan wajah Tisha.

“Tidak apa-apa, Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Santai saja ini hadiah biasa." katanya tegas.

Tisha menunduk, mengangguk pelan. “Baik, Pak.”

***

Willie bergegas masuk ke ruang kerjanya dan mengunci pintunya. Ia duduk di kursinya, menatap flashdisk kecil berwarna hitam pemberian Rani.

Ia menancapkan flashdisk itu ke laptop. Sebuah folder terbuka. Nama-nama, foto-foto, dan catatan waktu. Plat nomor mobil. Keterangan identitas yang dipalsukan.

Willie menahan nafas. Di barisan teratas, tertulis pelaku pelecehan pada Lestari, anak didik Vira. Mereka yang melakukan perbuatan keji itu adalah anak-anak muda dari keluarga terpandang, salah satunya anak pejabat kota.

Semua terlihat menjijikkan untuk sesuatu yang dilakukan pemuda nakal biasa, perbuatan mereka seolah tak pernah terjadi.

Ini pekerjaan orang-orang yang punya pengaruh besar. Orang-orang itu sudah terbiasa membuat dosa lalu menimbunnya dengan uang dan ancaman.

Yang mengejutkan adalah para pelaku itu merupakan mahasiswa satu kampus dengan Tisha.

Willie memejamkan matanya. Pikirannya berputar cepat.

“Apakah Tisha tahu?”

“Apakah ia pernah melihat mereka?”

Ia menatap lagi pada dokumen itu. Disana menyebutkan Vira yang pertama kali mengetahui Lestari hamil dan Vira berjanji akan membantunya.

Penjelasan berikutnya, lebih berat. Lestari, ditemukan gantung diri di rumahnya. Vira dan Rani datang menjenguknya namun mereka telat. Lestari bunuh diri ditengah ketakutan dan putus asa

Lalu entri terakhir yang membuat tubuh Willie membeku. Data mobil yang menabrak Vira adalah mobil rental. Penyewanya menggunakan identitas palsu.

Pengusaha rental itu merugi dan dicecar polisi. Namun ada satu catatan yang disisipkan Rani di bawahnya.

Plat mobil ini sama dengan mobil yang menjemput paksa Alia di sekolahnya. Sepertinya mereka ingin menjadikan Alia alat ancaman agar Vira diam.

Willie menatap layar itu lama sekali. Vira tidak hanya mencari keadilan. Ia berperang dengan musuh yang tidak terlihat. Dan ia kalah bukan karena lemah, tapi karena lawannya terlalu kotor.

Tangannya mengepal. “Aku janji…” bisiknya. “Aku akan melanjutkan apa yang kau mulai.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!