Amelia menikah dengan seorang laki-laki yang di cintainya, namun laki-laki tersebut justru sangat membencinya, setiap hari Amelia selalu di perlakukan kasar, bahkan ia sering di tuduh sebagai pembunuh kekasih suaminya.
Adrian Aditama laki-laki tampan yang tak lain adalah suami Amelia, ia sangat membenci gadis itu, dan ia selalu menyalahkan Amelia sebagai pembunuh kekasihnya.
Bagaimana kisah mereka? simak terus ceritanya, jangan lupa tinggalkan komentar kalian di bawah, dan berikan dukungan kalian ya dengan cara vote sebanyak_banyaknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadisti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
Happy Reading.
Dari kejauhan terlihat seorang laki_laki yang menatap Amelia dengan kasihan, sudah sejak lama ia memperhatikan Amelia dari dalam mobilnya.
Ia sungguh tidak tega untuk membiarkan gadis itu menangis di tengah jalan, sehingga ia memutuskan untuk turun dari mobilnya.
Laki_laki tersebut meraih payung yang berada di bagasi mobilnya, kemudian ia membuka payung itu, lalu berjalan menghampiri Amelia.
"Bangunlah, kenapa kamu menangis di jalanan?" Ujar laki_laki tersebut sambil mengulurkan tangannya.
Amelia langsung melihat ke arah laki_laki itu, matanya yang sembab menatap laki_laki yang mengulurkan tangannya, wajah pucat Amelia terlihat jelas di mata laki_laki itu, meskipun ia sudah memperhatikan Amelia dari tadi, tapi ia baru sadar bahwa yang di hadapannya adalah Amelia gadis yang di cintai nya.
"Daniel." Lirih Amelia
"Amelia ada apa denganmu?, Kenapa kamu seperti ini?, Apakah Adrian yang membuatmu seperti ini.?" Ujar Daniel dengan wajah cemasnya, sungguh ia merasa sangat panik dan juga khawatir.
Daniel langsung berjongkok sambil meraih bahu Amelia, terlihat jelas raut wajah khawatirnya.
"Daniel ,, aku ,, aku ..." Ucapan itu terhenti, saat Amelia sudah memejamkan kedua bola matanya, tubuh Amelia lemas, wajahnya pucat, sehingga menambah kekhawatiran Daniel.
"Amelia, bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit." Gumam Daniel dengan raut wajah cemasnya, ia menggendong Amelia, lalu ia melangkahkan kakinya menuju tempat dimana ia memarkirkan kendaraannya.
Daniel meletakan tubuh Amelia dengan sangat hati_hati, kemudian ia pun masuk dan mengendarai mobilnya dengan hati_hati.
"Adrian, lo benar_benar keterlaluan, lo benar_benar brengsek, bahkan lo tega menyakiti Amelia sampai seperti ini." Gumam Daniel sambil mengepalkan satu tangannya.
Daniel sungguh sangat geram terhadap sahabatnya itu, bagaimana bisa, Adrian begitu tega memperlakukan Amelia dengan buruk?, Apakah hati Adrian terbuat dari batu?, Apakah Adrian tidak memiliki hati nurani?, Dengan memikirkannya pun sudah membuat Daniel emosi.
***
Rumah sakit.
Daniel segera memarkirkan mobilnya setelah ia tiba di depan rumah sakit, kemudian ia turun dan langsung menggendong tubuh Amelia yang terlihat sangat menyedihkan.
Dengan cepat, Daniel pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
"Suster, tolong panggilkan dokter, secepatnya." Ujar Daniel dengan nada paniknya.
Suster itu menoleh ke arah Daniel, dan segera ia menyuruh Daniel untuk membawa Amelia ke dalam kamar pasien.
"Lebih baik bapak, letakan istri bapak dulu, saya akan segera memanggil dokternya." Ucap suster itu yang mengira, bahwa Amelia adalah istrinya Daniel.
"Cepetan sus, saya tidak mau kalau sampai terjadi apa_apa dengan dirinya."
Setelah mendengar ucapan Daniel, suster itu pun segera pergi melangkahkan kakinya keluar, sementara Daniel, masih berada di dalam ruangan Amelia.
Ia terlihat sangat panik, bahkan tanpa ia sadari, tangannya menggenggam tangan Amelia dengan cemas.
"Amelia aku harap kamu baik_baik saja." Gumam Daniel dalam hati.
***
"Bagaimana dok keadaannya?" Tanya Daniel setelah dokter itu selesai menangani Amelia.
"Kondisi tubuhnya sangat lemah, tetapi tidak akan membahayakan nyawanya, anda tidak perlu khawatir, dia hanya membutuhkan waktu untuk istirahat, dan sebaiknya, kalian sepasang suami istri, kalau sedang bertengkar jangan main tangan, kasian istri anda." Ucap dokter tersebut sambil menatap tajam Daniel yang memperlihatkan tampang begonya.
"Ah dokter salah paham, saya ,, saya bukan suaminya dok."
"Lalu anda siapanya?, Pacarnya?, Temannya?"
"Saya ,, saya temannya dok."
"Oh saya pikir anda suaminya."
"Bukan dok."
"Yasudah kalau begitu, anda jaga teman anda baik_baik, jangan sampai dia tertekan dan mendapatkan perlakuan kasar lagi, karena itu akan mengganggu pikiran dan juga kondisinya saat ini."
"Baik dok, terima kasih, saya pasti akan menjaganya dengan baik."
Setelah itu, dokter yang menangani Amelia pun pergi melangkahkan kakinya, sementara Daniel, langsung menghampiri Amelia yang tengah terbaring lemah.
Bekas tamparan masih terlihat jelas di pipi kiri Amelia, dan begitu pun juga dengan lehernya yang memerah, pemandangan itu mampu membuat hati Daniel teriris.
Daniel meraih ponselnya dari dalam saku celananya, kemudian ia menelpon seseorang yang tak lain adalah Adrian suami Amelia.
Perlahan Daniel melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan ruangan Amelia.
"Dasar brengsek, kalau lo tidak mencintai istri lo, seharusnya lo tidak usah menyiksanya, lo benar_benar keterlaluan Adrian, lo gak punya hati." Maki Daniel, setelah telponnya terhubung.
"Maksud lo apa?, Tiba_tiba lo telpon gw, kemudian memaki gw gak jelas seperti ini?" Adrian berkata dengan nada suara yang terdengar dingin.
"Lo gak usah pura_pura Adrian, gw tau lo habis nyiksa istri lo, dan lo membiarkan istri lo kehujanan dan pingsan di tengah jalan, apa lo tidak punya otak, bagaimana kalau ada laki_laki yang bejad dan memanfaatkan istri lo yang pingsan itu?, Jadi manusia jangan keterlaluan, gw yakin suatu saat nanti lo bakalan menyesal dengan perbuatan lo itu."
Adrian seketika terdiam, rasa bersalah muncul seketika dalam dirinya, ia kembali mengingat perlakuannya terhadap Amelia tadi, dan kata_kata Daniel barusan, mampu membuatnya menyadari kesalahannya yang sudah keterlaluan kepada istrinya.
Tetapi Adrian tidak mau mengakui kesalahannya, dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak bersalah sama sekali.
"Kenapa lo repot_repot urusin perempuan sialan itu?, Gw jadi curiga, kalau lo punya perasaan terhadap perempuan murahan itu."
"Dasar brengsek, bukannya merasa bersalah, malah menuduh gw yang enggak_enggak, gw ngomong sama lo, kaya ngomong sama topeng monyet.
Adrian ingat kata_kata gw ini, suatu saat nanti lo bakalan menyesal karena sudah memperlakukan Amelia dengan buruk, dan lo bakalan mendapatkan karmanya."
Setelah Daniel mengucapkan kata_katanya, ia pun segera mengakhiri panggilannya, berbicara dengan Adrian sungguh membuat amarah dalam dirinya semakin bertambah, apalagi saat Adrian mengatakan, bahwa Amelia adalah perempuan murahan, sungguh membuat Daniel ingin memukulnya sampai pingsan.
***
Setelah menerima panggilan dari Daniel, Adrian langsung membanting ponsel miliknya ke tempat tidur, ucapan Daniel terus saja terdengar di telinganya.
Seketika wajah menyedihkan Amelia muncul di dalam ingatannya, tangisan Amelia yang begitu menyedihkan hinggap di otak Adrian.
Setiap perlakuan dan penghinaan yang ia lakukan kepada Amelia, semuanya jelas nyata tergambar di ingatannya.
"Amelia, kamu pantas mendapatkannya, karena kamu sudah membunuh kekasihku." Lirih Adrian dengan pelan, ia masih tidak mau mengakui kesalahannya, ia terus meyakinkan dirinya, bahwa dirinya tidak bersalah dan perlakuan dia terhadap Amelia, memang sudah sewajarnya.
Jelas_jelas pikiran dan hatinya mulai bertentangan, namun Adrian selalu meyakinkan hatinya bahwa perbuatannya tidaklah salah, semuanya salah Amelia.
Adrian menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, ia mulai memejamkan kedua bola matanya, namun matanya sulit untuk di bawa tidur, ia selalu saja terbayang akan wajah Amelia yang menyedihkan.
"Argh sialan, kenapa wajah perempuan itu selalu mengganggu pikiranku?, Ini semua bukan salahku, ini semua salah dirinya yang sudah membohongiku, dan sudah mengabaikan ucapan ku kemarin, Amelia ini semua salahmu, kamu pantas mendapatkan semua perlakuan buruk ku." Geram Adrian sambil mengepalkan kedua tangannya.
***
Di taman yang indah, terlihat gadis cantik yang tengah menangis, gadis itu mengenakan dress mini berwarna putih.
Tiba_tiba seorang lelaki tampan datang menghampirinya, ia kemudian memeluk tubuh gadis cantik itu, namun gadis cantik itu memberontak dan mendorong laki_laki tersebut.
"Aku membencimu Adrian, kamu sudah memperlakukan sahabatku dengan buruk, aku sangat membencimu." Ujar gadis itu sambil menangis.
"Tidak Nisa, kamu tidak boleh membenciku, aku sangat mencintaimu Nisa." Balas laki_laki yang bernama Adrian itu.
"Adrian jika kamu benar_benar mencintaiku, jangan siksa sahabatku, jangan sakiti dia, dia tidak pernah melukaiku, dia sangat menyayangiku, begitupun juga denganku, aku sangat kecewa kepadamu Adrian." Gadis yang bernama Nisa itu pun pergi melangkahkan kakinya dan menghilang entah kemana.
"Tidak, Nisa, kamu jangan tinggalkan aku Nisa, Nisa kembalilah ,, Nisaaaa." Adrian langsung terbangun dari mimpinya, keringat dingin mulai bercucuran, ini kali pertamanya ia memimpikan kekasihnya.
Nisa menangis karena dirinya memperlakukan Amelia dengan sangat buruk, dan di dalam mimpi itu, Nisa terlihat sangat membencinya.
"Nisa kenapa kamu berkata seperti itu?, Apakah kecelakaan itu benar_benar bukan rekayasa Amelia?" Gumam Adrian sambil menatap langit_langit kamarnya.
***
Rumah sakit.
Daniel setia menemani Amelia semalaman, ia sungguh tidak bisa meninggalkan Amelia sendirian di rumah sakit, ia sangat mengkhawatirkan kondisi Amelia saat ini.
Waktu menunjukkan pukul 06.05 pagi, Amelia membuka kedua bolanya, dan ia sangat kaget ketika mendapati Daniel yang tengah tertidur sambil menggenggam tangannya dengan erat.
Dengan suara yang lemah, Amelia pun membangunkan Daniel.
"Daniel, bangunlah."
Daniel yang terusik atas pergerakan Amelia pun langsung membuka matanya, ia melihat Amelia sedang tersenyum ke arahnya, dan seketika itu pula nyawa Daniel terkumpul.
"Amelia kamu sudah bangun?" Ujar Daniel tanpa melepaskan genggamannya.
"Hmm seperti yang kamu lihat Daniel, emm bisakah kamu melepaskan tanganku?"
"Oh maaf, aku sangat mengkhawatirkanmu semalam." Ujar Daniel sambil melepaskan genggamannya.
"Tidak apa_apa Daniel, dan terima kasih karena kamu sudah membawaku ke rumah sakit."
"Kamu tidak perlu sungkan Amelia, bagaimana keadaanmu?."
"Aku baik_baik saja Daniel, sekali lagi terima kasih."
"Syukurlah, kalau baik_baik saja, apa kamu lapar?, Biar aku membelikan sarapan untukmu."
"Tidak, aku tidak lapar, kamu tidak perlu repot_repot Daniel." Ujar Amelia berbohong, padahal sebenarnya dia sangat kelaparan.
Kruuuk .. kruuuk... Perut Amelia berbunyi, itu berarti perut Amelia tidak bisa di ajak kompromi, sehingga membuat wajah Amelia memerah menahan rasa malunya.
"Oh, sepertinya cacing di perutmu sudah mulai bernyanyi." Daniel berkata di iringi dengan senyuman di bibirnya, sementara Amelia berusaha untuk menahan rasa malunya.
"Tunggulah sebentar aku akan membelikanmu sarapan." Daniel kembali berkata dengan nada yang renda, setelah itu, Daniel pun melangkahkan kakinya keluar, sementara Amelia hanya menganggukan kepalanya.
"Sangat memalukan sekali." Gumam Amelia dengan pelan, setelah kepergian Daniel.
Bersambung ....
buat ap kembali sma ardian...
kan lebih seru...
jangan sampai kmu balikan lg sma sikeparat mantan suami ...