NovelToon NovelToon
DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hasri Ani

Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.

Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.

Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.

Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHILANGAN

Sobirin dan Pak Imam yang menyaksikan, tidak tau harus berbuat apa. Melihat kekejaman Sulis, dan bahkan di ancam akan di bun*h juga bila bersuara, membuat mereka hanya bisa meninggalkan tempat itu dengan hati yang berkecamuk.

Wardah yang tak habis pikir dengan mereka yang masih mempunyai hati, ternyata tidak ada bedanya dengan, Sulis. Keduanya juga tega meninggalkan Azka yang terkapar, lalu meninggalkan Abangnya pergi begitu saja, dengan keadaan Abangnya yang kini sedang sekarat.

"Tega sekali kalian! Di mana hati nurani kalian yang selalu kalian ucapkan atas dasar kemanusiaan dan membela yang tidak bersalah. Huhu...!" Setelah melihat mereka keluar dari pondok itu, Wardah bergegas masuk.

Di angkatnya Azka yang saat itu sudah memejamkan mata. "Bang! Jangan tinggalin aku, Bang. Huhu...! Kita baru saja saling tau satu sama lain. Bangun, Bang. Ku mohon." Wardah menangis tersedu.

Namun, tidak menyangka. Cahaya merah muncul dari balik dinding. Dan kobaran api yang menyala pun, kini telah mengitari rumah kecil tersebut.

Wardah terbelalak. "Sungguh kau benar-benar berhati iblis! Tidak puaskah kau memusnahkan seluruh

keluargaku?! Kini kau juga memusnahkan rumah kecil ini?!" Wardah yang telah terkepung oleh bara api, segera menyeret tubuh Azka. Namun terhalang oleh balok, yang tiba-tiba saja terjatuh dari atas.

"Aakkhh!!!" Pekik Wardah, yang nyaris saja kehilangan nyawanya.

Dengan menahan panasnya kobaran api tersebut, dia mendobrak pintu yang sudah sebagian telah di makan api. Dia tetap berusaha menyeret tubuh Abangnya, walau sangat kepayahan.

"HAAARRHHHGGG!!!" Naas, saat berhasil keluar, tubuhnya terguling ke dalam jurang bersamaan dengan tubuh Azka, yang tepat di belakang rumah tersebut.

Sedangkan di kejauhan. Sulis menyeringai puas.

"Tidak akan lagi ada pengganggu di kehidupanku. Cih! Yang kuat, akan tetap hidup. Dan tentunya yang lemah akan binasa. Itu sudah hukum alam. Dan aku, aku di takdirkan menjadi wanita kaya dan hebat. Tidak akan ada seorang pun yang akan bisa mengalahkanku." Sulis kembali melanjutkan perjalananya menuruni jalanan yang hampir tertutup oleh semak dan pepohonan yang porak poranda.

Sedangkan Pak Imam, dan Sobirin. Keduanya pulang dengan hati yang terus berkecamuk.

"Pak Imam. Tidak seharusnya kita membiarkan Azram hangus di rumahnya. Seharusnya kita membawanya, Pak. Seberapa besar pun kesalahan yang dia

Perbuat, dia tetaplah manusia yang harus kita hormati sebagai sesama manusia." Keluh Sobirin yang sangat merasa bersalah.

Wajah Pak Imam, terlihat dingin. "Kita pun dalam kesulitan, Sobirin. Dan kita tidak tau, kalau Sulis, akan membakar rumah itu. Di sesali pun percuma. Biarlah semua menjadi rahasia kita. Lagi pula, bila Azram tidak wafat, besar kemungkinan dia akan melanjutkan balas dendamnya. Dan orang satu kampung yang akan terkena imbasnya." Walau hati kecil Pak Imam, menolak pendapat itu, namun hanya itulah yang bisa ia utarakan agar dirinya dan Sobirin, tak begitu merasa bersalah.

Sobirin terdiam. Ada rasa sedih, dan menyesal yang begitu mendalam, mengingat persahabatannya dengan Azram alias Azka yang begitu akrab.

Azram yang selama ini membantunya, Azram yang selalu ada buat dirinya. Sampai dia lupa, tidak menanyakan kehidupan Azram lebih dalam,

Karena sikap Azram yang begitu periang, seolah tanpa beban. Namun ternyata..., kenyataannya Azram, lebih buruk nasibnya ketimbang dirinya.

Air mata pun menetes, ingin rasanya memukul dirinya sendiri untuk menghukum kebodohan yang telah ia lakukan.

"Pak Imam. Aku akan kembali ka atas, untuk menguburkan abunya, bila ia sudah menjadi abu. Aku tidak tega, Pak Imam. Walau bagaimana pun, di

kesehariannya, dia orang baik dan suka menolong kita tanpa pamrih." Sobirin segera naik ke atas namun di cegah oleh, Pak Imam.

"Rin! Jangan nekat gitu to. Nggak ingat, Sulis tadi bilang apa? Kita ini hanya orang biasa. Sudah to! Kita jangan cari masalah lagi. Kita lanjutkan hidup kita dengan baik, dan lupakan kejadian hari ini." Tegas Pak Imam.

"Tapi, Pak! Azram juga kan, sangat baik."

"Huust! Sudah! Jangan ngeyel. Ayo pulang. Kita itu hidup di desa. Bisa makan saja sudah cukup. Jangan nambahin masalah kita lagi, Sobirin. Ingat Embahmu Rofik yang sudah tua. Kasian kalau dia melihatmu dalam masalah."

Sobirin menunduk. Terlihat dia sesenggukan. Lalu berjalan kembali pulang.

***

Berita akan musnahnya sang penganut ilmu hitam pun tersebar luas ke seluruh penjuru desa. Bahkan, desa tetangga pun ikut mendengar juga.

Sulis tersenyum bahagia, dan mengajak seluruh warga desa berpesta di pelataran rumahnya yang luas.

Demi merayakan kemenangannya lagi. Sulis tak tanggung-tanggung membuat jamuan yang sangat lengkap. Dia pun sampai bersedia memotong 3 ekor sapi ternaknya, 10 kambing, dan berbagai macam minuman, sebagai ucapan terimakasih kepada para pendukungnya.

Rohmat makin tidak mengerti dengan kelakuan istrinya.

"Lis, mengapa berfoya-foya sampai segitu banyaknya. Itu mubajir, Lis. Di tambah, kita baru saja kehilangan kedua orang tua kamu, mertuaku. Nggak pantas rasanya mengadakan pesta sebesar ini."

"Walah, Mas. Kamu ini cerewet banget! Yang mati yah sudahlah, nggak perlu di ingat lagi. Lagian ini pesta juga pesta rakyat. Kita bakal dapat pahala karena memberi makan orang gratis! Apalagi satu desa, Mas. Kamu itu, mbok ya, jangan terlau pelit jadi orang. Kamu juga kan anak orang kaya, masa keluar duit dikit saja nggak sudi."

"Bukan masalah kaya atau tidaknya, Sulis. Tapi ini sudah keterlaluan. Mana ada juga minuman keras, Astagfirullahhalazim... dosa, Sulis, bukan pahala."

Rohmat dengan sabar memberi pengertian.

"Halah! Cerewet kamu. Sudah sana tidur saja kalau tidak suka. Lagian ini sifatnya syukuran kok, karena desa kita sudah terbebas dari terror dan pembun*han. Bukannya kamu ikut merayakan, malah ngeluh! Dasar lelaki nggak berguna!" Sulis segera keluar menemui warga desa yang terlihat wajah-wajah sumringah mereka.

Rohmat mengelus dada sambil istigfar.

"Astagfirullahhalazim, aku harus gimana menyadarkannya, Ya Allah!"

Beni terlihat murung melihat perdebatan kedua orangtuanya. Dia pun menghampiri Ayahnya.

"Pak! Ceraikan saja Ibu. Beni ikhlas ikut Bapak, walau akan kehilangan sosok ibu." Ucap Beni, yang sontak membuat Rohmat terkejut.

"Beni! Kamu ngomong apa sih, Nak. Nggak boleh kamu ngomong begitu. Kita sering bertengkar, tapi hanya pertengkaran biasa sebagai suami istri. Jadi itu semua wajar. Astagfirullah..., jangan lagi kamu berkata seperti itu, Beni! Pamali!" Rohmat segera berbalik.

Beni mencoba menghentikan langkah Ayahnya. "Tapi, PAK!!!" Seru Beni, namun tak di lanjut ucapannya. Rohmat sempat berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi laju langkahnya.

Beni membuang napas kasar. Ada unek-unek yang selama ini ingin ia katakan kepada Ayahnya tentang berselingkuhan Ibunya dengan Seno. Namun, dia masih belum bisa mengatakannya.

Rasanya berat sekali, dan dia pun masih takut, akan kehilangan sosok Ibu, walau dia sangat membenci Ibunya saat ini. Ia juga takut kalau, Ayahnya akan terpuruk. Karena ia tahu betul, Ayahnya sangat mencintai Ibunya. Beni yang putus asa pun memilih pergi ke rumah, Sobirin.

***

Sedangkan Laela, anak kesayangan Sulis, sedang di ajari Sulis, bagaimana bersikap menjadi orang kaya, dan terhormat.

"La, lihat! Semua orang begitu menghormati, Ibu. Dan Ibu mau, kamu pun harus di hormati oleh mereka

juga. Jadi, kamu sudah waktunya untuk mengurus segala pertanian dan peternakan yang Ibu punya. Tumpas bagi yang membangkang, dan perlakukan orang yang bersujud di kaki kita seperti budak. Ingat! Harga diri kita itu sangat mahal, Laela. Apa kamu paham?"

Laela mengangguk dengan seringai yang mengerikan.

Sulis pun makin bangga kepada anak perempuannya yang makin seperti dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!